Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Melepas Mu


__ADS_3

“Dewa.. Tunggu..!!” Berlari kencang memaksa kaki yang kesemutan melangkah lebar. Sudah hampir 75 menit Dinda menanti Dewa di parkiran perkantoran dimana Dewa bekerja. Jika harus menunggu di lobi, Dinda takut Dewa akan menghindar saat menyadari keberadaannya.


“Jangan pergi dulu..!! Kasih aku kesempatan untuk bicara.” Menahan lengan Dewa sekuatnya, Dinda berusaha agar Dewa tidak terlepas.


“Lepas!!” Menepis sedikit kasar namun gagal terlepas, Dewa menatap tajam Dinda yang tersenyum kepadanya.


“Iya, aku lepas. Tapi tolong jangan menghindari aku.” Dewa mengernyit heran pada sikap Dinda yang tidak biasa. Selama mereka bersama, Dinda selalu keras kepala dan ingin menang sendiri. Sangat kontras dengan tindakannya saat ini. Kalimat lembut dengan senyuman meski Dewa sudah berlaku kasar.


“Kita cari tempat untuk ngobrol ya?? Atau kamu mau di sini aja?” Ucap Dinda ragu, takut akan penolakan. Ia juga sambil berharap Dewa memutuskan pada pilihan pertama. Ia sangat ingin mengulur waktu kebersamaannya dengan Dewa yang selama ini tidak terlalu digubrisnya.


“Kita cari tempat lain. Kebetulan ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu juga.” Mata Dinda berbinar. Raut kebahagian dari mata yang masih sembab itu terlihat jelas.


“Kalau gitu tunggu aku cari taksi dulu ya.. Tadi aku gak bawa kendaraan ke sini.” Ucap Dinda sambil berbalik dengan cepat. Ia ingin menyetop taksi di pinggir jalan. Pikirnya Dewa pasti tidak ingin menghabiskan perjalan berdua pada tunggangan yang sama.


“Naik motor aku aja!” Menahan tangan Dinda dalam genggamannya, Dewa juga menarik lembut sang mantan kekasih mendekati tunggangannya. Sedangkan Dinda hanya mengulum senyuman. Rupanya hal kecil jika dihargai rasanya akan sangat berbeda, tanpa sadar seketika Dinda mendesah kecewa. Sudah banyak hal yang keduanya lewati, namun semua penuh keegoisan Dinda. Kini yang terisa hanya keinginan Dinda untuk tetap menjalin pertemanan yang entah akan disanggupi Dewa atau tidak.


“Naik!” Suara Dewa membuyarkan lamunan Dinda. Seruan datang agar Dinda cepat menduduki sebagian jok di belakang tubuh Dewa. Sudah cukup lama momen seperti itu tidak terjadi. Keduanya berpisah dengan amarah membuncah, saling meneriaki satu sama lain dan melontarkan berbagai kalimat saling menyakiti.


Tidak ada belitan pinggang seperti dulu. Dinda masih tau diri meski ia ingin mendekap Dewa. Jarak yang bisa dikikis kala rem motor itu tertarik juga tidak Dinda manfaatkan untuk modus. Ia takut Dewa merasa semakin risih padanya. Telapak tangan yang tidak menempel tapi mampu merasakan kehangatan punggung Dewa sedang ikut menyelami berbagai kisah lama.


“Turun!” Menuruti perintah Dewa, sekarang Dinda semakin merasakan jarak yang Dewa Buat. Tiada kalimat penuh perhatian, hanya perkataan yang tampak malas dan ketus.


“Kita di sini aja. Aku gak bisa bawa kamu ke tempat mewah yang biasa kamu suruh aku datang sesuka dirimu.” Akhirnya ujaran Dewa panjang meski menohok keras pada kesombongan Dinda. Dulu ia selalu gengsi bila Dewa mengajaknya menikmati waktu di restoran yang terbilang sederhana, apalagi kini keduanya justru menepi di pinggir taman Kota. Dinda kembali mengenang tindakan memalukannya baru-baru ini pada Ara.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Dewa tanpa basa-basi lagi. Duduk bersisian menghadap kolam buatan dengan air mancur di tengahnya.

__ADS_1


“Bisakah kita perbaiki hubungan kita ini?” Ucap Dinda lirih. Memelintir ujung baju tidak bersalah sambil menundukkan kepala.


