Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Mengendap seperti Sedimen


__ADS_3


"Lepas SETAN!!!" Menghempas kasar tangan yang mengunci pergelangan tangannya, Ara ingin memaki Hans dengan berbagai isi kebun binatang. Sekuat tenaga Ara terus mencoba melepaskan diri.


"Gak bisa!! Kamu punya ku Ra!!"


"Sumpah deh, jijik aku jadinya!!!! Stop sama obsesi mu Hans!!"


"Aku cinta kamu. Ini bukan obsesi!!" Suara berat Hans mencekam di pendengaran Ara. Bukannya membuat Ara gentar ketakutan, namun gelembung lahar panas yang tertahan sudah mendidih di puncak kepala Ara.


"ARGH!!! SHIT!!! MASA BODOH LAH MAU LO AKUI JUGA SOK LAH TERSERAH!! LEPAS ANJ*RR ANAK SETAN!!! GUE GAMPAR NIH!! DASAR MONYET SIALAN!!!" Mematung terdiam Hans mendengar bentakan makian Ara padanya. Hilang sudah Ara yang lemah lembut pada Hans, sosok yang tampak seperti kesurupan kuda lumping itu siap untuk mengamuk.


Sedangkan dalam hati Ara justru berterimakasih pada kebiasaan buruk Dimas dan Yuki yang dikolaborasikan Ara dalam luapan amarahnya kali ini. Tapi jangan lupa jika Ara memang bar-bar sejak masih bocah.


Memanfaatkan kesempatan Hans yang masih mematung, Ara mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membebaskan pergelangan tangannya yang sudah sangat memerah bercap jari-jemari Hans. Mendesis menyorot tajam Hans seolah ingin menguliti, Ara usap perlahan pergelangan tangannya untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Baru saja kata-kata makian yang lebih kasar akan Ara luapkan, namun terhenti oleh ulah tukang siomay.


Trok.. Tok.. Tok.. Tok.. Tok..


"Sioomaaayyy.. Siomaayyy.. Panas-panas.. Hati panas.. Siomay-siomay.." Mendelik sebal Ara pada penjual siomay langganan yang sedang menyindirnya. Bukannya melanjutkan perjalanan jualan, rupanya malah mangkal dan menyaksikan drama recehan Ara bersama Hans. Beruntung Ara tidak menanti tepat di depan halaman rumah, namun sedikit menjauh di bawah pohon rambutan besar yang awalnya menghindari teriknya sang mentari.


"Mbak Ara.. Siomay spesial udah datang nih.. 10 Ribu pedes biasa gak pakai telur jadi??" Teriakan lepas seenaknya menyela ditengah suasana menegangkan.


"Super pedas Bang.. Beli 20 ribu ya Bang.. Tapi 10 ribunya lagi ngutang dulu, gak sesuai prediksi yang tiba-tiba pengen makan orang!" Memicingkan mata pada Hans sebagai tanda sindiran, Ara segera berlalu mendekati penjual siomay.


"Pacarnya Mbak??"


"Bukan."


"Secepatnya akan jadi pacar." Rupanya manusia jadi-jadian masih mengikuti Ara. Terbukti dari celetukan asal dan posisinya yang tepat di belakang Ara saat ini. Memilih mengabaikan segala tingkah Hans, Ara diam bersedekap menunggu pesanan siomay super pedas diracik.


"Biar aku bayar aja Ra." Dompet tebal berisi lembaran merah membuat mata Ara segar dan lupa daratan sejenak. Namun kenyataan menamparnya untuk segera tersadar.


"Gak perlu!! Uang Papa ku masih cukup buat aku beli satu gerobak ini sama Abang penjualnya sekalian!!" Ucap Ara ketus bernada tinggi.


"Mbak Ara kok tega Abang juga dibeli?? Aku bukan barang yang bisa kau beli seenaknya Mbak.." Ucap memelas si penjual siomay sambil menuang kuah kacang ke dalam plastik tahan panas.


"Ck!! Ibarat aja Bang, gak beneran. Rese banget sih!!" Berdecak kesal Ara pada Abang penjual siomay yang alih-alih diam saja dan bekerjasama justru merusak untaian kalimat sengit Ara.


Tin.. Tin..


