
Jika mata panda masih terlihat lucu, maka mata Ara harusnya juga lucu. Semalaman Ara tidak bisa tidur. Lewat pukul sebelas malam saja Ara akan sulit tertidur, apalagi ditambah amarah yang menggelora.
Satu titik di langit-langit kamarnya terasa berlubang karena sorot mata Ara. Pandangan kosong miliknya tidak berubah bahkan bergeser sedikitpun juga tidak. Hanya sesekali kelopak mata itu berkedip perlahan menahan rasa panas membakar.
Suara keributan terdengar samar di telinga Ara. Suasana sunyi berubah terisi derap langkah kaki, bunyi engsel dan barang jatuh. Menolehkan kepalanya pada ponsel di atas nakas, Ara mendesah kasar sudah pukul 5 pagi dan ia belum bisa tidur sama sekali.
"Arg!!" Telapak tangan kanan Ara terasa ngilu saat mengangkat ponselnya. Sisi luar telapak tangan hingga 3 jarinya berwarna ungu kehitaman. Semakin Ara lihat, maka akan terasa semakin sakit tangannya.
"Hah!!"
"Harus mandi sekarang terus kabur aja hari ini." Gumam Ara perlahan sembari menyambar handuknya.
"Hi baby kesayangan Kakak.." Ucap Ara saat tiba di lantai dapur rumahnya.
Cup
Ara mengecup sekilas pemilik pipi yang sibuk menyembunyikan kunyahan dalam rongga mulutnya. Biang keributan pagi itu terlihat dengan semangkuk sereal dan kulit jeruk sebagai wadah sisa biji jeruk. Siapa lagi kalau bukan Rian. Meski berat badannya sudah turun, tapi kebiasaannya terbangun untuk makan atau sekedar ngemil masih tetap sama.
"Kakak mau?" Tawar Rian pada Ara dengan sendok penuh susu cair. Tidak ada sereal satupun yang asik berenang di dalam mangkuk diikutkannya. Pikir Ara sungguh sangat tidak ikhlas sekali Adiknya ini menawarkan makanan padanya.
Menggeleng singkat Ara berlalu menuju kamar mandi. Ritual mandinya akan jauh lebih lama kali ini. Tangan kanannya benar-benar sakit, tidak hanya ngilu, tapi sangat-sangat super nyeri hingga ingin menangis saja. Ara tidak habis pikir bagaimana beberapa jam lalu ia masih baik-baik saja.
"Aduh!!" Sikat gigi di tangan kiri Ara menggosok terlalu dalam hingga terjadi benturan pada gusi. Tampaknya busa putih itu akan tersiram sirup merah yang mengucur alami dari gusi Ara.
Ara tidak kidal dan bukan juga ambidextrous yang bisa menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya. Hanya saja tangan kanannya benar-benar tidak bisa ia paksakan, bahkan genggaman kecil saja sudah menyakiti tulang-tulangnya.
"Hah!!" Lagi-lagi Ara hanya mampu menghela nafas kasar.
Ara tidak menyesal telah membabi-buta dengan beringas kemarin malam. Hanya saja sakit yang terasa sangat jauh dari perkiraan Ara.
"Astaga Riiiaaannn!!!"
"Haha.." Ara tertawa kecil. Suara teriakan Mama Lauritz sudah menggema lagi.
Sudah Ara duga pasti akan ada paduan suara. Mama Lauritz seringkali menahan Rian untuk tidak makan diam-diam seperti pagi ini, karena nanti saat masakan Mama Lauritz selesai dihidangkan Rian akan sarapan untuk kedua kalinya.
...----------------...
Brak
Brak
Brak
"Bang gilang.. Abang Giillaaaang!!??" Teriak Ara di depan pintu rumah kontrakan berwarna hijau.
Tok
Tok
Brak
Brak
"Bang!!!"
Brak
Bugh
"Ra!!!" Pukulan keras yang Ara hadiahkan untuk pintu mendarat pada dada bidang Bang Gilang.
"Berisik banget. Masih pagi ini." Ucap Bang Gilang sambil merapikan rambut yang tampak seperti sarang burung itu.
"Berangkat ke bengkel sana Bang!" Ucap Ara ketus dengan melenggang masuk tanpa izin.
"Om ada kerjaan yang urgent ya?" Tanya Bang Gilang sambil mengganjal pintu agar tetap terbuka.
