Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Masalah


__ADS_3

Tersisa tiga hari lagi sebelum Ara melangsungkan sidang skripsi. Tapi pikirannya bukan dipusingkan oleh ketegangan dari sidang yang harus dihadapinya itu. Suara dan raut wajah kecewa Rava mengisi penuh angan-angan Ara. Ketegangan dari pertemuan terakhir keduanya meninggalkan permasalahan yang belum terselesaikan.


Menatap langit-langit kamar berwarna biru laut dengan sendu, Ara dilanda kebimbangan. Bukan maksudnya tidak menginginkan Rava, bukan pula maunya menghentikan pernikahan yang sudah sempat keduanya impikan. Ara hanya meminta sedikit waktu lagi agar pernikahan itu ditunda, hanya satu tahun saja.


Namun kini yang ada justru keduanya kompak saling mendiamkan. Ara yang tidak terbiasa bertindak terlebih dahulu dan terbuka pada perasaannya tentu merasa sangat kesulitan dengan sikap diam Rava. Sedangkan Rava kali ini sangat ingin dimengerti oleh Ara.


“Aku hanya ingin berjuang sebentar. Punya penghasilan sendiri yang bisa aku kasih ke Mama, Papa. Setidaknya aku bisa bawa Jona dan Rian jalan-jalan. Aku hanya mau buat keluarga ku bangga dan bahagia menikmati hasil usaha aku sendiri, meski hanya sedikit.” Gumam Ara lirih dengan kelopak mata menutup perlahan.


Masih hangat diingatan Ara saat pekerjaan Papa Yudith mengalami kemunduran dan akhirnya bangkrut. Saat itu Ara masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Motor yang biasa digunakan harus dijual demi memenuhi kebutuhan hidup. Beruntung saat itu Mama Lauritz masih memiliki sepeda yang bisa digunakan untuk mengantar Ara sekolah.


Belum lagi jika mengingat Papa Yudith kala itu yang kerja keras banting tulang menjadi kuli panggul air laut untuk para pedagang ikan hingga rela tidak pulang beberapa hari karena menghemat uang. Sampai kapanpun juga tidak akan pernah terhapus kenangan itu dari ingatan Ara.


Jika ditanya kemana perginya uang tabungan, maka jawabannya semua habis terkuras. Bangkrut dan terlilit hutang hingga untuk membeli tempe saja kesulitan, Ara tidak akan pernah lupa bagaimana pilunya kehidupan yang harus ia jalani bersama si kecil Jona dan Rian yang masih di dalam kandungan Mama Lauritz.


Setidaknya Ara ingin bekerja dan menjadi Kakak yang hebat bagi Jona dan Rian. Bisa mewujudkan keinginan kedua adiknya tanpa pusing pada nominal yang harus ia bayarkan. Hanya sebentar Ara ingin meminta waktu pada Rava atau mungkin cukup sampai Ara mendapatkan pekerjaan dan menikmati hasilnya.


Selain itu, Ara juga ingin sedikit menyumbang untuk modal pernikahannya dengan Rava. Memang Rava lebih memiliki segalanya, namun Ara tidak ingin serta merta membebankan segalanya pada Rava.


“Kenapa jadi gini sih?” Ucap Ara lirih dengan suara serak. Tenggorokannya tercekat hingga sulit untuk meloloskan udara masuk mengisi paru-paru.


Dada Ara bergemuruh sedih saat Rava justru menuduh dirinya tidak menginginkan adanya pernikahan itu. Nyatanya justru Ara selama ini diam-diam menyimpan ketakutan jika suatu saat akan Rava campakkan.


Tok.


Tok.

__ADS_1


Tok.


“Kak..?” Tiba-tiba suara Papa Yudith terdengar dari balik pintu kamar Ara bersamaan dengan bunyi daun pintu yang diketuk.


“Kakak tidur?” Sekali lagi suara Papa Yudith terdengar.


Berjalan gontai menuju pintu kamarnya, Ara sesekali menghembuskan nafas panjang, berharap gemuruh di dada segera menghilang. Meski begitu, Ara lupa jika sorot matanya menyimpan sejuta kegelisahan.


Ceklek.


Membuka pintu kamar dan berdiri di ambang pintu, Ara menatap lekat Papa Yudith yang sedang memerhatikan dirinya. “Kenapa, Pa?” Tanya Ara dengan tidak bersemangat.


