
Tepat pukul 9 malam, kala itu di depan tanaman kaktus setinggi betis seorang gadis tengah berjongkok mencabuti duri-duri kaktus itu. Tidak ada rintik hujan apalagi suara gemuruh atau bahkan kilat dan petir yang mendramatisir suasana mencekam di taman samping rumah berlantai dua itu.
Ara mengepal erat ponsel di tangan kanannya. Satu pesan dari Mas Ega mampu membuat Ara menyeringai tipis.
đź“©
Mas Ega
Hadiah Mas udah sampai kan? Itu belum semuanya. Kamu pasti bakal lebih suka hadiah selanjutnya.
"Ternyata emang dia yang bikin ulah. Bagus juga kerjanya. Ha ha ha.." Tawa lirih dan tertahan Ara cukup menyeramkan. Kilatan mata penuh amarah Ara tampaknya masih sangat kehausan.
^^^✉^^^
^^^Ara^^^
^^^Aku tunggu hadiah selanjutnya. Jangan kecewain aku lagi Mas ku tersayang.^^^
Mas Ega
Gak akan. Hadiah itu bakal lebih mewah.
Mengabaikan pesan terakhir dari Mas Ega, Ara berdiri dari posisinya. Ara remas kuat-kuat kaktus yang sudah botak seperempat bagiannya itu. Sekilas seringai di sudut bibir Ara kembali muncul.
"Kakak udah malam ini. Masuk!! Gampang kembung gitu masih di luar aja jam segini." Ucap Papa Yudith di ambang pintu.
"Kakak cuma belum ngantuk Pa, makanya keluar sebentar. Lagian hari ini panas banget kok." Ara berjalan cepat menghampiri Papa Yudith yang tampak akan menutup pintu.
"Panas-panas juga kalau tidur tetep nyalain kipas terus selimutan sampai kepala di kekepin kayak lontong. Boros listrik Kakak itu." Celetuk Papa Yudith.
"Kalau gak dinyalain panas Pa. Tapi kalau dinyalain jadi semilir cihuy gituuuhh.. Ahahahhahaa.." Gelak tawa Ara memenuhi kesunyian malam kala itu meninggalkan Papa Yudith di lantai bawah. Berlalu ke kamarnya, Ara rebahkan kasar tubuh yang tidak terasa ringan sepenuhnya itu.
...----------------...
"KAKAK!!!" Suara teriakan memekik dari luar rumah yang pastinya milik Mama Lauritz menggema di pendengaran Ara dan seluruh orang yang tengah menyantap sarapan di meja makan kala itu.
"Aphua sih mah?" Jawab Ara dengan suara tidak kalah kuatnya. Mulut penuh itu hampir menyemburkan nasi serta sayur sop tanpa kaldu ayam kesukaan Ara.
"Kak telan dulu makannya. Kayak kedelai makan aja." Ucap Jona pada Ara sang Kakak.
"Keledai Mas." Ucap Rian membenarkan ucapan Jona.
"Haduh.. Punya nama juga kok mirip padahal gak kembar." Gerutu Jona sambil mencomot ayam goreng lengkuas untuk kedua kalinya.
"Aduh.. Aduh.. Ma.. Ampun.. Kenapa lagi sih?" Suara Ara meninggi seiring tarikan di daun telinga kanannya kian menguat. Mama Lauritz tiba-tiba sudah di samping Ara dengan sekop kecilnya.
"Sumpah ini sakitnya.." Celetuk Ara melanjutkan ratapannya, "Lagian kayak pakai jurus seribu bayangan aja Mama udah ada di sini." Gerutu Ara sengaja ingin Mama Lauritz mendengarkannya.
"Yang rusak kaktus Mama pasti Kakak kan?" Melotot tajam Mama Lauritz pada Ara.
__ADS_1
"Papa kali Ma. Yang terakhir dari arah taman samping semalam tuh Papa kali Ma." Seketika mematung Papa Yudith, sendok berisi tempe goreng di depan mulut yang siap dilahap terpaksa macet.
"Mulutnya ini suka bohong banget." Mama Lauritz mencubit sekilas bibir Ara dengan gemas.
"Sabar ya Pa. Kakaknya Jona cuma satu. Anak Papa yang perempuan juga cuma satu. Jangan digadai ya Pa!?" Ucap Jona menatap Papa Yudith dengan binar mata yang dibuat sesedih-sedihnya.
