
"KAKAAAKK..!!"
Sudah lama bukan teriakan Mama Lauritz tidak menggema?
Kreek.. Kreetteekk..
"IYA MA.. Sebentar..!!!" Berlari tunggang-langgang saking terkejut, Ara mencampakkan begitu saja ponsel yang memutar sebuah drama bergenre romantis komedi.
Bunyi yang sempat muncul bukan sendi atau tulang yang patah, apalagi hati, tapi efek suara masker beras yang retak di benak Ara. Wajah bertopeng memutih yang masih menyisakan beberapa menit lagi untuk dibilas terpaksa dibuat berteriak kencang.
"Hah!! Hah!! Hah!!" Baru juga berlari sedikit Ara sudah ngos-ngosan. Efek terlalu banyak rebahan sangat meresahkan.
"Kennaahpah Mah..??" Masih tersengal juga Ara tetap harus memaksa melontarkan tanya pada sang Mama.
"Aduuh.. Serbuk nya kemana-mana itu Kak!" Bukannya menjawab, Mama Lauritz justru salah fokus pada beberapa gumpalan masker yang rontok dari wajah Ara.
"Nanti dicuci, Ma.. Lagian baru kering ini." Jawab Ara sambil melirik kantong mencurigakan. Seketika hidung Ara dapat mengendus aroma menggiurkan.
"Dari Rava.." Ucap Mama Lauritz sambil mengangkat kantong yang ditenteng tangan kanannya.
"Terus Mas Rava kemana??" Melangkah ke ambang pintu, mata Ara memindai pekarangan hingga pinggir aspal. Hasilnya nihil. Tidak ada mobil, motor atau bahkan ujung jari kaki Rava yang tampak.
"Kurir Kak yang antar." Jawaban Mama Lauritz tiba-tiba membuat wajah Ara mendung. Ada sedikit rasa kecewa bukan Rava sendiri yang mengantarkannya.
"Gak usah manyun gitu!!" Telapak tangan Mama Lauritz mengusap kasar wajah Ara.
"Mama habis pegang lengkuas ya??" Memicingkan matanya, Ara tatap Mama Lauritz penuh tanda tanya.
"Oh iya.. Hahahaha.. Maaf Kak.." Gelak tawa Mama Lauritz menambah parah wajah kecut Ara. Rasa panas yang sulit didefinisikan terasa di sudut mata, bukan karena sedih, tapi enzim dari lengkuas di tangan Mama Lauritz terbagi ke wajah Ara. Beruntung sebagian kulit wajahnya masih tertutup masker beras. Bisa dibayangkan rasa cekit-cekit di kulit wajahnya bila tidak ada pelindung masker yang sudah retak dan rontok sana sini itu.
"Mama mau buat ayam lengkuas.. Baru selesai diparut lengkuasnya terus ada yang datang.." Ujar Mama Lauritz cukup menjelaskan bagaimana aroma dan rasa panas itu bersisa di telapak tangannya.
"Buka dulu Ma itu apa..!?" Berjalan dengan riang di sisi Mama Lauritz, Ara sudah teralihkan pada kantong yang tampak mewah. Terbayang makanan lezat yang tersembunyi di dalam kantong itu.
"Bawa ke dapur sekalian, Kak. Ini makanan."
"Kok Mama tau??"
"Ya kurirnya yang bilang.. Memang kamu yang pasti udah tau dari ngendus-ngendus tadi.."
"Tau aja nih Mama.." Menyengir tanpa beban, itulah yang Ara lakukan.
"Udah the end jutaan kali Mama sama kebiasaan Kakak."
Brak!
"Astaga!!" Terperanjat Mama Lauritz pada bunyi nyaring benda keras yang bertubrukan dengan meja makan.
__ADS_1
"Mama nih.. Udah taruh sendiri, tapi kaget sendiri juga."
"Kirain gak ada kotaknya Kak.."
"Sushi?? Tempura??" Mata berbinar mengabsen keindahan makanan di hadapannya. Aroma yang awalnya samar-samar itu sudah mengisi penuh indra penciuman Ara. Bergegas mencuci bersih wajahnya dengan air keran, Ara menarik beberapa helai tisu untuk mengelap wajah dan tangannya.
"Bentar ya, Ma.." Ucap Ara sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"MAMAS!!!! BABYYYY!!!!! AYOO MAKAN!!!!!" Rupanya gen suka menjerit Mama Lauritz diturunkan sempurna pada Ara. Beruntung rumahnya terpencil dan berdiri sendiri. Bisa dibayangkan akan syok jantung berkali-kali si tetangga bila harus disuguhi lengkingan Mama Lauritz dan Ara secara bersamaan.
Drap!!
Drap!!
Drap!!
Suara bergemuruh layaknya gerombolan bison hendak menyerang dapur mendobrak gendang telinga Ara. Jona dan Rian yang masing-masing memegangi ponselnya sudah duduk manis menghadap 3 kotak sushi dengan 2 kotak berukuran sama.
"Udah dimakan sana sama Adik mu, jarang kan makan kayak gini?? Kalau diajak juga Kakak jarang mau."
