Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Bu Dian


__ADS_3

Kepala Ara terasa berat menahan rasa mual yang didera tidak kunjung membuat Ara memuntahkan isi perutnya. Beban pikiran menekan menghantam kuat disertai gelombang kenangan masa kecil yang lebih pahit daripada senyawa kimia denatonium.


"Pa, mampir ke tempat makan ya.. Kakak lapar." Ucap Ara bohong, perutnya masih sangat penuh dengan sarapan sepiring nasi pecel tumpang ditambah semangkuk mie ayam pangsit belum lama ini.


"Oke." Jawab singkat Papa Yudith. Sifat Ara yang mudah kelaparan saat marah atau merasa tertekan benar-benar turunan dari Papa Yudith. Rupanya gen tersasar yang sempat Ara ragukan masih sedikit menyangkut di diri Ara.


"Kakak mau makan apa??"


"Apa aja Ma, yang penting pedes."


"Jangan makan pedesnya banyak-banyak Kak.. Asam lambung mu itu tinggi. Nanti melilit sakit perut."


Melahap habis sepiring lontong berkuah kacang khas sate ayam, perut Ara yang sudah terasa teraduk itu kini sudah mampu mendorong pasokan makanan. Di dalam sebuah toilet umum warung sate pinggir jalan, Ara memuntahkan isi perutnya hingga hanya tersisa cairan bening asam dan pahit menyerbu indra pengecapnya.


"HAH!! Sial!!" Kutuk Ara pada dirinya sendiri. Perut Ara sudah terasa ringan meski kerongkongannya menjadi panas, perih dan sakit. Lebih baik dibandingkan harus menahan gejolak di perutnya yang tidak jelas ingin apa.


Memilih menutup matanya selama sisa perjalanan, Ara tidak pernah bisa terlelap. Otaknya terus bekerja menyusun strategi. Lebih baik mati dibandingkan harus hidup di bawah kendali orang-orang tidak berotak dan tanpa hati nurani.


"Kak.. Bangun dulu.."


"Dimana??" Pura-pura bertanya pada Mama Lauritz, Ara masih mempertahankan akting seolah tidurnya terganggu.


"Di bengkel Papa.. Jemput Jona sama Rian sekalian. Mau turun ambil minum di dalam gak??" Tanya Mama Lauritz sambil menunjuk bangunan warung kecil miliknya yang menyambung di sisi kiri bengkel Papa Yudith.


"Iya. Mama turun aja duluan, nanti Kakak nyusul." Menatap Mama Lauritz sekilas, Ara kembali terpaku pada sosok Gilang yang berjibaku dengan oli hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya.


"Bang Gilang.." Panggil Ara lirih pada Gilang. Ara ikut berjongkok di depan Gilang yang sibuk mencuci mesin dengan semprotan bensin menggunakan botol yang tutupnya dilubangi tengahnya sedikit.


"Kenapa?" Tanya Gilang tanpa memandang Ara.


"Besok ikut Ara yok Bang!?"


"Kemana??" Mengernyit heran Gilang pada Ara. Tidak seperti biasanya sekali cara Ara mengajaknya. Tidak ada kalimat perintah memaksa, kali ini justru sikap Ara terkesan sok manis.


"Ikut aja. Pokoknya besok ya?? Ara bilangin ke Papa nanti, mau ya?" Bujuk rayu Ara dengan mata berbinar penuh permohonan.


"Kalau Abang gak mau gimana?" Tanya Gilang iseng sembari memanyunkan bibir bawahnya. Seketika wajah Ara berubah datar, dingin dan sorot matanya menghunus tajam.


"Yakin gak mau??" Bukannya kembali membujuk Gilang, justru senyuman miring menghiasi wajah Ara. Sudut bibir kanan Ara tertarik naik, kedua alisnya perlahan juga ikut naik membuat kerutan di dahi Ara.


Horor


Kesan mencekam akhirnya Gilang rasakan. Menengguk air liurnya secara kasar, jakun Gilang sempat naik turun tidak jelas.


