Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bibir yang Manis


__ADS_3

Panas terik membuat dedaunan tampak berkilau memantulkan bayangan cahaya. Meski mentari mulai bergerak turun, namun hari itu masih terasa panjang. Bahkan tanpa menunggu 5 jari menghitung jam bisa dipastikan rembulan dan para bintang sebentar lagi akan menggantikan kerlipan di langit malam.


“Enak?” Usapan lembut di sudut bibir yang basah dan jelas terasa manis membuat Ara berdebar malu-malu. Tanpa canggung Rava menghapus noda bekas es buah rumput laut di sudut bibir Ara, menjilat sisa manis yang tertempel di ibu jarinya sambil tersenyum.


“Kok gak dilap malah dijilat Mas? Mas gak jijik gitu bekas Ara?” Protes Ara saat matanya tidak sengaja melirik Rava saat menjilat ibu jarinya.


“Mau jilat langsung belum boleh.” Gumam Rava lirih sambil menyandarkan sisi kiri tubuhnya, menghadap dan memandang Ara yang asik menyeruput seporsi es buah rumput laut di tangannya.


“Apa?” Mengeryitkan dahi, Ara bertanya seakan tidak mendengar gumaman Rava. Padahal telinga Ara sudah cukup jelas menangkap seluruh ujaran Rava.


“Nggak kok Sayang. Buat apa Mas jijik sama bekas kamu?” Tidak tau ucapan Rava termasuk berkilah atau bukan, yang pasti Rava sedang mengelak dari menjawab pertanyaan singkat Ara.


“Ya kan kayaknya Mas itu setipe sama Jona yang nggak suka kotor-kotor.” Jawab Ara sambil membandingkan sikap Jona dan Rava bila menyangkut kerapian dan kebersihan. Bagi Ara tingkah tengil Jona memang lebih mirip dengan Dion, namun tidak untuk kerapian dan kebersihan yang sangat mirip dengan Rava.


“Kan bekas kamu gak kotor.” Ucap Rava sambil mengusap pipi Ara.


“Halah..” Menghembuskan nafas panjang, Ara memilih melanjutkan menikmati santapan dingin dan tidak terlalu manis, namun pas di lidah Ara. Rava sudah hafal dengan selera Ara yang kurang suka makanan manis, jadi tentu saja ia meminta mengurangi takaran susu kental manis yang ditambahkan sebagai pemanis.


“Mas gak mau ini?”


“Gak, Sayang, buat kamu aja. Dihabiskan ya..” Tolak Rava halus.


“Banyak juga loh ini, yakin gak mau?” Tanya Ara lagi sembari menyodorkan satu sendok penuh berisi potongan buah naga dan alpukat.


“Mas sengaja beli buat kamu aja. Katanya kamu lagi ngidam es buah yang jual di sekitar bengkel Papa.” Tolak Rava lagi, menekan kata ngidam sambil mengulum senyumannya.


“Iya sih. Tapi Ara bisa beli nanti setelah pulang kuliah.” Mengangguk pelan, Ara memanyunkan bibirnya. Rava terlalu memaksakan diri demi menuruti keinginan iseng Ara. Iya, keinginan iseng yang terlintas tiba-tiba karena cuaca yang terlalu panas.


“Nanti keburu gak mood lagi kayak waktu itu.”


“Kapan?” Tanya Ara sambil memiringkan kepalanya.


“Waktu kamu bilang mau makan rujak sayur yang pakai lontong itu.” Ucap Rava dengan kerutan halus di dahi, berusaha mengingat sesuatu.

__ADS_1


“Mas gak sadar ponsel mati dan udah kemalaman juga taunya. Udah sempat keliling dan mau kasih tau ke kamu tempatnya udah tutup, baru sadar belum scroll pesan kamu yang rupanya sejam setelah bilang mau rujak kamu bilang udah gak mood.” Imbuh Rava sambil melipat tangannya di depan dada.


“Jadi Mas malam-malam itu keliling nyari yang jualan rujak?” Mata Ara terbelalak, sepertinya Ara mengingat sesuatu yang membuatnya terkejut.


“Iya.”


“Kok gak pernah cerita??” Tanya Ara dengan suara merengek.


“Ini Mas udah cerita, Sayang..” Sembari terkekeh, Rava menjawab pertanyaan Ara.


“Hish! Bukan sekarang, tapi dulu kenapa gak cerita? Seingat Ara itu udah malam banget Mas telepon kasih kabar baru di jalan pulang.” Ucap Ara yang gemas dengan menggebu-gebu.


