
Hoek … Hoek …
Pagi yang indah dengan suara muntahan menggelegar. Kota yang mulai berkembang pagi itu sudah ramai bunyi kendaraan bermotor, namun di rumah sederhana yang Rava sewa justru suara mesin motor tertutupi suara Ara yang sedang berjuang menguras isi perutnya. Ini adalah pagi kedua setelah kemarin Ara juga sempat menyetor sesi muntah-muntah.
“Udah?” tanya Rava iba, garis wajahnya melukiskan kekhawatiran.
Tangan yang masih memijat tengkuk Ara sesekali memberikan usapan pelan di punggung. Diraihnya rambut Ara yang menjuntai agar tidak menutupi wajah.
“Masih mau muntah lagi?”
Tanpa menjawab, Ara hanya menggeleng lemah. Rongga mulutnya terasa sangat pahit dan asam. Perutnya serasa diaduk-aduk. Kepalanya seolah terlepas dari tubuh dan dibawa berputar-putar. Sejenak Ara mendudukkan dirinya di luar pintu kamar mandi. Membiarkan Rava membersihkan sisa muntahannya di lantai kamar mandi.
Sepersekian detik kemudian tubuh lemah Ara sudah melayang dalam gendongan Rava. Mendarat pelan di atas ranjang dengan bantal yang mengganjal punggung hingga kepala.
Dalam posisi separuh berbaring dan terduduk, Ara mendekap Rava yang ingin beranjak. Dipeluk dan diendus aroma alami dari tubuh Rava yang menenangkan. Hangat yang menguar diantara dekapan itu sejenak membuat Ara mampu memanipulasi rasa mual yang hampir kembali memberontak.
“Sshh … Sshh …,” desis Rava lembut sambil mengusap sisi samping kepala Ara. “Lepas dulu, Sayang … Mas ambilin air hangat dulu,” pinta Rava sembari mengurai dekapan erat Ara secara perlahan. Seketika dapat Rava lihat wajah pucat sang istri yang terpejam dengan nafas tidak beraturan dan dahi yang mengerut.
Cup.
Mengecup pipi kanan Ara, secepatnya Rava mendekatkan bibirnya tepat di daun telinga Ara dan berbisik, “sebentar ya.”
Kaki laki-laki dewasa itu menapak kasar di atas lantai keramik. Memburu dispenser air dan menekan bagian air panas berganti dingin agar menghasilkan air hangat dalam gelas kaca transparan.
Tidak menunggu lama, sosoknya sudah kembali ke kamar. Duduk di tepi ranjang dengan Ara yang masih terdiam dan menutup rapat sepasang kelopak matanya.
“Sayang minum dulu sedikit. Mulutnya pasti gak enak tadi habis muntah,” tutur Rava pelan. Gelas yang tadi digenggamnya diletakkan di atas nakas.
Menyelipkan tangan kiri di belakang kepala Ara, Rava membantu Ara untuk meminum air hangat dari gelas yang sudah diraihnya.
“Ara minum sendiri,” lirih Ara sambil meraih gelas dari tangan Rava masuk kedalam genggaman kedua tangannya.
__ADS_1
Glek … Glek … Glek …
“Mas … Ara kenapa masuk angin gak sembuh-sembuh ya semenjak ikut ke sini?” tanya Ara dengan sorot frustasi. Bukan hanya kemarin dirinya menguras isi perut lewat mulut, tapi 3 hari setelah tinggal di rumah ini Ara juga sempat merasakan masuk angin.
“Sebelumnya Mas mau minta maaf, tapi …,” ucap Rava terbata, ada keraguan dan kekhawatiran yang membingkai raut wajah Rava. Menghembuskan nafas pelan, Rava berjalan gontai meraih tas kerjanya. Tampak kantong kecil berwarna putih tertenteng keluar dari dalam tas Rava.
“Sayang, ini … Mmm … Coba kita cek pakai ini.” Mengeluarkan isi kantong putih tersebut, Rava berucap dengan penuh harap. Sejujurnya Rava takut saat ingin menunjukkan apa yang sudah dibelinya secara diam-diam.
Ara yang selama ini cukup frustasi membuat Rava ragu dan gelisah jika tindakannya justru menekan batin Ara. Namun tidak dapat dipungkiri hati kecil Rava juga sangat berharap pada keajaiban yang hadir di dalam rumah tangga mereka.
“Tespek?”
“Iya, tespek … Kamu udah telat lebih dari 2 minggu.”
