
Hiruk pikuk keramaian itu terasa nyata. Dari pintu kedatangan yang baru saja Ara lewati tampak beberapa wajah lelah dan lega yang saling berbaur. Tentu saja Ara hanya lewat di bagian depan pintu kedatangan itu. Tujuan utama bersama keluarganya adalah lorong keberangkatan.
“Syukurlah jalanan tadi lenggang, jadi kita nggak terjebak macet.” Celetuk Papa Yudith sambil melangkah lebar. Tangan kanannya menjinjing tas berisi pakaian milik Rian dan tangan kirinya merangkul bahu si pemilik tas. Sangat ketara dari langkah kakinya ada kegundahan yang belum bisa diutarakan.
Kepulangan yang sangat mendadak membuat Mama Lauritz semakin lama terganggu dengan hal-hal buruk yang terputar di angannya. Wanita beranak 3 itu ingin menuntut jawaban dari sang suami, namun tetap saja Papa Yudith bungkam. Layaknya anak itik yang mengekor di belakang induknya, begitulah gambaran keempat orang itu terhadap Papa Yudith. Ralat, bukan 4, melainkan hanya 3 karena Rian jelas jalan bersisian dengan Papa Yudith.
Sedangkan dibenak ketiga bersaudara itu sudah terisi kekhawatiran pada penolakan atau sambutan dingin setibanya mereka di sana. Ara juga cukup khawatir pada jadwal ujian setengah semesternya yang akan berlangsung 2 hari lagi. Ia belum tau harus meminta izin dengan alasan seperti apa. Apalagi Dosen pada mata kuliah pertama yang akan diuji benar-benar super langka alias Dosen sibuk yang sulit untuk ditemui diluar jadwal kuliahnya.
“Ma, Kakak mau ke toilet dulu ya..” Ucap Ara pada Mama Lauritz sambil menyodorkan koper yang ia dorong pada Jona.
“Gak bisa di tahan dulu Kak? Sebentar lagi kita sampai ke bagian check in, kamu bisa pakai toilet di dekat sana.” Ucap Mama Lauritz sambil memandang Ara yang hampir bertingkah layaknya belut segar ditaburi garam.
“Udah gak tahan kebelet pipis Ma.. Nanti Kakak nyusul. Lagian tiket juga belinya tadi online, kalau telat barengan biar Papa kirim fotonya aja.” Ucap Ara sambil merogoh ponsel dari dalam tas berisi pakaian. Ia sengaja hanya ingin membawa ponselnya saja untuk berjaga-jaga.
“Jangan lama-lama..” Ucap Papa Yudith pada Ara yang sudah berlari menjauh.
Sudah sejak turun dari mobil Ara merasakan sesak di kantung kemihnya. Maklum saja sebelum pergi ia menenggak beberapa gelas air minum sekaligus untuk menyegarkan pikirannya, begitu tujuan Ara sebenarnya. Alhasil kini ia harus menanggung kebelet pipis yang menyesakkan.
“Lama kali habisnya.” Gerutu Ara sambil menopang pipi kanannya. Ia sedang dalam posisi duduk dengan kran alami yang terasa lama mengucur. Mungkin karena ia terdesak ingin segera menyusul keluarganya atau memang hasil eksresi nya terlalu banyak, Ara seakan lelah sudah menanti ribuan tahun.
“Aah, leganya..” Ucap Ara saat ia sudah menyelesaikan ritual buang air kecilnya. Menatap pantulan wajahnya pada cermin yang setiap satu jam sekali akan dibersihkan, Ara terbelalak pada sosok yang baru saja keluar dari cubicle pintu toilet lainnya.
“Nenek Halimah..!??” Gumam Ara lirih dengan tidak percaya pada penglihatannya. Ia masih belum berani berbalik menatap sosok yang ia ragukan keberadaannya. Bukan maksud mengatakan bahwa sosok itu makhluk tidak kasat mata, namun sudah cukup lama Ara mencari informasi keberadaannya dan tidak menemukan hasil apapun.
“Loh Ara.. Kamu di sini mau kemana?” Suara itu memecah ketidakpercayaan Ara. Tanpa menunggu Ara sudah memutar badannya, menghadap pada sosok yang terlebih dahulu menyapanya.
“Nenek..” Sapa Ara sambil tersenyum canggung. Ia merasa tidak sopan karena matanya bertemu pandang tapi tidak menyapa terlebih dahulu.
“Ara mau ke Kota K. Nenek selama ini kemana aja?? Kami semua nyariin Nenek.. Pak RT juga gak tau kabar Nenek pergi kemana.” Ucap Ara lagi dengan sendu, kekhawatiran terlukis jelas di wajahnya.
“Nenek selama ini di Kota Y. Ini baru turun dari pesawat terus mau pulang ngurus kepindahan. Tunggu dijemput Buna. Katanya dia masih di jalan gara-gara telat nutup warungnya.”
“Pindah? Ke Kota Y?” Tanya Ara memastikan. Ia juga cukup terkejut dengan penuturan perempuan tua yang penuh semangat di hadapannya ini, atau lebih tepatnya sosok itu ialah Nenek dari Bima yang dikenal dengan Nek Imah.
