Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bukan Artis, Bukan Orang Penting


__ADS_3

“Wee!!!”


“Huh!! Bikin kaget aja..!!” Memegangi dada kirinya, jantung Ara berdegup kencang. Seketika ia terperanjat dari lamunannya yang tidak jelas. Bukan karena suara melengking Yuki, namun kedua tangan yang menyentak hingga tubuh Ara terhuyung.


“Lagian melamun mulu. Pak Rava marah kemarin kamu gak angkat panggilan dia?” Mendudukkan dirinya, Yuki menyilangkan kaki disertai melipat kedua tangannya.


“Biasa, kayak bocah gitu.” Jawab Ara sambil menghembuskan nafasnya berat.


“Bocah gede.. Hahaha..” Menepuk tangannya, Yuki sudah tergelak sambil sesekali memegangi perutnya. Masih tidak percaya pada cerita Ara bahwa Rava bisa bertingkah layaknya balita kehilangan balon karakter.


“Dimas mana?” Melirik ke sekelilingnya, Ara bertanya pada Yuki.


“Telat..”


“Tumben banget dia telat terus beberapa waktu ini.”


“Kamu aja yang beberapa hari ini tumben jadi anak rajin. Biasa juga semenit sebelum Dosen datang baru lari-larian di parkiran.” Sindir Yuki sambil mencebikan bibirnya.


“Masa iya?” Tanya Ara seolah hilang ingatan.


“Nggak..!!” Sarkas Yuki. Tentunya bukan jawaban sebenarnya, namun sebuah penegasan pada fakta yang berkebalikan dari ujarannya.


“Hilih..”


“Ck! Tumben pakai hilih-hilih segala?” Berdecak, Yuki menatap intens pada Ara di sampingnya.


“Gara-gara kamu chat suka pakai hilih, halah sama heleh.” Jawab Ara santai.


“Kok jadi aku? Salah aku apa?” Balas Yuki tidak terima. Kini, ia sudah duduk menyerong ke arah Ara yang masih memandang lurus ke depan.


“Ya memang salah kamu sekarang aku jadi terkontaminasi bahasa abstrak mu itu.”


“Pakai nyalahin aku segala.. Bilang aja doyan sama kecanduan bilang gitu.”


“Iya aja lah biar cepat.” Mendesah pasrah, Ara tersenyum dengan bibir datar layaknya garis lurus.


“Hampir lupa kan aku..!! Kamu melamun mulu kenapa?” Ucap Yuki tiba-tiba. Menepuk pelan dahinya sendiri sambil membelalakkan matanya.


“Gak apa-apa.”


“Biasa perempuan kalau bilang gak apa-apa itu artinya ada apa-apa.” Memicingkan matanya, Yuki menelisik dalam tingkah dan tatapan mata Ara. Jelas ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ara.


“Shuuuttt..!! Jangan tanya aku tau dari mana, karena udah jelas aku ini perempuan juga.” Ujar Yuki lagi kala Ara baru saja hendak membuka bibirnya yang terkatup rapat.


“Gak nanya pun.. Kepedean akut.” Ucap Ara sambil menggelengkan kepalanya dan merotasi bola matanya malas.


“Ayo, jujur..!!”

__ADS_1


“Sadar gak sih..”


“Nggak.” Celetuk Yuki singkat, memotong perkataan lirih Ara yang belum juga diselesaikan.


“Aku belum selesai ngomong!” Geram Ara sambil mendengus sebal.


“Lanjut deh..” Ucap Yuki santai.


“Gosip tentang aku udah parah banget, tapi kenapa gak ada tindakan dari pihak kampus? Bukannya kalau terlalu heboh, apalagi bawa nama pengajarnya juga bakal di sidang gitu ya?” Menerawang jauh pada kekalutan yang sempat ia pikirkan, Ara bingung pada kondisi yang tidak sesuai perkiraannya.


“Kamu bukan artis, bukan orang penting juga. Tapi aneh juga kalau gak diusut kampus, secara sempat dibahas rame di media sosial.” Menopang dagunya dengan tangan kiri, jari-jemari Yuki juga ikut mengusap perlahan. Dahinya yang berkerut sudah sangat menjelaskan otak Yuki sedang sibuk memikirkan sesuatu.


“Nah kan..”


“Udah tanya Pak Rava?”


“Gak berani bahas sama Mas Rava. Lagian dia juga sibuk kerja, kasihan kali kalau harus aku pusingin sama masalah gak jelas kayak gini. Hah..” Menghela nafas cukup kasar, Ara sejujurnya ingin berbagi keresahannya pada Rava. Namun sungguh sayang bagi Ara yang merasa waktunya tidak pernah tepat.


“Apa perlu aku tanya senior?” Ucap Yuki seketika yang membuat Ara mengernyit heran.


“Senior siapa?”


“Itu lah..” Jawab Yuki sembari memainkan kedua alisnya naik turun serentak.


