
Brak.
Brak.
"Argh!! Bodoh kamu Rava!!" Teriak Rava di dalam mobil yang masih terparkir, sisi luar tangan kanan yang terkepal berdenyut. Iya, bagaimana tidak berdenyut bila Rava habis memukul kemudi mobilnya secara bar-bar.
"Cuma gara-gara kebanyakan menghayal, Ara jadi marah gitu. Argh!!" Mengacak-acak rambut yang hampir setengah jam disisir bolak-balik hanya agar tampak fresh, muda, tapi tetap berkharisma.
Rava memacu mobilnya keluar area kampus, ia tidak ada jadwal mengajar. Pekerjaannya justru menumpuk di kantor. Proyek pengembangan sebuah desa terpelosok berada di bawah kendalinya. Belum lagi tugas utamanya sebagai seorang direktur keuangan yang tidak akan mungkin berhenti diburu berbagai macam dokumen. Ada alasan terselubung mengapa Rava berani mengambil resiko lebih tinggi, belum saatnya untuk diungkapkan.
Memacu mobil dengan pikiran bercabang-cabang, Rava mendesah kecewa pada sikapnya. Ia baru menyadari bahwa sudah terlalu dingin pada Ara. Sejujurnya Rava hanya terlalu malu dan tidak akan mungkin bisa menahan malunya bila menatap wajah Ara. Kejadian mendebarkan malam itu terus terbayang membuat Rava panas dingin tidak menentu.
"Hah.. Padahal cuma.." Ucap Rava lirih sambil membayangkan momen manis yang sedari tadi ia usir kala bersama Ara.
Flashback On
"Kamu tidur di rumah malam ini." Perintah Rava pada Dion. Menarik sebuah kaos dan celana santai milik Dion, Rava akan mandi di kamar mandi umum klinik Dion. Tidak mungkin ia akan menunggu Ara selesai mandi di ruang khusus milik Dion, akan ada kecanggungan luar biasa yang bisa saja tercipta.
"Bang Rava mau tidur di sini nemenin Ara apa modus?" Memicingkan matanya, Dion mengendus gerak-gerik mencurigakan Rava.
Pletak!!
Jitakan kuat mendarat sempurna di kepala Dion. Tidak ada kalimat mengaduh, Dion rupanya sudah memprediksi aksi Rava. Lagipula rasanya tidak sakit sama sekali.
"Halah.. Gak usah sok polos ya Bang.. Awas aja Abang macam-macam sama Ara. Aku gak bakal tinggal diam!!" Ancam Dion pada Rava, bukan gurauan, tapi Dion benar-benar serius dengan ucapannya.
"Mau apa kamu?" Tanya Rava santai, meskipun ia cukup penasaran dengan apa yang akan Dion lakukan.
"Bakal aku bawa Ara pergi dan menjauh dari Abang SE-LA-MA-NYA!!!" Bisikan lirih di dekat telinga Rava terdengar jelas. Kata 'selamanya' yang ditekankan Dion mengeraskan rahang Rava.
"Jangan pernah sentuh Ara!!" Ancam Rava balik pada Dion. Entahlah bagaimana sebenarnya kini hubungan kedua bersaudara ini.
Puk.
Puk.
"Abang tenang aja.. Selama gak ada air mata Ara yang jatuh karena Abang, Dion akan diam di belakang Ara. Sedikit aja Abang menyakiti Ara, Dion gak akan segan-segan untuk menjauhkan Ara dari Abang." Berlalu meninggalkan Rava yang ingin membanting adiknya, Dion tersenyum menyeringai.
Drrtt.. Drrtt..
Tring..
š©
Dion
Cepat mandi kalau gak mau Ara cium bau busuk Abang. Di luar ada 1 orang jaga, kalau butuh apa-apa bilang sama dia. Kalau Ara butuh sesuatu yang perlu bantuan juga bisa Abang mintain tolong, tapi jangan cemburu ya.. Dion sengaja taruh laki-laki muda yang ganteng banget š Kasihan Ara kalau yang dilihat cuma Abangš
"Sialan!!" Menggenggam kencang ponselnya, Rava nyaris meremukkan benda padat mengkilap nan mahal itu. Yakinlah jika itu biskuit maka sudah kembali berbentuk layaknya butiran tepung.
