Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
I Love You


__ADS_3

Kabut tebal menyelimuti malam di musim penghujan. Tetesan rintik gerimis yang tersisa membentur atap, tanah dan jalanan paving, menghasilkan untaian nada menenangkan. Sayangnya tidak cukup menenangkan bagi seorang bayi yang menangis kencang saat popoknya kembali basah.


"Sayang bangun dulu," bisik Rava sembari menimang bayi mungilnya yang menangis. Tadinya ia sudah berhasil mengganti popok putri kecilnya, namun tangis itu tidak mereda hanya dengan timangan.


"Sayang ... Bunda bangun yuk, Elly haus Bunda ...." Mengguncang pelan bahu Ara, Rava kembali berbisik diiringi tangis sang buah hati.


Sejujurnya Rava tidak tega membangunkan Ara. Mata istrinya itu sudah bengkak karena kurang tidur dan menangis. Belum ada 10 menit yang lalu Ara baru bisa memejamkan mata dan merebahkan punggungnya.


Bila di dalam kandungan usapan Rava bisa menenangkan, maka hal itu tidak berlaku saat ini. Hanya dekapan dan timangan Ara yang berhasil meredakan segala tangis dan rengekan bayi mereka. Terlepas dari sumber ASI yang pasti memenuhi mulut kecil yang tiada henti ingin menyedot.


Sehari, 2 hari, bahkan seminggu pertama Ara masih bisa tertawa dan bersuka cita setiap harus terbangun tiba-tiba karena tangis dan reflek terjaga akibat insting seorang ibu terhadap anaknya. Namun setelah hampir 1 bulan lamanya Ara mulai menunjukkan gejala dirinya cukup stres di beberapa kondisi.


Ditambah lagi sore hari sebelumnya kedatangan tamu jauh yang berhasil membuat Ara mengamuk hingga berakhir mengguncang emosi ibu muda itu. Berang Ara mendengar ucapan selamat untuk putrinya yang terselip sindiran pada Mama Lauritz.


Niat baik Rava yang mengumpulkan seluruh keluarga Mama Lauritz dan Papa Yudith beserta sanak saudara Rava sendiri justru berakhir malapetaka. Syukuran kelahiran putri mereka nyaris berantakan.


Entah apa yang terus-terusan menjadi permusuhan di antara keluarga mertuanya, Rava jelas tidak bisa bertindak lebih jauh untuk kembali mempersatukan kubu yang saling berlawanan itu. Padahal Rava sudah berbuat banyak untuk mendatangkan keluarga Papa Yudith. Dari membujuk yang terkesan seperti menyuap, memberi segala fasilitas hingga akhirnya memberi peringatan agar tidak macam-macam.


"Si-ni-kan Mas ...," lirih Ara dengan suara serak. Tangannya menepuk pelan sisi kasur yang kosong dengan mata mengintip samar. Terlalu mengantuk dan lelah untuk membuka lebar kelopak matanya.


Sepersekian detik kemudian Ara menyibak bajunya, mengeluarkan sumber utama guna menuntas dahaga Elly, buah hati pertamanya dengan Rava. Tanpa menunggu lama, diarahkannya pucuk yang sudah merembeskan cairan ASI pada bibir mungil Elly.


Sedangkan Rava sudah ikut berbaring di depan Ara sambil memijat pelan punggung Ara, memagari bayi yang terpejam namun mulutnya terus bekerja. Sesekali matanya menatap gemas namun iri pada Elly yang sudah menguasai benda kenyal yang ingin sekali disesapnya.


"Mas ambilin sapu tangan di keranjang baju Elly ... Yang sebelah ikut ngalir," pinta Ara seraya menangkup sebelah dadanya yang semakin membesar selama menyusui.


Sejenak Rava terpaku. Jakunnya bergerak naik turun menelan air liur. Sekali lagi ia harus meredam godaan berat yang ingin secepatnya diterkam.


Memicingkan mata yang sudah dibukanya, Ara menggeleng pelan. "Mas gak usah mikir aneh-aneh ya!"


