
Derap langkah kaki yang bergerak cepat samar-samar menyeruak pendengaran Ara. Dari arah dapur kemudian ke bagian belakang rumah, tepatnya di area ruang cuci tampak Ara masih sibuk memilah pakaian kotor.
“Nyah.. Di depan ada tamu, katanya Mama nya Nyonya.” Ucap wanita berumur pertengahan 40 tahun. Mungkin juga berumur beberapa tahun di atas Mama Lauritz. Hari ini adalah hari ketiga wanita itu menemani Ara.
Dari perkenalan singkat yang Ara lakukan, diketahui sosok itu bernama Ratih dan sudah biasa dipanggil Bik Tih. Lewat perkenalan singkat ini pula Ara ketahui jika sudah lebih dari 20 tahun Bik Tih mengabdi pada keluarga Rava. Semenjak masih gadis hingga kini siap menanti kehadiran cucu pertama.
“Mama?” Gumam Ara pelan, menegakkan badannya yang sempat membungkuk, memisahkan pakaian kotor yang kemarin dirinya dan Rava pakai. Niatnya ingin mencuci, tentu dengan bantuan mesin cuci agar lebih efisien.
“Bibi bisa bantu masukin baju ke mesin cuci? Yang keranjang merah dulu ya, Bik Tih.” Ucap Ara meminta bantuan Bik Tih sebelum pergi menyambut tamu yang katanya Mama Lauritz.
“Mamaaaa..” Pekik Ara nyaring, memeluk sang Mama dengan erat. Rasanya seperti ribuan tahun tidak berjumpa. Sungguh Ara rindu dimanja oleh Mama Lauritz.
Biasanya saat Ara sibuk berkutat dengan tugas di dalam kamar, tiba-tiba segelas susu hangat atau berbagai camilan akan mampir mengetuk pintu kamarnya. Belum lagi Ara yang selalu dihujani kasih sayang dan gelayutan Rian, benar-benar kebiasaan yang mau tidak mau sementara harus menghilang. Memang Rava sudah memberikan segala sesuatu yang terbaik, namun bukan salah Ara jika ia rindu keluarganya.
“Anak Mama.” Ucap Mama Lauritz sambil mencium gemas pipi anaknya. Setelah memutuskan tinggal di rumah sendiri bersama Rava, Ara memang belum mengunjungi rumah orang tuanya lagi. Terlalu sibuk belajar mengurus rumah, apa lagi untuk orang yang terbiasa rebahan, benar-benar jenis olahraga dadakan. Salah Ara juga awalnya tidak ingin menerima bantuan yang ditawarkan Rava.
“Manja!” Cibir Jona dari arah belakang Ara. Duduk menyandarkan punggung dan tangan terlipat. Jona yang sebenarnya rindu dengan sang Kakak tiba-tiba malas melihat sifat manja Ara yang berlebihan dibandingkan ketika belum menikah.
“Biarin, wek..!” Balas Ara sambil menjulurkan lidah, masih merangkul pinggang dan menyandarkan kepala di bahu Mama Lauritz.
“Rava kerja, Kak?” Tanya Mama Lauritz basa-basi, melepas pelan dekapan anaknya. Usapan lembut di kepala Ara sangat menenangkan.
Kini Ara mendudukkan diri bersama Jona yang memang sejak tadi enggan terpisah dari sofa empuk ruang tamu. Jika dibiarkan saja sebentar lagi Jona pasti tertidur, begitu pikir Ara yang terkadang ketiduran di sofa saat merasa kelelahan ditambah bosan.
“Iya, Ma. Nanti sore baru pulang.” Jawab Ara mengangguk. Matanya teralihkan pada barang bawaan Mama Lauritz.
“Mama bawa apa?” Lanjut Ara berucap sambil mengintip barang bawaan Mama Lauritz. Ada beberapa kantong kresek dan sebuah tas belanja keramat karena sudah bertahun-tahun selalu dipakai belanja dengan bobot yang beragam namun tetap kuat dan masih utuh.
