Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Salah Paham!?


__ADS_3

"Abang lihat gak tadi muka itu Ibu-ibu??" Tanya Ara dengan mata berbinar. Sangat puas Ara kala melihat wajah merah padam Dian. Belum lagi kedua tangan terkepal milik Dian yang masih bertahan hingga berlalu meninggalkan meja Ara dan Gilang.


"Abang cuma liat rendang yang dianggurin. Kasian Ra.. Sini Abang makan aja."


Plak


Ara menepis tangan Gilang dengan mata yang melotot dan bibir manyun. Rendang yang baru Ara rasa aromanya saja nyaris tersentuh jari-jari nakal Gilang. Sungguh definisi maling di depan muka.


"Asem banget sih Ra.. Nanti diam-diam pasti ambil ayam goreng Abang juga.. Gak mau bagi!! Weekkk!!" Menjulurkan lidah dengan lengan kiri seolah menjadi benteng pelindung piring nasinya, Gilang memandang sengit tepat pada mata Ara.


"Kayak bocah aja. Padahal Ara bisa pesan sendiri kok." Ucap Ara cuek.


'Gaya sama Pak Rava tapi kok bonceng angin. Iya, mungkin sama Rava halu atau roh nya Pak Rava yang nyangkut. Dasar orang tua gila!!' Gerutu Ara dalam hati. Kunyahan kasar menunjukkan tingkat level kekesalan Ara.


Meski Ara tidak perduli dengan tingkah Dosen perempuan yang tampaknya baru saja melabraknya, mata Ara tetap menatap sosok itu hingga menghilang. Sudah sangat jelas bagaimana akhir kisah pengekoran bola mata Ara, tidak ada wujud nyata Rava.


Harusnya Dian bisa lebih cerdas bila ingin membual atau setidaknya ingatlah dimana letak ia memarkirkan motor agar tidak tertangkap basah oleh Ara. Level halu Ara terhadap Oppa Korea sepertinya terkalahkan oleh tingkat imajinasi Dian. Seketika Ara langsung teringat pada Hana Hikari, seorang author novel pemula yang doyan halu sampai bermimpi menikah dengan aktor Korea Song Kang. Bak batu kali yang rela menjadi gosokan daki sang pemilik wajah dengan rasio emas, mungkin inilah yang juga terjadi pada Dian.


Lama-kelamaan kunyahan Ara menjadi pelan, teratur dan normal kembali akibat perasaan miris pada Dian, semoga Dian tidak gila jika berakhir dengan penolakan Rava. Di samping Ara yang masih meresapi pikirannya, rupanya tangannya sudah bergerak menjamah tulang rawan pada potongan ayam goreng di piring Gilang.


...----------------...


"Bang berhenti dulu." Menepuk bahu Gilang beberapa kali, Gilang layaknya tukang ojek pengkolan bagi Ara.


"Kenapa??"


"Jangan berhenti sembarangan Bang! Cari tempat parkir lah.." Gerutu Ara sambil mencebikkan bibirnya.


"Tadi disuruh berhenti, sekarang dimarahin. Labil banget sih Ra.. Gak kebayang kalau dijadiin istri bakal kayak gimana tingkahnya." Ucap Gilang yang membuat Ara diam membeku. Salah satu hal yang Ara khawatirkan baru saja terlontar bebas dari bibir Gilang.


"Jadi mau ngapain kita di sini??"


"Foto." Mengernyit heran Gilang pada Ara yang anti berfoto, namun Gilang perhatikan sudah seperti kecanduan foto hampir seharian ini bersamanya.


"Ayo Bang diam di situ, nanti gantian sama Ara." Ucap Ara dengan telunjuk mengarahkan Gilang pada posisi yang Ara inginkan.


"Udah??" Tanya Gilang setelah sekian kali dapat dilihatnya ibu jari Ara bergerak lincah menekan satu titik di ponselnya.


"Udah. Sekarang gantian Bang.." Menyerahkan ponsel yang masih membuka bagian kamera, Ara mulai bergaya seolah tidak sadar sedang difoto dengan ekspresi sangat bahagia.


"Udah. Nih!" Ucap Gilang sambil menyodorkan ponsel Ara.


"Kita lihat dulu Bang.." Menyambar cepat ponselnya, Ara sudah berkali-kali menggeser foto bolak-balik.



"Ihh.. Bagusan yang Ara fotoin.. Emang kurang jago Abang ini!!" Ucap Ara kesal. Ara sengaja menabung banyak foto Gilang sebagai amunisi dadakan untuk melawan Kakek Baren.


"Abang kan udah jago, ngapain kurang jago lagi??"


"Maksudnya??"


"Udahlah lupakan.. Jadi garing candaannya." Berlalu meninggalkan Ara, Gilang sudah berjalan dengan langkah besar dari hadapan Ara.


