
Sebuah pisau lipat diam menghuni salah satu saku jogger pants hitam yang berpadu dengan hoodie hitam kebesaran menenggelamkan tubuh Ara. Duduk menyandarkan tangan kanannya pada sisi mobil, Ara memandang pemandangan alam yang indah dan deretan pertokoan yang silih berganti, namun semakin lama melukai hatinya.
"Papa sama Mama gak setuju dengan cara Kakek.. Sebelumnya juga Papa udah sempat tolak rencana perjodohan itu." Papa Yudith melirik Ara yang duduk di kursi penumpang belakang dari arah spion dalam mobil.
"Kita pulang lagi semua ini buat lihat Nenek Mira Kak. Sekalian nanti kita ajak Kakek bicara di sana ya.. Papa gak akan ikut campur buat ambil segala pilihan yang Kakak mau. Hidup Kakak semuanya tergantung Kakak, pilihan Kakak itu kemerdekaan Kakak sendiri. Papa gak suruh Kakak untuk menerima atau menolak, belajar lebih dewasa dengan menentukan pilihan Kakak sendiri ya?? Pesan Papa sama Mama cuma satu, kejarlah impian Kakak dan nikmati masa-masa dimana Kakak bebas menentukan pilihan demi hidup Kakak sendiri."
Perkataan Papa Yudith sama sekali tidak dijawab oleh Ara. Daun telinga Ara memang menangkap segala untaian kata yang tersusun rapi, namun otak Ara menolak untuk menyampaikan pemikirannya pada saraf motorik agar menggerakkan bibir sekedar berucap 'ya'.
"Kalau setelah ini Kakak mau kuliah lagi juga Papa masih mampu buat biayain. Jadi jangan terlalu tertekan sama segala ketakutan berlebihan yang ada dipikiran Kakak itu. Dimana Kakak merasa bebas dan lepas, di situlah pilihan terbaik buat Kakak." Lagi-lagi Papa Yudith berujar di tengah fokusnya pada kemudi mobil.
Bunyi ban berdecit dan pemandangan yang tidak berganti mengalihkan pandangan Ara pada kedua orang tuanya. Sebenarnya sejak awal pandangan mata Ara kosong. Kepalanya sudah cukup panas dengan berbagai macam pikiran yang belum selesai disatukannya.
"Kita mampir dulu beli jajan yang Kakak mau. Daripada cemberut gitu terus." Mama Lauritz berkata sambil mengenakan tas selempang krem berbahan kulit imitasi.
Ara hanya diam di belakang mengikuti langkah kaki Papa Yudith dan Mama Lauritz. Dicarinya segala jenis camilan pedas, tidak lupa Ara juga menyambar sebungkus kecil cabe tabur level 30 untuk menambah sensasi pedas menggigit. Sekotak wafer coklat berkaramel dan 2 kotak kertas susu UHT berukuran 250 mili liter ikut mengisi keranjang merah yang menggantung di tangan kiri Ara. Ara perlu susu untuk antisipasi perutnya yang mungkin akan melilit.
Kriuk.. Kruk.. Kruk..
Kunyahan ganas mengisi ruang kecil tertutup dalam mobil yang tengah melaju. Makaroni dan keripik singkong pedas yang sudah Ara campur dengan cabe tabur membuat bibir memerah dan keringat mengucur dari pelipis tidak dipedulikan oleh Ara. Jika bisa menangis karena kepedasan justru lebih baik dibandingkan amarah yang sudah cukup menggelora mematikan rasa pedas dan panas menyengat pada bibir, lidah serta jari Ara.
"Liat tuh Pa anak mu.. Kalau lagi marah pasti makannya kayak anak setan." Ucap Mama Lauritz lirih pada Papa Yudith, matanya sesekali memerhatikan Ara dari posisi duduk yang sedikit menyerong.
"Jadi Mama mau bilang Papa setan gitu??"
"Merasa ya?? Ya udah." Mengedipkan mata kanannya, Mama Lauritz terkekeh melihat Papa Yudith yang sudah menggelengkan kepala.
"Mama ngaku setan juga kalau kayak gitu." Gumam Papa Yudith lirih yang masih mampu di dengar Mama Lauritz. Mendelik Mama Lauritz pada Papa Yudith.
