
"Kenapa rasanya sedih banget??"
"Aku pengen nangis, mataku panas, sesak banget rasanya Tuhan!!" Meringkuk di bawah selimut, Ara tidak bisa mengeluarkan air matanya.
Kepala Ara terasa berat, nafasnya tercekat dan pikirannya menginginkan ia untuk menangis. Rasa sedih tanpa alasan tiba-tiba menghantam Ara, pelupuk mata yang terasa menahan air mata itu tidak menampung apapun.
Mengeratkan genggaman pada pergelangan tangan kiri yang terasa sangat ngilu, Ara juga merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Seolah tertusuk dan tersayat, tulang Ara terasa bagai digores pisau sebagai pengasah.
Meraih ponsel dari atas nakas dengan masih bergelung di dalam selimut, tangan kanan Ara terus menggapai-gapai. Bernafas sekuat mungkin menghirup pasokan udara yang mulai menipis. Bibir gemetar dan gigi beradu layaknya menggigil kedinginan.
"Mana lagunya ini!!??" Menggeser tidak tentu arah, Ara mencari daftar putar pada alunan instrumen klasik piano dan biola untuk memenangkan dirinya.
"Hmmmm... Hmmmm... " Bergumam deheman lirih, Ara menghembuskan perlahan sisa-sisa karbondioksida hasil respirasi paru-paru miliknya.
Membuka mata perlahan yang sempat Ara paksa terpejam, Ara masih bertahan di dalam kegelapan dalam kondisi pengapnya. Suara air hujan membentur atap rumah, aspal jalan raya, ranting-ranting pepohonan dan tanah terdengar sangat jelas. Berteriak sekuat tenaga pun Ara yakin tidak akan ada yang mampu menangkap suara Ara.
"Aku kenapa??" Tanya Ara lirih pada dirinya sendiri.
Obat yang harus Ara konsumsi sudah tertelan tepat waktu. Tidak ada kejadian mengejutkan yang Ara takutkan terjadi, namun perasaannya sangat kacau. Keinginan untuk menangis teramat sangat besar. Tidak seperti dahulu saat tangis itu juga diikuti tawa kepedihan, kali ini Ara hanya ingin menangis.
'Apa aku mau dibuang lagi ya??' Membatin Ara, entah keanehan apa lagi yang terjadi hingga Ara akhirnya berpikir seperti itu. Beruntungnya kali ini kesadaran Ara tidak dilahap habis oleh bisikan yang menyerupai suara lebah yang terus berdenging di otaknya.
"Aku harus tidur.. Gak bisa kalau bangun terus pasti bisa gila lagi.." Ucap Ara sebagai perintah pada dirinya sendiri. Iya, mata yang sudah diperintah itu sudah terpejam, namun tidak tertidur. Lebih dari 3 jam Ara bergerak gelisah mencari posisi nyaman agar ia mampu terlelap. Tidak sedetikpun Ara membuka kelopak matanya, meski terasa gatal dan berat kala harus terus menutup mata.
Suara dengkuran halus terdengar di bawah gundukan selimut tebal, Ara sudah tertidur setengah jam yang lalu. Butuh perjuangan kuat sampai kepalanya terasa sakit karena menahan kantuk yang tidak mampu membuatnya tertidur.
Tok
Tok
Tok
"Kakaakkk...." Suara ketukan dan panggilan dari balik pintu tidak mampu mendobrak benteng yang menutup saluran pendengaran Ara. Baru saja 2 jam yang lalu Ara terlelap dan baru saja saat ini Ara memasuki gerbang alam mimpi yang sesungguhnya. Belum juga Ara disambut oleh para prajurit kekaisaran di dunia khayalannya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, tentu saja hanya terdengar bagi si pengetuk.
"Hah!" Menghela nafas kesal, tidak ada lagi drama ketuk-mengetuk. Menyerah dan memilih membawa langkah kakinya menuruni anak tangga.