"Apaan sih itu orang, gak jelas banget." Berlari kecil untuk segera menyamakan langkahnya dengan Gilang, Ara tidak sadar sudah melewati seseorang yang sangat ia kenal. Berbeda dengan Gilang yang diam-diam justru sudah mengetahui sejak lama.



Sang mantan penguntit Ara kembali menjadi penguntit di sebalik rimbunnya bunga liar dan yang sengaja ditanam. Wajahnya sangat putus asa kala melihat tawa Ara bersama Gilang. Sekian lama mendekatkan diri pada Ara dan keluarganya tidak membuat Rava semakin percaya diri.


Kisah hidup Gilang yang penuh perjuangan hingga sikap ramah, penyabar dan supel yang selama ini Rava ketahui dari pertemuan singkat menjadi nilai tambahan kualitas Gilang sebagai 'calon menantu'. Apalagi jika mengingat Papa Yudith pernah mengatakan Gilang sebagai pilihannya, jelas menyusut kepercayaan diri Rava.


Memilih mengamati saja, Rava sengaja tidak langsung menghampiri Ara. Memanfaatkan waktu Ara dan keluarganya pergi ke Kota K dengan menyibukkan diri hingga keluar kota juga pada hari yang sama dengan kepergian Ara, Rava menyesal kemarin tidak langsung menyerbu menemui Ara.


Berpikir Ara butuh istirahat justru menjadikan Ara hari ini bukan menghabiskan waktu dengannya. Padahal Rava hampir saja datang lebih cepat sehari dengan alasan hanya untuk membuat janji, bukan seperti kini yang hampir separuh harinya dihabiskan untuk membuntuti Ara.


Jika saja Rava juga langsung terlihat saat Dian mengancam Ara, bisa saja mungkin Ara akan langsung percaya pada ucapan Dian. Beruntung Rava sedang tidak menggunakan mobil miliknya sendiri hingga mampu diam-diam mengikuti Ara.


Rava memang sudah mengikuti Ara dan Gilang sejak keduanya keluar dari pelataran rumah orang tua Ara sampai ke toko baju, hingga mampir ke taman hanya untuk sebuah foto. Bahkan Rava sempat ingin berlari menghamburkan diri pada saat Ara hampir menyebrang sembarangan.


"Mamas mau kemana??" Tanya Ara pada Jona yang sudah duduk manis di motornya sembari mengenakan helm. Ara baru saja sampai di rumah, bahkan Gilang juga baru menghilang sosoknya dari pandangan Ara.


"Ke rumah Bayu Kak."


"Udah izin Mama?"

__ADS_1


"Udah.. Nanti Jona pulang jam 7 malam ya Kak." Ucap Jona memberitahukan Ara waktu kepulangannya.


"Jangan tiba-tiba heboh nyariin lagi." Lanjut Jona berucap sambil memicingkan matanya.


"Iya.. Iya.. Udah sana, hati-hati.." Ucap Ara pada Jona yang dibarengi dengan berlalunya Jona keluar halaman rumah.


Tin.. Tin..


Suara klakson mobil memekak gendang telinga Ara. Sempat terlonjak kaget, Ara menatap tajam mobil asing yang sudah parkir seenaknya itu. Rava dengan wajah kusut dan lelah menyembul dari balik kursi kemudi.


"Saya mau ketemu Mama kamu." Ucap Rava tiba-tiba seperti petir yang datang tanpa permisi.


"Kenapa ya Pak?"


"Haah.." Menghela nafas gusar, Rava pandangi Ara selekat mungkin.


"Saya ada perlu sebentar sama Mama kamu, bisa tolong panggilkan??" Pinta Rava sekali lagi yang langsung diangguki saja oleh Ara.


"Ada apa ini Pak Dosen nyariin Tante?? Kayaknya Tante gak daftar kuliah lagi deh.." Ucap Mama Lauritz dengan nada gurauannya. Sedangkan Ara masih setia berdiri di belakang punggung Mama Lauritz.


"Maaf Tante kalau Rava ganggu nih.. Rava mau minta izin buat bawa Ara keluar sebentar aja. Bisa gak Tante?" Melotot kaget Ara pada urusan Rava dengan Mama Lauritz yang ternyata adalah izin untuk mengajak Ara pergi.


"Kirain apa Rav.. Bawa aja itu anaknya.. Tinggal ajak aja kirain ada apa gitu sampai bilang ada urusan sama Tante."


"Kan biar Tante sama Om gak kehilangan Ara. Hehe.." Terkekeh Rava menanggapi ucapan Mama Lauritz. Ara bersumpah matanya saat ini pasti sudah selebar lapangan golf, efek senyum yang biasanya pelit dan irit itu diberikan Rava gratis pada keluarganya masih belum terbiasa di mata Ara.