Ara bukannya tidak mendengar pembicaraan Mama Lauritz dan Papa Yudith, ia hanya lebih sibuk memuaskan amarahnya lewat penyiksaan makanan di mulutnya. Hampir saja padam api amarahnya pada Kakek Baren, Ara sudah bisa berpikir jernih kala melihat deretan camilan kesukaannya. Sudah benar juga membeli camilan, namun drama menjijikkan pemicu rasa kesal harus tertangkap mata kepalanya di dalam supermarket yang disinggahinya.
...----------------...
Kedatangan Ara bersama orang tuanya kali ini tidak seperti dahulu yang harus menumpang tidur di rumah orang lain. Meskipun hanya 1 hari dari rencana 2 malam berada di Kota K, tapi hal itu tentu cukup merepotkan keluarga Om Rudi dan Tante Yuni. Iya, kala itu Papa Yudith mendadak memboyong keluarganya pulang ke Kota B tanpa perduli lelah yang mendera. Sekarang Ara tau alasan dari kepulangan mendadak itu pasti karena rencana gila Kakek Baren yang ingin menjodohkan Ara.
Di rumah sakit yang sama pada titik parkir yang berbeda, mobil Papa Yudith sudah terhenti di depan gedung rumah sakit swasta. Ara baru sadar jika rumah sakit itu di bawah naungan Mahendra grup yang berarti pemiliknya adalah Om Arya, Ayah kandung Ega. Kasta berbeda jelas terasa saat Ara hanya melihat dari segi materi dan harta yang bergelimang melimpah.
"Pa.." Sapa Papa Yudith pada Kakek Baren yang sedang duduk di kursi tunggu pada lorong rumah sakit. Tidak ada jawaban, hanya lirikan tajam yang menjawab kata sapaan Papa Yudith.
"Gimana kondisi Mama sekarang Pa??" Mama Lauritz duduk di sisi kanan Kakek Baren. Meraih jemari yang nyaris keriput seluruhnya ke dalam genggaman Mama Lauritz, sosok renta itu menghembuskan nafas kasar.
"Menurun drastis. Operasi bypass nya gak berhasil 100%, Mama mu malah sering kena serangan jantung mendadak." Ara yang masih diam menyimak dapat melihat sorot mata sosok paruh baya itu sedang memendam kesedihannya.
"Udah ada keputusan dari permintaan Papa yang lalu??" Tanya Kakek Baren menatap Mama Lauritz yang justru mengalihkan pandangannya pada Ara.
'Sial!' Maki Ara dalam hati.
"Kita bicara di luar aja Pa. Gak enak bahas hal itu di sini. Tapi biarin Yudith sama keluarga lihat Mama dulu ya Pa?" Papa Yudith merangkul bahu Ara. Usapan lembut di lengan Ara mengurangi suasana tegang dan rahang Ara yang mengeras.
"Ara itu cucu perempuan pertama Papa. Bahkan ini permohonan Mama mu supaya bisa lihat Ara menikah sebelum waktu lebih dulu datang menjemputnya." Ucap Kakek Baren saat keempatnya sudah sampai di taman rumah sakit. Kondisi Nenek Mira memang terbukti sudah sangat lemah, bahkan saat Ara lihat tadi saja masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.
"Hahaha.." Tawa Ara seketika pecah yang membuat ketiga orang dewasa itu mengernyit heran pada Ara. Sedangkan Ara justru menyeringai tipis mendengar ucapan Kakek Baren.
"Kenapa kalian egois sih?? Sejak kecil Ara udah gak pernah ngerasain disayang ya sama Kakek Nenek.. Sekarang saat Ara gak pernah mau mengharapkan kasih sayang itu, kenapa kalian datang seolah menawarkan rasa sayang kalian ke Ara??"
Bugh
Ara menghantam kepalan tangan kanan pada telapak tangan kirinya yang terbuka. Melotot tajam pada Kakek Baren dengan nafas memburu. Emosi Ara sudah meluap separuh, sedangkan sisanya ia tahan demi kedua orang tuanya.
"Kakak!!" Bentak Papa Yudith pada Ara yang tidak digubris tentunya oleh Ara.
__ADS_1
Bentakan itu tidak terelakkan meskipun Papa Yudith tau reaksi Ara sangat normal, apalagi ada rasa sakit, kesal dan marah yang sudah lama bersarang. Lagi-lagi jika bukan karena orang yang dihadapi adalah mertuanya, maka sudah Papa Yudith layangkan bogeman mentah.
"Sadar dong Kek!! Udah tua itu jangan egois!! Doyan banget nambah dosa!!" Ucap Ara bernada tinggi.