"Kakak kebo Ma.. Gak mau bangun." Ucap Rian cemberut, mendudukkan dirinya pada sofa ruang tengah menatap televisi yang masih menampilkan iklan pembersih toilet yang katanya cuma 6 ribu rupiah.
"Gitu lah Kakak mu kalau libur.. Kayak gak punya tulang.." Ucap Mama Lauritz yang masih sibuk menata bunga palsu yang sudah di cuci beberapa hari sebelumnya.
"Kunci cadangan kamar Kakak ada kan Ma??" Tanya Jona tiba-tiba, saraf otaknya yang saling sambung-menyambung sudah memiliki ide jahil.
"Di rak lemari atas dekat tempat Kakak mu simpan piagam sama sertifikat-sertifikatnya itu. Mau buat apa Mas??" Tanya Mama Lauritz tanpa mengalihkan pandangannya. Pura-pura tidak mengetahui akan ada guncangan apa di lantai 2 rumahnya.
"Dibobol aja kamar Kakak." Ucap Jona tanpa dosa. "Ayo Yan.. Kita mulai misi kita. Siapkan amunisi.. Kita timpa Kakak.." Meraih bakpau isi kacang merah yang bersanding dengan donat, kue lapis dan pisang goreng dari atas piring, Jona menyuapi Rian dengan dorongan segelas air putih. Tampaknya Jona sedang berusaha menambah bobot Rian.
Drap
Drap
__ADS_1
Drap
Tuk
Ceklek
"SERBU!!!!!" Teriak Jona kuat sembari ikut berlari bersama Rian.
Bruk
Bugh
"AAARRGGHHH!!!" Suara Ara terdengar nyaris seperti suara laki-laki yang belum mengalami puber alias belum berubah menjadi suara berat atau maskulin, namun tetap khas.
"Laaahh... Abang Saleh udah keluar Dek!! Ayo serbu lagiii.."
"Hihihii.." Cekikikan Rian seolah tubuh Ara adalah trampolin, ia menghentakkan kakinya dalam posisi berbaring di atas tubuh Ara yang tergulung selimut.
"HAHAHAHAHAA!!!" Tawa Ara menggelegar, bukan karena Rian, namun Jona yang menggelitik pinggang Ara.
"Ampun.. Ampun.. Udah.. Hahahaha.. Jona udah.. Kakak geplak yaa!! Hahaha.." Ancam Ara di sela tawanya yang terus terdengar.
"Huh!! Kurang ajar!!" Melotot Ara pada Jona dan Rian yang justru sedang cengengesan. Bukannya takut diamuk banteng, keduanya malah saling tatap berbagi sinyal rencana jahat selanjutnya.
"Macam-macam Kakak gigit kalian satu-satu!!" Ancam Ara lagi, ia sudah mencium gelagat mencurigakan kedua adiknya. Kapan lagi Jona dan Rian akan kompak bila bukan dalam misi menghimpit, menjepit dan menyesakkan alias menimpa Ara dengan tubuh keduanya yang terus tumbuh besar.
"Seraaaang...!!!" Ucap Jona dan Rian berbarengan.
"Uhuk.. Uhuk.." Tersedak Ara, salah satu lengan Jona dan Rian sama-sama merangkul lehernya. Dari posisi terduduk hingga terpaksa berbaring lagi, Ara ingin tertawa pada tingkah adik-adiknya. Sayang, sangat sayang Ara pada Jona dan Rian. Jika bisa, Ara ingin mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk kebahagiaan Jona dan Rian saja.
"Rian kok jadi berat lagi sih??"
"Uhuk.. Udah.. Kakak mau mandi dulu.." Melepas paksa rangkulan adik-adiknya, Ara bergegas meraih handuk oren dan lari ngibrit ke kamar mandi. Kali ini Ara menyempatkan bertanya pada Mama Lauritz ada tamu di rumah atau tidak.
