Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Boncengan ke ATM


__ADS_3

"Kak hotspot dong.." Ucap Jona tanpa menatap Ara, ia masih sibuk ditengah peperangan. Bunyi ledakan dan tembakan memekakkan gendang telinga terdengar nyaring. Mungkin jika ponsel Jona memiliki mulut akan berteriak kesakitan, volume yang tampaknya disetel full itu sudah bisa menggambarkan hebohnya game yang Jona mainkan.


"Hmmm.." Gumaman yang menyerupai rengekan disertai bibir mengerucut Ara pandang Jona, mata memelas tidak ingin berbagi kuota internet mengerjap perlahan.Tingkah Ara membuat jantung Rava seketika berlatih angkat beban dan bersiap untuk lari jarak pendek 60 meter.


'Imut banget sih Ra!!!' Jerit Rava, tentunya dalam batinnya.


"Gak Jona temenin nih nanti!!?" Ancam Jona dengan suara berbisik.


"Iya, iya.." Mau tidak mau akhirnya Ara menatap ponsel yang sempat disembunyikan di balik punggung.


"Hotspot dari punya mm.., Om aja ya Jona?" Tawar Rava pada Jona, mengurungkan keinginan menyebut dirinya 'mas'. Gerakan penuh keterpaksaan Ara membuat Rava langsung berinisiatif, sekaligus sedang berupaya mendekatkan diri pada Jona.


Hubungan berjarak antara Rava dan Ara kini sangat jelas terlihat. Masih banyak misi yang harus Rava selesaikan. Langkah pendekatan berikutnya adalah Jona, sulit jika harus memulai mendekati si bungsu pendiam Rian penghuni kamar hijau tosca.


"Boleh?? Buat main game loh.."


"Iya, boleh kok. Kamu bisa pakai sepuasnya, kuotanya banyak. Password hotspot nya 21426339." Ucap Rava perlahan. Sedangkan Jona yang mendengarnya menyipitkan mata, hidung sedikit terkembang dan bibir terkatup rapat menampilkan senyum segaris. Percuma ia diberitahukan kode sandi hotspot dari ponsel Rava jika jaringan wifi nya saja belum ditemukan.


"Elang ini ya Om nama hotspot nya??"


"Iya, Elang." Ucap Rava sembari menatap Ara sekilas, sang ratu 'elang' nya yang duduk menunduk menggambar pola abstrak di bantalan sofa. Bukan bosan atau tidak ada kerjaan, Ara sedang merayakan kebebasan dompetnya yang bisa sekarat kapan saja bila berbagi kuota internet dengan Jona.


"Ulang lagi Om password tadi berapa.."


"Udah tulis ya.. 21426339. Udah?"


"Jona ulang dulu ya Om.. Coba dengarin Jona ya, 21426339. Bener??" Memandang Rava, Jona menanti anggukan kepala Rava.


"Iya, bener."


"Oke, makasih Om." Tersenyum senang Jona sudah kembali ke medan pertempuran. Sedangkan di sudut pintu tampak malu-malu dengan mata berbinar, Rian bertahan untuk tidak ikut nimbrung. Masih merasa asing dengan sosok Rava, meski sudah beberapa kali bertatap muka.


"Bapak gak ada kerjaan ya?"


"Ada kok, tapi udah selesai. Saya kan cuma Dosen undangan yang isi 1 mata kuliah aja, jadi kalau kampus libur juga saya libur. Lebih tepatnya saya pengajar biasa deh, bukan Dosen.”


“Bukannya Bapak kerja kantoran juga ya?? Kok gak ngantor?? Terus proyek bikin ruko itu gak perlu diawasi??”


“Hari ini saya juga libur.. Segala urusan udah saya selesaikan di kantor. Kalau tentang proyek itu gak sepenuhnya tugas saya. Kemarin itu cuma kebetulan aja karena kamu gak mau saya ajak kemana-mana, eh malah mau waktu saya sebut proyek pembangunan. Kenapa Ra??" Tanya Rava, senyum merekah terlukis indah di wajah Rava. Merasa diperhatikan oleh Ara adalah anugerah luar biasa bagi Rava. Biarlah ia disebut berlebihan, namun memang benar adanya terbukti dengan debaran jantung yang membuncah layaknya kembang api di udara.


"Ke sini mulu.. Kayak pengangguran aja." Ucap Ara sesuai isi hati tanpa ditutupinya sedikitpun.


"Saya ganggu ya??" Tanya Rava miris, ia takut usahanya terlalu memaksa Ara hingga bukan mendekat justru Ara geli, jijik dan muak padanya.


