Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Rajin Menabung


__ADS_3

“Kita periksa ya, Sayang … Mas takut kamu kenapa-napa.” Berlari mencari kunci mobil dan dompet yang ditinggalkan, Rava melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Disambarnya kunci dari atas meja dan dompet di dalam tas kerja. Berlari kembali menghampiri Ara yang sudah duduk bersandar memijat pelipis.


“Kenapa bangun? Mau muntah lagi?” ucap Rava khawatir. Mengusap punggung Ara, garis-garis halus di wajah Rava menggambarkan seberapa panik laki-laki


“Sekarang kita ke dokter dulu ya? Maafin Mas … Padahal tadi wajah kamu udah kelihatan lesu, suhu badan kamu juga lebih panas.” Sesal Rava pada dirinya sendiri. Harusnya ia lebih cepat peka, bukannya malah terbuai kerinduan dan gelora hasrat.


Menyelipkan tangan di belakang punggung dan sela lutut, Rava membopong Ara yang pastinya terperanjat atas perlakuannya.


“Mau air hangat aja, Mas. Ini cuma telat makan aja, makanya perutnya perih, sakit, mual-mual. Gak usah ke dokter,” lirih Ara, menjauhkan wajahnya agar bisa menatap tepat sepasang manik mata Rava.


Terbelalak Rava mengeratkan giginya, langkah Rava terhenti, ia tidak suka pada kebiasaan Ara yang kelewat sering menunda makan. “Belajar makan tepat waktu, Yang. Kamu boleh lakuin apapun yang kamu suka selama di rumah, tapi jangan sengaja telat makan dengan segala alasan. Sekarang jangan bantah Mas, kita ke Dokter!”


Sikap tegas Rava sore itu tidak bisa Ara bantah. Di samping itu Ara juga lebih fokus merasakan perutnya yang perih. Seharian badannya terasa sakit, selera makannya juga hilang. Tubuhnya yang sudah lemas terforsir untuk mengurus rumah.


Memang Ara yang cari penyakit, bahkan bantuan Bik Tih selalu bisa ditolaknya, termasuk Bik Tih yang tadinya belum ingin pulang karena kepikiran dengan kondisi Ara. Ingin melapor pada Rava juga Ara larang. Katanya bisa mengganggu pekerjaan Rava. Namun akhirnya tetap saja Rava yang kelimpungan kesusahan.


...----------------...


“Kembung dan telat makan ya, Bu,” ucap seorang Dokter setelah sempat beberapa kali menekan perut Ara yang terlapis kaos oblong. Tentu saja sebelumnya Ara sudah menjelaskan detil kondisi tubuh yang dialaminya, meski dengan suara lirih dan kepala berdenyut.


“Mm … Dok …,” panggil Rava ragu, melirik sekilas pada Ara yang terpejam karena silau lampu ruang pemeriksaan membuat mata sakit hingga menyebabkan kepala semakin berdenyut.


Sejujurnya Ara cukup heran dengan kondisinya yang tiba-tiba sangat lemas. Padahal sebelum Rava pulang juga dirinya sudah cukup mampu menahan sakit sambil memasak untuk makan malam. Rasanya tidak hanya sikap, namun tubuhnya juga mulai manja jika berdekatan dengan Rava.


Seperti dapat membaca makna sorot mata Rava, Dokter tersebut tersenyum samar. “Silakan langsung ke bagian poli kandungan untuk lebih akuratnya, Pak. Nanti di sana bisa dilakukan USG sekaligus pemeriksaan kondisi rahim istri Bapak.”


Sontak saja Ara langsung membuka matanya lebar-lebar mendengar penuturan wanita yang berprofesi sebagai Dokter itu. Tidak dapat dipungkiri dirinya sedang berharap dengan cemas serta takut jika harapannya terlalu besar.

__ADS_1


Selama ini Ara sudah cukup khawatir saat mendapatkan menstruasi di bulan pertama pernikahan mereka. Dulu, tidak sedikit Ara sering mendengar para ibu-ibu di warung Bang Buna sering adu pamer anak mereka yang baru menikah langsung dikaruniai kabar bahagia hadirnya buah hati. Oleh karena itu Ara cukup cemas di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak di bulan kedua tapi belum diberi tanda-tanda sedikitpun.


Walaupun jauh sebelumnya juga baik Rava dan Ara sudah memeriksakan diri dan kondisinya dinyatakan sehat. Tetap saja tidak mengurungkan dugaan buruk menghampiri pikiran Ara. Maka dari itu Ara suka sekali menyibukkan diri di rumah. Bukan hanya ingin menjadi ibu rumah tangga sesungguhnya, namun itulah salah satu cara Ara mengalihkan pikiran buruk di benaknya.


