Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Misteri Bubur Ayam


__ADS_3

“Gak pernah Sayang..”


“Jangan bohong! Siapa perempuan yang Mas kasih?” Melotot tidak suka, Ara berkata dengan suara rendah dan lirih. Tidak ingin keramaian mendengar perdebatan sarat akan kecemburuannya.


“Beneran deh gak ada. Percaya ya..” Ujar Rava memohon, meraih salah satu tangan Ara yang terlipat di atas meja.


Mengelak, menjauh dan berganti melipat tangan di depan dada, Ara menggeleng perlahan. “Gak mungkin Mas sampai ngerasa pernah kasih ke Ara kalau memang gak pernah beli atau kasih ke orang lain, khususnya perempuan lain.” Ucap Ara sambil memberikan tatapan tajam. Sangat dahsyat tajamnya hingga mampu membuat Rava tidak berkutik.


“Beneran Sayang, gak ada.” Rava tergagap, tidak mungkin ia mengatakan bubur ayam yang diberikan beberapa kali lewat mata-matanya selalu Ara tolak. Bahkan saat sempat diterima justru Rava mendapat laporan jika Ara tidak menyukai kacang tanah yang ditambahkan dalam menu komplit pelengkap si bubur ayam.


Flashback Off.


“Sialan! Sampai bubur ayam juga ditipu!” Ucap Rava kesal mengiringi langkah lebar dengan mata berkilat marah. Mendengus sebal mengeratkan gigi yang terkatup rapat, kini Rava dapat menebak fakta dibalik misteri bubur ayam.


Bukan masalah dirugikan oleh beberapa porsi bubur ayam, namun jika memang ingin akan Rava belikan. Bahkan memborong segerobak bubur ayam juga Rava merasa sangat mampu. Lagi pula selama ini Rava juga selalu memberikan uang lebih.


Jika bukan karena Ara dan kebetulan mengenal orang tua Feby, mungkin hanya sekedar berbincang saja Rava enggan, apa lagi sampai terlibat hubungan seperti ini. Sejenak Rava diliputi rasa frustasi dan dilema. Namun siap tidak siap, jika Ara sampai bertambah kesal karena akhirnya mengetahui selama ini diintai harus Rava terima dengan lapang dada, karena tindakannya memang terlalu lancang.


Brak.


Menggembrak meja kayu dan menatap tajam seorang Feby yang terperanjat kaget, Rava mencoba mengatur nafasnya. Menambah volume ponsel Ara yang berada di tangan kirinya, Rava memutar sebuah rekaman suara yang baru saja Lea kirimkan untuk Ara.


......Gila bagus banget aku ambilnya, hahaha.. Segini cukup lah buat mereka minimal adu mulut. Jadi gak sabar lihat mereka putus. Lagian si tante-tante dulu itu kenapa sih gagal. Padahal udah aku bantu sebarin gosip kalau Ara pelakor. Untung aja gak ketahuan. Feby, Feby.. Pinter banget sih kamu......


Terbelalak dalam kebingungan, semua orang menatap Feby penuh tanya, tanpa terkecuali Ara yang sebelumnya hendak marah pada sikap Rava yang brutal. Berbeda dengan Lea yang sempat terperanjat kaget namun kini berganti tersenyum miring mencibir Feby.

__ADS_1


Tidak pernah Lea sangka jika keputusannya mengirimkan bukti kelicikan Feby pada Ara justru berakhir di tangan Rava. Tapi Lea saat ini sangat puas. Lebih baik Feby dipermalukan langsung di depan umum agar jera. Tindakannya yang menfitnah Ara benar-benar keterlaluan.


Tidak terbayangkan bila Rava dan Ara tidak ada hubungan apa-apa. Meski sudah dijelaskan dengan sejelas apapun lagi, Ara tetap akan dipandang sebelah mata. Bahkan Lea sadar sampai saat ini juga masih ada beberapa mahasiswa yang terang-terangan menggunjingkan Ara sebagai pelakor di antara hubungan Rava dan Dian.


“Jelaskan!” Ucap Rava dengan suara rendah, aura dingin yang menguar membuat siapapun yang melihat langsung bergidik ngeri. Rava yang tidak banyak omong dan terkesan seperti bongkahan gletser saat ini juga seperti gunung berapi yang siap meletus.