"Ara mau pinjam rumah Abang buat tidur." Ucap Ara yang sudah duduk manis di kursi sudut kontrakan kecil Bang Gilang.
"Seenaknya ngusir cuma buat tidur. Tidur sana di rumah mu." Ujar Bang Gilang menyenggol lengan Ara dengan kakinya.
"Itu rumah Papa Mama."
"Lah ini rumah Abang."
"Ck! Kontrak Bang, bukan punya Abang." Berdecak, Ara lirik Bang Gilang mengejek dengan seringai tipisnya.
"Heh!! Sekarang punya Abang. Udah bayar sampai akhir tahun."
"Mie rebus apa goreng Bang?" Ucap Ara yang sudah meletakkan tas selempang miliknya di atas kursi sudut.
__ADS_1
Langkah kaki membawa Ara pada dapur minimalis rumah itu. Layaknya si empunya rumah, Ara buka lemari kayu kecil dengan matanya menelisik seluruh penghuni lemari. Tidak lupa juga Ara buka Kulkas satu pintu milik Bang Gilang.
"Mie rebus 3 aja ya Bang.. Pakai telur sama sosis. Abang nanti pasti makan gado-gado Mbak Tuti lagi juga kan?" Ucap Ara sembari tangan kirinya meraih segala macam barang yang ia inginkan.
"Udah gak lagi Ra. Naik level jadi ketoprak Mang Diro. Murah, banyak, enak, pedes lagi. Beh mantep banget Ra. Nyesel banget baru coba beli kemarin." Ucap Bang Gilang yang tampaknya sedang membayangkan wujud dan rasa ketoprak.
"Salahnya Abang masih kepoin janda muda. Sekarang kok Ara jadi pengen ya Bang.. Nanti beli 2 bungkus ketopraknya ya Bang?" Ucap Ara dengan mata berbinar pada Bang Gilang.
"Sawi nya sampai kisut gini gak dimasak-masak juga Abang ini mau buang-buang ya??" Suasana hati Ara seketika berubah muram kala menyaksikan tiga tangkai sawi hijau yang sudah layu. Bahkan pada salah satu tangkai hampir menguning seluruhnya.
"Nanti kalau bisa keluarnya agak siang aja Ra." Celetuk Bang Gilang tiba-tiba di belakang Ara yang sedang menanti air mendidih.
"Kenapa?" mengernyit heran Ara pada Bang Gilang.
"Kenapa lagi!!? Nanti kita dikira kumpul kebo kayak dulu itu.. Untung Pak RT sempat ketemu pas kamu baru datang. Kalau gak udah jadi istri Abang kamu sekarang." Ucap Bang Gilang sebal.
"Kan gara-gara Abang yang nutup pintu. Udah tau banyak Bude-bude julid di sini. Lagian di suruh tinggal di rumah aja sama Mama gak mau. Kamar 3 di atas itu cuma 1 yang kepakai sama Ara aja." Jawab Ara sewot. Bibir Ara bahkan sudah bisa diikat saking monyongnya.
"Hih!! Serem banget punya istri kayak Ara. Amit-amit deh." Mengetuk puncak kepalanya beberapa kali, Bang Gilang masih bergidik ngeri membayangkan Ara sebagai istrinya.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Tring
Tring
Mengabaikan Bang Gilang yang masih berada dalam dunia fantasi miliknya, Ara merogoh ponsel dari saku jaket hitam kebesaran miliknya. Tangan kiri Ara sudah cukup lihai meski kadang lebih mudah lelah menggenggam ponsel dibandingkan jika dengan tangan kanannya.
📩
Dokter Dion
|1 Pesan Diterima|
📩
Pak Kim
|2 Pesan Diterima|
Bisa-bisanya kedua kakak beradik itu mengirimi Ara pesan pada waktu yang hampir bersamaan.
📩
Dokter Dion
Ara beralih melihat isi pesan Kakak laki-laki Dokter Dion setelah sempat membalas singkat pesan sosok Dokter yang setahun ini telah menemaninya. Sangat singkat, yaitu hanya 'Oke'.
📩
Pak Kim
Datang ke kampus sekarang temui saya bantu selesaikan laporan.
Saya tunggu jam 9 di ruang wakil dekan.
"Ini orang pasti modus lagi. Udah jelas fakultas aja beda malah nyuruh bantuin. Apa gunanya mahasiswa fakultasnya?? Biarin aja lah." Gerutu Ara kesal.