"Sayang.. Kamu ngapain??" Ara memalingkan wajah pada suara yang menginterupsi suasana tidak nyamannya.



"Waduh Mbak Ara pemain perempuan ya.."


"Apaan lagi sih Bang!?" Ucap Ara yang mulai kesal. Kehadiran Hans saja sudah membuatnya ingin menggulingkan diri ke jurang, kenapa harus ditambah lagi ocehan si Abang siomay.


"Itu loh Mbak, playgirl kan pemain perempuan." Menyodorkan siomay level super pedas dengan 7 sendok makan cabe halus yang diraih cepat oleh Ara.


Memilih menghampiri pemilik mobil yang suaranya sudah Ara dengar terlebih dahulu, Ara ingin diculik dan diajak kabur saja.


"Jangan dekat-dekat aku lagi atau aku teriak kuat-kuat sekarang!?" Suara berat Ara tujukan kalimat itu untuk Hans yang masih setia mengikuti Ara, Ara naikan tangan dengan kepalan tinju tanpa berbalik dan memandang Hans.


"Sayang.. Kamu kenapa?? Kenal sama dia??" Suara maskulin dengan derap langkah kaki yang semakin mendekati Ara.

__ADS_1


"Kamu siapa?? Gak usah ikut campur!!" Ucapan seolah menantang Hans lontarkan sebagai tanda peperangan.


"Gak usah dianggap Dok, orang gila ini, stres, sarap, sinting ini." Ucap Ara sambil menyelipkan badan diantara Dion dan Hans yang berjarak 1 meter. Memainkan matanya dengan berkedip lucu dan menggemaskan, Ara memberikan kode pada Dion agar membawa Ara masuk ke dalam mobil milik Dion.


"Ra.. Kita belum selesai!!" Bahu Ara di cengkeraman erat oleh Hans. Mengatupkan gigi geraham sekuatnya hingga rahang mengeras, mata Ara terpejam menahan luapan emosi.


"Jangan kurang ajar kamu sebagai laki-laki!!" Sergah Dion yang ingin menyingkirkan tangan Hans, namun ditahan oleh isyarat tangan Ara.


"Dok, tolong pegang siomay Ara.. Takutnya tumpah kan sayang banget masih ngutang." Ucap Ara sambil menatap mata Dion yang mau tidak mau hanya menuruti kemauan Ara. Bukan tidak ingin bertindak, namun sorot mata penuh kobaran amarah membuat Dion tau Ara perlu pelampiasan.


Plak


Tangan memerah dan bergetar milik Ara menjelaskan sesakit apa pertemuan telapak tangan dan pipi mulus Hans. Wajah putih bercap telapak tangan Ara itu disentuh perlahan sang pemilik. Menggerakkan rahang bawah ke kanan dan kiri, Hans mengurai rasa nyeri hingga ngilu berdenging di telinganya.


"Dokter kok ada di daerah sini??" Tanya Ara yang sudah duduk bersandar di dalam mobil meninggalkan Hans yang sempat menggedor kasar mobil milik Dion.


"Saya cuma lewat aja kok. Kebetulan lihat kamu lagi drama di depan gerobak siomay, Ra." Ucap Dion yang hanya berisi separuh kejujuran.


Dion memang kebetulan melihat Ara di pinggir jalan sedang bersitegang, namun sebenarnya ia sengaja ingin bertemu Ara dengan berkunjung ke rumah Ara. Tepatnya sudah lewat 2 minggu keduanya tidak saling bertemu atau bahkan sekedar bertegur sapa di dunia maya. Jika bukan Dion yang mengubungi Ara terlebih dahulu, maka tidak akan ada komunikasi diantara keduanya.


"Ya udah ya Dok, saya keluar dulu. Makasih Dokter udah bantu saya kabur dari monyet langka tadi." Tersenyum ramah Ara pada Dion.


Dion menghela nafas kasar, ia sadar ada dinding tebal antara Ara dan dirinya yang tidak bisa ditembus. Sekian lama ia tidak pernah sekalipun menutupi perasaan yang ia miliki sesungguhnya, namun tidak sedikitpun Ara menanggapinya. Belum lagi hubungan antara Dion dan Rava yang tidak jelas sudah berbaikan atau masih bertahan dengan ego masing-masing. Dion sadar bahwa dirinya yang terlambat hadir, namun bukan kesalahannya jika ia juga mencintai Ara dan masih ingin berjuang. Hanya saja setelah ungkapan langsung dari Rava tentang gadis kecil yang terus dicintai membuat Dion merasa sangat bersalah akan rasa cintanya pada Ara.