“Langsung bawa ke dapur, masukin ke kulkas sebagian itu, Kak.” Perintah Mama Lauritz sambil mengangkat kembali tas belanja yang tidak tau apa saja isinya.
“Bantu bawa, Mas!” Ucap Mama Lauritz memerintah Jona.
Berjalan gontai Jona mengikuti Ara dan Mama Lauritz di depannya. Sesekali Jona memerhatikan interior rumah Kakak nya yang tampak mewah. Dari luar meski tampak besar, rumah Rava dan Ara terlihat cukup sederhana. Namun jika melihat keseluruhan isinya maka akan terlihat interior yang mengisi bukan kaleng-kaleng belaka.
‘Syukurlah kalau Kakak bahagia.’ Sambil tersenyum senang, Jona berucap dalam hati dengan penuh harap agar sang Kakak berbahagia dengan pilihannya.
Jujur saja bukan hanya Rian yang tidak rela, tapi diam-diam Jona juga masih sulit melepaskan Ara pada Rava. Takut jika sang Kakak tidak bahagia dengan pilihannya. Apa lagi Jona sempat mendengar bahwa Ara ingin menunda pernikahan, jelas ia yang sudah remaja memiliki pemikirannya sendiri.
“Bik Tih..?” Panggil Ara pada Bik Tih yang tidak terlihat di dapur.
“Iya, Nyah..” Sahut Bik Tih sambil berlari tergopoh menghampiri panggilan suara Ara.
“Nyah? Nyonyaah?” Ucap Jona membeo, menatap remeh pada Ara yang melenggang santai di depannya.
“Bukan main Kakak udah jadi Nyonya sekarang. Hahaha..” Ucap Jona lagi sambil tergelak tawa kencang. Mana pernah dibayangkan oleh Jona jika Ara akan mendapat panggilan ‘Nyonya’ saat ini. Bahkan ketika di rumah Kakek Baren saja Ara tidak ingin dipanggil ‘Nona’, cukup Mbak atau panggil nama saja.
Jangan kira tidak ada drama penolakan. Pastinya Ara sudah ngotot ingin dipanggil Mbak Ara saja. Namun yang terjadi ternyata Ara kalah telak dengan Bik Tih yang enggan mengganti panggilannya. Memilih mengalah, Ara mencoba membiasakan diri dengan panggilan ‘Nyonya’ atau terkadang hanya ‘Nyah’ saja.
__ADS_1
“Bik, ini kenalin dulu Mama ku, Mama Lauritz. Sama ini Adik ku yang pertama, Jona.” Ucap Ara memperkenalkan Mama Lauritz dan Jona pada Bik Tih.
“Ma, ini Bik Ratih. Bik Tih ini udah lama ikut keluarga Mas Rava.” Ucap Ara lagi mengimbuhi perkataannya. Kali ini berganti Ara memperkenalkan Bik Ti pada Mama Lauritz.
“Salam kenal, Mbak Ratih, saya Lauritz Mama nya Ara.” Ucap Mama Lauritz menyapa terlebih dahulu, meski tanpa uluran tangan tapi menyambut dengan senyuman ramah.
“Panggil Bik Tih aja, Nyonya.” Ucap Bik Tih segan pada Mama Lauritz, tersenyum kikuk pada pertemuan pertama yang canggung.
“Gak usah Nyonya-nyonyaan sama saya Mbak. Kita paling juga seumuran. Yang punya rumah ini menantu saya, bukan saya. Jadi panggil Mbak aja.” Ucap Mama Lauritz sambil terkekeh menanggapi perkataan Bik Tih.
Dalam benak Bik Tih seperti melihat Ara versi lainnya. Cara menolak secara halus yang dibarengi kekehan kecil benar-benar serupa.
...----------------...