"Jangan lupa dibalikin anak gadis Tante ya Rav.." Pekik Mama Lauritz saat mobil yang Rava dan Ara kendarai hampir bergerak meninggalkan rumah berlantai 2 itu.


"Kamu apa kabar?" Membuka pembicaraan, Rava mengamati wajah cantik di kursi samping nya. Keduanya masih diam di dalam mobil pada tepi jalan yang lumayan ramai. Lagi-lagi Rava kesal pada dirinya sendiri yang belum membeli motor untuk membonceng Ara. Lebih tepatnya untuk modus agar Ara memeluknya dari belakang.


"Baik." Jawab Ara singkat.


"Kalungnya belum kamu pakai rupanya.." Ucapan Rava terasa kecut, tentunya bagi Rava sendiri.


"Maaf Pak, saya gak bisa terima perasaan Bapak." Memberanikan diri menatap Rava, Ara untuk kesekian kalinya lagi-lagi menolak perasaan Rava padanya.


"Kamu ragu dimana lagi sama saya Ra?? Saya akan memperbaiki semuanya.. Kita juga bisa bersama-sama saling mengerti." Mata Rava berubah sendu, senyumnya terlihat sangat dipaksakan.


"Sekali lagi maaf Pak. Saya gak bisa jelasin secara detil, tapi maaf banget hati saya ini udah memilih untuk hidup sendiri." Tegas, lugas dan tanpa ragu Ara mengungkapkan isi hatinya yang ingin menghabiskan waktu mengabdikan hidup pada dirinya saja.


"Gak semua laki-laki kayak gitu Ra." Lanjut Rava. Tangan sebelah kanan Rava mencengkram erat kemudi mobil hingga urat-urat tangannya tampak menonjol.


"Iya, saya tau. Tapi saya masih juga ngerasa sakit kan walaupun gak semua laki-laki bajingan?? Terus saya harus apa sama Bapak?? Menerima tapi penuh keraguan? Menjalani hubungan tapi setengah hati? Tertawa tapi gak tulus? Apa harus kayak gitu?" Tanya Ara frustasi. Ia juga ingin merasakan rasanya dicintai dan mencintai tanpa ketakutan, namun harus bagaimana lagi jika Ara akan nyaris gila bila memikirkan suatu saat ia akan dibuang lagi karena cintanya.


"Membuka hati kamu untuk sosok yang baru." Suara rendah Rava mengisi keheningan sesaat.


"Udah saya lakukan kok. Bahkan sebelum Bapak hadir saya udah belajar membuka pintu hati saya.. Tapi nyatanya saya masih sakit." Menghela nafas kasar, Ara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Ibarat memar ya Pak, saat ini memang gak berdenyut nyeri atau sakit, tapi saat saya sentuh rasanya itu nyut-nyutan. Jadi kalau Bapak gak kuat dengan usaha Bapak sendiri, silakan angkat kaki dan pergi menjauh dari jangkauan saya. Saya gak pernah mengundang Bapak mendekat atau menyuruh Bapak berusaha, semua ini murni kemauan Bapak." Ucap Ara lagi, berharap Rava menyudahi keinginannya.


"Saya akan tetap berusaha demi kita Ra." Rava kukuh pada pendiriannya.


"Cih!! Terus Bu Dian mau Bapak kemanain!!?? Gak usah ngelak deh kali ini.. Bapak ada hubungan serius kan sama Bu Dian?? Atau jangan-jangan Bapak ini udah mau nikah sama Bu Dian tapi malah mau jadiin saya selingkuhan biar di cap pelakor ya!!??" Sorot mata siap mencincang Rava kapan saja, Ara tiba-tiba tersulut emosi mendengar kata 'kita' disertai ingatannya pada sosok Dian.


"Sumpah Ra.. Saya itu gak ada apa-apa sama Bu Dian."


"Kalau gak ada apa-apa kenapa belanja berdua sampai gak tau malu di tempat umum nemplok kayak cicak berdua gitu?? Kalau mau pegangan tangan ya pegang aja, ngapain nempel-nempel?? Itu yang katanya gak ada apa-apa!!??"


"Kapan saya kayak gitu Ra??"


"Dih! Sok amnesia segala. Basi!!"


"Saya gak pernah kayak gitu Ra!! Siapa yang fitnah saya sampai segitunya??"


"Fitnah.. Fitnah.. Mata saya Pak yang lihat sendiri!!" Ucap Ara penuh emosi. Tentu saja Rava hanya terbengong menyaksikan amarah Ara.


"Kamu cemburu??" Tanya Rava dengan senyum cerah merekah. Rasa bingung ditepisnya dengan pemikiran bahwa Ara sedang cemburu bila ia ada hubungan dengan Dian.