Kini di kursi tunggu di luar ruangan Dokter bertuliskan ‘Spesialis Obgyn’, pasangan muda itu saling menggenggam. Memberi kekuatan dan menaruh harapan yang sama tanpa perlu diucapkan satu sama lainnya. Cukup beruntung saat itu Dokter yang bertugas masih memiliki jam kerja dan belum pulang.


“Masih pusing?” tanya Rava sambil mengusap puncak kepala Ara. Tidak perduli pada banyaknya pasang mata yang curi-curi pandang, Ara memilih memejamkan mata merebahkan kepala ke dalam dekapan Rava.


Mengangguk sebagai jawaban, Ara melingkarkan tangan erat di pinggang Rava. Dekapan itu terasa nyaman sampai Ara ingin tertidur begitu saja.


“Ibu Belvya … Ibu Belvya …,” panggil seorang suster dalam intonasi meninggi layaknya teriakan yang langsung menarik perhatian Rava dan Ara.


Keduanya berjalan beriringan memasukan ruang pemeriksaan yang langsung disambut ramah oleh Dokter yang bertugas. Sedetik kemudian sikap tenang Rava berubah gusar, ia mematung dengan pupil mata melebar tidak percaya. Seorang laki-laki sepantaran dirinya duduk di seberang meja mempersilakan Rava dan Ara untuk duduk terlebih dahulu.


“Mas?” panggil Ara sambil menarik lengan kemeja yang Rava kenakan.


Saking cemburunya Rava hanya menatap tajam Dokter yang sebisa mungkin bersikap tenang. Bukan sekali atau dua kali dirinya ditatap sengit oleh suami pasien, namun meski sudah menjadi langganan tetap saja sisi terintimidasi itu bisa hadir kapan saja.


‘Kenapa aku dikasih nama kayak cewek sih Mak?!’ membatin Dokter bernama Deska itu mengerti perubahan sikap dan arti tatapan sengit Rava. Ia jelas paham jika sebelumnya Rava pasti mengira dirinya berjenis kelamin perempuan.


“Sebelumnya sudah di cek dengan tespek, Bu?” tanya Deska sambil tersenyum canggung.


“Belum, Dok.” Menggelengkan kepala, Ara mengelus punggung tangan Rava yang mengeratkan genggamannya. Sudah dapat ditebak oleh Ara sifat cemburu membludak seorang Rava.


“Kalau begitu langsung kita USG saja ya, Bu? Kurang efektif jika ingin di cek dengan tespek sekarang, akan sulit terdeteksi karena urine sudah cukup encer.”


“Sus, tolong dibantu … Silakan Bu untuk mengikuti Suster ke ruangan di sebelah,” pinta Deska sambil menunjuk lurus bilik lain di dalam ruangan itu. Bergegas mempersiapkan diri untuk melakukan USG eksternal, cukup paham untuk tidak menawarkan USG transvaginal. Menjadi Dokter kandungan membuatnya mau tidak mau harus paham pola pikir pasien berserta keluarga pasiennya, terutama menghadapi yang berstatus suami.

__ADS_1


“Ganti Dokter aja ya?” ucap Rava mantap, menatap sinis Deska yang sudah siap dengan probe yang telah dilapisi gel. Pasalnya baru saja Ara diminta menaikkan kaos serta menurunkan sedikit celana yang dikenakannya. Meski akhirnya diberi kain penutup setelah probe itu menyentuh kulit perut Ara, namun Rava tidak suka dengan permintaan Deska yang sebenarnya sangat wajar.


Marah? Jangan ditanyakan lagi, Rava hampir ingin langsung menggendong Ara pergi begitu saja. Namun tatapan galak Ara berhasil menciutkan Rava.


Meski harus penuh drama, di bawah lirikan tajam Rava, sesi itu tetap berjalan.


“Sabar ya, Pak, Bu ….”


Menegang Rava dan Ara mendengar kata ‘sabar’ yang terucap. Seketika Rava menghembuskan nafas berat, sangat jelas dari sorot matanya kecewa.


“Di sini kondisi rahimnya kosong, belum ada kantong ketuban atau bakal janin. Karena waktu menstruasi juga baru terlewat 1 minggu, saya sarankan 1 atau 2 minggu kedepannya untuk diperiksakan lagi.”


Kini kedua manusia yang memendam kekecewaan kembali saling menguatkan. Berjanji untuk selalu bersama, bersabar menanti hadirnya buah cinta.


"Udah ya istri Mas tersayang jangan sedih lagi. Setelah kamu sembuh nanti kita harus lebih rajin menabung."


Padahal hampir setiap malam Rava sudah menabung, kecuali ketika Ara ketiduran terlebih dulu. Namun tampaknya kali ini juga pengecualian karena Ara sedang sakit.


"Ish ... Ara bukan celengan ya!" ketus Ara mencebikkan bibirnya.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti kisah perbucinan ArVa🥰


__ADS_2