
“Mama nggak akan mengadu atau menutupi kesalahan kamu ke Papa. Tapi Mama mohon kamu jujur sama Papa sebelum Tante Laura kumat sama mulut ember nya.”
“Iya, Ma..”
“Kamu tau kan apa yang mungkin terjadi kalau Papa mu tau dari Tante Laura? Sekali lagi harga dirinya pasti jatuh karena merasa gagal mendidik Kakak.”
Ara semakin menundukkan kepalanya. Bibirnya cemberut kesal pada dirinya sendiri. Memang benar, setiap tindakan perlu dipikirkan sematang-matangnya agar tidak menjadi boomerang menyebalkan.
“Kamu menyesalkan?” Celetuk Mama Lauritz.
“Iya..” Jawab Ara lirih, matanya terasa berat menampung embun tipis. Rasanya sakit sekali membayangkan Papa Yudith akan dihina orang yang katanya keluarga itu.
“Bagus. Kamu berbuat kesalahan itu memang mengecewakan, tapi Mama bersyukur kamu mau mengakui kesalahan, merasa menyesal dan minta maaf.” Ucap Mama Lauritz lembut, mengusap anak rambut Ara yang berjejer di batas dahinya.
“Memaafkan itu memang tidak semudah mengucapkan kata maaf. Tapi berani mengucapkan kata maaf dengan tulus itu juga membutuhkan tekad dan keberanian yang kuat. Tidak bisa sembarangan meskipun sebagian orang bisa dengan asal berkata maaf.” Lanjut Mama Lauritz berujar.
Kepercayaan penuh Mama Lauritz berikan pada Ara. Mama Lauritz yakin bahwa Ara sudah berjuang melawan ego, menahan kekesalan yang bergejolak amarah. Berpikir positif bahwa semua bisa menjadi bekal agar Ara bisa melangkah lebih dewasa dan berbesar hati.
Tanpa Ara dan semuanya ketahui, rupanya Mama Lauritz sudah memberi peringatan keras pada Tante Laura. Dirinya yang selama ini selalu mengalah dan berkorban langsung menunjukkan tanduk dan cakar saat mendapati pipi memerah Ara.
Niat awal yang ingin mengintrogasi Ara berubah haluan berkat informasi dari CCTV berjalan yang tanpa sadar tertangkap radar Mama Lauritz. Siapa lagi jika bukan para asisten rumah tangga yang sibuk bergosip di dapur.
Mereka yang sering berlalu-lalang keliling rumah megah itu mulanya menyaksikan Ara dan Gilang keluar dari kamar yang biasa Ega tempati. Silih berganti informasi yang terucap satu sama lainnya hingga menghasilkan sebuah praduga yang kebetulan sesuai fakta yang ada.
Harta?
Tentu menjadi ancaman paling jitu bagi Tante Laura. Meski tidak menginginkan harta keluarganya sepeserpun, Mama Lauritz secara sadar berkata akan meminta seluruh bagian miliknya termasuk rumah yang sempat akan diberikan kepada Ara oleh Kakek Baren.
Cekcok kakak beradik dengan tatapan nyalang dan sengit terjadi di teras belakang. Tidak pula disaksikan oleh siapapun. Hanya ada suara geraman lirih tanpa teriakan. Ralat. Hanya satu teriakan penutup dari Tante Laura sambil menatap punggung Mama Lauritz yang perlahan menghilang.
Tante Laura meratap frustasi dan marah. Sebelah tangan meremas rambut dan satu lagi mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Tidak tau apa yang sebenarnya Mama Lauritz katakan seluruhnya, namun memukul telak Tante Laura hingga tidak berkutik.
Drrt.. Drtt..
Don't fight the feeling
Bonneung daero ga Babe
Don't fight the feeling
Neoreul meomchujido ma
Yeah, don't fight the feeling, yeah
Don't fight the feeling, yeah
...
(EXO - Don't Fight the Feeling)
“Dimas, Kak..” Ucap Mama Lauritz yang meraih ponsel yang terletak agak jauh dari jangkauan Ara.
__ADS_1
“Angkatin dulu Ma..” Ucap Ara yang langsung diangguki oleh Mama Lauritz.
“Ha-..”
[RAAAA.. Yukicot susah dihubungin..!! Gak tau itu bocah tau info ujian hari ini apa nggak.. Kamu udah coba telepon belum??]
“Hmm..” Dehem Mama Lauritz pelan sembari menyodorkan ponsel ke hadapan Ara.
Mengecup pelipis Ara sekilas, Mama Lauritz beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Ara seorang diri di kamar.
[ARA!!!???] Serangan dadakan membuat ponsel yang baru Ara dekatkan ke arah telinga terpaksa harus dijauhkan. Sebelah mata Ara ikut terpejam seiring dahinya yang mengernyit.
“Kenapa sih Dim?” Tanya Ara jengah.
[Lah kamu gak dengar tadi aku ngomong apa? Udah..]
“Tadi Mama ku baru mau bilang halo aja kepotong.” Ucap Ara memotong cerocosan Dimas.
[Mama? Tante Lauritz maksud mu?] Ucap Dimas sambil mengerutkan dahinya.
