
“Dok, Suster Nindy udah gak kerja di sini lagi ya?” Tanya Ara saat ketiganya sudah mendudukkan dirinya masing-masing.
“Iya, udah hampir semingguan dia kerja di klinik lain.” Jawab Dion santai.
“Di pecat?” Tanya Ara dengan raut gelisah. Jujur Ara tidak menyangka Nindy akan kehilangan pekerjaan dari klinik yang nyaris lebih dari 1 tahun ini rajin Ara sambangi.
“Nggak. Aku rekomendasikan dia ke tempat klinik kenalan aku.”
“Oh, gitu..”
“Kenapa?” Kali ini berganti Dion yang bertanya dengan rasa penasaran. Interaksi Ara dan Nindy layaknya elang dan ular yang selalu tampak baik-baik saja namun sengit tentu membekas diingatan Dion.
“Tadinya aku mau minta waktu Suster Nindy sebentar. Ada hal yang mau aku omongin.”
‘Pasti Bang Rava belum cerita ini.’ Gumam Dion dalam hati.
“Penting banget?” Tanya Dion pura-pura belum paham maksud pembicaraan Ara.
“Gak juga sih. Tapi karena gak ada orangnya kayaknya aku pulang aja deh.”
“Jangan!!” Ucap Yuki dan Dion serentak, namun jelas dengan makna yang berbeda.
“Eh..” Salah tingkah. Iya, Yuki salah tingkah. Pemandangan menggelikan yang pertama kali Ara saksikan.
“Oya, Dok, kenalkan ini Yuki teman terbaik ku.” Melambung tinggi Yuki yang disebut Ara sebagai teman terbaik. Ia merasa kesempatan tebar pesonanya akan naik level setelah ini.
“Dion..”
“Yuki..” Ucap Yuki lembut sambil menjabat uluran tangan Dion.
‘Bisa malu-malu juga ini anak.’ Ujar Ara dalam hati sembari melirik Yuki.
“Khem!!” Bukan maksud hati ingin menyindir atau menggoda, Ara hanya berusaha menahan gelak tawa nya lewat deheman keras.
“Dokter gak sibuk?” Tanya Ara mengurai atmosfir kecanggungan.
“Saya kebetulan lagi kosong sampai 10 menit ke depan.” Ucap Dion santai.
Sedangkan sosok perempuan yang sempat menyambut Ara dan Yuki sebelumnya sedang mengernyit bingung. Jelas ia direpotkan dengan Dion yang memundurkan 25 menit jadwal kerjanya, tidak ada kebetulan seperti yang baru saja dengan santai Dion ucapkan. Merasa bukan urusannya, ia hanya duduk diam di balik loket pendaftaran pasien.
"Mau coba ke kafe seberang dulu? Ada menu baru di sana.." Ucap Dion.
“Bukannya Cuma 10 menit kosongnya?” Celetuk Yuki.
“Eh, iya.. Cuma 10 menit ya..” Ujar Dion salah tingkah.
‘Arg, sial! Kenapa keceplosan Cuma 10 menit juga tadi..’ Membatin kesal di dalam hati, Dion menyugar rambutnya pelan namun kuat. Tiba-tiba ide jahil terlintas di benak Dion.
“Ra, coba kepala kamu bersandar ke dinding itu.” Tunjuk Dion pada dinding di samping kanan Ara.
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya Ara sembari mengamati dinding di sisinya.
“Bayangannya tadi kelihatan lucu..” Kilah Dion.
“Apaan sih!?” Mendengus Ara berujar sambil memutar bola matanya, menatap sekilas bayangannya di dinding yang biasa saja.
“Tolong sebentar aja, Ra..”
“Gini?” Tanya Ara lagi sambil menyilangkan tangan dan menyandarkan kepala nya. Dengan secepat kilat Dion memotret Ara. Kamera ponsel yang sudah siap sedia sedari tadi akhirnya dapat menangkap wajah manyun Ara yang terlihat sangat menggemaskan.
“Ih ngeselin!! Hapus gak!!??” Berdiri dan membentak kesal, Ara juga melebarkan kelopak matanya. Sedangkan Yuki hanya terdiam menganga, terperanjat dengan tingkah usil Dion.
“Iya.. Udah nih..” Ucap Dion sembari menunjukan ponselnya yang tertera persetujuan penghapusan foto.
“Iseng banget sih..!!” Mendengus kesal Ara menatap sinis Dion.
“Ternyata kamu bisa marah sama aku juga ya..” Terkekeh Dion menggoda Ara dengan kedua alis yang bergerak serentak.
“Ngeselin..!!” Ucap Ara ketus.
