Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
•Bukan Pengemis


__ADS_3

...PERINGATAN!!...


...BEBERAPA ADEGAN TIDAK PANTAS UNTUK DITIRU!!...


...⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠...


...****************...


Flashback On.


"Kita mau jalan-jalan. Ayo pada masuk ke mobil tante sisanya ke mobil om Arya!! Yang anak-anak taruh tengah ya Om!! Cepetan.. Keburu siang ini." Tante Bianca berteriak lantang di pelataran rumah Kakek Baren. Tante Bianca adalah kakak Mama Lauritz, anak kedua setelah Om Alex.


Hari itu keluarga besar anak-beranak beserta para menantu dari kakek Baren dan Nenek Asmirah berencana untuk liburan ke Vila di Kota S dari Kota K yang berjarak sekitar 3 jam. Namun, tidak untuk Ara kecil dan Mama Lauritz.


"Ma.. Ara boleh ikut?" Beranjak dari pangkuan Mama Lauritz, Ara menatap penuh binar permohonan.


"Maaf ya sayang.. Kalau Ara pergi juga gak ada yang temenin Mama jaga rumah kakek. Kalau ada maling gimana? Kasian kakek sama nenek nanti." Bohong!! Jelas itu hanya kebohongan. Mata sendu penuh sesal Mama Lauritz tidak mampu menipu Ara kecil yang tau Mama-nya berbohong.


Rumah mewah berlantai 3 milik Kakek Baren berada di atas tanah seluas 1200 meter persegi memiliki 5 orang penjaga di setiap waktu yang bergiliran dari siang dan malam hari. Belum lagi 3 orang asisten rumah tangga yang ikut tinggal di rumah itu.


"Kan ada Mbak Lita, Mbak Ina, Mbah Jumi, sama itu kalau malam pernah pas Ara pulang sendiri lihat Om Sugeng sama Om Supri senter-senter rumah katanya jagain rumah, Mama. Ingatkan Ma yang Om Sugeng antar Ara pulang?" Tidak ada jawaban dari Mama Lauritz, hanya ingatan kecil yang muncul memicu amarahnya.


Ara memang suka ke rumah kakek nya, Ara sering diberi uang jajan, hanya uang tidak ada pembicaraan apalagi kasih sayang. Padahal jika orang-orang dewasa itu mau tahu Ara hanya ingin dimanja selain oleh Mama dan Papa nya, sama seperti Ega yang selalu diajak bercanda tawa.


Pernah sekali Ara pulang berjalan kaki seorang diri dari rumah Kakek Baren. Saat itu kepada Mama Lauritz, Ara meminta izin ingin tidur bersama Ega di rumah Kakek Baren. Ara sedih sudah lama tidak tidur berdua dengan kakak laki-laki kesayangannya. Akan tetapi, saat jam tidur tiba semuanya pergi meninggalkan Ara kecil di luar rumah, tepatnya di taman samping rumah.


Tidak ada tangisan dari Ara, meski masih kecil ia cukup tau untuk memilih pulang saja. Mungkin keluarganya lupa jika Ara masih di luar, begitu pikir Ara.


Saat itulah Ara seorang anak berusia 4 tahun harus berjalan seorang diri di bawah sinar rembulan yang tertutup kabut malam. Tentu hal itu membuat kecewa dan marah Mama Lauritz pada keluarganya.


Kejadian kedua adalah disaat Mama Lauritz harus pergi ke Pelabuhan di Kota untuk menjemput Papa Yudith. Kebetulan saat itu Papa Yudith baru saja pulang dari kerja merantau setelah setengah tahun lamanya.

__ADS_1


Kondisi Ara yang tiba-tiba sakit dan tidak bisa dibawa menempuh perjalanan panjang membuat Mama Lauritz akhirnya menitipkan Ara pada keluarganya, tentu saja di rumah orang tuanya. Namun, lagi-lagi saat Mama Lauritz dan Papa Yudith akan sampai dari kejauhan melihat Sugeng sang penjaga keamanan dan Ara sedang berjalan kaki untuk pulang. Ternyata Ara dibiarkan lagi sendirian di luar rumah.


"Kenapa? Pengen ikut ya?" Tanya Tante Laura dengan sinis, "Gak usah ikut. Jaga rumah aja. Udah pas banget itu duduk dekat pintu kayak gitu."


"Belum pernah makan jeruk kan? Nih, makan!!" Lanjut Tante Laura sambil melepaskan jeruk dari tangan dengan sedikit lemparan, seringai mengejek tercetak jelas di wajahnya.


