Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Cinta yang Bodoh


__ADS_3

"Apa yang mau anda kasih ke saya?" Tanya sosok Bang Dewa di seberang Ara terhalang meja kayu persegi.


"Kamu masih gak kenal sama aku Bang?" Senyum menyeringai menyapa Bang Dewa.


"Aku cantik ya sekarang?" Tanya Ara sembari mencondongkan tubuhnya.


"Hahaha.. Muka mu sumpah lucu banget. Bingung ya?" Tergelak tawa kencang, sudut mata Ara mengeluarkan titik-titik air. Bukan sedih, hanya rasa mengejek yang menggelitik dan mengaduk perut Ara.


Meletakkan selembar foto gadis berseragam putih biru, Ara masih mengamati perubahan raut wajah Bang Dewa. Tampak jelas ada kebingungan di wajah tampan itu.


Belum juga hilang raut kebingungan, Ara sudah meletakkan lagi selembar foto berisi gadis berseragam putih abu-abu. Kali ini tatapan mata Bang Dewa mengarah pada Ara.


"Ini aku waktu kelas 3 SMP, jelek banget kan?" Ucap Ara sembari menunjuk foto pertama.


"Di sini aku juga masih jelek. Ini aku waktu kelas 1 SMA. Makasih banget ya udah hina aku, jadinya aku bisa secantik ini sekarang." Ucap Ara lagi dengan senyum merekah. Telunjuk kanannya ia tarik dari foto kedua untuk bersembunyi kembali di balik meja.


"Iya.. Ternyata karena kamu aku bisa kayak sekarang. Dulu aku selalu bilang aku harus cantik, harus lebih pintar, harus kurus, harus lebih baik lagi. Semua itu demi agar kamu mau melirik aku. Tapi apa yang aku dapat saat kamu melirik aku??" Manik mata pemilik lisan itu menatap sendu, "Kamu memang melirik aku, tapi lirikan jijik."


Nada penuh ketenangan milik Ara tidak bisa membohongi tubuhnya yang terasa sangat ngilu pada setiap kata yang Ara ucapkan. Tulang pergelangan tangannya terasa hampir putus. Namun Ara bertekad kuat untuk menghadapi masa lalu yang masih tetap kokoh di hadapannya.


"Maksudnya apa ini?? Kamu Ara?" Tanya Bang Dewa dengan suara meninggi.


"Wah.. Kamu memang penuh muslihat ya. Hanya casing luar aja yang berubah apa gunanya? Otak mu masih kotor dan picik." Menelisik sosok di hadapannya, Bang Dewa bersedekap.


"Mau apa lagi kamu? Sampai kapanpun juga kamu gak bakalan dapatin aku meski udah berubah secantik apapun." Seringai muncul di sudut kiri bibir Bang Dewa.


"Buat apa aku mau dapatin laki-laki bodoh kayak kamu?" Tanya Ara sinis.


"Aku di sini cuma mau meluruskan alasan sebenarnya kenapa kamu benci sama aku. Aku salah apa sih?" Tanya Ara dengan suara melembut.


"Apa ini salah satu trik kamu juga?" Bang Dewa mengernyit dengan tatapan penuh curiga.


"Cih!! Masih kepedean aja." Mendecak kesal Ara memalingkan wajahnya. Hatinya benar sudah sangat terluka.


"Gak Hans, gak Bang Dewa, sama aja. Ganteng iya, over kepedean juga iya." Membatin kesal Ara pandang Bang Dewa.


"Kamu bilang aku gendut, jelek bahkan bilang aku murahan. Oke gak apa-apa kamu bilang aku gendut juga jelek, itu fakta. Tapi memang salah ku dulu apa sampai kamu hina murahan gitu?? Bahkan untuk ungkapin rasa suka ku aja gak pernah. Kamu juga tau kan kalau aku hampir dilecehkan?? Gara-gara siapa coba kalau bukan pacar mu yang sekarang lagi di rehab!! Dia yang murahan, bukan aku!!"