Bergegas untuk membersihkan dirinya, benar saja Rava pasti terlebih dahulu memastikan seberapa tampan sosok yang dikatakan Dion. Memijat pelipisnya, kepala Rava yang tidak berdenyut saat pandangannya mendapati sosok yang sedang duduk santai menyeruput kopi hitam.
"Ha ha.. Adik kurang ajar!!" Umpat Rava saat menyadari dirinya sudah ditipu oleh Dion. Bukan perawat tampan apalagi masih muda, hanya ada bapak-bapak berumur nyaris setengah abad dengan seragam khas satpam yang Rava temukan. Meninggalkan Rava yang terkekeh pada dirinya sendiri dan bergegas mandi, Dion di belahan tempat lainnya sedang tergelak tawa kencang membayangkan wajah memerah penuh kilatan cemburu milik Rava.
Ceklek.
"Udah selesai Mas?" Tanya Ara yang sudah duduk manis di kursi empuk yang biasanya ia gunakan untuk konsultasi. Terbiasa menjadikan Ara seperti di rumahnya sendiri.
"Makan dulu ya Ra.." Ucap Rava sambil menaikan kantong besar berisi rantang.
"Pasti Mama bawainnya kayak mau perang lagi." Ucap Ara yakin, sudah sangat hafal bagaimana gaya perbekalan ala Mama Lauritz.
"Nah kan bener.. Kapan coba Mama masak sebanyak ini??" Menghela nafas pasrah, ada berbagai jenis masakan dihadapan Ara. Padahal hanya nasi dan sayur sop saja bagi Ara sudah cukup.
"Mas gak nyangka kalau isinya sebanyak ini." Rava menggaruk pelipisnya. Ara tentu paham maksud perilaku Rava, bingung dan juga syok.
__ADS_1
"Habisin ya Mas.. Ara mau makan nasi, sayur sop sama ayam kalasan aja." Ucap Ara dengan agak malas, namun sejenak matanya teralihkan pada kering tempe kecap yang bertabur irisan cabe rawit lengkap dengan kembang tahu, tauge kecil, kacang tanah dan suwiran ayam.
"Ara juga mau ini dikit buat camilan." Cicit Ara lirih, agak malu terlihat rakus di depan Rava. Padahal biasanya ia cukup masa bodoh pada pandangan orang lain.
"Ini lauk sama nasi yang masih banyak kita kasih ke satpam depan aja ya Ra?" Tanya Rava pada Ara, mengingat makanan yang melimpah tidak akan sanggup muat seluruhnya di perut keduanya.
"Ada Pak Satpam??" Tanya Ara dengan spontan menatap Rava.
"Iya.."
"Oke." Mengacungkan ibu jari tanda setuju, Ara sudah melahap nasi di hadapannya. Semangat adalah kata yang menggambarkan sikap Ara, namun hanya di mata Rava. Bagi orang lain jelas Ara terlihat seperti orang rakus yang kelaparan.
"Mas Rava mau tidur dimana?" Tanya Ara yang sudah berdiri di ambang pintu kamar istirahat pribadi Dion.
"Di sofa itu aja." Tunjuk Rava pada sebuah sofa yang cukup panjang, namun sayangnya tidak akan mampu menampung seluruh tubuh menjulang Rava. Sosok setinggi 185 sentimeter itu pasti akan tidur meringkuk.
"Lah bisa sakit dong badan Mas Rava nanti." Ucap Ara khawatir, bukan tipuan, namun benar-benar khawatir. Sudah terbayang di benak Ara bagaimana sakit tengkuk, punggung dan kaki bila tidur menekuk di sofa. Sudah beberapa kali tertidur di sofa saat menonton bersama Jona dan Rian yang kemudian ditinggalkan.
"Bagi kasur di dalam aja sama Ara." Ucap Ara asal. Tidak tau pikiran apa yang mendasari ide gila itu.
"Maksudnya??" Jelas Rava tau maksud Ara, namun ia tidak ingin berspekulasi dini yang membuatnya malu.
"Sekasur sama Ara aja.. Kata Dokter Dion tadi kasurnya luas." Ucap Ara yang tanpa tau maksud Dion sebenarnya untuk menjahili Rava.
Ceklek.
"Ehh!!??" Ara terlonjak kaget, pasalnya lebar kasur tidak sesuai bayangannya. Cukup kita tau kasur single size yang lebarnya tidak sampai 1 meter.
"Kamu kenapa??" Melangkah lebar, Rava sudah berpikir yang bukan-bukan. Meraih tangan Ara yang dikiranya terjepit, Rava menatap lamat-lamat sambil meniup perlahan.