“Turun dulu, di bawah ada Rava.” Ucap Papa Yudith sambil mengacak pelan rambut Ara yang tergerai. Sedangkan Ara mematung tidak percaya dengan perkataan yang Papa Yudith ucapkan.


“Sebentar..” Memutar balik badannya, Ara berlari mengambil ikat rambut dan memoles sedikit wajahnya dengan bedak tabur seadanya.


Secepat kilat Ara menyusul Papa Yudith sambil mengikat rambutnya. Langkah kaki yang cukup meragu itu membawa tubuh Ara dengan debaran jantung yang semakin kencang. Tepat di ruang tamu tampak Rava mengobrol ringan dengan Mama Lauritz seputar pangsit goreng. Namun obrolan itu terputus saat Ara dan Papa Yudith sudah ikut bergabung.


“Duduk di sebelah Rava, Kak!” Perintah Mama Lauritz pada Ara yang jelas saja wajib dilaksanakan.


“Rava udah cerita sama Papa.” Ucap Papa Yudith memecah keheningan, seketika Ara menoleh menatap Rava dengan sorot mata penuh tanya. Banyak hal-hal buruk yang terlintas sebagai dugaan aduan Rava pada Papa Yudith. Salah satunya tentu perdebatan mereka yang didominasi sikap ngotot Ara tidak ingin menikah dalam waktu dekat.


Meremas jemarinya dengan gugup, secara perlahan Ara menundukkan kepalanya. Ingin rasanya Ara menghindari obrolan mendadak yang belum sanggup dihadapinya itu.


“Sekarang karena ada Kakak di sini, sekali lagi Papa mau tanya. Apa benar kalian mau tunangan dulu baru menikah tahun depan?” Pertanyaan Papa Yudith sontak mengangkat wajah tertunduk Ara. Terbelalak dengan raut kebingungan, Ara melirik Rava yang tersenyum kaku.

__ADS_1


“Iya, Pa.” Jawab Rava singkat. Sekuat tenaga Rava menutupi kekecewaan di hatinya. Menampilkan senyuman seolah peryataan itu semua atas kehendak mereka berdua.


“Kakak yang mau?” Tanya Mama Lauritz tepat sasaran tanpa basa-basi. Sudah terlihat jelas dari sorot mata Ara dan Rava. Belum lagi hubungan keduanya yang tampak renggang beberapa hari ke belakang.


“Selesaikan omongan kalian berdua dulu. Mama yakin masih ada yang belum kalian bicarakan. Di sini Mama gak menuntut kalian harus secepatnya menikah, tapi dari pada pacaran kalau memang serius lebih baik menikah.” Ucap Mama Lauritz menasehati pasangan muda di depannya.


“Buat kamu, Rav, Mama sama Papa gak minta harus nikahi anak Mama dengan pesta mewah atau mahar bernilai fantastis. Kalaupun nantinya kalian mau buat sesuatu yang mewah, itu memang pilihan kalian. Tapi hanya satu yang Mama sama Papa minta, jangan lupa berbagi ke orang yang lebih membutuhkan. Kakak paham kan maksud Mama? Minimal undang anak-anak panti.” Ucap Mama Lauritz lagi, memandang Rava dan Ara silih berganti sambil mengutarakan isi pemikirannya yang sering menjadi bahan rundingan mengiringi waktu tidur bersama Papa Yudith.


Berdiri dari duduknya, Mama Lauritz mendorong pelan bahu Papa Yudith agar ikut beranjak pergi. “Udah, Pa. Sekarang biarkan Kakak sama Rava bahas masalah mereka berdua dulu. Kasih mereka waktu untuk menyatukan pikiran. Mama gak mau ada yang menyesal diantara dua anak itu.”


“Kakak mau kerja dulu Ma..” Ucap Ara memberanikan diri, menyela kecanggungan yang hampir terwujud diantara Rava dan Ara yang hendak ditinggalkan.


“Kakak belum bisa kasih apa-apa buat Mama sama Papa. Menikah langsung setelah lulus? Kakak merasa gak berguna kalau Kakak gak kerja dulu.” Imbuh Ara berucap dengan suara berdengung dan nafas tercekat. Sukses hal itu menghentikan gerakan Mama Lauritz yang memaksa Papa Yudith untuk segera beranjak pergi.


...****************...


*


*


*


Tebak, 1 tahun atau 3 bulan lagi?🤔


Terima kasih semuanya yang sudah mendukung tulisan Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2