"Ap-apa, nggak kok," kilah Rava kikuk, ia malu terpergok sang istri sedang menatap dengan penuh gairah. Gegas Rava berlalu menuju keranjang baju Elly yang berada di sudut kamarnya.


Benar, keranjang tidur dan segala perlengkapan Elly disatukan dengan kamar utama. Meski sebenarnya Rava sudah menyiapkan kamar khusus bayinya yang terhubung dengan kamar utama, namun mempertimbangkan dirinya dan Ara yang harus bolak-balik maka untuk sementara kamar khusus bayi itu hanya digunakan saat siang hari saja.


"Ketahuan banget pengen yang sebelah kayak Elly," cetus Ara santai, mencibir Rava yang menggaruk tengkuk dengan telinga memerah.


Menyengir malu, Rava menyodorkan sapu tangan berwarna biru polos. Dicoleknya pipi Elly yang baru saja berhenti menyedot. Bagai tombol otomatis bibir mungil itu kembali menyesap pucuk yang terus mengeluarkan ASI.


"Mas tidur aja, besok kan kerja," ucap Ara sambil menatap Rava.


"Mas temani kamu dulu. Nanti kalau Elly minta ditimang-timang biar Mas aja. Kamu yang harus istirahat," tolak Rava lembut. Tidak tega meninggalkan Ara mengurus bayinya seorang diri.


"Kenapa lihatnya gitu banget?"


"Sebelahnya buat Mas bisa nggak?" celetuk Rava dengan mata berbinar.


Kantuk yang semula menyergap perlahan menyusut. Bukan karena gairah yang membara, namun perasaan senang kala melihat dua perempuan yang paling berarti di hidupnya.


"Hish! Jangan aneh-aneh! Ini punya Elly, bukan Ayah," tukas Ara dengan mata membengkak yang dibelalakan.


"Tadinya ini punya Ayah," gumam Rava lirih yang masih bisa terdengar oleh Ara.


"Mas kalau lagi pengen main langsung ke kamar mandi gih ... Main sendiri. Tapi jangan lama-lama, nanti masuk angin." Terkekeh Ara mengibaskan tangan dan menunjuk lurus pada kamar mandi.


...----------------...

__ADS_1



"Loh? Udah bangun si Cantik nya Bunda Ara?"


Batita di dalam stroller yang sudah bisa berlari meski sering terjatuh itu menatap lamat wanita yang merunduk di depannya. Ia cukup pintar dan mandiri di usia dini, tidak menangis mencari Ayah, Bunda nya, walau dihadapkan situasi asing.


"Dda da da dda ... Dadda-da...," celoteh Elly dengan mata berbinar kala mendapati Bunda nya tersenyum sumringah sambil mengguncang botol susu miliknya.


Jari-jemari kecil yang tersembunyi di balik jaket kebesaran memaksa keluar tidak sabaran.


"Anak Bunda yang cantik haus ya?" ucap Ara lembut. Botol susu di tangan sudah diletakkan di atas meja. Berganti meraih Elly ke dalam dekapannya.


"Dadda-daa ... Dda da da...," pekik Elly kecil heboh, kepalanya mendongak berusaha melihat di mana botol susu miliknya diletakkan. Tangan yang masih terbalut jaket tebal bergerak asal seolah menegaskan pada Ara atas keinginannya.


"Ra, nanti kalau anak aku cowok jadiin menantu kamu ya? Aku mau Elly jadi menantu aku," celetuk Yuki sambil menatap gemas Elly yang berada di pangkuan Ara.


Perempuan yang sempat menghilang tanpa kabar itu telah kembali. Bahkan kini sudah berbadan dua alias hamil.


"Memang yakin itu isi cowok?"


"Feeling aja, hehe ...." Cengengesan Yuki membalas pertanyaan Ara. Pasalnya belum cukup usia kehamilannya untuk bisa mendeteksi jenis kelamin sang buah hati.


"Mau ya Princess jadi menantu Mama Yuki?" Tersenyum Yuki sambil memainkan tangan Elly.