Diletakkan segala barang yang tangannya pegang, Gilang tatap Ara dengan senyum terpaksa. Harusnya ia setujui saja langsung permintaan Ara sebelum roh singa dan badak bergabung bersama jiwa bar-bar Ara.


"Iya deh.. Iya.. Abang ikut aja. Tapi Abang gak ada uang loh Ra. Jadi jangan minta di traktir ya?" Terkekeh Gilang mengusap tengkuknya tanpa sadar tangannya yang masih kotor sudah meninggalkan jejak karya menghitam di kerah kaosnya.


"Cih!! Emang siapa yang biasa traktir kalau bukan Ara?" Berdecih Ara berujar dengan sewot pada Gilang.


"Ya ada lah.."


"Siapa??" Tanya Ara dengan alis nyaris saling bertautan.


"Anaknya Pak Yudith. Hehe.." Mendelik sebal Ara pada jawaban Gilang.


...----------------...


Melepas pengait helm di parkiran sebuah toko baju yang cukup besar, saat ini Ara mengajak Gilang untuk berburu baju. Belum Ara bagikan ide gilanya pada Gilang, Ara harus memastikan properti pendukung siap dan akan memohon pada Gilang jika memang terdesak. Bagi Ara tidak harus terburu-buru membawa Gilang, pikiran terburuk menjerumuskannya dalam pernikahan bersama Gilang selalu menjadi pengingat Ara.


"Bang.. Ini dari Papa.." Menyodorkan selembar uang merah dan biru, Ara menggerakkan tangannya seolah mengipasi Gilang.


"Buat apa??" Tanya Gilang kebingungan.


"Kata Papa buat kita jajan."


"Udah, kamu aja Ra yang bawa." Tolak Gilang pada uang yang sudah ada dihadapannya.


"Katanya Abang itu laki-laki, jadi biar Abang yang kelihatan keluarin uang. Padahal emang sama aja kalau Ara yang pegang."


"Nah itu tau."


"Iya sih, kalau mau Abang yang bayar juga tinggal Ara selipin di tangan Abang terus pura-pura dah itu keluarin dari dompet sendiri. Ya kan?? Tapi repot lah, mending langsung masuk dompet Abang. Lagian nih ya, Papa suruh Ara kasih ini uang ke Abang." Ucap Ara santai, tidak ada niat menyinggung sama sekali. Akan tetapi Gilang sedikit merasa tercubit karena ketidakmampuannya hingga harus menerima uang orang tua Ara yang mungkin hanya demi semangkuk bakso urat dan segelas es teh manis.

__ADS_1


"Coba aja orang tua Abang kayak Om Yudith sama Tante Lauritz.. Pasti gak semiris ini nasib Abang."


"Bukannya orang tua Abang udah gak ada??" Tanya Ara dengan bodohnya.


"Bukan berarti mereka gak pernah hidup ya Ra!!" Mendelik kesal Gilang pada Ara.


"Mau yatim-piatu ditinggal mati atau kita yang dibuang sampai dari bayi gak pernah ketemu sekalipun semua anak itu punya orang tua. Salah kalau bilang mereka itu gak punya orang tua, yang bener itu figur sosok orang tua yang gak ada. Bahkan yang wujudnya kelihatan aja kadang gak bisa jadi figur orang tua yang baik juga banyak kan?? Tapi balik lagi ke intinya, semua anak itu punya orang tua. Kalau gak punya mau brojol lewat mana hah!??"


Penjelasan panjang lebar dari Gilang mengiringi setiap langkah keduanya menjelajahi isi toko baju campuran. Bisa mendelik tercekik Ara jika harus membelikan baju untuk Gilang di toko atau butik khusus pakaian pria.


"Ya udah santai kali Bang.. Jelasin sih tinggal jelasin, gak usah di hah segala.. Untung gak bau pete."


"Nanti di kamar mandi bau nya."


