
[Sayang?] Samar-samar suara Rava terdengar oleh Ara.
“Loudspeaker Kak, Papa mau ngobrol juga.”
“Hish, Papa ini, dasar.” Gerutu Ara sambil tetap mengaktifkan pengeras suara dari ponselnya.
“Rav?” Sapa Papa Yudith setelah ikon speaker di layar panggilan sudah berwarna merah terang.
[Iya, Pa. Papa sehat kan?]
“Harus sehat dong.. Kamu gimana perutnya?”
[Eh, udah gak apa-apa kok Pa.] Jawab Rava canggung, seketika wajahnya menghangat dan panas.
“Kamu di sana proyek apa lagi Rav?” Tanya Papa Yudith pada Rava, membiarkan Ara memegangi ponsel yang ditengadahkan di hadapannya.
[Ini lagi proyek breakwater aja, Pa.] Jawab Rava halus.
“Proyek skala besar?” Lanjut Papa Yudith bertanya sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. Sedikit saja, namun tercetak jelas karena Papa Yudith menyingkap kaus yang ia kenakan.
[Mau di bilang skala besar sih nggak juga Pa.] Jawab Rava dengan kedua pupil mata bergerak ke sudut kiri atas sekilas, berusaha berpikir dan membandingkan dengan beberapa proyek yang pernah ditangani tim di tempat nya bekerja.
“Teman-teman Papa belum lama ini sempat cerita katanya ada ikut Bos nya yang menang tender di tempat mu Rav.”
[Siapa namanya Pa? Mungkin aja Rava kenal.]
“Udah nggak kerja lagi kayaknya Rav. Beberapa teman Papa itu supir dump truck. Kamu kenal nggak Mandor Ijal sama mekanik alat berat Heru? Itu teman Papa juga yang lagi kerja di daerah tempat kamu. Kali aja satu proyek.”
[Kalau Mandor Ijal kayaknya Rava tau Pa, tapi yang mekanik masih asing sama namanya. Nanti Rava coba cari tau.]
“Dengar-dengar lebar pemecah gelombangnya 26 meter, bener itu?” Tanya Papa Yudith yang terlihat antusias.
[Iya, Pa. Struktur breakwater nya nanti lebar 26 meter di ketinggian 3,5 meter.] Jawab Rava sambil kembali mengeratkan jaket yang ia kenakan.
“Kemiringan atau ketinggian?” Memicingkan matanya, Papa Yudith bertanya lagi sambil membayangkan bentuk kontruksi breakwater yang sedang Rava kerjakan.
[Tinggi Pa, kalau sisi miring lebih lah dari 3,5 meter.]
“Habis dana banyak ya..” Ucap Papa Yudith dengan anggukan kecil spontan.
“Pa, Kakak masuk dulu ya.. Kalau Papa masih mau ngobrol sama Mas Rava ya lanjut aja.” Ucap Ara lirih pada Papa Yudith sambil menyerahkan ponsel yang sejak tadi ia genggam ke tangan Papa Yudith.
Meskipun suara Ara sudah selirih mungkin, namun masih terdengar jelas hingga sampai ke pendengaran Rava. Antara tidak rela dan tidak enak hati bila meminta dialihkan sambungan telepon itu, Rava kini hanya bisa diam tidak berkutik.
Berlalu ke dapur dengan langkah ringan, Ara memilih merebus air untuk membuat minuman hangat. Ia juga ingin memberikan ruang pada pembahasan yang tampak asik bagi Papa Yudith.
Namun baru saja segelas susu hangat siap Ara seduh, Papa Yudith sudah menghampirinya. Menyerahkan ponsel yang masih menampakkan nama Rava di layarnya.
“Mas nggak dingin di luar gitu? Udah aja Mas teleponnya. Besok lagi aja, Mas. Semoga nggak perlu ngejar air surut udah dapat sinyal.”