“Saya ambilkan minum dulu dari ruangan saya. Kalian jangan pergi dulu! Awas kalau saya datang lagi kalian udah pergi!!” Ujar Dion sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah menuju ruangannya sambil menyeringai.
^^^✉^^^
^^^Me^^^
📩
Bang Rava
Sibuk.
^^^✉^^^
^^^Me^^^
^^^Yakin? Aku mau mojok di klinik sama cewek cantik loh.^^^
Seringai di bibir Dion semakin melebar yang justru membuat wajah rupawan miliknya semakin menawan. Nyatanya foto Ara tidak benar-benar terhapus. Tersimpan di berkas sampah yang dapat dipulihkan. Jelas saja Dion tadi bisa dengan santai membodohi Ara.
Seakan semesta juga merestui, Ara yang biasanya menaruh penuh curiga tidak mengobrak-abrik isi ponsel Dion. Mungkin efek barang milik orang, begitu pikir Dion pada sikap Ara.
“Kapan lagi bisa bikin si beku meleleh instan kalau gak kayak gini..” Ujar Dion sambil menatap bangga ke arah ponselnya.
Sedangkan Rava yang masih berada di luar Kota nyaris sampai ke perbatasan antar Desa mengumpat keras. Memukul kemudi mobilnya dan menepi. Rasanya Rava ingin pulang dan menyeret Dion seketika.
Kerinduannya pada Ara memang sedikit terobati, namun bercampur kesal pada nama yang tertera sebagai si pengirim foto. Iya, Dion sengaja mengirimkan foto menggemaskan Ara pada Rava.
__ADS_1
Dion kesal pada Rava yang tidak berpamitan ingin pergi ke pelosok Desa. Ia justru secara tidak sengaja tau lewat pegawai kantor yang mengantarkan berkas titipan Rava ke rumah. Bahkan Dion yang sempat menghubungi ponsel Rava akhirnya menyerah begitu saja karena diabaikan. Jadi, pikir Dion anggap saja ini sebagai serangan balasan.
“ANGKAT DION!!!” Teriak Rava pada ponselnya. Panggilannya terus di tolak oleh Dion. Bukan hanya cemburu, Rava juga marah karena tidak bisa membawa Ara kemanapun ia mau.
“Adik SIALAN!!” Lagi-lagi Rava mengumpat. Berharap Dion terjungkal yang nyatanya si pelaku sedang tertawa kencang sambil meraih minuman dingin.
Masih dengan senyumannya, Dion terburu-buru menghampiri Ara dan Yuki. Ia yakin Rava akan berganti menghubungi ponsel Ara.
“Jangan diangkat!!” Seru Dion pada Ara yang baru saja meraih ponsel dari tas selempang nya.
“Itu pasti Bang Rava. Biarin aja dulu, Ra.. Bantu aku ngerjain dia.” Ucap Dion santai sambil meletakkan 2 botol minuman yang terdapat bulir-bulir jeruk Florida.
“Nah kan, lihat nih..!” Menunjukkan layar ponselnya yang tertera nama Rava, Dion tertawa nakal.
Belum puas menggoda Rava hanya dengan sebuah foto, Dion juga menolak mentah-mentah panggilan Rava di ponselnya. Terkikik geli membayangkan Rava yang pasti sudah kalang kabut kebakaran dan nyaris meledak.
Tidak sampai di situ saja, kekehan Dion semakin menjadi kala pesan dari Rava bernada ancaman berderet seperti spam. Bahkan tanpa sadar kedua pasang bola mata di depannya sedang sibuk mengawasi setiap pergerakan Dion.
“Dokter kejiwaan bisa gak waras juga ya, Ra?” Tanya Yuki lirih. Ekspektasinya pada sikap kalem Dion hilang. Apalagi bila harus dibandingkan dengan Rava yang sebeku gletser di Antartika, sangat jauh berbeda.
“Manusiawi aja, Ki.” Jawab Ara asal.
“Ganteng, tapi sayang.. Ck! Mana masih muda lagi..” Gumam Yuki lebih lirih lagi dengan tatapan sendu. Ingin maju tebar pesona, namun juga ingin mundur karena ekspektasinya anjlok.
Seketika Yuki teringat pada Dimas yang menyebalkan. Cukup Dimas saja yang sering mengusiknya, jangan sampai target pacar impiannya berubah menjadi cowok tengil.
...****************...
*
*
*
Apakah Dion akan jadi perkedel ganteng saat Rava pulang nanti?🤔
Apa di sini ada yang seperti Yuki mengira Dion juga kalangan kulkas 2 pintu?🤔
*
*
Siapa yang mau ikut Hana daftar konsultasi di klinik Dokter Dion??🤭
Masih ingat kan visual Dion dengan snelli yang muncul di bab sebelumnya?😄
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1