"Maksudnya??"


"Abang gak makan pete, tapi jengkol."


"Lah kok tumben!!??" Melotot kaget Ara yang sangat tau Gilang tidak suka pete apalagi jengkol, 2 bersaudara bau itu mampu menyiksa Gilang.


"Dipaksa Om Yudith makan sambal jengkol teri yang beli di warteg seberang jalan agak ke sana dikit itu. Lagian sok-sokan beli banyak buat orang sebengkel, lah kan Abang udah gak mau diancam turun pangkat jadi tukang ban aja. Rusak harga diri kalau level ban. Tau gitu tadi gak mampir ke bengkel dulu." Keluh Gilang pada Ara.


"Ya kali aja ban Caterpillar Bang. Kan gak turun level jadinya."



"Dasar gila!!"


"Udah deh sana.. Cepetan dicoba ini bajunya dulu. Udah pegel banget kaki ku Bang.." Merengek mencebikkan bibirnya Ara tidak lupa menambah tingkah sok imutnya dengan menghentakkan kaki gemas. Setelah hampir setengah jam menyusuri bagian pakaian pria, Ara justru menjatuhkan pilihannya pada setelan celana bahan katun hitam, kemeja putih dan jas yang tidak lupa dilengkapi dasi hitam.


Apa sebenarnya Ara ingin memaksa Gilang menjadi pegawai magang?? Tapi, dimana dan kenapa?


"Ya ampun Bang.. Ganteng banget sih Abang ku ini.." Ucap Ara takjub pada penampilan Gilang. Jika Gilang menjadi pegawai magang, sudah pasti ia akan lolos kategori 'bintang magang', 'si ganteng anak magang' atau apalah lainnya itu menurut Ara.


"Lebay!!"


"Bilang orang lebay, tapi dipuji gini mesem-mesem gitu.. Munafik!! Gak usah disembunyiin itu senyumnya.. Gak rontok lah Bang gigi mu itu kalau tarik dikit itu bibir." Ucap Ara ketus sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Ck!! Galak banget sih Ra!?"


"Ya ampun ini bocah. Ckckck!" Berdecak tidak percaya Gilang pada tingkah Ara.


"Udah diem dulu Bang, mending bergaya gih. Siap yaa.. 1, 2, yak!! Lagi Bang lagi.."


"Belum Bang.. Lagi sekali lagi, tadi jelek." Ucap Ara lagi saat Gilang hendak melangkah pergi.


"Kalau jelek kenapa diambil?"


"Kali aja pas seleksi ulang jadi bagus kan gak ada yang tau Bang." Mencebikkan bibirnya, Ara tatap Gilang dengan penuh permohonan.


"Cepet Bang gaya, malu ini." Ucap Ara sekali lagi.


"Udah jelas gara-gara dia jadi bikin malu!"


"Siap ya Bang.. Ara ambil dari samping ini.. 1, 2, yups!! Sip bagus ini.. Dah ganti sana Bang terus kita bayar."



"Ra.. Buat apa Abang beli ini?? Gak bisa beli dulu, masih ketar-ketir ini uangnya."


"Ara yang mau beliin Bang.


"Serius Ra?"


"Iya, dah sana!"


"Beneran nih? Gak minta yang aneh-aneh kan?"


"Gak, paling ini baju Ara tahan dulu dan Abang pakainya tunggu Ara suruh."


"Pelitnya masih gak hilang juga rupanya.. Ini udah kecium bau-bau minta sesuatu nih." Memicingkan matanya, Gilang melepas dasi terlebih dulu namun dibuat sok menggoda.


"Bang!! Buka di kamar ganti.. Bikin mata perawan melotot aja." Melebarkan bola matanya, Ara mendengus sebal pada Gilang sambil menepuk dahinya. Pasalnya banyak para gadis yang terpaku pada tingkah Gilang yang hanya sekedar melepas dasi.