"Nggak!!"


"Saya beneran gak ada hubungan apapun, saya juga gak mau Ra deket sama orang yang kayak lintah gitu."


"Pfft!!" Seketika amarah Ara lenyap, menahan semburan tawanya Ara memasang wajah datar tidak perduli.


"Sekarang kasih tau saya kapan kamu lihat.. Bisa jadi kamu salah paham Ra." Bujuk Rava pada Ara.

__ADS_1


"Ini saya kasih tau bukan berarti nanti saya bakal percaya sama alasan Bapak ya!! Saya lihat di supermarket waktu saya mau ke Kota K. Bapak pegangan tangan sambil nempel-nempel gitu sama Bu Dian. Geli banget!!" Meskipun ucapan Ara sangat sewot, namun Rava justru tersenyum semakin cerah. Ingin Rava memeluk Ara, mendekap gadis mungil untuknya seorang diri.


Entah sudah berapa lama Rava mengulik ingatan tidak penting, hingga akhirnya ia tersadar sebuah kejadian mengesalkan dan tergolong sial untuknya.


"Kalau yang kamu maksud waktu di supermarket itu saya kelihatan bawa troli banyak isi bahan pokok, itu semua salah paham Ra. Waktu itu gak tau datang dari mana Bu Dian udah jatuh nempel ke saya.. Masalah tangan itu juga Bu Dian yang pegang. Saya langsung hempasin tangannya Ra.. Apa kamu gak lihat saat saya lakuin itu??" Tanya Rava yang dapat Ara lihat penuh kekhawatiran, namun Ara tetaplah Ara yang tidak akan mudah percaya begitu saja.


...----------------...


Ceklek


"Kakaaakk.. "


"Mamas kenapa mukanya jelek gitu??" Mengernyit Ara tatap Jona yang masuk ke kamar miliknya dengan cemberut.


"Katanya main di rumah Bayu pulang jam 7, kok udah pulang sekarang? Tumben.."


"Tadi Kakek Nenek nya Bayu datang Kak."


"Terus jadi pada balik gitu?" Pertanyaan Ara hanya dijawab gelengan oleh Jona.


"Jadi?" Tanya Ara lagi sambil mengusap rambut Jona. Posisi Jona sudah membaringkan badannya dengan kepala bertumpu pada paha Ara.


"Jona pulang sendiri."


"Kenapa??"


"Kak.. Rasanya punya Kakek sama Nenek yang sayang sama kita itu gimana ya??"


Deg


Nafas Ara tercekat. Inilah yang Ara takutkan. Tidak apa jika Ara yang sakit, jangan Jona dan Rian. Akan tetapi, kini Ara tau jelas Jona sudah tidak baik-baik saja.


Wajar bila Jona merasa ingin bahkan iri, apalagi baru-baru saja ia bisa melihat wajah sang Kakek dan Nenek meski hanya dari pihak Mama Lauritz. Hanya sebatas melihat bagi Ara, karena interaksi singkat itu tidak menggambarkan bentuk kasih sayang sedikitpun. Memilih diam, Ara mencoba menjadi pendengar keluhan selanjutnya yang keluar dari bibir Jona.


"Tadi Kakek sama Nenek Bayu datang Kak.. Mereka gak bawain apa-apa buat Bayu, cuma bawa 2 rantang susun aja. Gak tau deh isinya apa.. Tapi.."


"Tapi apa, hem??"


"Kakek nya Bayu kelihatan sayang banget. Kepala Bayu dielus-elus mulu Kak.. Apalagi Nenek nya yang nyiumin Bayu sampai si Bayu merengek bilang malu banget."


"Haaaah..." Menghela nafas perlahan yang tertahan, dada Ara terasa sakit terhimpit. Jantung yang bergemuruh tidak karuan menyulitkan Ara untuk berucap.


...****************...


Rasio Emas : Rumus matematika yang dibuat orang-orang Yunani untuk mengukur ketampanan atau kecantikan. Dalam rumus rasio emas, semakin dekat rasio wajah atau tubuh terhadap angka 1,618 atau Phi, maka makin sempurnalah wajah seseorang itu.


*


*


*


Apa ada yang udah 'dag dig dug' waktu momen Rava sama Ara??😄


Banyak banget pendukung Rava nih.. Gak kebayang udah dukung Rava sepenuh jiwa raga EHH Ara nikahnya sama .... Hehe🤭


(KAAABBBUUUUURRRR 🚣‍♀)


*


*


Hana debut di novel Hana sendiri loh🤣🤣


Sebelum dinistakan orang lain, maka Hana nistakan aja sendiri 😌


Kakak Cantik : 🙄


Kakak Ganteng : 😑


Hana: (Sedang dalam pengakuan sebagai rakyat halu)


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2