“Jangan-jangan maksud jalan pulang itu jalan pulang dari kantor ya?” Memicingkan matanya, Ara menuntut jawaban. Mengunyah potongan nangka dengan gerakan perlahan seolah mengintimidasi.


“Jujur!!” Imbuh Ara lagi dengan masih menyuapi mulutnya, kali ini giliran rumput laut yang akan Ara kunyah.


“Telepon itu memang pulang dari kantor. Jadi di mobil sambil nyari yang jualan, Mas juga telepon kamu. Lagi pula setelah sekian kali telepon baru kamu angkat.” Ucap Rava sambil mencubit gemas pipi gembul Ara. Rasanya Ara sudah pasrah bila pipi nya akan semakin berisi akibat pasokan nutrisi berlebih dari Rava.


“Ara udah mengukir pulau di bantal, makanya gak langsung sadar ada telepon masuk dari Mas.” Ucap Ara asal-asalan, karena sebenarnya ia memang sudah tidur kala itu. Tapi perlu diingat Ara tidak menumpahkan air liurnya di bantal, tidak untuk saat itu.


‘HAH!?’ Jerit Ara dalam hati, namun mulutnya terbuka lebar seolah keterkejutannya terlontar dengan lantang. Menatap aneh pada Rava yang kini mengapit kedua sisi pipi Ara dengan telapak tangannya.


Yakinlah mata Ara sudah menyipit dengan bibir mengerucut karena terhimpit. Seketika jiwa Ara ingin menangis meratapi wajah yang katanya menggemaskan oleh Rava. Malu sudah lama menghilang semenjak Rava gemar memainkan pipi gembul nya seperti menguleni adonan odading.


“Mas, Ara 5 menit lagi mulai kelas sore. Jadi Ara pergi dulu ya..” Ucap Ara setelah melihat jam di ponselnya, menandaskan es buah rumput laut dalam wadah gelas plastik dalam tegukan terakhir.


“Masih gak rela kamu pergi.” Ucap Rava memelas.


“Apaan sih Mas, Ara cuma mau belajar sebentar, bukan hilang ditelan bumi!” Tukas Ara jengah, sudah tampak tanda-tanda akan ada yang mulai bertingkah manja tapi lupa usia.


Sedetik kemudian benar saja suara Rava langsung terdengar membujuk. “Nanti malam Mas jemput ya? Kita jalan. Mau ya?”


Mengangguk beberapa kali, Ara menunduk membersihkan bagian mobil Rava yang mungkin kotor karena ulahnya. “Oke.” Jawab Ara singkat dengan tangan yang sibuk menggosok satu bagian celananya yang basah dengan tisu.

__ADS_1


Clek.


“Kok Mas udah di situ? Sejak kapan Mas keluar?” Terperanjat Ara mendapati Rava berdiri di sisi kirinya, membukakan pintu dengan senyum puas terlukis di wajahnya.


“Sejak tadi.” Jawab Rava singkat sambil meraih tas ransel yang hendak Ara kenakan.


‘Kok hari ini kerasa ngeselin ya ini Bapak!’ Gerutu Ara dalam hati sambil melangkahkan kaki keluar dari mobil Rava.


“Semangat ya Sayang. Semoga lancar belajarnya, cepat lulus biar kita cepat nikah.” Ucap Rava sambil membantu Ara menggendong tas ranselnya, mengacak rambut Ara dengan sayang, lagi-lagi senyuman manis merekah di bibir Rava.


“Iya, Mas. Ya udah Ara pergi dulu, bye..” Ucap Ara cepat, berlalu meninggalkan Rava dengan lambaian tangan tanpa menoleh ke belakang.


“Nikah mulu yang dibahas, kebelet banget.” Gumam Ara sepanjang langkahnya. Ia tidak habis pikir pada Rava yang tidak ada henti membahas perihal pernikahan. Bahkan belum lama ini Rava juga mengajaknya mengunjungi wedding organizer secara dadakan. Jelas saja Ara yang mulanya tidak tau apa-apa hanya mampu kaget, melongo dan bertanya-tanya dalam diam ia harus bersikap bagaimana.


“Nah ini yang habis ngebucin akhirnya datang.” Celetuk Dimas nyaring saat langkah Ara sudah terhenti di hadapan Yuki dan Dimas.


...****************...


*


*


*


Apakah Ara dan Rava sudah siap merancang pernikahan impian?🤔


*


*


Sekian kalinya lagi-lagi Hana menghilang gak rajin UP, maaf ya..😅


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2