Pengalaman disaksikan dengan balutan handuk sungguh akan menjadi sebuah kenangan memalukan bagi Ara. Sikap canggung Rava terakhir kali justru membuat Ara semakin ingin mengupas mukanya dan menitipkan otaknya agar ingatan itu error hingga lenyap permanen.
Namun, tetap saja pada pesan singkat yang setiap malam menyapa Ara sebelum tidur, Rava terus mengucapkan selamat malam bahkan sampai mengingatkan Ara jangan bergadang lagi. Menganggap Rava sudah tidak perduli lagi pada kesialan Ara. Tidak tahukah Ara bila Rava justru sebenarnya kelimpungan mengibaskan tangan menghapus pemutaran ulang adegan secara perlahan di hadapan matanya.
"Ma.. Mau nanya.." Ucap Ara sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk.
"Tanya apa??"
"Kapan Pak Rava izin panggil Mama ke Mama??"
"Penasaran yaa??" Tanya Mama Lauritz dengan nada menggoda Ara.
"Serius ini Ma.." Mencebikkan bibirnya, Ara menyipitkan mata menatap Mama Lauritz.
"Ya Mama juga serius Kak.."
"Jadi kapan Ma minta izin itu Pak Rava??"
"Hmm.. Jadi.." Merotasi bola matanya, Mama Lauritz mengingat pembicaraan serius yang hanya diketahui Mama Lauritz, Papa Yudith dan tentunya Rava.
Flashback On
1 Bulan yang lalu.
"Pagi Tante.." Sapa sosok lelaki dewasa nan matang yang tampak siap diunduh.
"Nak Rava.. Cari Ara ya??"
__ADS_1
"Saya cari Om sama Tante.."
"Tumbenan Rav nyari Tante sama Om??" Tersenyum ramah Mama Lauritz mempersilahkan Rava masuk.
"Maaf ya Tante pagi-pagi Rava udah ganggu.. Soalnya mikir jam segini Om Yudith belum pergi ke bengkel."
"Iya gak apa-apa Rav. Tante panggil Om dulu ya.." Ucap Mama Lauritz, berlalu meninggalkan Rava yang sudah duduk dengan gugup. Ia bahkan lupa untuk langsung menyerahkan sekeranjang kue-kue tradisional yang dibelinya hingga rela memasuki pasar. Segala macam makanan dan barang hingga kebutuhan pokok sudah pernah dibawa Rava kala berkunjung untuk menemui Ara, kehabisan stok ide membuat Rava memborong berbagai macam kue-kue tradisional di pasar yang ia lalui.
"Apa kabar Rav??" Sapa Papa Yudith saat ia sudah sampai dihadapan Rava. Berdiri dari posisi duduknya, Rava menyalami tangan Papa Yudith dengan sopan.
"Sehat Om. Bengkel lancar Om??" Tanya Rava pada Papa Yudith yang sebenarnya hanya untuk berbasa-basi saja.
"Biasalah Rav.. Mobil yang masuk banyak, tapi rata-rata keluar bawa nota kredit." Jawab Papa Yudith dengan kekehan kecilnya. Jelas nota kredit alias jalur utang, tidak perduli mereka pemilik mobil mewah atau hanya truk pengangkut batu, pasir atau bahkan sampah.
"Jadi ada apa ini mau ketemu Om sama Tante??" Tanya Papa Yudith lagi pada Rava.
"Ini beneran gak mau dipanggil Ara biar ikut di sini?? Anaknya lagi disko itu di atas.." Memotong ucapan Rava yang belum sempat terucap, Mama Lauritz memastikan kehadiran Rava kali ini benar-benar bukan untuk modus pada anak gadisnya. Jangan kira orang tua Ara tidak mengetahui segala tingkah polah Rava dengan segala ke modusannya agar bisa berduaan dengan Ara.
"Iya, Tante.. Saya memang sengaja pagi ini ada yang mau diobrolin sama Tante dan Om."