"Gak kok Pak, biasa aja." Ucap Ara jujur. Kehadiran Rava memang sempat mengganggu pola rebahan nya, namun kini Ara mulai terbiasa. Apalagi ucapan Mama Lauritz yang menyuruh Rava menganggap Mama dan Papa Ara sebagai orang tuanya juga membuat Ara perlahan memposisikan Rava sebagai anak tertua. Meskipun panggilan 'bapak' masih setia Ara sematkan pada Rava.


Pembicaraan seadanya itu dalam waktu yang tidak kalah singkat sudah lama berakhir. Menghabiskan waktu cukup lama dalam kesunyian, Rava menggaruk tengkuknya canggung. Niat hati ingin melancarkan gombalan yang sudah dipelajari dari internet harus ditahannya. Rava tidak ingin menodai telinga suci Jona dengan kalimat gombalan yang juga sempat membuatnya mual.


"Kamu udah bimbingan buat ambil mata kuliah di semester depan?" Tanya Rava tiba-tiba memecah keheningan.


"Udah Pak, saya ambil 25 SKS. Jadi di semester 7 saya tinggal 3 mata kuliah sekaligus saya bisa ambil skripsi." Ucap Ara menjelaskan yang tanpa perlu ditanya lagi.


"Udah punya judul penelitian?"


"Udah. Kalau disetujui nanti mau ambil judul Rona Lingkungan Geologi Kelautan di Perairan Utara Kota B.”


“Hebat ya udah disiapkan judulnya, padahal kamu baru mau semester 6. Biasanya kan masih santai-santai aja, apalagi setelah ini kamu harus KUKERTA kan?”


“Justru karena saya harus KUKERTA dulu jadi persiapan dari sekarang Pak. Saya punya target harus lulus di semester 7. Kasihan Papa Mama saya udah buang-buang uang buat bayar kuliah kalau saya malas-malasan. Lagian lumayan juga jatah uang semester 8 bisa masuk ke biaya penelitian saya.”

__ADS_1


“Kira-kira ada alternatif judul lain nggak? Soalnya setau saya, kadang diminta 2 sampai 3 judul buat bahan pertimbangan.”


“Belum ada sih Pak, soalnya saya udah survei kalau saya ini peneliti pertama di lokasi itu. Belum ada yang pernah penelitian di lokasi itu pakai judul saya juga.” Rava sekarang dapat menangkap bahwa Ara akan banyak omong kala pembahasan seru seputar pendidikannya. Baiklah, Rava akan mulai belajar apa yang ingin Ara lakukan. Buanglah rencana kalimat penuh gombal jauh-jauh saat ini.


"Daerah itu dekat dengan lokasi proyek ELANG AKIRA ya?"


"Iya, Pak. Jadi paling nanti tantangannya buat dapat izin dari pihak perusahaan. Setau saya juga banyak senior yang nyerah ambil di lokasi itu gara-gara masih dalam proyek pembangunan, jadi izinnya susah. Padahal itu tantangan sih menurut saya. Kalau saya bisa meneliti saat ini, mahasiswa setelah saya bisa buat penelitian pembanding rona lingkungan alami, saat proyek berlangsung dan terakhir pastinya setelah pembangunan selesai.”


‘Kamu memang beda Ra.. Aaaaa.. makin sayang saya sama kamu.’ Ucap Rava dalam hati. Tentu tidak berani Rava ucapkan dengan lantang, telinga Jona masih terkembang menyimak pembicaraan Ara dan Rava.


"Kamu tenang aja, nanti saya bantu kalau masalahnya di perizinan. Saya pastikan kamu akan bebas keluar masuk di setiap lokasi yang kamu mau.”


"Maksud Bapak apa?"


"Saya kenal salah satu pimpinan perusahaan pengembang di situ, jadi nanti biar saya bantu supaya kamu mudah dapat izinnya."


"Serius Pak??" Ucap Ara berbinar. Sudah lama ia memikirkan nasib penelitiannya akan menjadi terulur sampai selama apa jika harus menunggu surat izin penelitian dari kampus dahulu baru bisa mengajukan pada perusahaan.


Bukannya Ara tidak bisa memilih lokasi lain, tapi sebagai pengamatan lingkungan Ara sangat tertantang dan ingin hal yang berbeda dengan menaklukkan sesuatu yang baru. Selain itu juga lokasi yang Ara, Dimas dan Yuki sudah tentukan ini memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi, hanya saja rute tercepat menuju wilayah perairan berada dalam lingkup lokasi proyek pembangunan yang sudah dikelilingi pagar.


"Iya, kamu tenang aja ya.. Fokus di semester 6 jangan ada mata kuliah yang harus ngulang sama siapkan diri untuk KUKERTA nanti."


"Siap!!” Mengacungkan kedua ibu jarinya, kedua tangan Ara terangkat lurus. “Makasih ya Pak." Senyum bahagia Ara tercetak jelas, begitu pula dengan senyum milik Rava.