Drrt.. Drrt..
Tring
📩
Pak Kim
Balas saya Ra.
"Argh!! Malesin banget sih.." Geram Ara ingin melempar ponselnya ke dalam panci berisi mie instan.
"Kalau gak ikhlas bikin mie jangan bikin. Lihat itu udah mengembang penuh direbus lama banget." Ucap Bang Gilang yang sempat pergi sebelumnya pada Ara sambil mematikan kompor dan mengangkat panci berisi mie rebus hambar.
Ara benar-benar mengabaikan pesan Pak Kim. Kapan lagi ada mahasiswa semasa bodoh Ara yang memilih tidur setelah perkara mie instan selesai dengan satu telur yang akhirnya di ceplok dan dibagi dua.
"Ra bangun!!" Badan Ara rasanya seperti bola yang ditendang kasar demi mencetak gol di gawang lawan.
Punggung kaki laknat Bang Gilang rupanya mendorong-dorong lengan Ara. Sedikit kuat lagi dorongan itu bisa membalik badan Ara. Jika Ara sadar kali ini pasti sudah ia jambak dan gigit habis bahu Bang Gilang.
"Hem.."
"Ck!! Bangun!! Ketoprak ini!!" Suara penuh kesal, namun masih penuh perhatian berdenging di indra pendengaran Ara.
__ADS_1
"Mana?? Pedes kan?" Suara serak Ara keluar bersamaan dengan tubuhnya yang dipaksa untuk terduduk. Mata terpejam Ara tidak menyurutkan Ara untuk meraih sebungkus ketoprak karet 2 di atas piring lengkap dengan sendok.
"Tidur di sini gak bilang Om sama Tante kan??"
"Hem.."
"Pergi juga nyelonong gitu aja pasti." Sudut bibir Bang Gilang terangkat, ia sedang mencibir Ara.
"Pulang sana!! Kayak anak terbuang aja." Usir Bang Gilang pada Ara yang mulai menyuapi mulutnya dengan lontong.
"Kok pakai tangan kiri Ra?? Ehh.. Tadi juga makan mie pakai tangan kiri kan??" Bang Gilang menatap Ara meminta jawaban, "Mau belajar biar gaya jadi ambidextrous ya?"
"Hem.." Hanya jawaban singkat.
Ara sukses menyembunyikan seluruh tangan kanannya dalam lengan jaket sepanjang waktu. Tidak sia-sia pengalaman menyembunyikan sayatan lengan Ara selama ini. Wajah datar seolah semua baik-baik saja selalu bisa menipu semua orang.
...----------------...
"Duduk, Ra." Bukan perintah, tapi ujaran halus mempersilahkan Ara untuk menempati kursi di seberang meja.
Iya, Ara kini sudah berada dalam satu ruangan bersama Dokter Dion. Banyak hal yang Ara ceritakan, termasuk keinginannya untuk membunuh Tante Sekar. Tekad Ara rupanya nyaris bulat bila ia tadi tidak sempat tidur untuk mencari ketenangan.
Jika Tante Laura bersalah karena kata-kata sindiran dan merampas haknya secara paksa, maka Tante Sekar sudah lebih dari itu. Setidaknya keluarga Mama Lauritz tidak menginjak dan menghancurkan keluarga Ara secara bersamaan di depan mata Ara.
"Saat kamu membayangkan darah itu mengalir dari orang yang kamu tikam, apa kamu senang?" Tanya Dokter Dion. Tentu saja kalimatnya itu berisi halusinasi Ara. Mana mungkin Ara masih duduk manis di hadapan Dokter Dion bila sudah melancarkan aksi pembunuhannya.
"Senang. Puas. Tapi aku juga pengen nangis." Suara Ara parau. Ara ingin tertawa sekencangnya saat ini juga, namun ia juga ingin menangis.
"Minum dulu." Dokter Dion menyodorkan segelas air mineral pada Ara.
"Apa aku harus pergi kalau gak mau ngerasa sakit lagi?" Tanya Ara tanpa meraih gelas berisi air itu. Dimiringkan kepalanya menatap Dokter Dion.
Tatapan sendu dari mata Ara mampu mengiris hati siapapun yang melihatnya. Namun sekian detik kemudian bibir Ara menyeringai lebar hampir seperti senyum mengerikan milik Joker. Mata sendu bergabung dengan seringai lebar tidak bisa menggambarkan bagaimana isi pikiran Ara.
