
"Iya tau Tant.. Yuki mana berani bohong sama Tante.." Sayup-sayup suara Yuki dari arah ruang tengah terdengar. Entah mengapa bulu kuduk Ara seketika meremang. Mengusap lengannya perlahan yang merinding, Ara melanjutkan langkah kakinya.
"Wee.." Seru Ara sambil menubruk tubuh Yuki yang duduk di sofa panjang, namun wajah cerahnya tiba-tiba kikuk oleh tatapan Mama Lauritz. Suasana tidak mengenakan menyelimuti ruangan minimalis dengan layar televisi yang menyala tanpa dipedulikan, sungguh kasihan.
"Kakak udah sejauh apa sama Rava??" Pertanyaan bernada rendah nan menghunus mendadak menyerang Ara.
"Apaan sih Ma??" Tanya Ara gugup. Keringat dingin seolah bekerjasama dengan terus mengucur di tengkuk terbukanya.
"Kalau Kakak mau pacaran silakan, gak akan Mama larang. Mama dulu juga pernah muda, pernah pacaran. Tapi ingat pesan Mama, kalau tingkah kalian sampai kelewatan, lebih baik nikah aja langsung!!" Ucap Mama Lauritz tajam, sedangkan Ara yang sadar atas keberadaan kompor bledug segera menatap sengit Yuki. Benar saja, Yuki menampilkan seringai jahilnya yang dibubuhi kedipan genit.
'Sialan!! Teman laknat!! Pasti diceritain pakai tambah rempah dapur lengkap!!' Membatin kesal akhirnya Ara benar-benar tersadar, pasti Yuki sudah bercerita jika Rava sempat mengecup sekilas di depan warung ayam bakar. Meski hanya kecupan di puncak kepala, tapi Ara sangat yakin bahwa bibir Yuki tidak ikut menyertakan fakta itu juga. Mendesah kesal, tampaknya Ara harus siap-siap mengunci rapat bibirnya pada kisah yang lebih intim.
"Jawab Mama!!" Suara Mama Lauritz yang terasa menggelegar mengejutkan Ara.
"Iya, Mama.." Jawab Ara lemah sambil memilin ujung bajunya.
Sejujurnya ada perasaan takut yang menghinggapi lubuk hati Mama Lauritz. Mengenang kisah sang Adik yang berpacaran dengan gaya bebas hingga menghasilkan Ega, tentu membuat hati seorang Ibu waspada. Ia tidak ingin Ara kebobolan. Meski mungkin kisahnya akan berbeda. Bukan karena dahulu Tante Laura ditinggal Om Arya, bukan itu. Justru tingkah Tante Laura yang tidak tau diri ingin hidup bebas malah menolak pertanggungjawaban Om Arya kala itu.
"Suruh Rava datang ke rumah kalau udah gak tahan buat ngajakin kamu nikah!" Ucap Mama Lauritz yang bernada membingungkan di telinga Ara. Tidak ketus tapi tidak juga melunak, namun juga tampak menggoda Ara.
"Mama lupa.. Kan Rava udah pernah minta Kakak.." Menjitak kepalanya sendiri, Mama Lauritz mengingat beberapa kali kedatangan Rava dengan niat serius. Digantung, itulah hasil dari usaha Rava.
Bukan tidak menghargai usaha Rava atau tidak memberikan restunya, namun kedua orang tua Ara lebih ingin Rava memasuki kehidupan Ara secara perlahan. Jika memang berjodoh dan Ara tetap bahagia selama berada di sisi Rava, Papa Yudith sendiri sudah berkata akan memberikan restunya. Menyerahkan satu-satunya gadis kecil miliknya kepada orang lain untuk menggantikan tanggung jawabnya tidak semudah melepaskan duri ikan yang tersangkut di sela gigi.
Mengetahui riwayat penyakit kejiwaan anaknya yang sempat menjadi dasar keinginan untuk hidup sendiri, tentu membuat Papa Yudith dan Mama Lauritz tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan. Keduanya takut Ara menganggap keinginannya sendiri diabaikan dan diam-diam menyimpan luka baru lainnya.
...----------------...
"Ngomong apa tadi sama Mama!!???" Pertanyaan menghardik Yuki yang hanya ditanggapi kekehan sukses memicu rasa gatal di gigi Ara. Iya, sangat gatal ingin mengunyah Yuki hingga menjadi bubur.
"Serius deh.. Gak usah main-main Yuki!!" Suara merengek yang sarat akan kekesalan terlontar dari bibir Ara. Membenamkan wajahnya pada posisi tengkurap, kaki Ara sudah menghentak layaknya berlatih berenang.
"Dih ngambek.." Cibir Yuki santai.
"Tadi aku cuma ngomong kalau kamu sama Pak Rava udah main gendong, peluk, sama yang terakhir aku ceritain aja kalau Pak Rava udah berani nyium kamu." Lanjut Yuki berujar tidak kalah santainya. Sangat santai sambil menggosok permukaan kukunya lembut penuh kasih.
"Oh.." Masih menenggelamkan wajah pada kumpulan selimutnya, otak Ara seakan kehabisan sinyal.
"WHAT!!?????" Melonjak dari posisinya, Ara sudah berdiri tegak di atas kasur empuk.
Brugh.
__ADS_1
"AMPUUUNN!!!!" Pekikan kuat dan gerakan mendadak Ara berhasil menggeser pantat Yuki dari tepi ranjang hingga mencium lantai tanpa alas karpet bulu.