"Keterlaluan kamu Laura. Aku ini Mbak mu. Ada anak kecil juga disini. Kasih contoh yang baik!!" Ucap Mama Lauritz dengan suara berat tertahan.


"Baik itu sama yang sederajat. Orang miskin aja belagu. Makanya ceraikan aja suami miskin mu itu. Malu-maluin keluarga." Suara meninggi tante Bianca tidak kalah sinis menyindir Mama Lauritz.


"Mamaaa.." Rengek Ara pada Mama Lauritz dengan suara lirih bergetar yang tercampur isak tangis tertahan.


"Iya sayang gak apa-apa. Tante Bianca sama tante Laura sakit leher jadi harus teriak ngomongnya. Maaf ya sayang. Anak Mama pinter.. cup, cup, cup, nak. Udah ya sayang." Mendekap erat anak perempuan semata wayangnya, Mama Lauritz menatap tajam kedua saudaranya yang sudah berlalu meninggalkannya bersama keluarga masing-masing ke dalam mobil dan pergi.


"Huuaa.. Huuuh.. Huu.. Hiks.. Aa-ala bu-kan o-lang da-hat Maamaaa.. Huu.. Huuh.. Hu.. Hiks.. Ala gak mau jeyuk nya itu.. Hiks.." Tersengal-sengal Ara bertanya disela tangisnya.


Bukan tanpa alasan pernyataan seperti itu Ara ucapkan, setau Ara di lingkungannya itu pernah ada orang yang dilempari telur busuk hingga sayuran basi karena tidak baik. Bagi Ara tentu saja tidak baik berarti jahat, dan ia tidak mau disebut jahat dengan diberi jeruk tidak dengan semestinya.


'Yang jahat mereka sayang.' Senyum paksaan Mama Lauritz berikan pada Ara kecil.


Mama Lauritz sudah berkaca-kaca, dadanya sakit seperti tertusuk-tusuk. Si kecil Ara tidak berdosa, ia tidak tahu masalah orang dewasa. Dan untuk Papa Yudith, Mama Lauritz benar-benar merasa bersalah.


Demi menutup aib hamil diluar nikah Tante Laura yang saat itu baru diketahui saat persalinan diusia yang baru genap 16 tahun membuat Mama Lauritz dan Papa Yudith menikah untuk mengakui Ega sebagai anak kandung. Walaupun pada akhirnya Mama Lauritz yang disebut sebagai ******, ia tetap bersabar, dipikirannya semua demi keluarga dan masa depan adiknya.


Flashback Off.


......Kita mau jalan-jalan......


......Gak usah ikut......


......Nih makan......

__ADS_1


......Malu-maluin keluarga......


......Aku bukan pengemis......


......Orang-orang sialan......


......Aku bunuh kalian......


......Mati......


......Mati......


......Mati aja kalian semua......


"MATI AJA KALIAN SEMUA!!! HAH! HAH! HAH!" Keringat membasahi seluruh tubuh Ara, ia terbangun dari mimpi buruk masa lalunya dengan berbagai suara-suara di kepalanya.


"Argh!! SIALAN!!" Mengumpat langit-langit ruangan biru laut.


'Kenapa harus mimpi buruk lagi!??' Ara mengusap wajah gusar, kepalanya berdenyut nyeri.


Turun dari kasur mengambil selimut yang sudah tergeletak di lantai, Ara duduk di samping kasurnya. Tangan Ara meraih kotak hitam di bawah kasurnya. Beberapa tablet berwarna putih dan 2 botol berwarna putih pula mengisi kotak hitam itu. Di buka Ara salah satu botol berisi pil bulat kecil, ditenggaknya 1 butir pil itu tanpa air.


Denyut di kepala Ara masih tidak kunjung reda hingga tetesan cairan kental berwarna merah mengalir dari sela-sela luka lengan kiri Ara, seolah mengobati nyeri di kepalanya Ara tersenyum hampa. Pisau lipat di atas nakas samping ranjang Ara ternyata sudah berpindah di tangan kanannya dengan bercak-bercak darah pada ujung pisau.


Melirik sekilas pada lengan kirinya, Ara tersenyum kembali. Kepalanya masih terus berdenyut. Ingin sekali Ara mencekik lehernya hingga putus agar kepalanya tidak sakit lagi. Tapi ini masih belum waktunya Ara lakukan.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2