
"Huh.. Semua akan baik-baik aja." Tepuk Ara lembut beraturan ke dada bagian kirinya.
"Kalau dia aja bisa bikin keluarga ku susah, kenapa aku gak bisa? Iya, gak apa-apa. Ini cuma recehan kembalian apa yang dilakuin ke Mama Papa. Perjalananmu masih panjang Ra, jangan kalah." Lanjut Ara lagi. Kali ini Ara melakukan butterfly hug sambil duduk meringkuk.
Pembenaran.
Setenang apapun Ara terlihat, tetap saja perasaannya mudah goyah. Sebentar ia akan penuh amarah menggebu-gebu, namun secepatnya beralih menjadi rasa bersalah. Hanya ucapan dari dirinya sendiri yang terus berusaha meredam kegundahan dalam setiap langkahnya.
...----------------...
Saat ini senyum Ara terkembang di balik masker hitamnya. Debaran jantungnya seolah mengatakan kesenangannya akan segera di mulai. Ara tepat duduk di hadapan Tante Laura. Bisa dipastikan bahwa sosok yang lebih muda 7 tahun dari Mama Lauritz itu tidak mengenali Ara sama sekali.
"Baru kali ini aku ketemu pembeli yang teledor banget. Setiap Abang ngucapin mantra rahasia mu itu Ra, beh!! Mata itu Ibu-ibu kayak tuan crab liat dollar. Lagian kok kita bisa segampang ini sih?? Apa dia gak bisa perhatiin kwitansi sama bukti lainnya ya??" Celetuk Bang Gilang heran tanpa ditanggapi oleh Ara. Keduanya sedang berada di dalam mobil yang letaknya 50 meter dari perumahan Tante Laura.
Selama 10 hari berlalu, Bang Gilang hanya bekerja seperti biasanya di bengkel Papa Yudith. Tidak layaknya makelar tanah yang gencar promosi tanah seperti kebiasaannya bersama Ara. Demikian juga setelah pertemuan negosiasi jual beli hingga sampai akhirnya legalisasi berkas.
Tidak tahukah Bang Gilang bahwa Ara sudah melancarkan aksinya jauh-jauh hari sebelumnya. Salah satunya melakukan aksi nekat ikut bergabung dalam geng ibu-ibu tukang rumpi. Telinga dan bibir Ara terpaksa terlatih meliuk-liuk hingga tercipta kegaduhan dan berita yang mampu membakar siapapun yang mendengarkan.
Ara membeberkan status 'simpanan' Tante Laura dengan tambahan rempah-rempah khas gosip bahkan bumbu rahasia, serta tentunya mengobral masalah tanah murah, strategis, bakal investasi mewah dan banyak lagi tipuan kecut yang dilontarkan. Meskipun sempat hampir gagal karena salah satu anggota geng itu adalah istri pegawai pertanahan.
Ara kini cukup puas bahwa ikan pancingannya sudah masuk sendiri dalam penggorengan. Meski Ara harus berbohong pada orang tuanya jika ada tugas ke kampus lain di luar kota, bahkan bolos kuliah. Tentu saja Ara sudah menutup mulut Bang Gilang rapat.
Hilang sudah 1 jatah nyawa Ara pada setiap mata kuliahnya selama seminggu penuh. Target memenuhi 10℅ nilainya dari absensi hanya tinggal kenangan.
"Ra.. Ini kenapa kita muter-muter aja sih? Lewat depan sana langsung lurus kali Ra.. Mana tadi parkir juga jauh banget dari rumah itu Ibu-ibu." Gerutu Bang Gilang mengisi keheningan yang sedari tadi hanya Ara isi dengan gerakan jari telunjuk kanannya dan kata 'kanan' atau 'kiri'.
"Biar nggak kena CCTV. Habis ini berhenti dekat pohon besar itu. Ganti baju mu Bang." Celetuk Ara menunjuk pohon di kiri jalan sambil melepas seatbelt bahkan sebelum mobil berhenti.
"Nih. Pakai!" Ara menyodorkan kantung kresek berisi baju yang disiapkannya untuk Bang Gilang.
"Udah bener-bener kayak maling tau gak kita ini Ra. Abang gak mau Ra pakai semua uang di koper itu. Takut jadi penyakit Ra." Frustasi Bang Gilang memikirkan kejahatannya yang baru saja lolos dengan mulus.
"Lagian siapa juga yang mau pakai semua uang itu?" Tanya Ara balik pada Bang Gilang sembari mengganti jaket dan menambah rok hitam panjang di luar celana yang sudah Ara kenakan sebelumnya.
__ADS_1
"245 juta aja yang bisa kita ambil. 230 juta kita kasih pemilik tanah. 15 juta buat abang aja, anggap aja kompensasi capek ngurus berkas. Sisanya bakal balik ke yang seharusnya punya." Ujar Ara santai.
"Maksudnya Ra?" Tanya Bang Gilang kebingungan.
"Sisa uangnya bakal aku kasih ke anak orang itu. Ada masanya uang itu bakal balik. Aku cuma mau nguras harta orang itu, bukan nikmatin hartanya walau recehannya sekalipun." Ucap Ara mantap sembari menatap Bang Gilang di sampingnya yang sudah berganti baju atasan.