"Hahaha.. Mas Rava ngapain??" Mengerutkan dahi Rava yang ditertawakan Ara, namun ia juga terpana pada tawa lepas yang baru pertama kali Ara berikan hanya untuknya. Jelas hanya untuk Rava, bagaimana orang lain bisa melihat jika hanya ada mereka berdua.
"Kamu gak apa-apa??" Tanya Rava masih khawatir.
"Iya, gak apa-apa. Ayo, tidur." Ajak Ara santai, meski ia juga sedikit canggung dan kikuk. Sudah kepalang tanggung melontarkan kalimat yang tidak seharusnya, Ara masa bodoh jika harus berbagi kasur nyaman namun akan terasa sempit itu. Di kepalanya juga hanya memikirkan tidur tanpa sakit punggung.
Di otak Ara hanya ada pikiran tidur dengan nyaman, seolah Rava di sampingnya sudah diberi dinding tebal. Namun apa boleh dikata bila Rava akan salah tingkah, gugup, berkeringat dingin dan tentunya berdebar tidak karuan. Seakan tuli, Ara tidak mendengar jantung Rava yang berdetak kencang layaknya suara pacuan kuda.
"Khem!" Berdehem singkat, Rava pura-pura rileks dan memejamkan matanya.
"Tidur Ra.." Seru Rava pada Ara seolah tidak perduli.
"Hm." Jawab Ara tidak kalah singkat. Menarik selimut sebatas dada, Ara sudah melesak ke dunia impian.
Lama-kelamaan Ara merasa nyaman dan terlelap dengan nyenyak. Berlarian bersama donat yang menjadi binatang fantasinya diantara awan putih dan merah muda yang terbuat dari permen kapas, senyum Ara mengembang dalam tidurnya. Senyum yang langsung ditangkap oleh mata Rava yang terus mengamati wajah Ara. Benar, Rava tidak bisa tertidur. Tidak mungkin Rava bisa tidur bila berbagi ranjang dan juga selimut yang sama dengan pujaan hati.
Bukannya tidak ada selimut atau ranjang lainnya, tapi perdebatan sebelumnya membawa Ara berpikir seolah tidak ada selimut lain. Sedangkan untuk urusan ranjang tentu bagi Ara ranjang ternyaman hanya di dalam ruang istirahat milik Dion.
"Kita kayak pengantin baru ya.." Ucap Rava sambil tersenyum cerah, jarinya tanpa sadar sudah mengusap lembut pipi gembul Ara. Bahkan dengan tanpa rem bibir Rava mengecup pipi Ara, tidak hanya sekilas namun cukup memenuhi hitungan seluruh kedua jari tangan.
"Egh!" Terusik Ara dalam tidurnya, seolah ada jelly dingin yang menempel di pipinya. Mengelak kepala Ara yang mengejutkan Rava, tersadar pada tindak kurang ajar yang mencuri kecupan. Sedangkan Ara kini justru bermimpi memeluk churros, sayang bukan churros yang sebenarnya Ara peluk, melainkan tubuh kekar Rava yang seketika membeku.
"A-A-Araa.." Tergagap Rava mengucapkan nama Ara, menunduk menatap kepala Ara yang merangsek masuk menempel di dada Rava. Jangan lupa belitan tangan kiri Ara di tubuh Rava, tentu Rava serasa kehilangan nyawanya.
Jika kembang api tahun baru bisa keluar dari kelapa Rava, mungkin saat ini Rava sudah bisa sadar bahwa semuanya nyata. Tidak akan kantong mata yang tampak seperti mata panda itu muncul, terlalu bahagia dan gugup membuat Rava tidak tidur hingga menjelang pagi. Bahkan saat Ara ingin melepas dekapan justru Rava menahannya.
"Hmm.. Mas Rava?" Suara serak khas orang baru bangun tidur mengejutkan Rava yang mengusap lembut rambut Ara.
Deg.
Seperti maling siang bolong yang tertangkap basah, wajah pias Rava berubah merona hingga menjalar ke daun telinga.
Flashback Off
...****************...
__ADS_1
"Kenapa lagi lu?" Terperanjat Ara, bukan pada suara yang tiba-tiba, namun telapak tangan nakal yang menyentak Ara sesukanya.
"Dari tadi ngelamun aja lu.."
