
Menghela nafas panjang, Rava yang baru mengetahui alasan Ara jelas merasakan kesedihan dan kebimbangan yang Ara alami. Meski Rava sudah memilih mengalah dengan menuruti kemauan Ara tanpa kejelasan alasan yang Ara sebutkan, namun tetap saja Rava merasakan makna sebenarnya dari sebuah kekecewaan.
Kini yang benar-benar Rava kecewakan adalah dirinya sendiri yang tersulut emosi. Entah mengapa permintaan Ara saat di kantornya melukai hati Rava hingga memicu perkataan sarat akan tuduhan. Tanpa sengaja Rava justru meragukan perasaan Ara terhadap dirinya.
Sadar atau tidak, Ara adalah gadis dengan tekad dan ambisi yang kuat. Memilih menunda mimpi yang pernah keduanya rancang tentu memiliki dasar alasan yang benar-benar sudah dipikirkan dengan matang.
“Apa yang kamu bilang gak berguna, Kak?” Tanya Papa Yudith datar, intonasi suaranya mencerminkan ketidaksukaan atas perkataan Ara. Terluka, namun bukan karena disakiti.
Sebagai orang tua, Papa Yudith tersentil atas keluhan anak gadisnya yang merasa menjadi anak tidak berguna. Begitu pula dengan Mama Lauritz yang ikut menatap sedih Ara yang menunduk dengan lelehan air mata membasahi seluruh bulu matanya.
“Kalau Kakak berpikir gak berguna dan berhutang karena selama ini Papa dan Mama rawat, Kakak salah besar. Kakak selalu jadi anak kebanggaan Papa. Kakak tidak pernah berhutang sama Papa dan Mama. Justru kami yang berhutang sama Kakak.” Tutur Papa Yudith sambil sesekali menghela nafas yang tercekat. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada himpitan di dada ketika mengucapkan kalimat itu.
“Tanpa adanya Kakak, belum tentu hidup Mama dan Papa bisa lebih berwarna. Kehadiran Kakak itu keinginan Papa dan Mama, jadi salah besar kalau Kakak bilang gak berguna, apa lagi berhutang dan belum bisa membayar apa yang selama ini kami kasih sebagai orang tua Kakak. Kakak itu berkah yang jika tidak kami pertanggungjawabkan, maka Mama dan Papa yang akan menyesal.” Lanjut Papa Yudith berucap dengan mata berkaca-kaca.
Mendekati Ara dengan bahu bergetar, Mama Lauritz memeluk erat tubuh anaknya. Sejujurnya sedari tadi Rava sudah ingin merengkuh Ara ke dalam dekapannya, namun Rava sadar bisa jadi ia akan dibogem Papa Yudith jika berani menyentuh Ara terang-terangan.
“Kakak bisa kuliah, belajar yang rajin, nurut sama orang tua, sayang sama adik-adik, itu udah buat Mama dan Papa bangga. Kakak itu udah jadi anak berbakti buat Papa. Jadi kalau kebahagiaan Kakak selanjutnya adalah Rava, kami sebagai orang tua pasti mendukung dan mendoakan agar kamu tetap bahagia dengan Rava.” Ungkapan yang mengalun lembut dari bibir Mama Lauritz membuat Ara justru semakin terisak. Sama halnya dengan Rava dan kedua orang tua Ara yang sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak luruh.
Menjadi seorang yatim-piatu jelas membuat Rava sering merindukan kasih sayang kedua orang tuanya yang telah lama berpulang. Bersyukur Rava seakan mendapatkan kasih sayang serupa berkat Papa Yudith dan Mama Lauritz.
Mengangkat wajah memandang kedua orang tua Ara yang sudah menganggap dirinya dan Dion sebagai anak, Rava semakin mengerti, begitulah cinta orang tua terhadap anaknya, dan begitu pula lah seorang Papa yang tidak selalu menunjukkan emosinya mencurahkan kasih sayang.
Seketika tangis haru pecah tidak terbendung menyelimuti ruang tamu rumah sederhana keluarga Papa Yudith. Tidak ketinggalan Jona dengan hidung kembang kempis, mata mengerjap tidak beraturan menahan air yang tiba-tiba merembes di wajah yang mendongak, sedangkan Rian justru terlihat biasa saja. Kedua anak laki-laki itu tidak berniat menguping, namun berakhir mengintip seluruh percakapan orang dewasa di ruang tamu.
__ADS_1
...----------------...
“Selamat ya anak Mama yang hebat ini. Terus semangat dan jangan doyan merengut.” Ucap Mama Lauritz sambil terus melabuhkan kecupan sayang di seluruh bagian wajah Ara. Sedangkan yang dikecup menerima dengan pasrah, tentu Ara bahagia, namun juga berharap lipstik yang Mama Lauritz gunakan tidak meninggalkan cap merah merona di seluruh wajahnya.