“Nek.. Bang Bima..?” Pertanyaan Ara menggantung, lidahnya kelu untuk menyampaikan apa yang sudah tertulis jelas di otaknya.
__ADS_1
“Bima masih perawatan. Dia lumpuh nak.. Kata Dokternya bukan lumpuh permanen, jadi perlu terapi. Tapi sekarang Bima belum bisa ikut terapinya.” Meski bibir tersenyum, namun kesedihan tersirat dalam untaian kalimat yang terucap dari bibir Nek Imah.
“Jadi Bang Bima selamat Nek?” Suara parau mengisi suasana yang sempat hening. Meraup oksigen sebanyaknya, mata Ara sudah berkaca-kaca. Dengan tangannya yang gemetaran, Ara meraih jemari keriput sosok yang hampir renta itu.
“Jadi Bang Bima nggak meninggal?” Ucap Ara lagi. Ada perasaan lega bercampur haru yang menyeruak bersamaan dengan harapan pada keselamatan Bima.
“Ada-ada aja kamu. Bima nggak meninggal, tapi dia sempat koma 3 hari pasca operasi di kepalanya. Kata Dokternya, akibat benturan keras di kepala itulah yang melumpuhkan saraf dan sistem gerak Bima.” Jelas Nek Imah sambil menepuk pelan punggung tangan Ara. Nek Imah sadar bahwa raut wajah Ara sekilas tampak terpukul kala mengucapkan nama Bima.
“Dulu Ara sempat tanya dan katanya ada pasien korban kecelakaan yang meninggal. Ara pikir.. Ara pikir itu.. Astaga.. Syukurlah Bang Bima selamat..” Ucap Ara sambil menarik masuk cairan yang terasa mendobrak dari dalam lubang hidungnya. Sedangkan matanya yang berair dalam sekali kerjap sudah merembeskan linangan air mata. Tentu saja air mata itu bukti kebahagiaan dan rasa syukur.
“Pasti kamu salah dengar.. Nenek sempat lihat kamu pergi, tapi belum sempat Nenek hampiri malah Nenek udah dipanggil pihak rumah sakit untuk urusan kepindahan Bima.”
“Jadi..?” Pertanyaan Ara kembali menggantung, ia penasaran sekaligus bingung harus bertanya bagaimana. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan.
“Bima sempat dipindahkan ke rumah sakit di pusat Kota yang alat medisnya lebih lengkap. Tapi sayangnya setelah sampai di sana karena kondisi yang kurang Nenek pahami pokoknya Bima harus dibawa ke rumah sakit besar di Kota Y. Jadi malam itu dengan berbagai prosedur akhirnya Bima dipindahkan lagi ke rumah sakit besar di Kota Y yang sampai saat ini masih rutin dikunjungi Bima buat check up.” Jelas Nek Imah panjang lebar pada Ara.
“Tapi kenapa gak ada yang bisa hubungi Nenek setelah itu?”
“Ponsel Nenek hilang.. Nenek juga gak tau gimana hilangnya.” Ucap Nenek Imah sambil mengedikan bahunya.
"Live, Nek."
"Iya, itu pokoknya." Ucap Nek Imah membenarkan.
“Jadi selama di Kota Y Nenek tinggal dimana? Dengan kondisi Bang Bima saat ini, apa ada yang bantu urus?” Tanya Ara dengan menyembunyikan raut wajah prihatin. Ia takut menyinggung perasaan Nek Imah.
...****************...
Eksresi : Sistem pengeluaran/pembuangan zat sisa metabolisme dan racun dari dalam tubuh.Pada manusia, alat eksresi terdiri dari organ ginjal, kulit, hati dan paru-paru.
👆https://wartakota.tribunnews.com/2020/09/28/kunci-jawaban-tvri-untuk-sma-senin-289-apa-dampak-yang-ditimbulkan-ekskresi-paru
Dari yang Ara alami di atas, ia sedang mengeluarkan produk eksresi berupa urine alias air kencing yang diproses oleh organ ginjal.
__ADS_1
Bagaimana proses pembentukan urine di ginjal?🤔
Secara umum pembentukan urine dibagi menjadi 3, yaitu :
Penyaringan zat-zat sisa dalam darah seperti sel darah dan protein. (Proses Filtrasi di Glomerulus.) ~ Urine Primer.
Penyerapan kembali zat-zat yang masih berguna, seperti air, glukosa, asam amino dan natrium klorida (NaCl). (Proses Reabsorpsi di Tubulus Kontortus Proksimal dan Lengkung Henle.) ~ Urine Sekunder.
Penambahan zat sisa yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh. (Proses Augmentasi di Tubulus Kontortus Distal.) ~ Urine Sebenarnya.
👆https://www.markijar.com/2018/02/7-bagian-nefron-lengkap-fungsi-dan.html
*
*
*
Bima kembali, akankah muncul konflik?🤔
*
*
Kode keras Bima kembali.😄 Jangan tanya kenapa baru dibahas tentang Bima, jawabannya pasti sengaja baru diungkit.😀
Intinya sudah terpecahkan ya misteri hilangnya Bima.
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