Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Menemukan Cinta Pertama


__ADS_3

“Semangat, Ra!” Ucap Yuki dan Dimas bersamaan. Keduanya sudah berdiri di hadapan Ara dengan mengalungkan permen lollipop, biskuit coklat seribuan dan jajanan pilus serta kacang telur yang sudah dirangkai menyerupai kalung besar di leher masing-masing.


Tentu saja berbagai camilan itu nantinya akan diberikan pada Ara. Namun sayangnya tidak ada acara kejutan yang biasa dilakukan sebagian orang. Nyatanya kalung jajan itu sudah Ara ketahui bahkan sebelum dirinya memulai seminar hasil penelitiannya.


“Iuh..”


Suara lirih itu menyeruak pendengaran, menarik perhatian Ara, begitu pula dengan Yuki dan Dimas. Ketiganya kompak menoleh ke arah sumber suara yang tidak lain berasal dari Feby.


Semenjak kejadian di Kafe, lama-kelamaan berita tentang kelicikan Feby semakin tersebar luas. Tidak tau lewat bibir ember siapa, yang pasti bagi Feby semua itu pasti ulah Ara yang dendam kepadanya.


Begitulah jika orang kelewatan tidak suka. Semua hal selalu dijadikan kesalahan. Tidak perduli benar atau tidaknya.


Sama seperti hari ini, tepat dihari Ara akan melakukan seminar hasil untuk menentukan apakah dirinya berhasil diloloskan untuk melakukan sidang skripsi. Kegugupan Ara yang dibalut senyum merekah harus tercoreng dengan lirikan sinis seorang Feby. Belum lagi kalimat pedas menyakitkan yang keluar dari mulutnya itu.


“Berhasil gara-gara koneksi. Paling jual diri terus nyuruh pacarnya sogok sana-sini.” Gumam Feby yang sengaja dikeraskan. Entah urat malunya putus di mana, padahal hampir semua orang kini sudah tau jika Feby memang julid pada Ara.


Rupanya keburukan yang terungkap bukan membuat Feby membaik, ia justru menunjukkan sifat aslinya di hadapan Ara dan semuanya.


“Heh!! Mau aku robek mulut mu?!” Sentak Yuki kuat, mendorong kasar bahu kanan Feby hingga membuat Feby hampir terjungkal.


“Ki, biarin aja ventilasi kan memang fungsinya membantu menyalurkan udara. Cuma dia agak kebalik, bukan udara dari luar ke dalam, tapi dari dalam ke luar.” Ucap Dimas tidak jelas, bahkan secara gamblang ia menjelaskan fungsi ventilasi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan situasi yang dihadapi.


“Gak usah gaje deh, Dim!!” Bentak Yuki pada Dimas yang membuat dirinya semakin jengah dan marah. Sedangkan Ara sudah lebih dahulu memukul lengan Dimas agar tidak mengoceh aneh. Benar-benar keluar dari jalur permasalahan.


“Beneran kali, Ki, Ra. Si Feby ini sekarang lagi membagi udara loh, hargai geng.. Walaupun sayangnya udara yang dibagikan penuh polusi dan busuk. Heran sih bau bangkai sendiri kok ditunjukan ke orang lain.” Ucap Dimas dengan tatapan sinis disertai seringai lebar.


Begitulah Dimas, laki-laki bermulut lincah dan lebih pedas dari perempuan jika sudah terpancing umpan kekesalan memuncak. Jangan pernah menyentuh seenaknya sesuatu yang berharga bagi Dimas jika tidak ingin dibalas, minimal sindiran seperti yang Feby terima.

__ADS_1


Mengulum senyuman menahan tawa, Ara puas melihat wajah Feby yang memerah. Belum lagi banyak mahasiswa lain dari berbagai tingkat semester juga ikut diam-diam menertawakannya. Alhasil Feby yang tadinya ingin merusak mood Ara justru seakan terperangkap dalam jerat yang ia pasang.


Beranjak melengos pergi sembari sesekali menghentakkan kakinya, sepanjang jalan koridor yang dilalui banyak tatapan mencemooh yang menghujam Feby. Tidak dapat dipungkiri beberapa orang sangat menyayangkan sikap Feby yang berubah buruk saat ini.


“BHAHAHAHA.. Cuit kesayangan aku kok pinter gini sih?” Ucap Yuki secara mendadak langsung merangkul bahu Dimas dengan sedikit melompat kecil diawal. Maklum saja tubuh Dimas jauh lebih tinggi dari Yuki.


“Ibu-ibu sadar Bu, udah punya suami!”Ucap Dimas sambil mendorong tubuh Yuki menjauh. Bukannya Dimas tidak tau jika banyak orang menyebut Yuki perempuan kecentilan karena selalu dekat dengan dirinya. Apalagi status pernikahan Yuki yang terkesan dadakan akibat sebuah postingan di salah satu akun sosial media miliknya berujung pernikahan kilat.


