
"Ara, kamu yakin gak mau bangun? Harusnya kamu bangun buat balas dendam. Mas mu tersayang udah kembali, buat dia yang balas semua rasa sakit mu. Apa perlu aku singkirkan dulu mereka? Ayo bangun sayang, kasih aku izin." Ibu jari pemilik suara itu mengelus lembut pipi chubby Ara.
"Kamu kalah kalau gak mau bangun. Kamu hanya buat mereka semua bahagia sedangkan Mama dan Papa mu makin menderita." Tanpa disadari jari-jemari Ara bergerak.
"Bangun dan lawan mereka, balaskan dendam mu. Ada aku yang selalu mendukung kamu. Sekarang aku pergi dulu ya. Kalau besok kamu masih gak mau bangun bakal aku cium bibir mu Ra." Bibir pemilik suara itu mengecup kening Ara sekilas.
......Balas dendam......
......Bangun......
......Ara......
......Bangun......
......Kamu kalah......
Sayup-sayup bunyi monitor detak jantung mengisi pendengaran berbaur dengan derap langkah kaki tidak beraturan.
"Maa.." Suara lirih dan berat itu terucap, "Maa.. Maaah.." Lagi-lagi suara lirih terlepas dari bibir kering nan pucat seseorang yang berada di atas salah satu ranjang rumah sakit itu.
"Halo Ara? Akhirnya kamu sudah bangun." Tanya seseorang yang mengenakan snelli pada Ara. Mengerjapkan mata perlahan, Ara mengamati sosok dihadapannya.
"Kita cek pupil dulu ya. Sabar ya, ini agak gak nyaman." Senyum merekah dari Dokter yang mungkin seusia dengan Papa Yudith sembari melebarkan kelopak mata Ara.
Ceklek
"Dok.. Anak saya kenapa??" Pertanyaan penuh kekhawatiran Mama Lauritz ucapkan. Kehadiran Dokter di ruang rawat anaknya yang lebih cepat dari waktu visite membuat ketakutan membuncah.
"Mama.."
Brak
Klontang
Bunyi benda terjatuh dari kantong kresek yang bisa Ara yakini berupa rantang menggema di dalam ruang bernuansa putih itu.
"Sayang.. Kamu udah bangun nak??" Memburu ke arah Ara, pelukan Mama Lauritz daratkan dengan lembut takut melukai tubuh Ara.
"Sebentar ya Bu, kita ganti dulu cairan infusnya." Seorang suster bernama Vivian yang tercetak pada name tag nya itu mengganggu momen haru ibu dan anak yang baru saja tercipta.
"Iya sus, silakan." Berucap sambil melepas pelukan pada Ara.
__ADS_1
"Dok, anak saya sudah gak apa-apa kan?" Lanjut Mama Lauritz berbicara pada Dokter yang baru Ara perhatikan name tag nya memiliki nama Alif Firmansyah.
"Sejauh ini semua baik-baik saja Bu. Tapi masih kita pantau sampai 2 jam ke depan ya." Ucap Dokter Alif.
"Ma.. Haus.." Ucap Ara pada Mama Lauritz.
"Boleh minum kan Dok?" Tanya Mama Lauritz pada sang Dokter, khawatir akan membahayakan anaknya bila sembarangan memberikan minum.
"Tunggu 15 menit lagi ya Dek, habis itu baru minum. Puasa sebentar ya.." Bagai gurun pasir bagi Ara kalimat yang terucap lembut dari Dokter Alif.
"Dok, sudah selesai." Suster Vivian memotong percakapan singkat ketiganya yang memang sudah pasti akan berakhir.
"Oke. Ingat ya 15 menit lagi baru minumnya." Telunjuk sang Dokter tepat berada di depan wajahnya sendiri seperti memberi peringatan keras, "Saya permisi dulu ya Bu, sebentar lagi mau visite ke pasien lain."
Mendesah pasrah Ara berharap dalam satu kedipan mata 15 menit segera berlalu. Tenggorokannya sudah sangat kering dan panas.
...----------------...
Setelah 3 hari di rawat dalam keadaan sadarkan diri, Ara akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisi tubuh Ara sudah benar-benar sehat karena tidak ada luka serius sama sekali. Berbeda dengan kondisi mentalnya yang mengharuskannya sering ke rumah sakit untuk sekedar konsultasi atau bahkan terapi.
"Kakaaaakkk.." Teriakan memekik dari Jona dan Rian menyambut langkah kaki pertama Ara saat menginjakkan kaki di teras rumah.
"Ululuuh.. Mas Ganteng sama Si Cimol udah kangen kakak yaa??" Terkekeh geli Ara menyambut pelukan kedua adik laki-lakinya.
"Dikasih makan air doang gimana gendutnya??" Merangkul lengan kedua adiknya, Ara membawa keduanya melangkah menuju kamarnya.
Ceklek
"Wangi kan kak?" Tanya Jona dengan senyum bangga. Sudah jelas pasti dia yang menyemprotkan segala macam parfum dan sedang menunggu untuk dipuji.
"Hmm.. Iya, wangi. Tapi berapa galon parfumnya?" Sesungguhnya Ara ingin komplain karena bau menyengat itu kesukaan Jona, tapi bukan Ara yang lebih suka tidak ada wewangian sama sekali. Hidungnya gatal ingin bersin.
