Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bibit Unggul Bayi Cabe


__ADS_3

Tidak terasa 6 bulan sudah berlalu dari peristiwa yang hampir membuat Rava menggila. Kini usia kehamilan Ara sudah menginjak bulan ke-8. Cukup menjadi tantangan berat yang memiliki segudang sensasi.


“Mas …,” lirih Ara dengan mata terpejam sayu. Bibirnya baru saja dibasuh oleh tangan basah Rava.


Diusap lembut punggung Ara yang kesulitan membungkuk. Diciuminya pelipis wanita hamil yang belum ingin beranjak dari wastafel dapur. Sungguh Rava tidak tega pada istrinya yang mengalami morning sickness parah di trisemester ketiga.


Jika pada awal kehamilan Ara bisa puas tidur nyenyak, makan seenaknya bahkan terkesan sangat rakus meski terkadang juga mual, maka berbeda dengan kini yang anehnya bila makanannya tidak berasa pedas pasti akan muntah. Selalu saja begitu jika makanannya tidak berbau cabai. Padahal normalnya bau cabai yang menusuk justru sering kali membuat para ibu hamil mual. Tampaknya Lipai akan menjadi bibit unggul bayi cabe.


“Ayo, Sayang … Pelan-pelan,” ucap Rava lembut sembari memegangi tangan dan bahu Ara.


Langkah pendek kaki Ara terseok membawa perut yang kini kian membesar. Tidak jarang Ara merasa minder pada tubuhnya yang membengkak. Apa lagi jika menangkap basah lirikan perempuan langsing pada sang suami saat keduanya berbelanja, reflek Ara akan melotot tajam mengirim sinyal ancaman.


Dan disitulah kesabaran dan kesenangan Rava diuji. Pasalnya Ara bisa menggerutu seharian. Tidak ingin menanggapi ucapan Rava sedikitpun. Benar-benar cemburu buta yang membuat Rava senang bukan kepalang karena merasa sangat dicintai oleh Ara.


Mendudukkan dirinya di kursi meja makan, Ara menyandarkan punggungnya. “Haaah ….” Helaan lelah dan lemah Ara membuat Rava iba. Padahal baru sesuap sayur bayam yang berhasil masuk menyentuh ujung permukaan lidah Ara.


Kondisi Ara ini tentu sempat membuat calon Papa Mama muda itu khawatir. Beruntung tidak ada hal yang berbahaya karena morning sickness yang Ara alami saat ini tidak lain akibat peningkatan hormon kehamilan alias progesterone.


Mengenai makanan pedas, tentu keduanya sudah berkonsultasi langsung dengan Dokter. Ara boleh saja mengonsumsi makanan pedas, tapi tidak dalam jumlah banyak dan intensitas yang rutin. Hal tersebut dikarenakan bayi di dalam kandungannya yang sudah membesar menekan ruang perut, membatasi aktivitas normal yang semakin menyempit. Akhirnya jika asupan makanan pedas tidak terkontrol maka bisa berakibat pada kenaikan asam lambung.


“Mas gak kerja?” tanya Ara sambil mengerjapkan kelopak matanya dengan lemah. Kekuatannya sudah terkuras habis untuk memuntahkan banyak cairan bening.


“Mana tenang Mas pergi kerja dengan kondisi kamu di rumah kayak gini, Sayang,” jawab Rava seraya berjongkok di samping Ara. Wajahnya tepat menghadap pada perut membuncit yang seketika bergelombang.


“Lipai pelan-pelan ya kalau mau nendang perut Bunda. Ayah sama Bunda sabar nungguin Lipai keluar. Nanti kalau Lipai udah keluar baru kita main bola … Sekarang udah ya … Kasihan Bunda, Nak,” bisik Rava tepat di hadapan perut Ara. Telapak tangannya mengusap lembut tonjolan perut di balik daster kuning bermotif bunga.


“Mas masih gak mau dipanggil Papa?” Tersenyum kecil Ara mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangan sedikit bergetar itu di atas punggung tangan Rava agar terus memberikan usapan. Perutnya sangat nyeri dan menegang setiap kali Lipai menendang, hanya usapan Rava yang selalu bisa menenangkan calon buah hatinya itu.