"Iya mau Mama. Ambil aja Princess yang cantik ini jadi menantu," lanjut Yuki berucap menyerupai suara anak kecil.


"Kasihan anak aku kalau punya mertua kayak kamu, Ki. Berisik, cerewet," ucap Ara sambil tertawa kecil.


"Oh ya, kamu ke sini sendiri gak masalah tuh? Hamil gini punya suami gak cerewet?"


"Biasa aja. Nanti dia juga nyusul ke sini ... Kenapa? Bosan ya kamu ke mana-mana ajudan ngintilin?" Menaik-turunkan kedua alisnya serentak, Yuki jelas sedang menggoda Ara.


"Loh kok gitu? Kenapa?"


"Ponsel aku bisa meledak gara-gara terus menjerit."


Sontak jawaban nyeleneh yang terdengar jengah seketika mematik tawa renyah keduanya. Keposesifan Rava sudah menjadi rahasia umum. Hanya menunggu waktu sedikit lagi hingga sikap posesif itu terbagi di antara Ara dan Elly.


"Sayang ... Bunda ... Yaaaaaangg??"


Baru saja dibicarakan, suara Rava sudah menggema dari dalam rumah.


"Mas Rava kayak tarzan. Itu Kakak ada di luar, di teras belakang sama Kak Yuki." Suara Jona terdengar menyela panggilan lantang yang sekali lagi ingin Rava lontarkan.


"Mentang-mentang rumah jauh dari tetangga, Mas ... Mana arang nya, Rav?" Kini suara Papa Yudith yang menggema, seakan menanggapi perkataan Jona dan berakhir ditujukan untuk Rava.


Mengangkat kardus besar berisi arang dan beberapa bahan bakaran, Rava menolak segan pada uluran tangan Papa Yudith. "Ini biar Rava aja, Pa."


"Biar Papa aja. Sana cuci tangan dulu baru absen ke anak istri," celetuk Mama Lauritz menimpali. Sudah hafal kebiasaan Rava yang selalu bermanja dan tidak puas jika dari atau ingin pergi ke manapun tidak melihat Ara terlebih dahulu.


"Maaf ya, Ma."


"Iya udah kasih itu kardus ke Jona ... Sana bersih-bersih dulu. Jangan langsung nempel ke Princess," tegas Mama Lauritz.


Tanpa menunggu lama, Rava meletakkan kardus yang dibawanya ke atas meja dapur. Melesat secepatnya ke kamar untuk membasuh tubuhnya. Bukan hanya sekedar cuci tangan, namun Rava memilih mengguyur tubuh lelahnya setelah hampir seharian bekerja.

__ADS_1


Meskipun saat itu akhir pekan, namun pekerjaannya tetaplah menumpuk. Beruntung kali ini hanya perlu memeriksa beberapa laporan agar hari minggu besok dirinya bisa bersantai bersama keluarga kecilnya.


Sedangkan di rumah sudah sejak siang hari dapur penuh sesak dengan kehebohan Jona, Rian dan Mama Lauritz yang sibuk menyiapkan menu bakaran malam ini. Berbeda dengan Ara yang benar-benar di larang ke dapur. Tentu saja karena harus menjaga Elly.


"Ya ampun Kakak ipar makin cantik aja ... Princess juga gak kalah cantiknya."


"Mas Dion telat datang. Pasti sengaja gak mau bantu-bantu kan?" seloroh Yuki dengan bibir mencebik.


"Udah datang dari tadi, tapi gak langsung keluar. Ditahan sama Jona suruh nyuci sayur buat lalapan," ucap Dion dengan mata mengerjap lucu yang tidak teralihkan dari wajah mungil Elly. Sontak tingkah Dion berhasil menarik kedua sudut bibir Elly. Bayi itu bahkan melepas dot yang menjadi kesayangannya.


"Dimas kok belum sampai juga, Ki?" celetuk Ara tiba-tiba. Rasanya aneh paket berisik di sebelahnya itu tidak memiliki lawan debat yang sebanding.