“Kakak gak punya cengkeh ya?” Ucap Mama Lauritz setelah membuka segala macam rak dan lemari penyimpanan di dapur.
“Gak ada, Ma. Belum stok rempah-rempah di dapur.” Jawab Ara sambil menyengir. Isi dapurnya hanya bahan-bahan masakan yang mudah dimasak kilat tanpa perlu banyak bumbu atau aneka rempah. Rava yang tidak pernah protes atau banyak maunya tentu membuat Ara santai perihal menu pengisi perut.
“Mama lupa beli cengkeh tadi. Mana enak soto gak dikasih cengkeh, kurang maknyus.” Gerutu Mama Lauritz merutuki sikap pelupanya yang semakin meningkat.
“Ya udah Kakak keluar beli dulu.” Ucap Ara sambil mengelap tangan basahnya. Menyisihkan kentang yang sudah dikupas dan baru dicuci sebelum diiris dadu tipis untuk kriukan kentang krispi sebagai taburan pelengkap soto.
“Suruh Jona aja itu yang beli, Kak.” Ucap Mama Lauritz mengambil alih kentang yang sudah Ara cuci.
“Ara aja, Ma. Itu anak kayaknya lagi seru nonton kartun di depan. Atau suruh potong bawang merah buat bawang goreng aja. Kakak suka bawang krispi buatan Mama.”
“Kan cuma beli cengkeh sebentar, Ma. Gak lama keluarnya.” Seloroh Ara yang merasa tidak perlu mengganggu Rava. Toh dirinya hanya akan keluar sebentar.
“Memang sepele, tapi kamu ini tanggung jawab Rava. Belajar kalau mau pergi-pergi izin sama suami, biar gak jadi kebiasaan asal nyelonong aja. Bisa jadi nanti Rava mendadak pulang kelimpungan nyariin kamu yang pergi gak izin.” Tutur Mama Lauritz memberi pengertian pada Ara.
“Iya deh Ara ambil ponsel dulu minta izin.” Ucap Ara lemah, berjalan meraih ponsel yang diletakkan di atas meja makan.
^^^✉^^^
^^^Me^^^
^^^Mas, Ara izin keluar ya? Mau beli cengkeh.^^^
Tulis Ara pada pesan singkat yang sudah ia kirimkan. Sengaja Ara tidak menghubungi Rava lewat sambungan telepon, takut jika Rava sibuk dan dirinya malah mengganggu. Menunggu beberapa detik sambil merendam bihun di air dingin terlebih dahulu, Ara melihat ponselnya bergetar dan berkedip menandakan ada notifikasi baru. Dan benar saja, notifikasi itu berisi pesan balasan dari Rava.
📩
Mas Rava
Perlu Mas jemput?
^^^✉^^^
__ADS_1
^^^Me^^^
^^^Gak usah Mas. Kan ada swalayan baru yang dekat kantor Mas itu. Ara mau ke situ aja kok.^^^
📩
Mas Rava
Nanti mampir ke kantor Mas ya? Kangen bangeeeet🥰
^^^✉^^^
^^^Me^^^
^^^Baru juga ketemu. Di rumah aja kangen-kangennya.^^^
📩
Mas Rava
Tega banget sih istri Mas ini..
^^^✉^^^
^^^Me^^^
^^^Iya memang. Ya udah ya Mas, Ara berangkat.^^^
📩
Mas Rava
Hati-hati ya Sayang ❤😘 Bawa ponselnya, nanti kabari Mas kalau udah sampai di sana.🥰
“Udah izin, Ma. Kakak pergi sekarang ya..” Ucap Ara sekaligus berpamitan pada Mama Lauritz. Berlalu menuju kamar untuk mengambil tas yang diisi dengan beberapa lembar uang, ponsel dan tentunya surat-surat penting bagi pengendara motor.
...****************...
*
*
*
Apa yang akan terjadi selanjutnya?🤔
Terima kasih sudah menanti kisah perbucinan ArVa🥰
__ADS_1