Brak


"Tutup mulut mu!!" Suara gebrakan meja dari tangan mengepal Bang Dewa tidak mengejutkan Ara. Sebegitu cintanya Bang Dewa hingga tidak terima siapapun menjelekkan Kak Dinda tentu Ara tau. Ara sangat sadar hanya untuk sekedar mengetahui hal itu.


"Kenapa?? Tolong kasih tau Ara alasannya Bang. Ara cuma mau tau itu, setelah itu Ara bakal pergi dari hadapan Abang. Abang sadarkan kalau selama ini juga Ara gak pernah dekatin Abang??"


"Sadar kamu Ra sama tingkah mu dulu yang suruh Dinda pergi ninggalin aku, bahkan kamu suruh temen-temen mu dari sekolah lain siksa Dinda sampai gak sekolah 4 hari. Aku gak nyangka anak pendiam kayak kamu bisa sampai segitunya. Tapi apa yang aku dengar?? Dari mulutmu sendiri bilang kalau apa yang kamu mau harus kamu dapatin." Bentakan Bang Dewa diakhir ujarannya seolah mengguncang jiwa Ara. Kalimat sakral yang selalu Ara ucapkan.

__ADS_1


Tapi taukah Bang Dewa jika kalimat itu hanya berlaku pada makanan, bukan untuk manusia. Ara sangat terobsesi pada segala jenis makanan yang belum pernah ia makan atau tertangkap lezat di matanya. Nutrisi yang membludak dalam tubuh Ara kala itu menjadikannya bertubuh gempal, hingga membuatnya menjadi lebih penyendiri.


Alasannya jelas karena masa kecilnya yang harus menghemat makanan karena pekerjaan Papa Yudith masih serabutan dengan penghasilan amat sangat sedikit, berbeda dengan usaha bengkelnya yang kini sudah sangat berkembang pesat. Selain itu juga rasa marah dari cacian penghinaan bahwa keluarga miskinnya tidak akan pernah makan enak membuat Ara gelap mata untuk bisa memakan segala jenis makanan.


"Aku gak akan sebodoh itu untuk memiliki laki-laki yang bahkan masih butuh uang jajan dari kantong Ibu-nya. Asal Abang tau, aku bakal dapatin apapun yang aku mau, tapi itu cuma berlaku untuk makanan." Ucap Ara bernada rendah penuh penekanan.


"Beruntung saat aku udah berubah cantik kita gak pernah ketemu lagi. Kalau aku gak butuh alasan mu, aku juga gak sudi lihat orang berotak dangkal." Lanjut Ara sembari beranjak dari duduknya.


"Oh iya, ini bukan trik. Ini cuma hadiah kecil dari aku.. Pesanku, tolong tonton video di dalam sini sendirian ya.. Ini ada banyak, jadi butuh banyak waktu. Semoga kamu sadar Bang udah jadi orang bodoh selama ini." Ujar Ara sambil merujuk pada kantong yang masih ia pegang berisi banyak hal yang Mas Ega kumpulkan.


"Bilang juga sama pacar tersayang mu untuk jujur jika gak mau kembali berkumpul dengan keluarganya di balik jeruji besi, karena dendam Ara akan terus membayangi kebohongannya." Ucap Ara sinis.


Kalimat yang Ara lontarkan jelas hanya gertakan, tidak ada bukti atau kekuatan yang Ara miliki untuk menyiksa Kak Dinda lagi. Bahkan bila Mas Ega menawarkan bantuannya lagi akan Ara tolak, Ara tidak ingin berurusan lagi dengan apapun yang menyangkut Bang Dewa. Sudah cukup. Ara hanya ingin melempar granat pada hubungan Bang Dewa dan Kak Dinda, akan bagus jika mereka terpancing dan meledak dengan sendirinya.


"Tolong cintai seseorang jangan cuma pakai hati, tapi juga akal sehat dan keberanian.. Jadi saat dia tersesat kita bisa menyadarkannya, bukan ikut terjerumus dan binasa bersama." Ujar Ara untuk terakhir kalinya menatap iba Bang Dewa yang masih diam menggeram marah pada Ara.