"Salah Papa dulu adu doa sama Mama kalian. Papa pengen anak cewek, Mama pengennya cowok. Akhirnya keluar bentukan kayak Kakak kalian ini yang kayaknya cewek jadi-jadian. Sedih Papa jadinya." Akting layaknya opera sabun itu tampaknya akan bersambung sampai episode ke 10.000 bila tidak segera dihentikan.
"Udah deh. Ara udah selesai makannya. Gak Ara cuci ya Ma.. Biasa Ma, udah telat." Celetuk Ara terpaksa mengakhiri drama pagi, "Oya, intinya Papa itu Ma yang rusakin. Marahin aja tuh Papa." Mengedipkan sebelah matanya, Ara ingin secepatnya meluncur ke kampus. Kebiasaan Ara suka berangkat di waktu-waktu yang mepet.
"JOONNNAAAAA!!!" Belum ada 5 menit sosok Ara hilang dari ruang makan, namun suaranya sudah sampai kembali ke ruang makan.
"Kenapa Kakak mu itu Mas?" Tanya Papa Yudith khawatir sembari mulai berdiri.
"Hehehe.. Paling bensin motornya habis. Kemarin Jona pakai sengaja gak ngisi di pom bensin." Terkekeh tanpa dosa Jona mengucapkan kalimat tidak berakhlak itu dengan lancar dan mulus.
...----------------...
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Turn me up so they can hear this
Louder
Your favorite boys are back
Ok something like this
Welcome to the jungle
garyeoboja chwego
i paneul dwieopeul
deungjang gidaehae let's go
...
(A.C.E - Goblin {Favorite Boys})
"Kenapa?" Tanya Ara ketus sebagai sapaan panggilan itu.
[Jangan galak-galak sama Mas.]
"Iya Mas ku sayang.. Kenapa nih tiba-tiba telpon Dedek??" Nah sekarang ini malah jadi menggelikan mendengar suara Ara yang dibuat seimut dan semanis mungkin.
[Mas jemput pulangnya. Nanti kabarin 15 menit sebelum pulang. Mama bilang kamu gak bawa motor.] Tampaknya orang di seberang panggilan itu tidak terganggu sedikitpun.
"Hish!! Gara-gara Jona habisin bensin pinky gak kasih tau nih. Kesel!!" Geram Ara sampai ingin membanting ponselnya, namun sadar ia masih belum mampu membeli lagi bahkan yang bekas sekalipun.
__ADS_1
[Jangan lupa kabarin pas pulang. Ada yang Mas mau bahas juga. Kamu pasti suka.] Tegas suara itu lalu mengakhiri panggilan.
Sudut bibir kiri Ara tertarik ke atas mendengar kalimat terakhir Mas Ega. Segala macam skenario baik, buruk, kejam bahkan menjijikan sudah berlarian di saraf otaknya.
Hubungan Ara dan Mas Ega perlahan tampaknya membaik. Kisah yang didasari kasih sayang antara keduanya lebih erat dari hanya sekedar hubungan darah. Hingga mau tidak mau amarah yang tercipta bertahun-tahun dapat lenyap seketika, meski tetap ada drama penolakannya.
"Nada dering ganti lagi Ra?" Ucapan Yuki mengejutkan Ara yang sedari tadi masih berada di dalam angan-angan pembicaraannya dengan Mas Ega.
"Iya. Ini lagu dari A.C.E, mereka underrated banget. Sama kayak N.Flyng. Padahal lagunya bagus-bagus." Celetuk Ara sembari membuka folder galeri yang penuh dengan wajah-wajah glowing melebihi miliknya.
Tanpa disadari oleh Ara, perlahan-lahan Yuki menjauhi posisi Ara seakan ingin kabur. Sinyal tanda bahaya bagi Yuki nampaknya tiba-tiba aktif. Si pendiam Ara akan menjadi layaknya pemimpin orasi demo saat mempromosikan hal-hal kesukaannya itu.
...----------------...
"Kok ke kafe ini sih?" Bersungut-sungut Ara memanyunkan bibirnya. Membuang pandangan ke arah jalan raya yang jauh di depannya.
"Kan deket sama kampus mu Dek. Lagian disini enak, murah, terus Mas udah lapar banget." Jawab Mas Ega cepat sambil berlalu meninggalkan Ara yang masih di parkiran kafe.