“Ayah Bunda aja ya, Sayang? Kalau Papa Mama nanti ribet loh kalau kita main ke rumah sana. Bayangin aja waktu kamu panggil Mas itu Papa yang datang malah Papa Yudith, kan gak lucu.”


“Padahal lidah Ara udah biasa sebut Papa Mama,” gumam Ara dengan bibir bawah dimanyunkan.


“Itukan kamu terbiasa karena memang panggilan untuk Mama Lauritz dan Papa Yudith. Makanya mulai sekarang belajar panggil Mas Ayah ya Bunda?”


“Merinding loh ini dipanggil Bunda sama Mas.” Rambut-rambut halus di tangan Ara benar-benar berdiri. Tubuhnya seketika meremang atas panggilan ‘bunda’ yang mengalun lembut.


“Kamu ini, Yang. Baru gini aja merinding.” Mencubit gemas pipi tebal sang istri, Rava menjatuhkan kecupannya di perut Ara, kemudian naik mendarat pada bibir, hidung, kedua pipi dan dahi bersamaan dengan kakinya yang mulai berdiri tegak.


Sedetik setelah Rava berdiri, ia menggeser mangkuk berisi nasi yang disiram sayur bayam dan sepotong telur ceplok. Menarik kursi lainnya untuk diduduki agar mudah saat menyuapi Ara. “Ayo makan lagi. Kamu perlu energi.”


“Minum susu aja ya, Mas? Takut muntah lagi kalau makan,” tolak Ara dengan kedua jari yang sudah menjepit hidung. Gejolak rasa mual tiba-tiba kembali menyerang saat mata Ara menangkap wujud sarapan paginya.

__ADS_1


“Ya udah minum susu nya dulu.” Mengalah Rava segera menyingkirkan mangkuk di tangannya menjauh dari jangkauan Ara. Tidak ingin bila sang istri harus kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan asam. “Nanti kita coba makan lagi. Jangan sampai gak ada isi ini perut.”


“Kan udah Mas isi sampai sebesar ini,” celetuk Ara sekenanya. Terkekeh sembari menangkupkan tangan ke bibir. Antara malu dan gemas dengan reaksi Rava yang merona.


“Jangan mancing lagi Bunda … Ayah gak akan sanggup kalau Bunda kode lagi.”


“Aneh,” ketus Ara sembari memutar bola matanya malas. Ia lebih memilih menghabiskan segelas susu khusus ibu hamil dari pada meladeni Rava.


“Jadi pengen minta jatah. Tapi masih pagi. Kamu juga masih lemas.” Memeluk Ara dari samping, Rava berbisik lirih tepat di depan daun telinga Ara.


Plak.


“Menyepelekan sekali anda, Pak!”


Pukulan ringan dari jiwa wanita hamil yang kesal menyapa singkat tangan Rava yang melingkari perut Ara. Namun mata Rava yang terbelalak itu disebabkan ada tangan nakal yang mengusik adik kecil di bawah sana.


“Jangan nakal. Lipai lagi aktif-aktifnya. Jangan sampai baby kita belajar mesum sejak dini.” Rava menahan tangan Ara agar berhenti menyentuh sembarangan. Sengaja menggoda namun tidak ingin bertanggung jawab.


“Hahaha … Ada-ada aja sih Mas. Lagian justru Mas loh yang ngajarin Lipai mesum sejak dini.”


“Kamu, Sayang.”


Kalah telak. Rava menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyengir malu. Bukan salahnya juga kan jika reflek menenangkan saat mengulang proses pembuatan sang buah hati yang rupanya ikut menyentak dari dalam rahim Ara.


"Tapi kan kamu yang ngajak Mas duluan," ucap Rava mencoba menutupi rasa malunya.


"Karena Mas kemarin pura-pura gak mau, padahal udah kelihatan banget gak kuat nahannya," balas Ara tepat sasaran.


“Udah lah, karena Mas gak kerja, Ara mau Mas usapin punggung sambil dipeluk. Sekalian kita cari nama lagi buat Lipai.” Mencengkeram pinggiran meja makan, sebelah tangan Ara menekan pinggangnya selama berusaha untuk berdiri. Baru Ara sadari jika hamil tidak semudah yang dirinya bayangkan.