Berbalik membelakangi Bang Dewa, Ara siap berlari sekencang mungkin menumpahkan rasa marah. Ara sangat marah pada dirinya sendiri, demi laki-laki bodoh itu selama ini Ara sampai terluka begitu dalam.


Langkah kaki Ara membawanya menjauh pergi sejauh mungkin semampu kakinya menapak di bawah langit biru dan kilau menyengat sinar mentari yang perlahan akan kembali menghilang. Di pikiran Ara hanya satu, ia ingin pergi, menghilang, tertidur sepulas mungkin, entah harus puas, bersedih atau bersyukur atas jawaban Bang Dewa, yang ia tau semua sudah terjawab. Faktanya semua sorot mata bahkan suara yang mengalun ngeri dari sosok Bang Dewa karena permainan kotor seorang 'Dinda'.


Ara yakin semua karena 'Dinda'. Bagi Ara yang sebelumnya mengenal baik sosok Bang Dewa meski dari kejauhan sangat melihat dengan jelas perubahan sikap Bang Dewa kala itu.


Berbeda dengan Ara yang tidak tau arah tujuannya, di pondok kuning Bang Dewa nyaris membanting lembaran foto intim kekasih hatinya dengan banyak laki-laki lain. Belum sempat menuntaskan rasa marahnya, sebuah bogeman mentah mengenai rahang kerasnya hingga ia jatuh tersungkur.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


"AARGH!! APA-APAAN INI????" Tanya Bang Dewa yang masih setia berbaring di lantai tanpa perlawanan itu, ia masih sangat kebingungan menatap nyalang sosok yang tiba-tiba menghajarnya.


"BAJINGAN!!"


Duk


Brugh


Terduduk kasar sosok yang sudah melampiaskan pukulan keras pada wajah Bang Dewa. Sedari tadi ia sudah menahan amarahnya. Namun Air mata di pelupuk mata Ara yang sekilas ia tangkap mampu menyulut kobaran api yang bergemuruh di hatinya.


Beranjak menjauh dari Bang Dewa, seperti tidak terjadi apa-apa, ia meraih tas kerjanya berlalu meninggalkan rumah makan bernama pondok kuning itu untuk mengejar Ara. Rasa takut sangat mendominasi, mengingat bagaimana Ara pernah mencoba bunuh diri.


Langkah lebar sosok berkaki jenjang itu terhenti seketika saat merasakan dering ponselnya dan gerak-gerik dari gadis yang sedang membelakanginya. Ada seulas senyum lega karena ketakutannya tidak terjadi atau mungkin belum terjadi.

__ADS_1


"Halo?"


"Halo, Ara? Kamu dimana?"


[Maaf Pak, saya tadi ada urusan dulu di luar yang ternyata lebih lama dari yang saya duga. Apa Bapak sudah sampai di lokasi??]


"Saya cuma mau bilang ada kerjaan kantor mendadak, jadi kita tunda saja bahasnya menunggu kepulangan Bu Dian."


[Sekali lagi saya mohon maaf ya Pak.]


"Gak apa-apa. Saya juga sibuk. Ya sudah, saya tutup."


[...]


"Halo?? Barusan kamu bilang apa Ra??"


[Bukan apa-apa Pak. Sekali lagi saya mohon maaf.]


...****************...


*


*


*


Gimana Kakak-kakak?? Masih kurang ya??😄


Untuk pertama kalinya nih, ku mau spoiler🤭


Besok ada 2 cogan yang bakal ketemu buat ngomong serius tentang Ara. Apa yang bakal dibahas??🤔


Pantau Bab besok ya😘


*


*


Siapa yang pernah nebak foto tanpa nama itu Rava??😁


Nih, kenalan yuk sama Rava, Abang dari Dokter Dion yang gak kalah ganteng🥰



__ADS_1



__ADS_2