__ADS_1


Berlalu meninggalkan toko baju yang cukup besar itu, Ara dan Gilang kembali memarkirkan motornya untuk membeli es degan pada penjual kaki lima.


"Itu kok kayak Yuki sih??" Tanpa sadar Ara melangkah dengan mata tetap terpusat pada sosok yang diyakini sebagai temannya, Yuki.


"Stop Ra!!" Ucap Gilang lumayan kuat. Mencekal bahu Ara sambil menggeleng pasrah, hampir saja petaka menghantam Ara dan Gilang.


"Kenapa Bang??"


"Sadar Ra.. Mau nyebrang jalan itu lihat kanan kiri dulu. Lagian kalau mau makan jangan ke situ.." Telunjuk Gilang mengarah pada bangunan mewah tempat mata Ara menangkap sosok Yuki. "Itu restoran mewah, gila aja mau masuk ke sana yang harganya langsung bikin gadai semua isi dompet kita aja gak cukup."


"Astaga Bang!! Untung aja Abang tahan.. Bikin malu aja nanti masuk cuma pesan air putih segelas bagi 2" Bukan memikirkan dirinya yang bisa saja tertabrak, Ara malah bersyukur disadarkan untuk tidak masuk ke restoran bernuansa klasik Eropa di seberang jalan. Sungguh perpaduan yang sangat tidak seimbang antara kiri jalan pedagang kaki lima bergerobak dorong, sedangkan sisi kanan diisi bangunan megah berkelas.


"Makanya jangan ngasal kali Ra.. Mau ditraktir juga Abang tau diri, mending ke rumah makan Padang aja biar bisa nambah kuah."


Seperti yang diinginkan Gilang, saat ini keduanya sudah duduk diam di rumah makan Padang menanti pesanan dengan lauk ayam goreng lengkuas, rendang dan perkedel kentang. Sudah pasti pula lengkap dengan daun singkong rebus, tambahan berbagai kuah dan ekstra sambal hijau. Memikirkannya saja sudah membuat Ara tambah kelaparan.


"Bu Dian?" Ucap Ara lirih saat matanya saling berpandangan dengan sosok yang sudah beberapa waktu Ara abaikan.


Masih ingat gencatan runtutan pesan pengagum Rava yang memenuhi layar ponsel Ara? Iya, salah satunya jelas milik Dian yang berisi banyak pertanyaan. Sudah mengabaikan isi pesan itu sekian lama, Ara kini harus berhadapan dengan sosok si penanya secara langsung. Belum lagi ingatannya tentang Rava si laki-laki sialan bagi Ara yang membual harapan palsu kembali muncul diingatnya.


"Berdua kamu?" Ucapan itu kini ketus, berbeda dengan cara keduanya berbincang sebelumnya. Tatapan Dian sama sekali tidak ramah.


"Iya, Bu. Ini Abang saya." Ucap Ara memperkenalkan Gilang yang hanya ditanggapi dengan lirikan malas.


"Ibu sendiri aja?" Ucap Ara lagi pada Dian.


"Oh gak dong. Saya sama Pak Kim. Kamu tau kan kalau saya dekat sama Pak Kim?" Mengernyit heran Ara pada nada sinis Dian, apalagi sejauh yang Ara perhatikan tidak terlihat sedikitpun Rava atau bahkan mobilnya di parkiran yang terlihat jelas dari bagian dalam rumah makan. Jika Dian dan Rava dekat juga Ara tidak terlalu perduli, lagipula Rava masih gencar mendekati Ara. Sangat jelas posisi Ara lebih melambung tinggi, ia tinggal mendepak Rava bukan menempel seperti lintah yang tidak tau malu.