Berjalan beriringan secara pelan menuju kamar utama, Rava terus menggenggam jemari Ara. Tersenyum sumringah wajah laki-laki dewasa yang tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas anugerah sosok tercinta yang sedang mengandung buah cinta mereka.


“Jadi tinggal nama depan aja yang belum kita siapkan untuk Lipai ya, Mas?”


“Iya, Sayang … Nama tengahnya kan udah gabungan nama kita Arva.”


“Tapi gak nyangka ya Mas arti nama kita bertiga bisa sama. Aquila, Aara, Arvada jadinya keluarga elang deh …,” seloroh Ara dengan jari-jemari mengetuk-ngetuk dada Rava. Sedangkan Rava yang ikut berbaring miring di hadapannya masih sibuk mengusap punggung Ara.


“Karena kita memang berjodoh, Sayang … Nama aja bisa samaan. Meski untuk Lipai memang sengaja kita samakan artinya. Tapi siapa yang sangka kalau masih berkaitan dengan gabungan salah satu penggalan nama kita, iya kan?”


“Huum.” Angguk Ara menyetujui.

__ADS_1


“Mas, ini kan anak pertama kita, gimana kalau Earlyta? Artinya pemimpin, tapi dari kata early bisa kita artikan sebagai awal, anak pertama. Apa lagi kita tau pertama kali Ara hamil dari tespek waktu masih pagi-pagi juga kan,” ucap Ara dengan semangat mengusulkan nama yang cocok untuk Lipai yang kembali beraktraksi hingga membuat Ara meringis menahan nyeri dan ngilu.


“Bagus, Sayang. Mas suka … Earlyta Arvada Kim.” Mengulas senyum tipisnya, Rava fokus mengusap perut di mana tonjolan ulah Lipai terus berpindah-pindah.


“Oya, Mas katanya punya nama juga untuk Lipai, siapa?”


“Bellvania,” ucap Rava singkat. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membuat lengkungan lebar.


“Kok namanya kayak mirip seseorang ya?” Kedua alis itu mengerut nyaris tertaut. Pengucapan sebuah nama yang baru Rava sebutkan terasa familiar di telinga Ara.


“Mirip nama kamu, Sayang. Belvya, Bellvania.”


“Eh, iya … Pantesan kayak gak asing, ternyata nama Ara sendiri.”


“Mas sengaja taruh satu suku kata nama kamu, Bel menjadi Bell. Supaya kelak saat anak kita tumbuh dewasa dia tetap selalu ingat perjuangan kamu merawat dan membesarkannya. Bell juga berarti cantik, sedangkan Vania bisa diartikan sebagai hadiah. Kamu tau juga kan kalau bell itu bisa diartikan sebagai lonceng?" tanya Rava menjeda penjelasan selanjutnya. Ia menanti respon Ara yang ternyata hanya berupa anggukan kecil.


"Iya, kehadiran Lipai di antara kita layaknya dentingan lonceng yang mengantarkan hadiah. Mengalihkan dan menyisihkan perhatian kita untuk menyambut kehadirannya dalam suka cita,” ucap Rava lagi menyelesaikan makna dalam dari sebuah nama yang diperuntukan untuk sang buah hati.


“Kenapa Ara jadi terharu sampai pengen nangis ya? Kenapa Mas bikin Ara selalu jatuh cinta sih sama perhatian Mas? Bisa-bisanya kepikiran masukin nama Ara lagi di nama anak kita. Hwaaaa …."


“Loh kok nangis? Aduh Sayang maaf ... Udah ya?” Terduduk Rava panik pada Ara yang mendadak menangis haru tersedu-sedu.


...****************...


*


*


*


Udah tau kan jenis kelamin Lipai tanpa disebutkan?😁


Ayo bantu Hana pilih nama untuk Lipai 😃


A. Earlyta Arvada Kim


B. Bellvania Arvada Kim


Meski diriku sudah berat sebelah di salah satu nama, tapi tetap aja dilema😅


Terima kasih sudah menantikan kisah ArVa yang akan menyambut kelahiran Lipai😍

__ADS_1


__ADS_2