“Iya Mama ku siapa lagi?” Tanya Ara sinis.
[Maaf Tante, Dimas gak tau.] Ucap Dimas tiba-tiba.
“Udah gak ada Mama ku di sini, udah pergi.” Ucap Ara ketus.
[Ya mana aku tau kalau kamu gak bilang.] Ucap Dimas tidak kalah ketusnya.
[Itu Yuki gak bisa dihubungi. Di chat ceklis satu dari semalam.]
“Belum on deh. Lagian ini masih pagi Dim..” Ucap Ara mencoba menenangkan kekhawatiran Dimas. Meski dirinya sendiri juga sama khawatir bila Yuki terlambat mengetahui pengumuman ujian yang sudah sejak kemarin sore diberikan.
[Bukan gitu Ra. Chat aku yang kemarin pagi juga masih ceklis satu. Di telepon juga malah ditolak, nyebelin banget. Ini gimana biar dia tau tentang ujian take home nya?] Ucap Dimas yang tampak putus asa.
“Masa ditolak?” Gumam Ara tidak percaya yang masih mampu terdengar oleh Dimas di seberang sana.
[Nggak.. Di reject aja.] Jawab Dimas sewot.
“Ya udah biar aku ganti hubungi. Kita sejam sekali saling kasih kabar kalau Yuki masih gak ada respon, oke?”
[Oke deh. By the way, lokasi aman?]
“Pusing aku nyari lokasi targetnya. Dirimu gimana?” Jawab Ara sambil menyugar rambutnya.
[Jelas udah dong.. Makanya aku mau pamer, hahaha..] Gelak tawa Dimas membuat Ara mendengus. Jika bisa, Ara ingin mencubit, menggigit dan mencekik Dimas saat ini juga. Benar-benar manusia laknat yang sayangnya adalah teman seperjuangan.
“Jahanam!!” Ucap Ara kesal dengan nada rendah.
[Ambil pesisir B yang bagian utara aja, Ra.. Aku lihat di list wilayah anak-anak itu belum ada yang ambil pesisir di sana. Lagian kalau mau angkat ekowisata di sana ekosistem masih asri dan yang pasti biotanya melimpah.]
“Tadinya aku mikir yang lokasi di Kampung Nelayan, kalau pesisir utara B kan rata-rata tanahnya malah udah sertifikat hak milik asing.]
__ADS_1
[Duuh.. Susah ya.. Padahal itu harusnya milik pemerintah, punya Negara. Bisa-bisanya oknum picik meloloskan izin kepemilikan gitu. Kalau udah sertifikat sah ya harga mati. Gedek aku tuh jadi anak kelautan perikanan tapi nggak bisa berbuat apa-apa.] Ucap Dimas kesal, tanpa sadar ia mengeratkan giginya.
“Tugas memang berkhayal, tapi tetap harus sesuai realita kan? Tau sendiri pasti nanti ditanya ini-itu proses dan alurnya. Kalau gak sesuai sama kegiatan yang mesti dilakukan, yakinlah makalah ini bakal melayang.” Ucap Ara sambil menerawang jauh. Teringat pada nasib senior yang mengulang mata kuliah akibat tugas terlalu banyak tertuang imajinasi tanpa isi yang berbobot.
[Iya, sih. Beruntung kalau masih dikasih nilai C.] Timpal Dimas sembari menghela nafas pasrah.
“Makanya itu..”
[Ya udah ambil Kampung Nelayan aja. Mending tulis dulu di list, sebelum diserobot anak lain. Nanti nangis meraung gara-gara gak dapat lokasi.] Ujar Dimas lagi yang sebenarnya baik, namun tetap saja yang namanya Dimas jika tidak membumbui perkataannya dengan unsur mengejek rasanya kurang pas.
“Iya deh.. Aku fix ambil itu aja.”
[Ra, apa aku ke rumah Yuki aja ya cek nyawa?] Tanya Dimas tiba-tiba, membelokkan topik pembicaraan.
“Nah iya.. Kenapa gak cek ke rumahnya?” Seru Ara menyahuti.
[Baru ingat aku kalau bisa cek ke rumahnya pas dia gak bisa dihubungi.]
“Nanti agak siangan aja cek nya. Tunggu sampai jam 9 lah kalau belum bisa dihubungi ya kamu ke rumahnya.”
[Iya-iya, nanti aku kabarin lagi. lagian itu anak apa tidur seharian ya? Balas dendam molornya.]
“Gak tau juga Dim. Ya udah ya, aku matikan ya Dim?”
[Sip deh, bye..]
Tuutt..
“Lah, kok dia yang udah matikan duluan!? Astaga Dimas.. Aku yang bilang mau matikan, tapi dia yang haduuh.. Ck!” Berdecak diiringi gelengan kepala, Ara juga terkekeh kecil.
...****************...
*
*
*
(Gak ada yang bisa ditanyakan, kayaknya para pembaca nih ya yang mau tanya, atau nggak ya?🤔)
*
*
Hana ngetik lebih slow ya.. Baru belajar membagi imajinasi, jadi sedikit-sedikit melompat ke cerita lain juga.😁
Maafkan Hana yang masih pemula.🙏
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1