Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bukan Aku, Tapi Mereka!!


__ADS_3

Ditemani segelas espresso macchiato, Ara kesal harus berada di kafe kejora. Bukan ingin bernostalgia kenangan terakhir bersama Hans, namun ia punya janji temu dengan orang lain.


Sumpah yang dilontarkan tidak ingin kembali ke kafe Kejora harus dijilat dengan pahit, sepahit espresso macchiato miliknya. Jika boleh memilih Ara pasti akan lebih menikmati segelas espresso tanpa steamed milk, namun lambungnya tidak akan mampu mengendalikan asupannya kala itu. Meski one shot steamed milk tidak akan merubah apapun.


Jari-jemari Ara mengetuk meja kayu bundar dengan dua kursi berseberangan. Masih menikmati tiap teguknya, kali ini kontrol emosi Ara lumayan bagus, kepalanya tidak berdenyut memutar memori menjijikkan masa lalu. Saat ini kondisi seperti lebih berbaik hati padanya sehingga Ara mampu meredam traumanya.


Akan tetapi ketenangan tidak bertahan lama, kecemasan yang diredamnya membuat perutnya kram atau mungkin asam lambungnya naik mendadak. Kesal Ara pada otaknya yang benar-benar bekerja untuk memprovokasi seluruh anggota tubuhnya agar tidak pro mutlak padanya.


Drek


Bunyi kursi digeser mengejutkan Ara. Rupanya sedari tadi Ara tengah melamun.


"Maaf lama. Mas baru sampai dari luar kota." Menatap sosok yang sedari tadi Ara nantikan.


"Jadi ada apa? Gak usah basa-basi." Ucap Ara ketus mengabaikan permintaan maaf dan kondisi yang sebenarnya ingin Ara ketahui.


Srakk


Beberapa lembar foto dan dokumen terpampang nyata dihadapan Ara. Diraihnya satu-persatu lembar yang tertumpuk berserakan itu.


"Maksudnya apa ini??" Suara Ara agak meninggi. Jika Ara tidak lupa keberadaannya saat itu, maka bisa dipastikan gelas di meja itu akan terbang dan mendarat kacau di atas lantai keramik hitam.


Mata Ara menyalang memerhatikan foto-foto orang yang dibencinya. Bahkan beberapa foto menampilkan sosok dihadapannya itu sedang bersama orang yang dibencinya dengan sangat akrab.


"Ternyata dia orang yang cukup berada, keluarganya hampir seluruhnya pejabat publik. Cukup mudah dapatin bukti kejahatan mereka kalau harus nguras uang dan pendekatan yang beda, kayak gini." Ujung telunjuk itu menyentuh selembar foto memuakkan. Bagaimana tidak muak jika yang ditampilkan pelukan mesra yang dihias tawa bahagia dari orang yang dibencinya.


"Oh.. Aku ngerti sekarang. Jadi ada yang mau berperan jadi Mas aku lagi gitu ceritanya di sini.. Ckckck." Berdecak menyepelekan, Ara tahu sekarang maksud dari pertemuan kaku itu, "Jadi, apa yang bisa Mas ku lakuin buat aku A-DIK mu yang udah dibuang?" Tersenyum sinis Ara memandang sosok yang rupanya Mas Ega. Sengaja Ara menekan kata 'adik' sebagai bentuk sindiran.


"Mas bakal deketin dia. Buat dia seolah-olah ada affair sama Mas. Lagian dari info juga dia punya selingkuhan. Lebih lagi, kita bisa hancurin keluarganya sekalian dari bukti korupsi."


"Selingkuh? Ha ha ha.." Menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri, Ara tertawa garing. Tawa untuk dirinya yang sudah dihina jalang dan murahan. Tawa lainnya ia tujukan pada Bang Dewa yang bodoh, demi cintanya yang amat sangat bodoh itu ia tutup mata akan tingkah gila kekasihnya pada orang lain. Dan kabar baiknya mereka masih bersama. Dasar pasangan menjijikkan.


"Mereka orang licik yang pintar main cantik. Susah buat masukin dia ke perangkap kita kalau gak masuk ke sarangnya dulu. Kita harus giring dia keluar dari zonanya."


"Yakin bisa? Kalau nanti ada benih cinta gimana? Cantik loh dia." Menyunggingkan senyum miring, sudut bibir kanan Ara tertarik ke atas.


"Walaupun dia cantik juga bakal bikin orang yang tau busuknya ilfil."

__ADS_1


"Hati-hati. Gak ada yang tau dimana dan kapan kita bakal jatuh. Kali aja Mas yang bakal terperangkap." Berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke depan Mas Ega, Ara tekan setiap kata yang diucapkan. Ara tidak bisa mempercayai siapapun, namun ide Mas Ega boleh dicoba.


"Apa perlu kita buat video syur dia?"


Deg


Tercenung Ara memproses kalimat yang baru saja didengarnya. Ara tidak percaya Mas Ega bisa memiliki ide seperti itu. Akal sehat Ara seolah berhenti bekerja, Ara ingin mengiyakan ide penjebakan itu. Namun ada sesuatu mengganjal tertahan yang menolaknya, lagi-lagi hati Ara terlalu lemah.


...----------------...


Di pinggiran kota B, tepatnya pada rumah bata yang belum di plester apalagi di cat berkumpul 6 orang laki-laki dewasa. Pakaian berwarna gelap milik keenamnya tidak mendominasi aura gelap yang menguar dari sosok Mas Ega.


"Urus semuanya. Jangan sampai adik ku tau." Ucap Mas Ega pada 5 orang laki-laki dewasa dihadapannya.