"Mahal Ma.. Mending beli mie ayam, kwetiau apa ayam bakar aja." Ucap Ara sambil melahap tempura, ia kurang suka makanan mentah. Belum lagi menu salmon yang termasuk golongan ikan, Ara tidak tertarik untuk melahapnya.
"Kakak aja yang kelewatan pelitnya." Mendengus Mama Lauritz yang tidak habis pikir dengan sikap irit melilit anak gadisnya.
"Kan dulu udah pernah beli beberapa kali.. Udah nyoba ya udah.. Kalau ada uang lebih kita beli yang lain. Iya gak, Dek, Mas?"
"Ck!! Singkat banget jawabnya." Mendelik sebal Ara pada Adik-adiknya.
"Kakak ini gak peka sama Adiknya. Lagi menikmati itu.."
"Ma.. Diujung jalan kampus ada toko roti baru buka.. Besok boleh minta jajan lebih buat nyoba??" Ucap Ara tiba-tiba.
"Udah malak aja Kakak ini, padahal baru juga sok-sokan gaya hidup hemat."
"Kan ini beli di tempat lain, makanan lain juga."
"Kakak udah.. Makanlah kalian berdua.." Ucap Ara sambil berlalu ke arah wastafel. Sebenarnya ia masih ingin, namun melihat kedua Adiknya yang lahap seolah rasa kenyang lebih cepat terpenuhi. Tersenyum samar membayangkan wajah berbinar Jona dan Rian, otak Ara langsung menyadari hal penting yang sempat ia lupakan.
'Mas Rava!!' Menyerukan sebuah nama yang terlupakan, Ara melesat ke kamarnya melebihi kecepatan cahaya.
📩
Mas Rava
Sudah sampai makanan dari saya? Tidak banyak, tapi semoga kamu suka. Maaf, bukan saya yang langsung datang ke rumah.. Pekerjaan saya masih cukup menumpuk di kantor. Setelah semuanya selesai, ayo kita kencan. Love you❤
__ADS_1
Benar saja, sebuah pesan singkat sudah bertengger pada urutan teratas. Bukan karena baru saja masuk, namun sudah Ara pin spesial agar tetap menjadi yang pertama.
"Aaaaaaa..!!!" Menghempaskan tubuhnya ke ranjang, Ara sudah membenamkan wajahnya di atas bantal.
"Kok sekarang aku jadi baperan sih!!??" Menatap langit-langit kamarnya, Ara sudah selesai berguling-guling meluapkan debaran di dada kirinya. Tidak ada gombal berlebihan, bahkan Rava masih setia dengan kekakuannya, namun Ara seakan sudah dibawa melayang.
"Makasih ya Mas, Ara suka banget.. Love.." Gumam Ara sambil mengetikkan kalimat yang ia ucapkan. Kedua ujung bibir yang tertarik ke atas tampak menyunggingkan senyum malu-malu.
"Kok norak ya?? Eh!!?? Kok pakai love juga..!!" Dahinya berkerut, jarinya memilih simbol silang guna menghapus untaian kalimat itu. Tanpa sadar, otak, jari dan hatinya tidak bekerjasama dengan baik.
"Apa bilang terima kasih aja ya?? Tapi kayak gak tau diri banget.." Meraih bantal dan membekap mandiri wajahnya di bawah bantal, Ara masih sibuk bergumam.
^^^✉^^^
^^^Me^^^
^^^Terima kasih ya Mas, Jona sama Rian suka banget.^^^
Ting!!
Centang dua berwarna biru tanda terkirim dan terbaca langsung menghiasi pesan singkat Ara. Pemilik bola mata melebar itu hanya mampu menengguk air liurnya kasar, tidak menampik ia jadi mengharapkan balasan dari Rava.
Sedangkan Rava di seberang sana sudah meloncat girang pada pesan singkat yang bahkan belum ia amati. Hampir setengah jam Rava hanya mondar-mandir tidak menentu menatap layar ponselnya. Tentu saja menanti pesan dari sang pujaan hati. Entah akan seruntuh apa kegirangan Rava kala tersadar pada untaian balasan super singkat itu.
"Kakak.. Ada Kak Yuki di bawah.." Suara Rian memecahkan belah lamunan menggelikan Ara. Wajah Rava yang menghiasi pelupuk matanya seketika lenyap bersamaan dengan kesadaran yang dipaksa kembali.
"Kakak..!!" Memekik kuat di ambang pintu, Rian kesal tidak mendapat sautan dari Ara.
"Iya.. Iyaa.. Sebentar sayang.." Beranjak dari kasur, Ara meninggalkan ponsel yang tanpa ia sadari sudah bergetar menampilkan nama Rava dalam pesan masuk terbaru.
...****************...
*
*
*
Cocok nggak kalau hubungan Rava dan Ara masih dikatakan PDKT kembali?🤔
*
*
Pasti ada yang udah gak sabar dan kesal karena Hana gak langsung mempersatukan Rava dan Ara kan?? Ayo.. Ngaku..😆
Penasaran gak siapa biang gosip sebenarnya dari bab sebelumnya??😁
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