"Gak nyesel kan Rav kalau gak bisa lihat Ara??" Tersenyum geli Mama Lauritz menyaksikan raut wajah Rava yang tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaannya.
"I-Iya Tante.. Gak nyesel kok." Lidahnya memang mampu membantu merangkai kata yang keluar, namun mata sendu kecewa Rava tidak bisa disembunyikan. Jelas tidak mungkin Rava bisa menahan untuk sehari tanpa senyum Ara. Bahkan bibir cemberut Ara juga bagai oasis bagi hidup Rava yang terasa gersang.
Jika diam-diam mengamati tidak mampu terwujud, maka mau tidak mau Rava akan memandangi ribuan foto Ara yang diambilnya secara diam-diam pula. Ilegal memang, tapi Rava berjanji akan mengakui dosanya yang satu itu pada Ara kala keduanya sudah menjadi sepasang suami-istri. Semoga, Rava terus berdoa dan berusaha agar mimpinya bersama Ara terwujud. Jangan sampai pula bibir tanpa rem Dion membuat masalah sebelum perjuangan Rava sampai pada garis finis.
"Ara itu telinganya gak di sumbat Rav, tapi kalau udah disko sama oppa nya lupa udah itu sama semuanya.. Seharian gak makan juga tahan, katanya lihat cowok ganteng udah bikin kenyang. Makanya kalau mau ketemu biar Tante panggil dulu, di teriakin dari sini gak akan kedengaran." Ucap Mama Lauritz yang membuat mata Rava terbelalak. Ingin menerjang masuk kamar Ara, api cemburu berkobar saat pendengarannya menangkap 3 kata terangkai dalam 2 kalimat menyebalkan berurutan, 'disko sama oppa' dan 'lihat cowok ganteng'.
"Hahaha.. Gak usah kaget gitu Rav.. Gimana mau berjuang buat anak Om nih kalau baru denger gini aja melotot??" Tawa Papa Yudith menyadarkan Rava. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Rava merasa sangat malu.
"Ara itu malu-maluin banget loh Rav kalau udah lihat oppa nya.. Nanti yang ini dibilang pacar lah, terus tiba-tiba gebetan, malah ada yang udah diakui suami itu banyak.. Kadang teriak-teriak gak jelas sambil ikut nyanyi jingkrak-jingkrak gitu, padahal liriknya kadang yang diucapin cuma nanana aja. Yakin kamu suka sama Ara??"
Menegakkan badannya, Rava menatap bola mata Papa Yudith dan Mama Lauritz bergantian. Menarik nafas sedalam-dalamnya, Rava sudah membulatkan tekadnya.
"Umur saya saat ini 32 tahun. Saya sadar kalau saya bukan cuma cukup dewasa, tapi sudah cukup tua untuk Ara yang baru menginjak usia 20 tahun. Om dan Tante pasti sudah tau juga kalau saya menyukai anak gadis Om dan Tante. Di sini saya meminta izin secara langsung, saya ingin mendekati Ara untuk tujuan mengajaknya membina rumah tangga bersama saya.." Menarik nafas perlahan lagi, kegugupan mendadak menyerang Rava. Apalagi kalimat selanjutnya yang cukup menyakiti hatinya akan Rava utarakan.
"Jika nanti usaha saya tidak merubah isi hati dan pikiran Ara, saya rela dan ikhlas untuk mundur. Kebahagiaan Ara lebih penting, jadi saya akan mengesampingkan ego saya untuk memiliki Ara."
...****************...
Respirasi : Pada manusia, respirasi adalah proses pengambilan oksigen serta pengeluaran sisa berupa karbondioksida dan uap air.
*
*
*
Gimana nih tanggapan Kakak-kakak sama cara penyampaian Rava waktu minta izin??š
Kira-kira Ara kenapa ya kok bisa pengen nangis??š¶
*
*
Flashback belum kelar yaa..
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°
__ADS_1