"Suara mu, Yuki!! Bikin sakit telinga ku..!!" Keluh Ara sambil mengusap kedua daun telinganya bergantian.
"Yang bikin kaget itu dirimu!! Mana pasti tambah tepos ini aset sekarang.." Ucap Yuki mendramatisir keadaannya.
"Lagian bisa-bisanya ngomong aku dicium!! Dikecup Yuki, cuma puncak kepala aja." Menaikkan suaranya dengan geraman tertahan, Ara sudah mengepal gemas.
"Intinya kan sama aja.. Bibirnya juga kan yang nyosor?? Lagian kalau Tante Liz mikir lebih juga bagus, udah jengah aku lihat kalian main layang-layang mulu." Mata mendelik merotasi malas dan bibir berkomat-kamit tidak jelas masih menghiasi wajah Yuki.
"Jadi ini datang cuma mau bikin fitnah aja??"
"Sok-sokan ngomongin fitnah.. Ngaku deh, pasti ada adegan ciuman yang gak kamu ceritakan ke aku kan??" Tuduhan Yuki membuat kepala Ara berdenyut. Rasanya darah Ara mengering seketika akibat menghadapi Yuki.
"Gak ada ya.. Belajar pegangan tangan sama cowok aja belum lama ini.."
"Ooh.. Jadi kalau udah lama bisa nih ya..??" Memainkan kedua alisnya naik turun, Yuki sudah menahan luapan tawanya.
"Ck!!" Berdecak kesal Ara berbaring membelakangi Yuki.
"By the way, aku hampir lupa sesuatu." Menghempaskan tubuhnya di samping Ara, Yuki menatap langit-langit membiru.
"Kamu bisa lacak akun sosmed abal-abal gak?" Tanya Yuki tiba-tiba.
"Ayo dicoba, Ra.."
"Buat apa??" Mengernyit heran Ara membalikkan tubuh berbaring nya menghadap Yuki.
"Ck! Ck! Ck! Kumat deh lemotnya.." Mendengus kesal, Yuki tidak habis pikir kenapa Ara tidak melatih kebolehan yang terpendam itu.
"Udah tau aku kumat lemot, kenapa gak langsung ngomong ke intinya aja??" Gerutu Ara sambil memanyunkan bibirnya.
"Kita cari yang sebar berita di grup jurusan sama akun gosip kampus. Aku masih simpan screenshot percakapan yang ada nama akun si penyebar. Kita lacak kutu busuk itu sampai tuntas!!"
"Tapi aku gak yakin bisa.." Ucap Ara pesimis.
"Coba dulu aja.. Aku tuh kepikiran gini gara-gara dirimu bantu Dimas benerin ponselnya sama gak sengaja nonton film yang ada hacker gitu.." Celetuk Yuki yang sudah membayangkan aksi menegangkan dan keren disaat bersamaan kala sang hacker meretas sistem guna mencuri data. Benar-benar tindakan ilegal yang hanya tampak indah dalam balutan sebuah film.
"Apa perlu aku mintain tolong ahli IT kenalan orang tua ku yang kerja di pemerintahan?" Ucap Yuki girang, mata berbinar seakan ia nyaris menjadi agen mata-mata.
"Kayak masalah besar aja.. Nanti juga ketahuan kok." Ucap Ara remeh.
__ADS_1
"Ini besar loh, Ra.. Pencemaran nama baik tau!!" Melengos, menyilangkan tangan, Yuki bertambah kesal dengan kelemotan Ara selama beberapa hari itu.
"Aku coba bikin akun bodong dulu aja kali ya.." Mengerutkan dahinya, Ara tampak sedang berpikir keras.
"Buat apa?"
"Ck!! Kok jadi kamu yang lemot.." Menggelengkan kepala, Ara ingin menjitak dahi Yuki.
"Sambil berusaha dilacak, kita pantau diam-diam dulu akun itu." Lanjut Ara lagi.
"Oya, udah aku kirim barusan nomor sama username yang nyebarin hoax. Lain kali kalau grup ramai langsung buka, Ra. Pas lagi heboh bahas foto sama video mu malah yang diomongin gak sadar." Ujar Yuki panjang lebar, bahkan ia lebih heboh dibandingkan Ara. Buka saja galeri ponsel milik Yuki, maka akan ditemukan banyak screenshot grup ghibah dan berbagai macam bukti kejahatan banyak orang yang sudah Yuki simpan.
"Iya aku kan malas banget baca yang di grup. Biasa juga gak penting-penting banget.. Tapi ada yang aneh tau.."
"Apa??" Tanya Yuki.
"Aku kok gak dipanggil komite pendidikan atau minimal orang jurusan buat klarifikasi ya??"
"Iya juga ya.. Kan ngeboom beritanya di grup jurusan.."
"Aku jadi was-was sekarang.." Menggigit kuku ibu jarinya, Ara dilanda kecemasan. Tidak tau saja ada seseorang yang sudah bergerak lebih cepat dibandingkan kecemasan Ara yang baru saja datang alias terlambat muncul itu.
...****************...
*
*
*
Berhasilkah Ara melacak siapa si penyebar hoax?🤔
Apa dan siapa yang bergerak lebih cepat??😳
*
*
Yuki lama-lama meresahkan gak sih?😂
Sangat-sangat meresapi karakter doyan ghibah ya si Yuki ini🤭
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