"Kakek kasih kamu waktu 1 bulan untuk membawa calon yang lebih baik dari Eric. Kalau gak bisa kamu tunjukkan saat itu juga kita akan bicara dengan keluarga besar Eric." Kakek Baren rupanya masih kukuh pada keputusannya, tidak tergoyahkan dengan tindak kurang ajar Ara.
"Gak bisa gitu dong Pa. Ara itu anak aku sama Mas Yudith. Pilihan semua ada di tangan Ara, termasuk jodohnya kelak. Kita sebagai orang tua cuma akan menilai dan mengawasi baik atau buruk pilihan Ara sendiri tanpa perlu melarangnya saat proses itu baru akan dimulai. Kalaupun nanti pilihannya salah, kita juga hanya bisa mengingatkan Ara sebelum hubungannya semakin jauh. Gak dengan cara jodohin Ara kayak gini Pa.." Mama Lauritz sudah mulai frustasi dengan sikap keras kepala Kakek Baren.
"Sekarang Papa juga udah menilai, dan Eric itu baik untuk Ara!!" Ucap Kakek Baren ketus.
"Kalau kalian masih terus menentang, lebih baik gak usah temuin Papa sama Mama lagi sebelum orang tua mu ini mati." Lagi-lagi Kakek Baren mengeluarkan kalimat berisi ancaman.
"PA!!" Serentak Papa Yudith dan Mama Lauritz berteriak. Keduanya sama-sama melebarkan bola matanya.
"Kalian bisa tanya Ega, dia bahkan udah kenal akrab sama Eric. Eric laki-laki baik, bertanggungjawab dan pastinya gak akan buat hidup kamu susah gara-gara melarat." Ucapan Kakek Baren memang ditujukan pada Ara, namun sorot mata tajamnya menusuk Papa Yudith.
Inilah salah satu alasan Papa Yudith kerja keras siang malam, tidak perduli lelah menghantam. Dorongan kuat untuk melakukan pembuktian bahwa laki-laki miskin yang selalu dihina keluarga istrinya mampu membawa anak-anaknya ke tingkat pendidikan tertinggi dengan hasil jerih payahnya sendiri, bukan karena harta warisan.
Meraih ponselnya, Ara yang sudah pergi tanpa pamit ingin menghubungi Ega. Hanya Ega yang Ara pikirkan dapat membantu Ara keluar dari masalah gila yang Kakek Baren timbulkan, selain pilihan kabur tentunya.
Jika benar Ega mengenal Eric, maka Ara harus meminta Ega mempertemukannya dengan Eric untuk menolak perjodohan. Biarlah urusan Kakek Baren akan ditangani oleh Papa Yudith dan Mama Lauritz, Ara harus terlebih dahulu mencegah pihak lain menyetujui perjodohan laknat ini.
Belum juga panggilan itu tersambung, sosok Ega sudah tertangkap indra penglihatan Ara. Berlari sekuat tenaga Ara tersenyum cerah, namun senyumnya seketika pudar kala mendengar Ega menyebutkan nama 'Eric' pada sambungan telepon dengan pembahasan yang membuat Ara ingin mengeluarkan otaknya dari kepala.
"Eric.. Eric.. Sumpah nekad banget sih. Emang Ara mau dijodohin? Gak kan?"
[...]
"Oke. Aku bakal ke sana. Tunggu aja.."
[...]
[...]
"Ya udah tunggu aja, aku bakalan ke sana."
Bersembunyi di balik tiang berbentuk balok sejauh 3 meter di belakang Ega, daun telinga Ara dapat menangkap semua ucapan Ega kecuali dari pembicara di seberang telepon. Seolah seperti pencuri dan penguntit, Ara berjalan perlahan dan berjarak terus mengikuti Ega.
"Bang Bima??" Ucap Ara lirih. Suaranya bergetar tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Ega dan Bima tampak akrab, bahkan jabatan tangan keduanya terlihat seperti sudah lama saling mengenal.
Ara masih diam terpaku, bukan untuk mengamati atau menguping. Pikiran Ara kalut. Tidak ada sepatah katapun yang mampu Ara tangkap. Cukup lama kedua laki-laki itu bercengkrama hingga akhirnya Bima memilih pergi terlebih dulu.
"Mas Ega.." Ucap Ara lirih pada Ega yang sibuk memandang layar ponsel miliknya.
"Mas tadi sama siapa??" Lagi-lagi Ara bertanya kembali.
"Kamu di sini Ra??" Membulatkan sepasang matanya, keterkejutan tergambar jelas di wajah Ega.
"Iya Mas. Mas tadi sama siapa??"