“Gak perlu deh. Lagian senior mana juga yang bisa bantu kita? Anak organisasi kalau terlalu kepo sama gosip cepat banget ketahuannya. Pasti mereka ghibah sesama anggota aja.”


“Bukan itu bodoh!!” Seru Yuki kesal


“Sakit..” Keluh Ara sembari mengusap bekas jitakan Yuki.


“Lagian kenapa otak mu gak langsung terkoneksi sih!!?? Bukan senior mahasiswa, tapi senior ghibah ku itu loh. Kita cari Sekjur aja sekarang, gimana?” Mendengus sebal Yuki berujar.


“Oh.. Mana aku tau kalau senior ghibah yang kamu maksud, Ki..”


“Sekarang udah tau kan? Yuk, gerak cepat!!” Beranjak dari duduknya, Yuki juga menarik-naik lengan Ara.


“Mau kemana?” Mengernyit heran Ara menatap Yuki lamat-lamat.


“Tempat Sekjur lah..” Jawab Yuki semangat.


“Mau bolos kelas? Dosen killer loh..”


“Laah..!! Aku lupa kita ada kuliah sebentar lagi..” Ujar Yuki penuh sesal, cemberut dan menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. Nyaris saja ia lupa pada kelas mata kuliah yang tidak sampai 10 menit lagi akan dimulai itu.


“Ngapain kalian bengong aja di sini?? Ayo, masuk..!!” Celetuk suara tidak asing, jelas itu Dimas. Pelakunya berlari menyelonong di hadapan Ara dan Yuki setelah selesai berujar. Benar saja, rupanya dari kejauhan sudah tampak sosok Dosen garang yang siap melempar-lempar mental anak didiknya dengan pertanyaan tiba-tiba yang menjebak.


...----------------...

__ADS_1


“Sakit kepala ku.. Pak Robert memang paling jago buat otak ku gila sampai pengen ku kunyah dia.” Keluh Yuki yang tampak kesal. Sisi kiri rambutnya kusut bekas remasan, matanya seketika tampak cekung seolah baru saja bergadang 7 hari 7 malam.


“Aku nyerah.. Kayaknya bakal nol besar isi kuis ku tadi.” Berganti Dimas yang mendesah pasrah bercampur kesal. Menyandarkan tubuhnya di dinding sambil memeluk tas ranselnya.


Sedangkan Ara hanya mengedikan bahunya. Bukan ia tidak khawatir, namun mau diapakan lagi jika lembaran kuis itu sudah selesai terisi dengan karangan bebas dan tidak di tangannya. Cukup yakin saja masih diberikan nilai kerja dan usaha dalam menjawab. Jika ingin protes keras pun tidak akan mampu, semua sudah tertera di kontrak awal perkuliahan dengan Pak Robert bila akan sering melakukan kuis dadakan, seperti yang baru saja terjadi.


“Aku mau penyegaran otak. Kamu mau ikut gak Dim?” Ucap Yuki tiba-tiba.


“Aku gak diajak?” Tanya Ara sambil menunjuk pada dirinya sendiri.


“Kamu itu pemeran utamanya, jelas ikut lah..” Jawab Yuki sambil menyipitkan matanya.


“Ini lagi bahas apa sih?” Ucap Dimas bingung sembari menatap Ara dan Yuki bergantian.


“Gak tau tuh si Yuki. Aku juga bingung.” Jawab Ara sambil mengangkat kedua tangannya sebatas dada tanda tidak tau.


“Hah.. Lemot banget teman ku ini.” Gumam Yuki pelan yang masih bisa Ara dengarkan.


“Kita cari senior ghibah ku lah.. Kamu mau tau info dari orang dalam dan terpercaya kan?” Ucap Yuki disertai alis yang nyaris bersinggungan. Dahinya mengerut dan tangannya terlipat di depan dada, menatap Ara dengan serius.


“Yakin nih? Aku ragu..” Ujar Ara sembari membawa ibu jari kanannya ke arah bibir. Namun belum juga sampai di hadapan wajah, Yuki sudah menepis tangan Ara, ia tau bahwa kebiasaan buruk Ara nyaris kumat. Rasa bimbang yang menyerang membuat Ara tanpa sadar ingin menggigiti kuku jarinya.


“Gak usah kelamaan mikir, telat banget tau. Aku udah chat barusan ngajak ketemuan. Gak ada kata mundur lagi.” Ucap Yuki diiringi seringai lebar dan kedipan mata nakal.


“Astaga.. Kenapa.. Aduh Yuki..” Menepuk dahinya sekilas namun kuat, Ara bertambah gelisah. Sejujurnya ia ingin mengulik segala hal yang terjadi, namun baginya cukup beresiko jika sumber berita itu tukang gosip.


...****************...


*


*


*


Apakah cara Yuki akan berhasil untuk mengumpulkan informasi?🤔


*


*


Hayoo.. Siapa yang udah kesal sama Hana gara-gara Rava gak muncul lagi?🤭


Sabar ya.. Rava masih sibuk kerja demi biaya tambahan beli souvernir buat kita.😄


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2