“Kisah kita sudah cukup, Din.” Jawab Dewa tanpa memandang Dinda. Ada rasa kurang mengenakkan yang menghempas dadanya.


“Aku mohon.. Kita coba lagi hubungan kita ini.” Pinta Dinda memelas. Jari-jemarinya tertaut saling meremas tidak berani menggenggam Dewa sesukanya lagi.


“Kisah kita lebih baik kita tutup, Din. Kamu dan aku bisa saling menata diri di jalan yang berbeda.”


“Tapi aku gak bisa..” Ucap Dinda parau. Nafasnya sudah tercekat seolah ikut menahan segala suara yang ingin diucapkan.


“Kita bisa. Kamu hanya perlu yakin. Hubungan kita tidak pernah baik-baik aja selama ini.” Kalimat yang Dewa ucapkan benar, Dinda semakin merasa terpuruk. Hubungan keduanya sangat tidak sehat.


“Aku sadar selama ini kita bersama nggak didasari dengan rasa saling cinta. Kamu dengan obsesi mu dan aku dengan rasa tanggung jawab padamu.” Ucap Dewa mantap, tidak ada keraguan sedikitpun. Kenyataannya memang itulah alasan Dewa dan Dinda disematkan sebagai pasangan terlanggeng oleh teman-temannya. Kebenaran yang bahkan baru Dewa sadari setelah perpisahannya dengan Dinda.


“Jujur tidak ada kesedihan saat kita berpisah.” Pernyataan Dewa sukses menghantam kuat kesadaran Dinda. Jiwanya seakan terhempas dan terlepas dari sang raga. Tangannya terkulai lemah membentur kursi besi. Tidak kuat, namun mampu menarik perhatian Dewa.


“Tapi Aku memang kecewa. Meski lama-lama saat aku pikirkan lagi rupanya aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Aku kecewa karena terlalu lama mengikat kamu. Harusnya sudah sejak lama aku melepas mu. Kamu bisa mencari kebahagiaan dengan orang lain, bukan memaksa terikat padaku. Maafkan aku..” Jelas Dewa dengan suara tenang namun memporak-porandakan ketegaran Dinda.


“Apa sedikitpun kamu nggak merasa sedih?” Tanya Dinda pilu. Mengangkat wajahnya yang terhias derai air mata. Yakinlah mata sembab itu sudah sangat membengkak.


“Sedikit saja Wa.. Apa gak ada kesedihan yang tersisa atas perpisahan kita?”


“Maaf..” Jawaban singkat yang menghujam itu Dinda dapatkan. Harusnya ia tidak bertanya lagi jika akhirnya semakin mengiris hatinya.


“Kita bersama bukan beberapa hari, minggu atau bulan. Sudah banyak tahun kita lewati..” Sejujurnya Dewa tidak tega mendengar ujaran dari bibir tipis yang tampak bergetar itu. Namun lagi-lagi Dewa menguatkan tekadnya untuk mengabaikan Dinda. Lebih baik mereka mengakhiri semuanya sebelum kembali saling menyakiti.

__ADS_1


“Sekarang coba tanyakan pada dirimu sendiri. Rasa sedih seperti apa yang kamu rasakan? Sedih karena melepas aku yang kamu cintai, atau sedih karena sesuatu yang kamu anggap milikmu akan terlepas dari genggaman??”


“Aku..”


“Kamu bingung kan?” Dewa terkekeh kecil. Menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar pada sandaran kursi.


“Tiada cinta diantara kita. Hanya rasa saling melengkapi tanpa Pondasi yang kuat.” Tanpa penekanan atau kalimat terlontar ketus, Dewa justru sengaja bertutur kata lembut. Berharap Dinda tersadar pada ego nya yang harus segera diturunkan. Jika memang dengan cara itu tidak berhasil, maka terpaksa Dewa akan menghilang begitu saja. Namun bukan menghilang ala kekuatan super anggota fantastic four.


“Tapi kenapa..” Kalimat Tanya itu tertahan. Dinda menghembuskan nafasnya kasar, menatap lekat sisi samping Dewa yang terus menatap lurus ke depan.


...****************...


*


*


*


Sudah benar belum perpisahan yang dipilih oleh Dewa?🤔


*


*


Sampai bab selanjutnya masih ada kisah Dewa dan Dinda.😄

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2