Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Acara Pergosipan


__ADS_3

Memilih diam dan mengamati, tanpa ada yang mengetahui Yuki sudah bersorak kemenangan. Tebakan dan dugaannya benar. Yuki juga cukup yakin jika tidak hanya dirinya yang sudah mengendus gelagat Rava, namun pasti banyak yang menyangkal untuk menutupi patah hatinya.


"Ngomong-ngomong ngapain kamu nyebut Bu Dian pakai Bu D?? Di telinga saya itu kedengaran kayak Bude aja."


"Kan kayak berita gitu pakai inisial, Bu.." Jawab Yuki sambil cengengesan.


"Lagian sejak kapan mahasiswa di sini panggil Pak Kim jadi Pak Rava??"


"Kalau sekarang cuma saya kayaknya, Bu. Pertama yang panggil Pak Rava kan ini nih.." Yuki menyenggol lengan Ara dengan sikunya. Sedangkan Ara yang disenggol hanya menatap Yuki sekilas lalu membuang pandangannya.


"Lagian ada yang lebih waw tau, Bu. Mau saya kasih tau nggak??" Tanya Yuki sambil mengembangkan senyuman dan mata menyipit.


"Apaan?? Gak usah bikin saya penasaran!!" Pupil mata melebar serta tangan terkepal gemas menyertai untaian kalimat itu.


"Ara itu punya panggilan sayang buat Pak Rava jadi Mas Rava. Ara sama Pak Rava itu juga udah.. Ugh..!! Gitu deh Bu.."


"Ugh?? Ada main gitu ya??"


Blusshh!!


Tomat yang kelewat matang sudah kalah pekat warnanya dibandingkan wajah Ara. Ingin melepas kepalanya dan menghilang ke dasar lantai, Ara hanya mampu menatap Dimas yang menahan tawa.


"Bukan main lagi, Bu.. Udah diajakin seriusan tau.. Ibu pasti gak percayakan?? Saya juga awalnya gitu.. Tapi mata ini lihat langsung yang bucin itu siapa, Bu."


"Bucin gimana?? Pak Kim beku kayak ayam frozen gitu bisa bucin..!!??"


"Bahkan es di kutub aja bisa mencair, lah Pak Rava yang kelewat bucin gak mungkin bisa diem-dieman sama Ara." Mengedikkan dagunya, sudut bibir kanan Yuki tertarik ke atas. Seolah ia tau segalanya, Yuki tampak bersikap pongah.


Puk!!


"Kamu ini ya..!! Dari tadi bilang bucin, tapi gak kasih tau tingkah bucin yang kayak gimana!!" Gemas dengan informasi sekilas, pukulan lembut nan manja mendarat santai di lengan Yuki.


"Sinian dikit, Bu." Menggeser kursinya, Yuki juga melambai kecil sebagai isyarat untuk mendekat.


"Di depan saya aja Pak Rava pernah suruh Ara ngerangkul waktu naik motor." Bisikan yang ditambah gelagat mencurigakan Yuki sangat tidak berguna. Sungguh menyebalkan bila suaranya masih terdengar jelas di telinga Ara.


"Beneran itu??" Balasan yang tidak kalah dibuat-buat berbisik menyambut ucapan Yuki.

__ADS_1


"Mata saya loh yang lihat sendiri.. Belum lagi.. Khem!!" Berdehem cukup keras tidak berakhlak yang membuat ketiga orang didekatnya terperanjat, Yuki bersikap seakan ia hanya sedang menelan sebongkah berlian.


"Belum lama ini saya lihat Pak Rava gendong-gendongan sama Ara." Bisik Yuki sambil kembali mencondongkan tubuhnya. Sambutan mata membulat dari lawan bicaranya tentu mengobarkan semangat ghibah Yuki.


"Coba deh bayangin kurang nyata apa hubungan Pak Rava sama Ara!!" Kedua tangan terkepal yang bergetar heboh sejajar bahu itu bukan marah, tapi sedang menyalurkan rasa gemas yang membuncah.


"Beda banget kalau sama Bu Dian yang memang cuma bisnis kampus." Menyeringai songong, Yuki menyilangkan tangannya. Hilang sudah perbedaan status bila dipersatukan lewat acara pergosipan. Bahkan Dimas sudah menggeleng pasrah pada tingkah Yuki yang sibuk membicarakan terang-terangan Ara yang ada di sisinya.


"Cinta Pak Rava itu udah menggebu-gebu.. Udah siap jadi Bapak juga.. Gak sabar makan rendang nanti.." Senyum sumringah Yuki tidak selaras dengan wajah menahan kesal Ara. Ingin rasanya menghentikan bibir tipis Yuki yang terus menyerocos.


"Kamu beneran lagi dalam tahap serius ya??" Lagi-lagi ada tanda tanya menyasar Ara, masih ada pula getar keraguan yang menyertai pertanyaan itu.


"Ehh.." Bingung, jelas hubungan Ara dan Rava mengambang. Meskipun memang benar bahwa Rava telah melamarnya lagi dan untuk kesekian kalinya. Bahkan di warung ayam bakar yang menjadi saksi pelukan kebahagiaan Rava atas dipakainya kalung tanda Ara menerima perasaan Rava sekalipun tidak ada kejelasan status keduanya. Tidak ada kata 'pacaran' atau bahkan 'resmi menjalin kasih' yang terucap, hanya 'menikahlah dengan saya'. Lalu, harus dikatakan apa hubungan Ara dan Rava?