"Kakak tadi ngomong kasar kan??" Pertanyaan tiba-tiba Rian serasa menyerbu Ara. Tubuh Ara yang masih menumpuk kekesalan baru saja didaratkan pada bangku taman atau kebun mini milik Mama Lauritz.


"Tau dari mana??" Tanya Ara dengan tangan yang sibuk membuka bungkus plastik siomay.


"Rian dengar waktu mau nyusul Kakak." Jawab Rian sambil menusuk siomay yang belum terpotong sempurna.


"Terus kenapa gak nemuin Kakak??"


"Kenapa gak datang bantu Kakak?? Kalau tadi Kakak berantem terus kalah gimana??"


"Memang Kakak pernah kalah kalau kelahi??" Celetuk Jona yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan Ara dan Rian.


"Gak tau. Menurut kalian??"


"Gak pernah. Kakak kan ganas." Ucap Jona dan Rian serentak dan diakhiri dengan bertos riang sambil tergelak tawa kencang.


"Masa iya??" Mengernyit heran Ara mulai memikirkan dari segi mana hingga disebut ganas.


"Dulu Kakak pernah pulang marah waktu Jona masih kelas 1 SD, terus tiba-tiba pergi lagi bawa kunci inggris sama palu bogem punya Papa. Jona masih ingat orang-orang yang antar Kakak pulang bilang Kakak habis rubuhin gubuk tempat tongkrongan anak-anak yang suka balapan motor liar." Jelas Jona yang membuat Ara akhirnya mengingat saat-saat yang paling brutal dalam hidupnya.


Ara memang sempat hampir merubuhkan gubuk kecil, tapi jangan bayangkan rumah kayu kecil lengkap dengan dindingnya, namun gubuk ini hanya seperti pos ronda yang dibangun menggunakan kayu bulat sebagai tiang dan lantai utama. Ada alasan yang cukup serius dan tidak Ara ungkapan pada keluarganya, takut Papa Yudith dan Mama Lauritz ikut marah mengamuk membabi-buta.


Bukan hanya menggoda, tapi melecehkan secara verbal bahkan hampir saja tangan nakal beberapa pemuda dari gerombolan geng anak badung itu menyasar tubuh Ara dan seorang temannya saat itu. Bila tidak karena ditahan untuk langsung menghajar satu-persatu, pasti tidak hanya gubuk yang Ara hancurkan tapi juga para laki-laki muda seumurannya yang sudah tampak bergidik ngeri.


Ara yang langsung melayangkan palu bogem pada lantai gubuk untuk melepaskan kemarahannya hampir menyasar lengan laki-laki yang menertawakan kedatangan Ara kembali. Tidak banyak bicara, hanya bunyi persendian tulang jari dan leher yang seolah diputar Ara berbunyi diakhir aksinya.


Melepaskan genggaman dari palu, Ara beralih pada kunci inggris besar untuk menantang duel 5 pemuda yang sudah sok kuat di hadapan Ara. Jika bukan karena beberapa warga yang mengira Ara sedang diganggu datang merelai nya, pasti sudah Ara tebas habis semua pemuda kurang dihajar itu dengan kunci inggris.


"Siomay lagi Kak??" Suara Papa Yudith dari arah kejauhan yang diikuti oleh sosok yang tadi pagi sempat Ara pijak punggung tangannya.


"Mama mana??" Tanya Papa Yudith lagi pada ketiga anaknya.

__ADS_1


"Tidur." Jawab Rian singkat dengan mulut penuh, saus kacang di sudut bibirnya nyaris tumpah.


"Ada makanan di rumah??" Lagi-lagi Papa Yudith bertanya.


"Ada, tadi Mama bikin soto."


"Mantep.. Ambil 2 Kak. Papa mau makan sama Rava di rumah. Kecapnya jangan lupa sama jeruk buat perasan. Sambalnya pisah aja, biar nanti Rava ambil sendiri. Bisa mencret kalau porsi cabe Kakak yang di kasih." Ucap Papa Yudith pada Ara, kemudian beralih pada Rava di belakangnya. "Ikut Om ke dapur langsung Rav."