[Dapat sinyal juga buat hubungi kamu pasti kayak kemarin, putus-putus.] Keluh Rava mengingat nasib percakapan layaknya kredit panci yang harus dicicil perkata bila sinyalnya kumat oleng.
__ADS_1
“Badan mu nanti sakit-sakit loh Mas kena angin malam terus.”
[Kan udah dikasih obat dulu sama kamu. Badan Mas ini kuat Sayang, yang lemah itu kangennya sama kamu. Kalau harus semalaman di sini supaya dapat penawar lewat suara kamu juga Mas rela kok. Lagi pula nggak dingin-dingin banget di sini.]
Bibir Rava memang bisa berkilah, namun tubuhnya yang sebentar-bentar bergetar kedinginan sudah ingin memberontak dan berlari ke dalam selimut yang hangat. Terbayang pula semangkuk bakso dengan uap mengepul di benaknya.
“Nanti jangan lupa buat teh hangat sama pakai pakaian yang hangat dulu. Usahakan suhu badan Mas menghangat sebelum tidur, takutnya nanti demam atau pilek.” Ucap Ara dengan suara melembut, namun tegas sebagai sebuah perintah.
[Senang banget kamu perhatian gini, terima kasih ya Sayang.. Maaf juga kalau buat kamu khawatir.]
“Memang Ara khawatir. Mas kan baru sembuh juga. Di sana nggak tinggal sendiri kan?” Tanya Ara dengan kekhawatirannya.
[Mas belum bilang ya kalau tinggal sama teman Mas yang kemarin itu? Dia itu ketua proyek ini, jadi paling nanti malah Mas yang tinggalin dia pulang.]
“Nggak ada.” Jawab Ara cepat.
“Mas nggak lupa kan waktu Ara nggak sengaja lirik teman Mas lewat spion itu apa yang Mas lakukan? Nggak mungkin lah Ara mau tanya-tanya tentang dia sama Mas, pasti nanti ada yang cemburu buta.” Tukas Ara sambil memutar bola matanya malas. Teringat jelas di ingatan Ara bagaimana Rava yang menghalangi pandangannya dengan telapak tangan sambil menyipitkan mata tidak suka.
[Nggak ada kayak gitu ya..] Kilah Rava dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas.
“Pura-pura amnesia ya Bapak.. Udah tanda-tanda.” Cibir Ara.
[Tanda-tanda harus cepat nikahin kamu.] Ucap Rava cepat dengan semangat.
“Modus.” Ujar Ara ketus.
“Ada yang modus mau nikahin anak Papa cepat-cepat ya..” Celetuk suara bariton yang lagi-lagi mengejutkan Ara dari arah belakang.
[Boleh kan Rava ambil anak Papa setelah pulang dari sini?] Tanya Rava sambil terkekeh geli. Sudah kedua kalinya Papa Yudith muncul secara mendadak.
“Boleh.” Jawab Papa Yudith singkat yang membulatkan mata Rava. Senyumnya sejenak membeku, terlalu syok dengan satu kata yang tidak jelas hanya candaan atau benar-benar restu dari Papa Yudith.
[Serius Pa?] Tanya Rava dengan wajah serius sambil menahan nafasnya. Berharap semua ini bukan harapan semu.
“Iya, serius. Ambil aja anak Papa.”
“Halah.. Sok-sokan kasih izin.” Ucap Ara menyela percakapan singkat namun penuh makna bagi Rava.
[Rava pasti pulang secepatnya Pa.] Ucap Rava mantap sebelum panggilan itu berakhir secara mendadak.
Berteriakan kesal, Rava memandang ponselnya yang kehabisan baterai. Namun sejenak kemudian ia melompat girang sambil berlari menuju ke tempat menginapnya selama di Desa itu.
...----------------...
“Tadi aku salah jawab soal isian.” Celetuk Ara tiba-tiba sambil menopang kan punggungnya di sandaran kursi, memejamkan mata meresapi kecerobohannya.
“Kok bisa? Yang mana?” Tanya Yuki sambil ikut mendudukkan dirinya di samping Ara.
