
"Maaf, sebenarnya saya gak bisa lupain malam pertama kita." Ucap Rava tiba-tiba dengan cepat sambil tetap memeluk tubuh berontak Ara yang terus memukulnya.
'Malam pertama?'
'Yang punya orang nikah!!????' Dahi berkerut, mulut melongo, mata melotot, itulah penampakan Ara saat ini.
"HA!!????" Seolah kaget yang terlambat, lengkingan suara Ara baru saja terlontar. Mulut terbuka lebar yang semoga tidak ada menguarkan aroma mematikan, Ara mendongak menatap Rava lekat.
Rengkuhan Rava merenggang seiring sikap salah tingkahnya, kesempatan ini Ara gunakan untuk mendorong kasar Rava. Mau tidak mau Ara harus mengakhiri drama pemicu gosip panjang. Meski sesingkat apapun akan tetap memicu drama pergosipan yang melebihi 1000 jam tayang.
Sayangnya bukan hanya Ara yang terkejut, namun beberapa orang yang mendengar ucapan Rava, tidak perduli laki-laki atau perempuan sudah banyak yang melotot, melongo dan yang sadar reflek menutup mulut terbukanya dengan telapak tangan. Jelas sudah akan muncul gosip sepanas lelehan logam dan setajam pisau daging yang akan menggila di lingkungan pendidikan itu.
"I-Iya.. Ma-Malam itu.." Jawab Rava terbata-bata, mengusap tengkuknya salah tingkah. Akibat dorongan kuat Ara, Rava hampir terjengkang ke belakang jika tidak sigap menahan bobot tubuhnya. Sedetik kemudian Rava sadar akan ucapannya yang bisa membuat banyak orang salah paham.
Bahkan Rava bisa menebak pikiran Ara sudah menjalar kemana-mana tanpa bisa ia cegah lagi. Memang salahnya yang berkata cukup ambigu.
"Maksud saya malam kamu dirawat, Ra. Malam saya nemenin kamu yang rawat inap. Bukan.. Bukan malam itulah.." Jelas Rava lagi, pipinya bersemu merah kala 'malam' tidak senonoh yang terlintas dipikirannya.
"Aneh." Gumam Ara lirih, mengernyit heran pada Rava yang seperti kepiting salju rebus.
Bola mata gugup diarahkan ke segala penjuru yang justru menangkap pemandangan mengejutkan. Iya, Rava baru sadar sudah mempertontonkan aksi tidak pantasnya seorang Dosen sementara yang memeluk paksa mahasiswinya.
"Ayo.." Ucap Rava sambil menggenggam tangan Ara, menarik lembut untuk mengikuti langkah cepatnya. Tentu saja masih dengan disaksikan banyak mata, termasuk mata Dian dan sepasang mata yang menyimpan rasa iri pada sikap Rava.
"Lepas deh Mas.." Rengek Ara pelan, tidak ingin suaranya sampai di dengar orang-orang yang dilewatinya.
"Gak akan, sebelum kita sampai mobil saya."
"Huh..!!" Menghembuskan nafas kasar, Ara sudah pasrah ditarik-tarik. Meski tidak sakit, namun hujaman tatapan iri terasa bersarang di sekujur tubuhnya. Entah Ara yang berpikir berlebihan atau memang kenyataannya seperti itu.
"Pak Kim.." Dian menghadang langkah kaki Rava dan Ara. Berdiri di hadapan Rava dengan tiba-tiba sambil mengibaskan rambut yang bergelombang. Sangat menawan dan mempesona hingga sepasang mata yang menatapnya sempat tidak berkedip.
__ADS_1
Jangan salah sangka, bukan mata Rava yang jelalatan. Justru Ara yang sempat mengagumi kecantikan Dian. Sedangkan Rava yang terkejut karena kemunculan Dian yang tiba-tiba seketika menghentikan langkahnya.
Duk.
"Aduuuh!!" Kepala Ara menghantam punggung kokoh Rava dengan sukarela. Bukannya mengusap dahinya, Ara sibuk memegangi lehernya. Leher yang jarang diajak pemanasan itu berbunyi saat kepala Ara tersentak.
"Kamu gak apa-apa?" Menoleh spontan pada Ara, Rava tampak khawatir. Jelas sangat khawatir dengan gestur ikut mengusap bagian belakang tengkuk Ara yang tidak tertutupi rambut. Iya, Ara sengaja menguncir rambutnya.
"Gak apa-apa kok.. Pak." Jawab Ara setengah tidak enak hati. Sedangkan Rava yang dipanggil 'Pak' tentu mengernyit heran. Menurut Rava sudah sangat tidak berguna Ara kembali memanggilnya Bapak bila belitan tangan keduanya sudah terpampang nyata. Bahkan jika perlu Rava ingin berteriak jika Ara adalah miliknya agar semua orang tau dan memukul mundur lawannya yang berondong segar alias masih muda dan kinyis-kinyis.