‘Jantung.. Sabar ya.. Tau kok kalau Ara manis banget.’ Lagi-lagi Rava berucap pada dirinya sendiri, rasanya Rava ingin menyentuh dada kirinya agar sang jantung tidak terlepas. Debaran yang maha dahsyat dari serangan senyuman Ara memiliki efek mematikan bagi Rava.


"Tapi gak gratis loh.." Ucap Rava tiba-tiba. Ibarat berenang di laut sambil pipis, Rava memiliki ide memanfaatkan momen agar statusnya berubah. Meskipun hanya status panggilan saja.


"Kok jadi gitu??" Cemberut Ara mendengar kata tidak gratis yang Rava ucapkan. Dahi mengerut dan bibir manyun, Ara menatap Rava sengit. Terkekeh geli Rava melihat perubahan raut wajah Ara.


"Panggil saya Mas ya??" Ucap Rava lembut, mata penuh binar permohonan menatap Ara lekat.


"Batuk ya batuk aja, ketawa ya ketawa aja. Gak usah nahan gitu Jona." Ucap Ara kesal yang jelas ditujukan untuk Jona, namun daun telinga Rava justru bersemu merah. Nyaris melupakan keberadaan Jona, beruntung Rava belum mempraktikkan hasil belajar gombalnya dari si mbah.


“Rugi banget itu MAS Rava Cuma minta dipanggil MAS.. Keenakan lah Kakak gak bayar mahal, ya kan MAS??” Menaik-turunkan kedua alisnya, Jona sengaja menekan kata ‘mas’ untuk menggoda Rava. Sudah terdeteksi oleh radar Jona, Rava akan masuk dalam pengawasan dan ujian ketat. Bersiaplah!


Mengernyit heran Ara kala memperhatikan Rava, wajahnya masih tetap tampan, namun tampak jelas semburat merah mulai menghias pipinya. Kalimat sarat akan godaan yang terlontar dari bibir Jona langsung menekan dada Rava, malu pada anak di bawah umur yang sudah menyaksikan seluruh aksi modusnya.


"Bapak sakit??"


"Ha??"


"Udahlah lupain."


"Kak.. Ke ATM dulu ambil uang!" Mama Lauritz datang tiba-tiba sambil menyerahkan kartu ATM milik Papa Yudith. Iya, jangan harap Papa Yudith mau memegang sendiri kartu ATM miliknya. Semuanya hanya atas nama, pemegang tetap Mama Lauritz. Trauma pernah dikuras habis isi rekeningnya lewat aksi pencurian jalur hipnotis membuat Papa Yudith anti menyambangi mesin ATM.


“Buat apa Ma?” Mengernyit heran otak Ara seketika kosong.


“Ngapelin satpam!! Ya ambil uang lah Kak..” Ucap Mama Lauritz gemas.


“Hehe.. Iya, Iya Ma..” Ucap Ara sembari beranjak dari duduknya, ia hanya butuh mengambil tas selempang di kamar.


“Jona siap-siap antar Kakak ya.. Motor Kakak dibawa Papa.” Jona menengadah, Ara menghentikan langkahnya, sedangkan Rava sudah siap dengan ancang-ancang pintu kesempatan yang ada. Belum sempat Rava menyambar umpan, Jona sudah lebih cepat berucap.


“Motor Jona baru aja mau ganti ban dalam Ma.. Kakak minta antar Om Rava aja. Ehh, Mas Rava sih.. Hihi..” Senyum Rava yang sempat meredup langsung terkembang lagi, di dalam hatinya sudah memikirkan berbagai macam hadiah yang akan diberikan untuk Jona.


"Masa?? Bukannya udah kemarin gantinya??" Tanya Ara sembari menyipitkan matanya. Seingat Ara motor Jona sudah diganti ban dalamnya 2 hari yang lalu.


"Tau apa Kakak?? Yang gantikan Jona.. Sok tau!" Ucap Jona sewot. Memalingkan wajahnya dari Ara, tatapan mata Jona pada Rava diikuti kedua alis yang naik turun. Mengerti kode jahil milik Jona, Rava tersenyum senang. Sebenarnya Jona bukannya berpihak pada Rava, ia hanya ingin mengerjai Ara.

__ADS_1


“Sama Rava aja Ma..” Ucap Rava pada Mama Lauritz yang masih setia bersedekap.


“Ma??” Suara meninggi Jona mengisi seluruh sudut ruang tamu. Mata yang melotot dan mulut menganga Jona adalah gambaran nyata bagi Ara dengan keterkejutan yang pernah ia rasakan.