"Jangan kecentilan kamu buat dekatin Pak Kim!! Kamu cuma mahasiswa yang sama kayak mahasiswa lainnya, jangan terlalu kepedean. Kalau bukan karena saya juga kamu gak akan dapat kesempatan dekat dengan Pak Kim!!" Ucap Dian lirih tepat di telinga Ara, tubuh yang menunduk itu seolah mengancam Ara. Sontak mata tajam Ara langsung aktif, wajah dingin mengerikan yang tidak pernah dilihat siapapun dan hanya muncul saat amarah Ara memuncak langsung tergambar jelas. Bukan hanya nama Aara yang berarti 'elang', namun sorot tajam mata Ara juga dapat menghunus seperti mata elang mengincar mangsanya.


"Saya gak pernah dekatin kok Bu. Paling dekat itu juga kalau Pak Kim tiba-tiba datang ke rumah saya bawain makanan, ngobrol sama Papa saya, modus belajar mesin mobil sama Papa atau bahkan ngajak saya jalan tapi alasannya penelitian. Ada-ada aja ya Pak Kim itu Bu??" Ucap Ara diakhiri tawa kecilnya, tawa penuh ejekan yang membuat Dian mengepal erat menahan amarahnya. Ingin Dian menjambak Ara saat itu juga jika tidak di tempat umum.


Sedangkan Gilang yang sudah tau situasi yang tidak menyenangkan itu hanya menunggu bila salah satunya bertindak kasar maka ia harus menyelamatkan sosok Dian. Sudah sangat yakin Gilang jika pertengkaran keduanya akan dimenangkan Ara.


Jangan pernah memancing amarah Ara bila tidak ingin terbakar habis sendirian. Jangan kira Ara akan takut dengan ancaman dari seorang Dosen yang sempat dihormatinya itu. Iya, hanya sempat karena sekarang rasa hormat Ara pada Dian sudah lenyap. Jika nilai menjadi masalah, Ara tidak akan segan mengajukan ke komite Universitas demi keadilannya.


...****************...


Denatonium : Senyawa kimia terpahit dengan ambang batas kepahitan 0,05 ppm untuk benzoat dan 0,01 ppm untuk sakarida. Bermanfaat untuk menghindarkan zat berbahaya dari manusia, terutama anak-anak dan hewan. Dimana umumnya ditambahkan untuk berbagai jenis cairan berbahaya seperti cat, pernis, sabun, shampo, cat kuku, dan berbagai produk rumah tangga lainnya. Selain itu juga ditambahkan untuk produk aerosol yang tidak berbahaya untuk mencegah penyalahgunaan inhalan dari uap yang mudah menguap.


ppm : Parts per Million atau per sejuta yang menyatakan miligram zat terlarut dalam satu mililiter larutan.


Contoh, 1 ppm


\= 1 mg/1000000 ml


\= 0,000001 mg/ml


*


*


*


Wah.. gencatan senjata nih bentar lagi Ara sama Dian😄


Kira-kira ada apa ya antara Rava dan Dian??🤔 Makin renggang deh hubungan Ara Rava, pendukung Rava terpantau nyata tampak kecewa ini🤭


Apa Ara akhirnya mengenalkan Gilang sebagai 'calon suami' ke Kakek Baren??😳


Bakal jadi boomerang gak ya rencana Ara??😏


*


*


Menyambut hari kemenangan yang suci besok, Hana di sini mohon maaf ya kalau banyak kesalahan yang tanpa Hana sadari menyakiti Kakak-kakak semua lewat balasan komen yang sekiranya menyinggung 🙏


Jari-jari yang dikontrol otak ini kadang meluncur sesuka hati tanpa sadar yang terkirim nyakitin perasaan orang lain😞


Selain itu, maafkan dosa besar Hana buat sesama teman author kalau Hana lama kasih feedback nya ya🙏 satu-satu dan pelan-pelan bakal Hana kunjungi.. Jujur Hana gak terbiasa BOM LIKE karya orang lain, karena mau like pelan-pelan sambil meresapi karya lain. Kan sambil membaca buat menghibur diri kita juga bisa sambil belajar😄


Terakhir, semoga kita semua tetap sehat, murah rezeki, diberikan kelancaran dalam setiap langkahnya😊

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2