Tidak ingin mempermasalahkan hal sepele, Rava kembali ingin membawa Ara melangkah pergi. Sayangnya semua itu tidak semudah sebelumnya. Ingin melangkah ke kiri ataupun ke kanan, maka Dian akan memblokir dengan sigap.
"Apa Bapak ada waktu? Bapak masih punya hutang makan siang loh sama saya.." Menatap jengah Dian yang justru sedang tersenyum, Rava sudah mengepalkan tangan kanannya yang bebas. Bukannya melupakan, Rava hanya ingin tidak ingat pada keputusan sepihak yang Dian klaim sebagai hutangnya itu.
Sebuah kalimat yang tidak diiyakan atau ditolak Rava sebagai imbalan membuat Ara ikut dalam perjalanan ke Kota Y kala itu. Bahkan Rava saja sebenarnya tidak ada tugas penting yang mengharuskan kehadirannya. Semua hanya siasat demi menghabiskan waktu bersama Ara, meski jelas tidak ada peluang untuk Rava mencuri waktu berduaan dengan Ara. Hampir terlupakan, Rava memang sempat berdua, namun sayangnya Ara dalam kondisi pingsan.
"Ara.. Kamu bisa pulang sendiri kan?" Ucap Dian sambil menyilangkan tangan di depan dadanya, tersenyum ramah yang dibuat-buat. Merinding Ara menyambut senyuman Dian.
"Apa kamu juga mau ikut?" Tanya Dian dengan sudut bibir menyeringai dan menatap sinis Ara.
"Saya permisi saja.." Tangan kiri Ara mendorong genggaman Rava, mencoba terlepas dan berlari menjauh.
"Ara..!" Suara Rava menggeram rendah, ia tidak suka dengan sikap Ara yang ingin meninggalkannya.
"Biasa aja Ra, kamu kan udah terbiasa saya kasih makan."
Deg.
Tertawa hampa tanpa suara Ara pada kalimat yang jelas menghinanya itu. Menyamakan seolah Ara pengemis, itulah inti yang Ara tangkap dari kalimat Dian.
"Hati-hati anda kalau bicara!" Ucap Rava datar. Rahang mengeras Rava bahkan genggaman yang semakin menguat sudah cukup menjelaskan kemarahan Rava. Benar saja, bukan hanya Ara yang merasa terhina, namun Rava juga sangat tersinggung.
Menahan Rava lewat tangan yang membalas genggaman mengencang, Ara maju selangkah mendekati Dian. Tersenyum manis menatap Dian, tentu Ara punya jawaban. Ara bukan gadis yang akan menciut, apalagi saat dirinya sudah terang-terangan ditantang duel seperti saat ini. Tidak perduli lawannya anak Sultan sekalipun, Ara akan melawan bila dirinya terinjak-injak.
__ADS_1
"Iya, Bu. Terima kasih banget udah sering kasih saya makanan. Wajar sih Ibu sayang banget sama saya, karena saya kan suka lembur bantuin Ibu ngerjain analisis." Jawab Ara penuh penekanan, emosi yang sebenarnya meluap-luap itu Ara redam. Menampilkan gigi kelincinya dalam senyuman kaku.
"Bahkan gak saya minta juga Bu Dian ini sering nawarin saya makan di rumahnya aja loh Mas.." Ucap Ara kali ini sambil menatap Rava. Seakan berada di pihak Dian dan menjadi mak comblang, Ara menabur banyaknya kebaikan yang pernah Dian berikan.
Bukan tujuan Ara sebenarnya ingin menunjukkan seberapa baiknya Dian pada Rava. Mungkin Ara tampak munafik. Tapi Ara jelas ingin menyindir kebaikan Dian yang saat ini terasa hanya omong kosong belaka. Bahkan dengan tidak segan Ara sengaja menyebut Rava dalam panggilan Mas lagi. Biarlah Dian semakin berkobar hingga terbakar hangus, begitu pikir Ara yang sudah cukup muak.
"Maaf, bisa menyingkir!?"
"Ppfft..!!" Ara tidak bisa menahan tawanya. Baru saja tampak Dian akan membalas ucapannya, Rava sudah menjadi benteng pelindung Ara dan mengusir mundur Dian.
"Jadi sebenarnya yang jadi pelakor itu siapa?" Suara bisikan samar yang merambat lewat udara mengetuk perlahan gendang telinga Ara. Tentu saja bila Ara mendengar maka Rava akan lebih jelas mendengarnya. Seolah radar ekstra kuat selalu Rava pancarkan bila berkaitan dengan Ara.
...****************...
*
*
*
Gosip apa yang mulai merebak di kalangan manusia kepo itu?🤔
*
*
Sampai sekarang Hana masih kepikiran, kenapa ya pilih cast visual Dian cantik banget?😂
Kalau akhlaknya baik, mungkin pada setuju gak kalau Dian bisa 'dekat' sama Rava??🤔 (Kalau ya ini.. Jangan kebakaran duluan..😂😂)
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1