“Masa iya? Tapi Mas … Ara takut. Dulu juga telat hampir 2 minggu tapi garis satu.”
“Gak ada salahnya kita coba, gimana? Mau ya, Sayang?” bujuk Rava dengan binar penuh permohonan.
Dan di sinilah kini kedua manusia yang menanti dalam suasana hening. Saling merengkuh dan berpelukan di atas kursi dapur yang berdekatan dengan kamar mandi. Menanti perubahan dalam selang pergantian menit dari tespek digital dengan strip yang terendam oleh cairan urine dalam cawan di atas meja wastafel kamar mandi.
Layaknya koala Ara melingkarkan kakinya ke pinggang Rava yang duduk memangku nya. Keduanya sama-sama berdebar gelisah, takut mengecewakan satu sama lainnya. Meski Rava terlihat tenang, namun debaran jantungnya tidak dapat berbohong. Ia benar-benar gugup dan Ara tau itu.
“Sayang turun dulu. Mas mau lihat hasilnya,” lirih Rava sambil mencoba menurunkan Ara ke atas kursi yang tadinya didudukinya. Meninggalkan Ara yang menatap punggung Rava dengan perasaan was-was.
Berjalan dengan debaran yang semakin kencang, tangan Rava gemetaran. Memejamkan rapat matanya dengan kepalan erat di kedua tangan, Rava menghembuskan nafas panjang sarat akan beban pengharapan. Namun juga menguatkan hati jika hasilnya meminta dirinya untuk kembali bersabar.
Pelan tapi pasti tespek itu sudah berada di ujung jari telunjuk dan ibu jari yang mengapit bersamaan. Seketika nafas Rava seperti tercabut. Jiwanya seolah lupa pada keberadaan raga, terlalu senang menari-nari pada perayaan semu letusan kembang api yang bersumber dari dada.
Punggung Rava membentur pintu hingga menghasilkan dentuman. Tubuh tegap itu luruh ke lantai dengan mata berkaca-kaca. Dibungkam bibir yang bergetar itu dengan telapak tangan. Sontak pemandangan itu membuat Ara takut.
“Mas, ken- … Ken-kennapa?” Berdiri di atas kaki yang melemah, Ara berusaha menghampiri Rava dengan segala pikiran buruk berkecamuk. Hanya satu yang Ara yakini, ia belum hamil lagi.
__ADS_1
Menggeleng kuat dengan linangan air mata, Rava berdiri, berlari dengan sedikit terhuyung dan menghamburkan tubuhnya memeluk erat Ara. Menciumi seluruh wajah Ara dengan senyum mengembang yang dihiasi lelehan air mata tanpa bendungan.
“Makasih. Makasih. Terima kasih, Sayang. Kamu wanita hebat. Istri Mas, ibu untuk anak-anak kita. Thank you for always be with me. Thank you for coming into my life. You are a wonderful wife, I love you (Terima kasih selalu bersamaku. Terima kasih sudah datang ke dalam hidupku. Kamu adalah istri yang luar biasa, aku mencintaimu),” ucap Rava cepat layaknya meracau dengan suara serak.
“Mas kenapa? Jangan bikin Ara makin takut,” pekik Ara mulai histeris. Entahlah mendadak Ara sangat ketakutan dengan apa yang sedang terjadi.
“Ini.” Melepas rengkuhannya, Rava menunjukkan tespek dengan garis + (positif) yang menandakan kehamilan.
“Garisnya positif? Beneran positif?” cerca Ara pada Rava tanpa berani menjangkau tespek dari tangan Rava.
“Mas ini gak mimpi kan? Ara hamil?” tanya Ara dengan senyuman terkembang di bibirnya.
“Iya. Anak kita di sini.” Angguk Rava kuat sambil mengarahkan tangannya menyentuh perut berlemak Ara akibat selera makan yang membludak.
“Huuu … Huwwaaa … Ak-hirnya … Huu-Huuuh ….” Tangisan Ara menggema. Wajahnya yang berderai air mata tertutupi telapak tangan sepenuhnya. Ara luruh ke lantai bersamaan dengan Rava yang mendekapnya. Pasangan suami istri itu sama-sama melepaskan tangis haru.
...****************...
*
*
*
Tungguin 1 bab lagi meluncur ya.
Silakan menyiapkan petuah untuk calon Mamud (karena yang nulis lagi ngumpet dipojokan merapalkan mantra jodoh mendekatlah🤫)
Terima kasih sudah mengikuti kisah Ara sampai ke perbucinan ArVa🥰
__ADS_1