"Kok Ma? Ma ini bukan Mama kan?? Ini serius Om Rava bakalan jadi Mas ipar Jona sama Rian??" Tanya Jona cepat, layaknya penyanyi rap yang sedang mengikuti kontes. Kembali sudah panggilan 'om' diucapkan Jona, sedangkan Rava hanya menatap sendu. Kesedihan mendalam yang melebihi turun level dalam sebuah game online yang biasa ia mainkan.


Tuk


"Berisik!!" Ara menyentil dahi Jona dan kabur secepatnya.


...----------------...


Di atas motor matic hitam dengan kaos hitam yang serasi, Ara dan Rava melaju menuju ATM terdekat. Tentunya bukan laju seperti Valentino Rossi andalan Ara. Merogoh ponsel dari tas selempang nya, Ara mengabadikan indahnya langit dengan sinar sang mentari yang terus mengiringi perjalanan Ara dan Rava. Jarang sekali Ara bisa melakukan hal ini, ia terbiasa jadi tukang ojek dibandingkan sebagai penumpang.


‘Udah boncengan juga masih jauhan.’ Membatin miris Rava, menatap sisi pinggulnya sekilas yang tidak akan pernah ada tanda-tanda rengkuhan jari-jemari Ara.


Lama-kelamaan Ara mendesah jengah, ia tidak mengira Rava akan memboncengnya sehalus langkah kura-kura. Akhirnya Ara mengakui ucapan Dimas, menyadari bahwa dirinya berjiwa ugal-ugalan. Biasa menjadi joki yang kini berubah menjadi penumpang membuat mata Ara berat, Ara mengantuk.


Duk


Helm yang Ara kenakan beradu dengan helm Rava. Mata yang sengaja di pejamkan nyaris membawa Ara tertidur.


“Kamu gak apa-apa Ra?” Tanya Rava khawatir, keheningan diantara keduanya pecah juga. Suasana canggung yang hanya terisi suara klakson dan mesin motor saling beradu tidak mampu menembus bibir Ara yang bungkam sebelumnya. Namun kini suara maskulin penuh kekhawatiran menyentak alam bawah sadar Ara, bibir itu bergerak perlahan.


“Gak apa-apa Pak. Saya Cuma ngantuk, gak biasa bawa motor pelan soalnya.” Suara yang nyaring namun tampak lemah tidak mampu menutupi rasa kantuk Ara.


“Maaf ya.. Saya khawatir kamu takut kalau saya bonceng ngebut.” Ucap Rava serius, pasalnya ia baru selesai belajar motor sekaligus mendapatkan SIM C selama 2 minggu ini.


Masih tergolong pemula hingga tidak sanggup menerapkan trik modus rem mendadak, takut membuat Ara terjungkal, hidung penyet menubruk helm atau bahkan amukan berkepanjangan. Ciut sudah nyali Rava. Mungkin memang nasib Rava yang harus bersabar menahan keinginan dipeluk Ara saat boncengan.


...****************...


SKS : Satuan Kredit Semester merupakan satuan beban studi pada setiap mata kuliah yang akan diambil. Jika 1 SKS \= 50 menit, maka mata kuliah yang memiliki beban 3 SKS berarti menghabiskan waktu pembelajaran selama 150 menit.


Tidak jarang ditemukan 3 SKS dengan kode 2-1 yang berarti dapat terbagi menjadi 2 SKS tatap muka di ruang kelas dan 1 SKS diperuntukkan untuk jam praktik. Namun, 1 SKS yang digunakan untuk praktik umumnya memiliki arti yang sama dengan 3 SKS atau 150 menit kegiatan yang bergantung pada jenis kegiatan praktik.


Pada kasus penelitian tertentu seperti analisis fisika dan kimia perairan, 1 SKS dapat memakan waktu hampir seharian atau bahkan 3-5 hari kegiatan, baik di lingkungan alam atau laboratorium.


Geologi Kelautan : Disebut juga Oseanografi Geologi yang mempelajari konfigurasi cekungan laut, asal usul cekungan laut, sifat batuan dan mineral yang dijumpai di dasar laut, dan berbagai proses geologi di laut yang mencakup penelitian geofisika, geokimia, sedimentologi, dan paleontologi di dasar samudera dan daerah pesisir.


Geologi kelautan berkaitan erat dengan oseanografi fisik dan tektonik lempeng. Geologi kelautan dapat pula berguna untuk pembangunan struktur di bawah laut maupun pelayaran, seperti pembangunan dermaga, anjungan pemboran minyak, kabel bawah laut, jembatan antar pulau dan lain-lainnya.


*


*


*


Punya arti khusus gak ya 21426339??🤔


Masih ingat arti 'ELANG' dari kisah Ara??


*


*


Mari berteori arti dari password hotspot Rava.. Ayo tebak '21426339' artinya apa😄


*

__ADS_1


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2