Papa Yudith sudah melenggang pergi ke dapur, sedangkan yang diajak masih sibuk memandangi Ara dengan senyum yang tidak bisa ia tahan.


"Bapak mau terus senyum-senyum di sini??" Tanya Ara yang tanpa disadari sudah berdiri di hadapan Rava.


"Ehh.. Gimana??" Tanya Rava gelagapan. Gugup seperti ABG yang baru merasakan debaran cinta di hadapan gebetannya, meskipun memang benar semua ini baru dalam hidup Rava. Ara memang cinta pertamanya, satu-satunya yang membuatnya berdebar dan hampir menggila.


"Kamu tau kan Ra kalau partikel sedimen yang melayang di kolom perairan suatu saat tetap akan mengendap??" Ucap Rava tiba-tiba saat keduanya berjalan perlahan memasuki rumah. Menatap lekat lensa mata Ara, Rava mencoba terus menyelami arti sorot mata gadis di sisinya.



"Meskipun semakin kecil ukuran dan massa partikel akan membuat waktu mengendap sedimen lebih lama, tapi intinya tetap akan mengendap di dasar perairan. Benar kan?"


"Terus?"


"Sama kayak kamu kan?"


"Apaan?" Memiringkan kepala, wajah Ara menghadap Rava dengan 3 kerutan di dahi diantara kedua alisnya yang terpampang nyata.


"Mau selama apapun kamu menggantungkan perasaan saya, terombang-ambing gak jelas arah tujuan selama apapun juga suatu saat kamu tetap akan memilih saya dan menghabiskan sisa hidup kamu sama saya." Ucap Rava dengan percaya diri yang tampak melambung, namun sebenarnya ia sangat khawatir bila Ara justru merasa jijik.


"Udah dekat banget sama Bu Dian ya sampai tau banget tentang sedimen?" Ucap Ara mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ck!! Bukan. Saya ini belajar demi kamu."


"Halah!! Gombal." Ucap Ara ketus sembari memalingkan wajahnya. Bibirnya bisa berkata pedas, tapi pipi bersemu merah menahan debaran jantung tidak bisa dikupas atau sekadar ditutupi dengan alas bedak setebal apapun.


Sedangkan dari arah kejauhan, sepasang mata pemilik hati yang bersedih harus menerima kenyataan yang lebih pahit. Mundur, menyerah dan menghilang adalah pilihan paling tepat untuk kebahagiaan Ara dan Abang kandungannya, Rava.


Dion yang masih belum puas memandang Ara memilih memarkirkan mobil tidak jauh dari rumah orang tua Ara. Namun pilihan itu membuatnya harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Rava berboncengan dengan Papa Yudith, ditambah lagi dengan pemandangan kedua orang yang disayanginya sedang berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Apalagi dapat Dion tangkap semburat merah wajah Ara meski dari kejauhan.


"Aku kalah.. Lagi-lagi aku kalah." Menghantamkan kepalanya pada kemudi mobil, Dion ingin menangis.


...****************...


Sedimen : Material yang dapat terbagi menjadi 2 jenis, yaitu suspended load dan bed load. Klasifikasi umum ukuran sedimen berkisar antara <0,032 mm - >256 mm, dimana bila sedimen masuk ke badan perairan maka akan mengalami pengendapan dengan kecepatan yang dipengaruhi oleh ukuran partikel sedimen dan debit aliran perairan. Proses pengendapan sedimen dapat disebut dengan sedimentasi.


Suspended Load : Butiran-butiran pasir halus yang bergerak di atas dasar perairan dengan ukuran lebih kecil dari 0,1 mikron yang senantiasa melayang di dalam aliran air.


Bed Load : Butiran sedimen yang bergerak di dasar perairan dengan cara berguling, meluncur dan meloncat. Contoh dari sedimen bed load salah satunya seperti pecahan bebatuan dan kerikil.


*


*


Ada yang beda sama Bab hari ini??🤔


YUPS👍👍 Hana mulai merubah panggilan di luar kalimat percakapan.. Gak aneh kan??🥺

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2