"Udah di jalan kok. Barusan dia chat udah di perjalanan ke sini," jawab Yuki sambil memandang Elly yang tertawa saat tangannya gagal menangkap jari telunjuk Dion yang menoel pipinya.


"Sini sama Om Dion, Princess ... Ayo-ayo sama Om sini?"


Susah payah Ara dan Rava memikirkan nama untuk putri mereka, namun berkat Jona semua orang kini memanggil Elly dengan sebutan Princess. Hanya Ara dan Rava saja yang masih membiasakan panggilan Elly agar putrinya tau dan sadar bahwa namanya bukanlah 'Princess'.


Benar, Earlyta Arvada Kim, putri pertama dari Rava dan Ara. Bayi cantik yang dahulu baru mau keluar saat Rava sudah menggenggam erat tangan Ara.


Cup.


Bibir kenyal yang dingin menempel di pelipis Ara tanpa ragu. Membolakan mata Ara yang terperanjat, namun sukses membuat Yuki dan Dion mendelik jengah pada kemesraan yang tidak ada habisnya.


"Mas ini, malu," lirih Ara seraya melotot tajam pada Rava yang justru kembali mendaratkan ciuman di dahi, pipi, mata, dagu dan seluruh wajah Ara. Persis seperti tingkah Rian dulu saat mengantar sarapan ke kamar Ara. Sejenak Ara bernostalgia pada kenangan lama.


Saat ini adik bungsu Ara itu masih sering memberi kecupan sayang di pipi, namun selalu saat berada di depan Rava. Apa lagi niatnya kalau bukan untuk memancing sisi cemburu Rava. Bahkan Jona yang jarang menunjukkan sikap manis akan berubah sok manis demi membuat Rava bersungut tidak rela.


Kini Ara benar-benar merasakan kebahagiaan. Mengikis segala luka yang pernah tertoreh. Tawanya bukan untuk membalut duka.


Kehadiran Rava bagai cahaya mentari pagi. Sangat menyilaukan bagi mata Ara yang terbiasa mengurung diri di dalam kegelapan. Seakan mampu mengoyak retina yang menangkap cahaya.


Namun sinar mentari itu secara perlahan menyusup, memberi kehangatan dan sensasi nyaman pada kulit. Menembus tulang yang mulai rapuh. Hingga akhirnya membuat Ara memberanikan diri menghirup udara pagi di dunia yang nyatanya tidak semengerikan kilasan angannya.


Mata yang tadinya ragu meski hanya sekedar mengintip tipis, kini menatap lebar dunia yang luas bersama Rava yang akan selalu setia di sisinya. Sama seperti Rava yang saat ini merangkul Ara dengan tangan kirinya dan mendekap Elly dengan tangan kanannya.


Ketiganya duduk bersama dengan keluarga dan sahabat yang saling bercanda riang. Menghabiskan penghujung waktu dengan obrolan dan kunyahan sosis, bakso, ayam, ikan dengan cocolan saus sambal instan dan sambal terasi buatan Mama Lauritz.


"I love you, Ayah," bisik Ara tiba-tiba dengan kecupan kilat di pipi Rava yang dilakukan diam-diam.


Menggerakkan leher yang seketika membeku, Rava menoleh dengan senyuman lebar memenuhi wajahnya. "I love you too, Bunda," ucap Rava tidak kalah lirihnya. Kepala laki-laki itu menunduk dan menjatuhkan bibirnya tepat di bibir Ara dengan sedikit menyesap.


"Maaaa!!! Mas Rava cium-cium Kakak!!!" pekikan Rian membuyarkan suasana intim Rava dan Ara yang lupa diri, tidak tau tempat.


TAMAT😘


*


*


*


Beneran tamat?🤔


IYA, TAMAT😍

__ADS_1


Terima kasih sebanyak-banyaknya udah mengikuti tulisan receh ini. Aku gak punya banyak kata-kata untuk mengungkapkan segimana senangnya aku menulis dan akhirnya bisa berkenalan dengan semua pembaca.


Maaf kalau banyak aneh, lebay, gak nyambung🤧


__ADS_2