"Cuma pakai parfum Mamas, Mama sama Papa. Kayaknya 5 semprot aja tadi. Ehh.. 5 apa 9 tadi Dek?" Bertanya pada si Kecil Rian, tiba-tiba si Ganteng lupa berapa kali semprot. Kebiasaan.
Berlalu meninggalkan adik-adiknya, Ara buka pintu balkon agar udara di luar mampu membawa tekanan aroma parfum dari kamarnya yang sudah melebihi nilai ambang batas.
Jika air limbah di perairan alam butuh pengenceran dari air hujan, maka saat ini polusi di kamar Ara perlu tambahan konsentrasi dari udara bebas.
"Kakak!?" Mama Lauritz dan Papa Yudith sudah berada diambang pintu.
"Iya Ma, kenapa?" Tanya Ara ragu.
__ADS_1
"Mas sama Adek keluar dulu ya. Mama Papa mau ngobrol sama Kakak dulu." Atas perintah Mama Lauritz, Jona dan Rian keluar dari kamar Ara setelah mengecup kedua pipi Ara bergantian.
Badan Ara bergetar kala Mama dan Papa-nya sudah duduk mengapitnya. Selama ini kedua orang tuanya diam pada kondisi Ara. Diam bukan berarti tidak peduli, tentu saja mereka menunggu Ara pulang ke rumah. Pastinya Ara tau itu.
"Dokter Dion.. Huh!!" Helaan nafas gusar terdengar setelah sebuah nama terucap.
Mendengar nama Dokter Dion disebut membuat Ara tau bahwa rahasianya sudah berakhir. Mau tidak mau, suka tidak suka Ara harus jujur juga akhirnya. Lagi pula karyanya sudah pasti terpampang nyata selama ia tidak sadarkan diri.
"Mana cakaran kucingnya?"
Jlebb
Pertanyaan yang menyinggung kebohongan Ara terasa menohok jantung Ara. Ia harus jujur sendiri. Orang tuanya butuh kejujuran dan keberanian Ara sendiri untuk mengungkapkan. Oleh karena itu, jangan harap diberikan pertanyaan tanpa maksud tersirat.
"Beneran deh kakak gak apa-apa. Lagian itu juga tanpa sadar kok kakak lakuin." Ucapan santai menyikapi pertanyaan kedua orang tuanya, namun tidak dengan isi kepalanya yang sudah kacau.
"Cuma di waktu-waktu tertentu, kayak kalau kakak tertekan, cemas berlebihan, sama paling kalau lagi gak bisa kontrol diri aja. Dokter Dion pasti udah banyak cerita kan?" Lanjut Ara diakhiri dengan basa-basi bertanya. Ara tentu saja tau bahwa kondisi mentalnya pasti sudah dibeberkan Dokter Dion yang tampan itu.
"Maafin Mama ya sayang.. Harusnya bisa kasih kamu lingkungan yang baik buat tumbuh." Menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, Mama Lauritz sudah terisak.
Inilah yang membuat Ara ingin merahasiakan sakitnya. Sudah cukup melihat kedua orang tuanya bersedih karena manusia-manusia tidak tahu diri itu. Ara sangat tidak ingin menambah kesedihan atas kondisinya.
Rasanya mengerikan bagi Ara harus menyebutnya manusia namun lebih dirasa terhormat binatang liar. Sangat sesak saat tahu bahwa masih bersama-sama menghirup udara di atas permukaan bumi.
"PTSD bisa sembuh Ma Pa. Ini cuma sakit, gak gila juga. Jiwa Ara cuma sakit, gak rusak sampai hilang akal selamanya. Dokter Dion udah banyak bantu Ara setahun ini." Menatap kedua orang tuanya bergantian, "Semua yang terjadi itu bukan kemauan kita semua, Ara juga gak mau kayak gini. Kalau bisa Ara pengen bisa terbang bebas menerjang badai tanpa takut sayap Ara patah. Tapi sayangnya sayap Ara patah duluan."
Tubuh Ara direngkuh dalam dekapan Papa Yudith. Sedari tadi Papa Yudith tidak banyak bicara bahkan lebih tepatnya diam, namun dalam dekapan Papa-nya itu Ara bisa merasakan tubuh tegap itu sedang menahan tangis.
"Jangan khawatir lagi ya Pa. Meski sayap yang patah itu gak bisa kembali buat terbang, tapi Ara masih bisa lari ke mimpi Ara. Kalau Ara capek lari juga masih bisa jalan." Lanjut Ara sembari mengusap punggung sosok yang selalu berdiri tegar dihadapannya itu.
"Meskipun Ara berhenti berjuang, Ara tau Mama sama Papa gak akan pernah berhenti berjuang buat Ara. Kayak saat ini." Melepas dekapan Papa Yudith, Ara pegang tangan kedua orang tuanya.
"Sampai tinggal jiwa ku yang tersisa juga aku gak bakal nyerah lagi. Sampai orang-orang sialan itu memohon ampun juga gak bakal aku lepas." Menatap lurus ke arah jemari kakinya Ara membatin geram, sorot mata sendu seketika berubah menjadi tajam, bengis dan penuh amarah.
...****************...
Snelli : doctor’s white coat atau jas dokter yang merupakan pelindung atau batas terluar terhadap cairan tubuh pasien dan cairan lain, seperti darah, ketuban, dahak, dan lain sebagainya.
Visite : Kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
Nilai Ambang Batas : Suatu ukuran bagi lingkungan yang menyatakan batas tingkat pencemaran atau gangguan yang diperbolehkan mempengaruhi lingkungan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
__ADS_1
PTSD : Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.