“Kita gak jadi berangkat makan-makan?” Tanya Rian sambil menatap ke arah mobil berwarna hitam yang baru saja dicat ulang beberapa hari yang lalu. Bukan mobil mewah, hanya sebuah mobil bekas yang telah Papa Yudith modifikasi agar terlihat seperti baru.
“Sebentar Mbul, Mamas masih pipis itu.” Ucap Ara sambil menoel pipi Rian yang tidak gembul lagi.
“Nanti Rian mau ikut Mas atau Papa?” Tanya Rava pada Rian yang langsung menolehkan wajahnya, menatap lekat Rava dengan sorot mata yang sudah mulai bersahabat.
“Papa.” Jawab Rian singkat.
“Nah itu Papa sama Mamas udah selesai. Ayo, langsung tunggu di dekat mobil aja.” Ucap Mama Lauritz, berjalan terlebih dahulu menuju mobil yang berada di parkiran sebuah gedung tempat Ara dan teman-teman seperjuangannya baru saja melangsungkan wisuda.
“Sayang..” Panggil Rava lirih pada Ara, menarik lembut pergelangan tangan Ara hingga membuat si pemilik berbalik menghadap Rava.
Menolehkan kepala pada Jona yang sudah duduk manis di kursi penumpang belakang mobil milik Papa Yudith, Ara sedikit berkata dengan suara meninggi. “Ayo, Mamas!” Ajak Ara pada Jona yang langsung dijawab dengan gelengan.
“Kakak aja, aku mau sama Bulat bareng Mama.” Balas Jona sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir Ara.
“Yuk, Sayang.. Ke mobil Mas, parkirnya tadi agak jauh. Jalan sebentar ya..” Merangkul bahu Ara dengan mesra, Rava sungguh senang bisa menghabiskan waktu dengan Ara dan seluruh keluarga yang menyambut hangat kehadirannya.
“Hati-hati, Sayang..” Ucap Rava setelah membukakan pintu mobil untuk Ara. Telapak tangan kiri Rava melindungi kepala Ara agar tidak terbentur sambil tangan kanannya tetap menjaga bahu Ara hingga sang pujaan hati duduk dengan nyaman di kursinya.
__ADS_1
Menikmati waktu berkendara dengan obrolan ringan tentang berbagai kejadian selama perayaan wisuda dilakukan, tanpa sadar mobil Rava sudah ikut menepi di depan rumah makan sederhana. Tampak Papa Yudith dan Mama Lauritz sudah masuk terlebih dahulu diikuti Jona dan Rian.
“Jadi gimana persiapan kalian?” Tanya Mama Lauritz sambil menatap Rava dan Ara bergantian. Saat ini mereka sedang menunggu makanan yang sudah dipesan disajikan.
“Seminggu lagi kita harus gladi dulu, Ma. Hampir Rava lupa kasih tau Mama sama Papa.” Ucap Rava menjawab pertanyaan Mama Lauritz.
“Pakai gladi juga, Rav?” Ucap Papa Yudith tiba-tiba, bertanya dengan ekspresi terkejut.
“Iya, Pa. Dari awal kami tentukan konsep, pihak WO udah kasih tau semua rangkaian yang harus kita lewati sebelum hari H, termasuk gladi pra-nikah." Tutur Rava pada Papa Yudith dengan senyum sumringah, tidak sabar menanti hari pernikahannya dengan Ara.
Melirik ke bawah meja, Ara menggeleng samar pada jari-jari kokoh Rava yang sudah tertaut dengan jemarinya. Menepis pelan tangan Rava, Ara tidak ingin Jona yang duduk di sisi kiri dirinya melihat pemandangan yang pasti menimbulkan ejekan tidak berkesudahan di rumah.
“Sekarang mau nikah ada gladi juga ya, Ma.” Celetuk Papa Yudith sambil menggeser gelas-gelas berisi es jeruk peras dan es teh yang baru saja diantar pelayan rumah makan.
“Bukan sekarang, dulu juga ada. Memang Papa sama Mama yang gak pernah kayak gitu. Nikah aja dadakan, yang penting sah punya dokumen aja.” Memutar bola matanya malas, perkataan yang diucapkan Mama Lauritz terdengar sewot.
Sejenak Mama Lauritz teringat kenangan menikah dengan Papa Yudith demi memberikan status keluarga yang jelas untuk Ega, namun tanpa tau malunya saat Ega sudah bisa berlari justru direbut begitu saja. Bahkan alih-alih mengucapkan terima kasih, Tante Laura malah meninggalkan ancaman pada Papa Yudith dan Mama Lauritz berupa tuntutan hukum karena memisahkan Ibu dan anak kandungnya.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Kenapa rasanya Hana gak rela mengantar Ara menikah ya?🤧