"KAMU!! Tebus dosa mu dengan benar." Menunjuk penuh amarah, ucapan bernada tinggi Mas Ega tujukan pada salah satu diantara kelima laki-laki itu. Tidak ada suara yang menjawab, hanya jawaban berupa anggukan yang tertangkap.


"Mas tau Ra, kamu pasti berat untuk memilih membalas atau merelakan." Ucap Mas Ega dalam hati sambil merogoh ponsel dari saku celana katun miliknya.


^^^✉^^^


^^^Aku kangen. Jam 7 aku tunggu di restoran hotel Cempaka palace.^^^


Oke sayang.. Aku juga kangen banget sama kamu.


Melihat balasan dari pesannya menyeruakkan rasa muak, jijik dan geram menghiasi wajah Mas Ega dengan rahang kokoh yang mengeras. Digenggamnya erat ponsel miliknya. Pembalasan untuk adiknya akan segera ia mulai.


...----------------...


Tepat jam 7 malam seorang wanita, entah gadis atau bukan sedang berjalan bersama seorang pelayan menuju meja yang telah di reservasi dengan anggun dalam balutan dress lilac selutut. Sedangkan di ruang biru laut pada waktu yang sama Ara sedang mengamuk. Lengan tangannya sudah penuh cakaran, bahkan lehernya sudah memerah bekas cekikan.


Tidak tahu jelas akan sebabnya, sebentar Ara akan tertawa lepas kemudian ia menangis tanpa air mata dan tetap diselingi tawa yang pilu. Tablet obat bertuliskan nama Rizodal-2 Risperidone dan Merlopam Lorazepam berceceran di lantai.


Disilangkan kedua tangannya di depan dada, Ara melakukan butterfly hug. Emosi dan akal sehatnya bertempur hebat.


Hingga kesadaran mulai memenangkan pertempuran, pisau lipat di sela buku menarik perhatian Ara.


“Bukan aku yang harus mati, tapi mereka yang menyakiti. Akan aku bunuh mereka semua!!” Menggeram dengan rahang mengeras, nafasnya tersekat di tenggorokan. Di sudut ruangan bernuansa biru laut Ara mencengkeram erat pisau lipat di tangan kanannya.

__ADS_1


"HA HA HA.. HAHAHHA.. HA HA Haa.. HUU.. Huuh.. Huuuaa.. Hiks.. Hiks.. Hahaha.. Ha ha ha.. Hiks.. Hiks.." Suara tawa atau tangis itu kembali lolos dari bibir Ara. Bayangan gila muncul di pelupuk mata Ara. Seolah ia sedang menyaksikan orang-orang yang dibencinya tertikam berkali-kali, tergeletak bercucuran darah.


......Bunuh......


......Mati......


......Bunuh......


......Bunuh......


......Bunuh mereka......


Bisikan halusinasi kembali bergema. Ingin rasanya Ara telan semua pil putih itu, namun ia masih sadar untuk tidak mati konyol.


Turun dosis obat benar-benar menyiksanya. Insomnia, kecemasan dan halusinasinya semakin parah. Bahkan keinginan bunuh diri semakin menjadi-jadi. Tapi Ara bisa apa jika hanya harus pasrah menerima kondisinya atau kalah dengan mati konyol.


Kekalutan Ara lama-kelamaan lenyap. Mata Ara menggelap, kesadarannya menghilang. Seperti sudah kebal Ara tetap pada posisi meringkuk di lantai dingin.


"Ngapain ke sini gak bawa uang? Mau minta-minta ya?"


"Harusnya dulu Mas Yudith ninggalin perempuan sama anaknya itu. Kalau gak pasti udah jadi mantu juragan Santo Bu."


"Anak orang kaya kok nyusahin suaminya. Buat apa kalau gak bisa dimanfaatin. Kamu nanti jangan jadi benalu kayak si Lauritz itu Kar."


"Ini juga anaknya kok bisa jelek banget sih Bu? Jangan-jangan bukan anak Mas Yudith lagi."


"Adiknya aja hamil duluan. Bisa jadi ini bukan anak Yudith."


Di atas lantai yang tetap dingin itu, tubuh penuh keringat Ara bergetar. Sisi luar jari telunjuknya sudah luka tergores kuku ibu jarinya. Mimpi yang Ara alami tampak nyata. Kejadian masa kecilnya kembali terulang dalam mimpinya. Ara merasa terpuruk, merasa tidak ada yang menginginkannya.


...****************...


Rizodal : Obat yang mengandung Risperidone sebagai zat aktifnya diindikasikan untuk psikosis skizofrenik akut dan kronis, kondisi psikotik lain dimana gejala positif dan negatif mendominasi. 


Risperidone : Obat dengan fungsi untuk mengatasi gangguan mental/mood tertentu, seperti schizophrenia, gangguan bipolar, dan iritabilitas yang berhubungan dengan gangguan autis.


Merlopam : Obat untuk mengatasi gangguan kecemasan (ansietas) dengan memberikan efek menenangkan serta mengatasi gangguan kesulitan tidur (insomnia). Merlopam tablet mengandung zat aktif lorazepam.

__ADS_1


Lorazepam : Golongan obat benzodiazepin yang bekerja pada otak dan sistem saraf pusat untuk menghasilkan efek menenangkan. 


Butterfly Hug : Bentuk stimulasi mandiri untuk meredam rasa cemas dan membuat diri menjadi lebih tenang dengan cara meletakkan telapak tangan pada pundak/bahu secara bersilangan untuk merefleksikan efek seperti pelukan.


__ADS_2