“Soal yang disuruh sebutkan dan uraikan inti peraturan tentang pengelolaan kualitas air sama pengendalian pencemaran sesuai yang kita pahami. Aku baru ingat tadi tulis nomor 80, kan harusnya nomor 82. Padahal udah bener tulis tahun sama itu golongan peraturan pemerintah.” Ujar Ara lemah dengan tatapan sayu dan bibir manyun pada Yuki.
“Fix hangus poin nilai mu. Lagian telur sama bebek kan beda jauh, bisa-bisanya salah tulis.” Ucap Dimas santai sambil menjentikkan jarinya.
__ADS_1
“Pasti. Harusnya tadi aku langsung ganti diam-diam sambil ngantar ke depan waktu disuruh langsung kumpul. Tadi itu aku sadar, tapi bodohnya pasrah.” Menyesal Ara tidak menggunakan otak dan jarinya secara cerdik.
“Sabarin aja lah, Ra.” Ucap Yuki menimpali.
“Memang, udah terlanjur. Mau gimana lagi juga kalau udah terjadi. Tapi rasanya nyesek juga pas sadar salahnya dimana. Hari terakhir ujian aku dapat kenangan kalau pernah teledor.” Mendesah pasrah, lagi-lagi Ara kesal pada kesalahannya.
“Ngomong-ngomong rasanya papasan sama Bu Dian gimana?” Menyenggol gemas lengan Ara, Yuki duduk semakin mendekat hingga lengannya menempel ke tubuh Ara.
“Biasa aja.” Jawab Ara dengan acuh.
“Sumpah aura nya langsung beda waktu dia sadar ada kamu. Belum move on dari Pak Rava nih..” Ucap Yuki sambil menggosok kasar kedua lengannya yang seolah merinding.
“Lagian sewot banget sama Ara. Udah berasa jadi pelakor beneran. Padahal status Pak Rava buat dia cuma gebetan tak sampai. Bayangin aja baru gebetan udah sinisnya kayak gitu, gimana kalau udah saling kode? Pasti nyakar, awwuuu.. Hahaha..” Seloroh Dimas panjang dengan gelak tawa kencang.
“Sejak kapan bibir mu lemes gitu buat ngomongin orang lain?” Mengernyitkan dahinya, Ara menatap heran pada Dimas yang berubah lebih heboh. Bibirnya seakan tertukar dan menggantikan posisi cerewet akut yang tersemat pada Yuki.
“Oh iya, aku hampir lupa. Nih buat kalian berdua, datang ya..”
“Kamu serius? Secepat ini? Yakin?” Suara itu meninggi, matanya terbelalak semakin lebar. Beruntung bola matanya masih tersangkut pada akar-akar saraf.
“Mau nggak yakin juga udah nggak bisa mundur lagi.”
“Gila, aku bener-bener nggak nyangka. Ini nyata kan? Kalian yakin ini??? NIKAH!!!???” Lagi-lagi pemilik berujar heboh sambil menatap Ara dan Yuki silih berganti. Sebuah kertas bernuansa merah muda bercorak bunga di tangannya terpampang nyata tulisan ‘our wedding’ yang secara cepat memukul syok Dimas.
...****************...
Ada yang gak tau apa itu dump truck?
Nah itu lah dump truck alias truk jungkit.
*
*
*
Benarkah Rava pada akhirnya berhasil meminang sebelum Ara lulus kuliah?🤔
*
*
Dari akhir Maret sampai awal September novel ini belum tamat juga. Tapi bukan itu yang mau Hana bahas, di sini Hana benar-benar terharu buat semuanya yang masih setia.
Meski kisahnya berjalan lambat, ditambah lagi author nya yang abal-abal, tapi semuanya tetap sempatin waktunya buat nikmati hasil imajinasi Hana. Belum lagi yang rela menyisihkan poin dan vote untuk dukung karya ini, terima kasih banyak ya.. Maaf Hana belum bisa kasih balasan yang setimpal.🥰😘
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