"Serius Bu, udah diminta ke orang tuanya Ara juga itu kurang serius apa lagi??" Memecah keheningan yang Ara ciptakan tanpa jawaban, Yuki bak malaikat penolong. Meski cukup kurang ajar sikapnya yang menyela omongan orang lain.


"Wah.. Kalau gitu saya tunggu kabar baiknya ya, Ra.. Semoga lancar dan langgeng." Entah serius atau tidak, namun ucapan itu terdengar tulus bagi Ara.


"I-Iya, Bu.." Jawab Ara agak terbata-bata. Ada rasa segan dan malu-malu untuk mengiyakan ucapan yang juga penuh doa itu.


"Sebentar lagi pasti ada kabar baiknya.." Ujar Yuki dengan semangat membara.


"Hah..!!" Mendesah pasrah pada apapun yang akan terjadi kedepannya, Ara hanya ingin menata hati dan mengusir ketakutannya. Ada hal lain yang menghalangi setiap niat baik Rava yang perlu ia mantapkan. Hal yang membuat Ara tidak yakin dan meragu pada keteguhan hati Rava yang masih mau menantinya sedikit lebih lama lagi.


'Aku bisa.. Dulu aku juga ragu dan takut, tapi aku bisa sampai ke tahap ini. Kali ini aku pasti bisa melewati lagi..' Ucap Ara dalam hati bersamaan dengan diletakkannya segelas teh tarik dingin dan sepiring prata yang ditemani saos cabe, bukan kuah kari.


...----------------...


"Ngapain sih tadi sampai bilang aku panggil Mas Rava?? Gak penting banget tau, Ki." Gerutu Ara sambil mengenakan helm hitam di kepalanya.


"Biar diomongin sampai ke telinga orang lain.. Biar pada sadar kalau belum ada pelakor di sini dan kamu itu bukan pelakor!" Ucap Yuki ketus.


"Lagian kalau orang lain tau panggilan akrab kalian, udah pasti bisa mikir kalau hubungan mu sama Pak Rava udah lebih jauh dari bayangan mereka!!" Ucap Yuki lagi dengan bersungut-sungut sambil menguncikan kancing helm secara kasar.


"Bisa-bisanya cinta tak sampai gosip bertindak. Gak dewasa banget padahal udah tua.. Memang ya, umur itu bener-bener gak mencerminkan kedewasaan." Masih juga menggerutu, bibir cemberut dan tangan terkepal yang sempat meninju jok motornya menambah aura kesal Yuki.


"Kali aja bukan Bu Dian yang nyebar gosip." Ucap Ara tiba-tiba yang membuat Yuki melongo dengan mata yang ikut membulat.

__ADS_1


"Sadar kan Ra?" Tanya Yuki sambil menggelengkan kepala tanda tidak percaya pada ucapan yang terlontar dari sosok di hadapannya.


"Dirimu gak lagi menghayal kan?" Belum sempat Ara menjawab, Yuki sudah bertanya dengan tidak percayanya.


"To the point deh!" Memutar bola matanya malas, Ara jengah pada pertanyaan Yuki.


"Kalau bukan Bu Dian siapa lagi yang nyebarin ini gosip?? Kalaupun bukan dari mulut Bu Dian sendiri semua ini tersebar, tapi pasti ada hal yang gak dia klarifikasi yang akhirnya bikin dirimu jadi bahan gosip gini."


"Kan bisa aja orang lain yang ambil kesimpulan sendiri, Ki."


"Nggak!!" Menggeleng kuat, Yuki tetap kukuh ada campur tangan Dian di belakang semua rumor yang beredar.


"Sejak kapan otak mu jadi tumpul??" Sarkas Yuki.


"Gimana ceritanya kamu dibilang pelakor padahal Pak Rava gak pernah bilang punya hubungan sama Bu Dian!!?? Mereka pegangan tangan aja gak pernah ada kabar simpang siurnya. Kalau bukan Bu Dian yang bilang mereka ada hubungan sampai tersiar kabar tunangan, jadi siapa lagi??" Suara Yuki meninggi, menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di area parkiran. Tampak dari beberapa pasang mata yang diam-diam mencuri pandang lewat ujung ekor matanya, jelas telinga mereka juga sudah dilebarkan untuk menguping.


"Entahlah, Ki.. Aku masih bingung.. Kita tau sendiri dulu Bu Dian baiknya kayak gimana.." Menerawang jauh ke belakang, Ara mengingat momen kebersamaan dengan Bu Dian. Banyak waktu yang pernah terlewati tidak hanya sekedar hubungan timbal balik di bidang pendidikan, namun ada canda tawa dan berbagi kisah yang menguatkan hubungan keduanya.


...****************...


*


*


*


Udah benar belum cara Yuki membantu Ara melawan gosip yang beredar?🤔


*


*


Kalau bisa bertukar tempat dengan Ara dalam posisi digosipkan gitu, kira-kira hal pertama apa yang mau dilakukan?🤭


By the way, pernah gak sih punya hubungan yang hancur padahal awalnya pernah lengket bak lem tikus?🙂


Oya, maaf ya buat yang komen gak Hana balas.. Masih sulit untuk buka kolom komentar.. Tunggu gelombang balasan ku setelah sinyal membaik.😂

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2