"Heh!! Ditanyain diem aja lu, Ra." Lagi-lagi suara dari orang yang sama, kali ini terdengar kesal karena Ara tidak menjawab pertanyaannya.
"Bisa gak pakai aku dan kamu aja??" Memicingkan matanya, Ara mendengus kesal.
"Yaelaaah.. Kali-kali aja boleh lah Ra.."
"Iya, sekali-sekali ngomong sama Dosen kebawa lu-luan." Ucap Ara sinis.
"Sewot banget kenapa sih Ra?" Tanya Dimas memelas. Yuki yang datang bulan saja sudah memusingkan dirinya, Dimas berdoa untuk jangan menambah kesulitan lagi dengan sikap sinis Ara.
"Sekarang mau ngapain kok gak pulang aja?" Tanya Dimas lagi.
"Bentar lagi." Jawab Ara.
"Aku mau pulang, ngikut gak? Yuki juga udah pulang duluan gara-gara bocor." Ucap Dimas yang tau jika Ara diantar saat ke kampus, sayangnya Dimas tidak tau jika Rava yang mengantarkan Ara. Rupanya mata dan telinga orang terjauh lebih cepat menangkap berita menghebohkan dibandingkan Dimas dan Yuki yang menempel layaknya perangko pada Ara.
"Pulang aja duluan. Aku mau ke toilet sekarang." Beranjak dari duduknya, Ara meraih tas ranselnya.
"Ngapain?"
"Nyetor." Jawab Ara asal.
"Tumben nyetor, Ra?? Berliannya gak bisa ditahan ya kali ini??" Tanya Dimas sambil tergelak, telapak tangan menutup paksa mulutnya.
"Berisik banget!" Melotot tajam Ara pada Dimas. Berlalu meninggalkan Dimas, Ara sesekali melirik sinis pada Dimas yang masih berusaha meredam tawanya hingga langkah kakinya sampai pada pintu toilet dengan lambang khusus. Iya, khusus perempuan.
Menatap pantulan wajahnya yang selalu datar, Ara mengembangkan senyum sekilas. Tiba-tiba Ara muak menatap wajah tersenyum miliknya, padahal terlihat sangat menawan. Topeng bahagia yang selalu Ara pakai sudah benar-benar hampir habis. Bosan pada hidupnya yang terus berjalan tanpa berhenti menoreh banyak luka kecil. Memang hanya luka kecil, namun yang tiada habisnya.
Segala hal yang sudah dipikirkan matang-matang, nyatanya tetap bisa salah langkah. Ara kesal pada dirinya sendiri. Bahkan seakan setuju pada ucapan seseorang yang mengatakan ia hanyalah anak pembawa sial, Ara menyeringai menertawakan kisahnya.
Bagi Ara, Rava mungkin bisa menjadi kebahagiaan yang selama ini ia idamkan. Namun seolah Tuhan membolak-balikan hidupnya lagi, ia yang baru ingin menyamakan langkah dengan Rava sudah mendapatkan rasa sakit yang baru.
Semuanya tidak terjadi secara instan, karena sejujurnya Ara cukup peka. Seolah hanya permainan tarik ulur, namun Ara jelas sama sekali tidak memberi harapan palsu. Ia hanya berusaha mencoba nyaman sebelum memberi sinyal harapan itu.
Sinyal pertama Ara tentunya berupa panggilan 'Mas'. Bukan karena sering dimintai, tapi Ara juga manusia normal yang paham rasanya kecewa dan punya kesempatan untuk diberikan pada orang lain, terutama pada Rava yang sudah berjuang.
Memposisikan dirinya sebagai Rava, Ara paham sakitnya diabaikan. Tidak ingin menjadi munafik, Ara akui segala perhatian Rava menggetarkan hatinya. Hanya ia belum lama ini baru berani mengaku pada dirinya sendiri.
Tas ransel sudah Ara letakkan pada pengait stainless, air kran juga sudah ia nyalakan. Pintu yang sudah tertutup rapat itu mengunci Ara.
"Mas Rava kenapa ya?" Ucap Ara lirih, menyandarkan punggungnya putus asa di dalam salah satu jejeran toilet. Bukan hanya khawatir atau sekedar sedih, Ara sudah tercabik-cabik.
...****************...
*
*
*
Apakah Ara akan menyerah pada Rava?
*
*
Nah di bawah ini mungkin penampakan Churros ganteng punya Araš¤£
*
__ADS_1
Terima kasih yang terus pantau kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°