“Suami pajangan.” Balas Yuki ketus, bibirnya cemberut. Tampak raut wajah Yuki yang sempat bahagia, berubah kesal dan kembali riang itu kini langsung mendung berkilat seolah akan ada badai. Sangat mencerminkan suasana hati bak rollercoaster.


Namun dari kejadian itu dapat ditarik kesimpulan bahwa sepertinya Ara memang beruntung memiliki Dimas dan Yuki yang selalu siap pasang badan untuk dirinya.


...----------------...


“Terima kasih Ara atas presentasinya. Di sini Ibu juga minta maaf jika selama masa bimbingan sulit untuk ditemui atau terkadang Ibu lupa kalau kita sudah janjian. Mungkin ada dari Ibu atau Bapak yang lain yang ingin menyampaikan sepatah dua patah kata sebelum kita akhiri?” Ucap salah satu Dosen Pembimbing Ara selaku moderator dalam seminar hasil penelitian yang dihadiri 3 orang penguji, 2 orang pembimbing dan tentunya Ara sendiri.


“Saya saja ya, Bu.” Ucap seorang Dosen yang juga merangkap sebagai Dekan Fakultas.


“Ini sudah saya tahan-tahan mau tanya sejak lama. Bukan sejak dari tadi lagi, tapi udah sejak lama.” Ucap sosok yang dipanggil ‘Pak Dean’ itu. Ia menghela nafas pelan, tersenyum penuh makna, melipat tangan di depan dada dan menatap lekat Ara yang sudah pasti sangat gugup.


Banyak rumus perhitungan parameter perairan dengan berbagai pengertiannya, tidak ketinggalan tujuan beserta latar belakang penelitian kembali berseliweran di benak Ara. Sejenak pelupuk mata Ara sudah dipenuhi teks dari dalam proposal pengajuan skripsi yang ia buat.


“Undangan pernikahannya sudah selesai, Ra?” Ucap Dean tiba-tiba yang membuat Ara terbengong bingung. Sedangkan Dosen-dosen lainnya yang mengerti maksud Dean dan mendapati respon menganga Ara justru sudah terkekeh geli.


“Ha? Ap-Apa Pak tadi?” Tanya Ara sembari mengerjap bingung. Otaknya seakan ingin langsung menjawab, tapi lidah dan kesadaran Ara seakan belum benar-benar terhubung dengan kecepatan tangkap dari otaknya.


“Undangan apa ya, Pak?” Tanya Ara lagi, meski kini pipinya sudah bersemu merah. Jelas Ara memahami maksud dari pertanyaan Dean.

__ADS_1


“Rava itu teman saya waktu SMA, Ra. Dulu dia ngotot mau masuk Fakultas kita, sampai saya bingung, basic dia itu kan ekonomi, kenapa mau ke kelautan.” Papar Dean dengan tawa kecilnya.


“Di kita kan bisa ngajar dasar-dasar manajemen, pengantar ekonomi sama beberapa mata kuliah berlatar belakang ekonomi, Pak.” Sela seorang Dosen lainnya.


“Memang bisa sih ngajarin dasar-dasar manajemen, tapi sayang banget ilmu sama pengalaman dia yang banyak kalau cuma sebatas ngajar dasar-dasar manajemen. Lebih baik langsung diterapkan di anak ekonomi semester atas.” Ucap Dean membenarkan, namun juga menyayangkan bila Rava harus berakhir sebagai Dosen panggilan pada mata kuliah dimana cukup banyak Dosen tetap yang mumpuni bisa mengambil alih.


Apa lagi jika melihat rekam jejak awal mula Rava berhasil masuk sebagai Dosen juga atas permintaan Rektor universitas tempat Ara menimba ilmu. Kala itu perkenalan singkat bermula saat Rava dan sang Rektor diundang sebagai salah satu narasumber sebuah seminar umum yang diselenggarakan sebuah universitas.


Dan saat itu pula seorang Aquila Ravandra Kim kembali menemukan cinta pertamanya duduk di sudut yang teramat jauh dari tempatnya berdiri. Setelan serba hitam dan bibir cemberut Ara tampak jelas di mata Rava.


Dunia Rava seakan berhenti berputar detik itu juga. Semua orang seakan membeku dan hanya tersisa satu kehidupan di mata Rava, tentu saja Ara sebagai sumber kehidupan itu.


Beralih pada masa kini, Ara hanya diam menyimak pembicaraan semua orang dewasa di hadapannya. Berharap pertanyaan utama dilupakan agar tidak dituntut untuk memberikan jawaban.


‘Arg..!! Cepatlah selesai!’ Membatin Ara dalam hati sembari merekah kan senyum manis di bibirnya.


...****************...


*


*


*


Sedikit spoiler novel sebelah lewat di sini🤭


Yang belum mampir di kisah Yuki, ayo tinggalkan jejak di novel Terhalang Cinta KITA Tanpa AKU 😄

__ADS_1



Terima kasih semuanya yang sudah selalu dukung tulisan Hana🥰


__ADS_2