"Kenapa aku yang harus menghilang?? Mereka yang salah, mereka yang bahagia. Harusnya mereka yang pergi, iya kan? Harusnya mereka. Lebih baik mereka mati. Kalau nunggu pasti lama, kasihan nanti banyak yang sakit. Aku gak akan salah kalau bunuh mereka, benar kan? JAWAB DOK!!!"
"MEREKA HARUS MATI!!"
"AKU MAU BUNUH MEREKA!!"
Brak
Tangan yang tidak tahan hanya untuk mengepal justru sudah menggebrak meja dengan kasar. Jika bukan karena kesadarannya yang masih tersisa, Ara pasti sudah melempar meja di hadapannya dan meninju dinding kaca tebal yang mengurungnya bersama Dokter Dion.
"Atur nafas kamu Ara. Banyak yang sayang sama kamu. Bukan karena mereka harus mati sesuai mau mu, tapi ingat orang-orang yang sayang sama kamu akan sedih. Mereka akan kecewa sama diri mereka yang gak bisa bantu kamu. Jadi jangan pendam semuanya sendiri, ada aku, ada teman-teman mu, ada Om Yudith, Tante Lauritz, ada dua adik kesayangan mu, Jona dan Rian. Kamu bisa Ra! Kamu bisa melewati ini semua.. Bukan sekarang, tapi nanti pasti bisa." Ujar Dokter Dion panjang lebar menepuk perlahan bahu kanan Ara dengan sesekali mengusap perlahan punggung Ara yang tertutup jaket hitamnya.
"Gak.. Gak.. Aku ca-pek.. Aku hidup cuma demi mereka.. Aku, a-aku gak punya alasan apapun selain mereka.." Ucap Ara sesegukan, kedua tangannya menutup rapat daun telinga miliknya.
"Demi diriku sendiri Dok.. Sekali aja izinin aku buat mati aja. Aku se-sak.. Gak kuat lagi buat semua ini.." Mengatupkan kedua telapak tangannya, Ara memohon pada Dokter Dion.
"Obat!? Iya, obatnya Dok.. Tolong tambah dosis.. Aku gak bisa tidur tanpa obat itu. Jangan dikurangin lagi." Ucap Ara berbinar, jika ia tidak bisa membunuh, belum boleh meninggalkan dunia, setidaknya ia masih bisa menggantungkan ketenangannya pada obat.
"Kamu harus belajar buat lepas.. Kamu bisa. Sebentar lagi kamu sembuh. Obat itu gak akan kamu butuhkan lagi Ra. Sabar ya sayang.. Kamu percaya sama aku kan??" Dokter Dion menatap mata Ara lamat-lamat. Ia ingin Ara yakin bahwa sampai kapanpun ia akan tetap berdiri di samping Ara memberikan kekuatan.
Sama seperti seseorang yang duduk menompang kepalanya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Ia ingin menjadi kekuatan bagi Ara.
Kepalanya ikut berdenyut hebat memikirkan Ara. Bukan egois karena rasa cemburu buta pada adiknya, melainkan rasa kecewa karena begitu terlambat membuat Ara yakin bahwa banyak yang menginginkannya.
Iya, Pak Kim atau sosok Rava yang memutuskan menemui Dokter Dion yang dihadiahkan kehadiran Ara sedang terdiam memikirkan cara apa yang harus dilakukan agar Ara mau tetap berjuang untuk hidupnya. Apapun demi Ara akan ia lakukan.
...****************...
Ambidextrous : Istilah bagi orang yang dapat menggunakan kedua tangannya dengan sama baik (seperti makan, menulis, mengangkat, menggambar, menggosok, dan lainnya) yang mana dapat menunjukkan bahwa kemampuan sisi kiri dan kanan otak dari orang tersebut cukup seimbang.
*
*
*
Cukup??🤔
Sebutin dong siapa jagoan kalian buat jadi pendamping Ara😄 Kasih alasannya ya.. kali aja Hana pertimbangkan 🤭
*
*
Terima kasih dukungannya untuk kisah Ara ini ya🥰😘
Bantu share ke teman-teman yang lain biar makin banyak yang baca ya😉
__ADS_1
*
(Beruntung Bang Gilang gak dinikahin sama Ara, kalau gak Hana bisa patah hati meraung-raung 😖)