"Kenapa gak suka? Bukannya dulu kamu yang ajak Mas ketemu di sini?" Tanya Mas Ega sesaat setelah Ara menjatuhkan tubuhnya ke kursi kayu di seberangnya.
"Ini kok tumben pelayannya gak nyamperin ya?" Ara tidak menjawab pertanyaan Mas Ega, malah ia mengalihkan pembicaraan sembari mencari-cari sosok pelayan kafe.
"Udah pesen tadi langsung ke meja kasir itu. Nasi goreng mercon sama es jeruk peras kan?" Mengernyit heran Ara pada Mas Ega yang tahu apa yang ingin ia pesan.
"Jadi apa yang mau di bahas?" Lagi-lagi Ara mengalihkan pembicaraan, sepertinya level kurang ajar Ara sudah meningkat pesat. Sedangkan Mas Ega hanya mampu mendesah pasrah pada sosok Adik kecilnya yang ia ingat dahulu sangat manis itu.
Merogoh ponsel yang baru pertama Ara lihat, Mas Ega menunjukan sebuah video pada Ara.
"EH!! SIAL!!" Ucap spontan Ara bernada tinggi mengejutkan pengunjung kafe lainnya. Ketika kesadarannya tertata kembali, Ara langsung saja menggerakkan bibirnya mengucapkan permintaan maaf tanpa mengeluarkan suara ke segala penjuru arah.
"Ngapain coba nunjukin video begituan sama Ara? Ajaran sesat!!"
"Cih!! Sini kasih ponsel mu sama Mas. Pasti kalau Mas hack banyak tuh video-video yang lebih dari ini." Merah sudah wajah Ara menahan malu dan kesal yang secara bersamaan saling memuncak.
"Ya tapi gak dibagi-bagi juga."
"Nah kan ketahuan suka nonton ginian sendiri." Menaik turunkan kedua alisnya, Mas Ega berhasil menggoda Ara habis-habisan.
"Uang Mas banyak ya bisa secepat ini ngurus mereka?" Lagi dan lagi, sepertinya mengalihkan pembicaraan dengan Mas Ega akan menjadi kesenangan baru bagi Ara.
"Kamu lupa ya? Ayah kandung Mas kan yang punya rumah sakit di bawah Mahendra Grup di Kota K sama Kota Y. Walaupun Ayah Arya sama Ibu udah pisah, dan Mas masih gak pegang kendali penuh gara-gara masih belajar juga tetep ada hak Mas di situ. Bakal terus ada pemasukan dari hasil operasional rumah sakit yang masuk ke rekening Mas. Mas mu ini KA-YA, jadi manfaatin Ra." Tersenyum sekilas Mas Ega pada Ara.
Masih hangat dalam ingatan Ara saat ia berusia 3 tahun menyaksikan Om Arya dan Tante Laura menikah. Tidak lama setelah pernikahan berlangsung, tentu sudah jelas kejadian menyesakan dimana Mas Ega yang dibawa pergi tanpa izin pada Mama Lauritz dan Papa Yudith terjadi.
Setelah sekian lama tidak ada kabar rupanya orang tua kandung Mas Ega itu sudah berpisah. Fakta yang paling mencengangkan adalah Tante Laura yang sudah menikah lagi 2 bulan setelah perpisahan. Memang tidak ada yang salah, namun menjadi salah bila statusnya sampai saat ini masih sebagai 'istri simpanan'. Harta membutakannya lagi, padahal Om Arya sudah cukup kaya raya.
Kembali pada Ara dan Mas Ega yang sudah selesai menyantap hidangannya. Ara kembali membahas rencana pembalasan selanjutnya. Ia ingin terlibat sendiri dalam rencana itu. Meski Ara senang kebusukan yang Dinda dan keluarganya simpan akhirnya merusaknya sendiri, namun kepuasan batin Ara rasanya tidak terpenuhi bila tidak menghancurkan dengan tangannya sendiri.
"Aku mau temuin pacar perempuan itu. Aku pengen lihat sekuat apa hubungan mereka. Kalau bisa di depan pacarnya aku pengen hancurin hidup perempuan itu. Aku mau pandangan jijik harus ada di mata pacar dia." Menyeringai tipis sekilas. Ada pancaran kerinduan dan kebencian yang secara bersamaan dapat ditangkap oleh Mas Ega dari sorot mata Ara.
__ADS_1