Dalam akta jual beli jelas tertera bukti pembelian tanah sebesar 245 juta, bukan 2 milyar seperti transaksi yang telah terjadi. Tidak ada pula jejak transaksi digital kecuali pencairan uang yang dilakukan Tante Laura sendiri dan transaksi penjualan propertinya yang mungkin demi uang tambahan membeli lahan dari Ara.
...----------------...
Sedangkan di tempat yang berbeda pada waktu yang hampir bersamaan, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik tiba di halaman rumah yang baru saja Ara tinggalkan. Wanita itu tidak datang sendirian, ada 4 orang wanita sebayanya dengan dandanan tidak kalah menyilaukan dari tokoh utama.
Brak
Brak
Brak
Ceklek
"Ehh.. Bu Kirana!? Ada apa ya Bu?" Tanya ramah Tante Laura pada sosok wanita yang ternyata bernama 'Kirana' itu.
Plak
"KURANG AJAR YA KAMU!! MANUSIA BIADAB!!" Tamparan dan teriakan Bu Kirana yang sengaja dilancarkan guna menarik perhatian seluruh warga perumahan itu. Jangan lupa pula, 3 dari 4 orang wanita lainnya telah sedia dengan kamera ponselnya.
"Maksud Ibu apa nampar-nampar saya??" Tanya Tante Laura sembari memegangi pipinya. Kilatan amarah menguasai penuh di mata Tante Laura.
"KELUAR DARI RUMAH INI!! KAMU PIKIR BISA SELAMANYA MAIN BELAKANG SAMA SUAMI SAYA?? RUMAH YANG KAMU PAKAI INI HARTA SAYA!!" Semakin menjadi-jadi teriakan Bu Kirana. Beberapa orang bahkan sudah keluar dari rumahnya, tidak terkecuali geng Ibu-ibu rumpi tempat Ara pernah mengadu peruntungan.
"Maaa!!!" Suara bariton mengalihkan perhatian semua orang, namun tidak dengan Bu Kirana.
"Kita CERAI!!" Ucap Bu Kirana tiba-tiba menekan kata 'cerai' pada sosok yang memanggilnya. Mata tajam perempuan paruh baya itu akhirnya menyorot tajam.
__ADS_1
"Kamu itu cuma pegawai di kantor keluarga Mbak Kiran. Angkat kaki mu dari rumah dan kantornya sekarang juga!!" Salah seorang wanita pengikut Bu Kirana yang sedari tadi diam menyerahkan amplop coklat berisi panggilan pengadilan yang tersimpan di dalam tas mahalnya.
Laki-laki paruh baya yang rupanya suami Bu Kirana itu syok, begitu pula Tante Laura yang baru saja mengetahui fakta itu. Drama keluarga itu berlangsung dramatis dan alot. Kedatangan Bu Kirana memang adalah salah satu dari rencana Ara, namun bagaimana hasilnya Ara tidak perduli. Hal itu mutlak bukan urusan Ara lagi.
Keluarga besar Mama Lauritz memang kaya raya, namun hanya Om Alex dan Tante Bianca saja yang memanfaatkan uang kekayaan itu untuk membangun kerajaan bisnisnya. Sedangkan Tante Laura hanya mampu menghambur-hamburkan dan sombong pada kekayaannya. Bisa Ara bayangkan bagaimana gilanya Tante Laura setelah peristiwa itu.
...----------------...
Perjalanan yang memakan waktu hampir 5 jam itu berakhir di depan warung tenda pinggir jalan. Aroma ayam bakar menyeruak indra penciuman Ara. Rasa lapar tidak bisa menutup rasa lain yang sedari tadi mengganjal di hati dan pikiran Ara.
Rasa yang terus berkecamuk di hatinya tidak pernah padam sedikitpun. Ara tidaklah bahagia. Apa yang telah ia lakukan tidak membuatnya benar-benar puas.
"Apa udah benar yang aku lakuin ini??" Gumam Ara yang sudah ditinggalkan sendiri di dalam mobil oleh Bang Gilang.
"Hahahahaha.. Haah.. Hiks.. Hiks.. HA HA HA.. Hiks.. Kenapa aku gak bahagia?? Hiks.. Hiks.. Huh.. Hahaha.." Ara menangkupkan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Ara frustasi, ia tidak bahagia sedikitpun. Kondisi Ara saat ini justru terlihat jelas semakin tidak bahagia sama sekali, ia menderita. Air matanya terus menetes.
Ara memang tidak akan mampu menciptakan sesuatu yang seperti neraka bagi orang lain, karena neraka kecil itu hanya bisa diciptakan diri orang itu sendiri. Ketidakmampuan seseorang menghadapi hidupnya sendirilah yang membuatnya berada dalam bayang-bayang neraka kecil itu. Akan tetapi, saat ini rasanya Ara juga merasa berada dalam ketidakbahagiaan orang yang ingin dihancurkannya.
...****************...
*
*
*
Butterfly Hug udah dijelasin ya di episode sebelumnya.. kalau ada yang lupa bisa scroll ulang ya😁
Kalau mau yang lebih cepat ya cari ke si Mbah aja😉
Terima kasih sudah mengikuti cerita Ara sampai sini.. Jangan pernah bosan buat nunggu kelanjutan cerita Ara ya..
Sayang, Peluk, Cium dari aku, Hana Hikari 🥰😘😘😘
__ADS_1