“Ma-Maksudnya ap-apa, Pak?” Tanya Feby terbata-bata, tubuhnya bergetar takut. Rasa malu menjalar melingkupi dirinya. Belum lagi tatapan Ara yang kecewa.


“Jangan pura-pura bodoh kamu!!” Bentak Rava kuat, menarik perhatian semua orang di seluruh penjuru Kafe.


“Kaki tangan Nindy? Hebat.” Ucap Rava lagi, terkekeh menertawakan sosok yang sulit ia temukan rupanya orang yang dipercayainya. Menyugar rambut dengan sedikit remasan, Rava menghirup udara dalam-dalam.


“Sayang. Pulang sekarang!” Ucap Rava pada Ara secara tiba-tiba. Suaranya tidak menggeram marah atau meninggi, namun tampak jelas sedang menahan gejolak amarah. Karena posisinya di sini Rava lebih kecewa pada dirinya sendiri. Menyesal Rava salah memilih orang yang bisa membantunya menjaga Ara.


“Pulang!" Ucap Rava lagi, meraih pergelangan tangan Ara dan menariknya berdiri. Ini bukan sebuah permintaan, melainkan perintah yang tidak ingin dibantah.


“Pulang aja, Ra. Kita juga udah selesai kok.” Ucap Arini menyela, ia cukup peka pada permasalahan yang bisa menjadi semakin parah jika Rava dan Ara tidak mengalah untuk pergi.


“Iya, Ra. Kalau ada apa-apa nanti kita infokan.” Ucap Zen mengimbuhi perkataan Arini. Sontak Rava menatap tidak suka pada suara Zen yang menyela. Tampaknya setelah ini Rava akan memblokir nomor ponsel Zen di daftar kontak Ara.


Memilih mengalah, Ara menatap Feby yang sudah menunduk malu sedari tadi. “Feb, aku mohon untuk kamu jelaskan semua ini ke aku. Gak sekarang, tapi nanti. Maaf juga kalau aku ada salah dan Mas Rava barusan bikin kamu takut.” Ucap Ara diselingi kalimat maaf nya pada Feby atas sikap Rava.


‘Cih!’ Decih Feby dalam hati, membatin semakin membenci Ara. Entah sejak kapan kebencian itu terpupuk, yang pasti saat ini Feby tidak suka dengan sorot mata Ara.


Membalas tatapan Ara dengan tidak bersahabat, bagi Feby kalimat yang Ara ucapkan tidak lebih dari cara Ara berpura-pura baik. Feby yakin saat ini Ara pasti sedang menertawakan dirinya.

__ADS_1


“Maaf ya semuanya.” Sekali lagi Ara meminta maaf, menunduk singkat sebelum meraih lengan Rava untuk menjauh.


“Gak tau malu banget. Ara sebaik itu harus kenal orang selicik kamu.” Bisik Lea pada Feby dengan tatapan mencemooh yang kemudian dipalingkan menatap Ara dan Rava yang sudah pergi menjauh.


Suasana canggung benar-benar terasa di meja yang belum lama itu terlibat pembicaraan yang kondusif. Mereka saling melirik dan mengkode satu sama lain untuk memulai pembicaraan guna memecah keheningan.


Sedangkan Rava, meskipun dalam kondisi marah, rupanya ia sempat mengajak Ara menuju meja kasir untuk membayar seluruh makanan dan minuman yang Ara serta teman-temannya pesan. Tidak lupa pula Rava meminta beberapa porsi camilan untuk diantarkan ke meja yang menjadi pusat kericuhan. Dan tentunya Rava juga meminta maaf atas keributan yang ia timbulkan pada pemilik Kafe yang kebetulan ada di tempat.


Brak.


Membanting pintu mobil dengan kasar, sekali lagi Rava mengejutkan Ara.


“Mas..” Ucap Ara lembut, mengusap lengan Rava, berusaha meredakan emosi yang tersulut. Tampak dada bidang Rava naik-turun menahan emosi yang membuncah.


Bersandar pada kursi kemudi, Rava memejamkan matanya. Usapan lembut Ara sukses meredakan kobaran amarah yang berangsur menipis.


...****************...


*


*


*


Terima kasih semuanya yang sudah mendukung Hana sampai sejauh ini😘

__ADS_1


__ADS_2