"Oh itu.. Hmm.. Temen."
"Siapa namanya??" Memicingkan matanya, Ara terus menuntut jawaban jujur dari Ega.
"Ha? Nama?" Tampak Ega sedikit gelagapan mendengar pertanyaan Ara. "Siapa ya namanya?? Lupa Ra.."
__ADS_1
"Kata temen, kok lupa??"
"Dia baru di sini Ra.. Masih belajar juga, jadi Mas juga biasa panggil 'Dok' gitu aja sih.. Jadinya ya gak tau nama aslinya." Bohong sekali, jika tidak tau nama kan tidak perlu bertanya untuk tau. Kalau begitu apa guna tanda pengenal yang tergantung pada leher Bima?
'Gak mungkin Eric yang di maksud itu Bang Bima kan??' Pupil mata Ara yang mengecil jelas menandakan ketidakpercayaannya pada ucapan Ega dan segala macam yang terlintas di benaknya.
'Namanya aja beda, gak mungkin lah.. Tapi, Bang Bima itu pendatang baru. Gosipnya juga bersih.. Gak mungkin dia Eric. Jauh banget dari nama Bima ke Eric.' Meski kepalanya menggeleng, namun gemeretak gigi yang seolah sedang kedinginan itu tidak berhenti sedikitpun.
Duduk termenung Ara di sudut rumah sakit yang entah pada bagian apa, kuku ibu jari kanannya kembali menjadi korban gigitan. Bibir Ara bergetar, kakinya menghentak gusar. Bahkan jari yang ikut tergigit tidak terasa lagi oleh Ara.
Ara semakin miris pada hidupnya. Tidak ada yang benar-benar bisa Ara percayai untuk menggantungkan hidupnya. Hanya dirinya sendiri yang bisa Ara beri kepercayaan untuk melukis rasa bahagia, meski Ara masih tidak tau seperti apa bahagia yang sesungguhnya.
Seperti Hans yang meluluhlantakkan cintanya dengan kenyataan sebagai barang taruhan. Layaknya Dewa yang Ara kagumi justru merendahkan harga diri Ara secara terang-terangan. Kini Ara harus menaruh penuh dugaan pada Bima sebagai sosok penipu. Bahkan Rava, sosok yang katanya mencintai Ara juga ikut menambah daftar pelaku yang membunuh hatinya.
Terbayang bagaimana intimnya posisi Rava dan Dian di mata Ara seolah menggores pupil yang melebar mendadak. Agenda membeli camilan di supermarket harus ternoda dengan pertunjukan tangan yang bertautan antara sepasang manusia berlainan jenis. Sosok yang beberapa hari ini gencar mendekati Ara bersama wanita lain yang sudah jelas terbukti menaruh hati pada sang laki-laki.
Luka. Ara terluka meski belum ada cinta di hatinya. Tergores lagi kepercayaan yang Ara miliki. Jika dunia bisa Ara hentikan, ia akan tertawa terbahak-bahak menertawakan kisah hidupnya tanpa ada seorangpun yang tau.
Padahal belum lama ini, masih pada hari yang sama Rava bertandang ke rumah di pagi buta demi mengantar sekantong berisi apel hijau, jeruk dan nanas. Miris sekali buah-buahan kesukaan Ara akan mengingatkan Ara pada rasa sakitnya yang lain.
Bagai dejavu Ara harus kembali merasakan kesialan berlipat pada 1 hari yang sama, persis seperti kejadian yang terjadi hampir 6 tahun yang lalu. Merogoh pisau lipat yang tadinya ingin Ara hunuskan pada orang yang menyakitinya, dipandangi ujung benda tajam mengkilap itu. Suara-suara yang berdenging terus memaksa Ara untuk menyerah pada besi meruncing yang digenggamnya erat.
...****************...
Operasi Bypass Jantung : Operasi yang dilakukan dengan cara mencangkok pembuluh darah dari bagian tubuh lain, untuk kemudian ditempelkan dan dijahit ke otot jantung yang mengalami kerusakan akibat penyumbatan pembuluh darah jantung. Dimana penyempitan dan pengerasan dapat diakibatkan dari penumpukan plak pada dinding arteri.
Operasi Bypass Jantung juga memiliki beberapa resiko, salah satu diantaranya adalah gangguan irama jantung (aritmia) serta serangan jantung berulang.
*
*
*
Yuk komen gimana isi bab hari iniš
Apa ada yang lagi marah sama Hana nih sekarang??š¤š¤
*
*
Mau curhat sedikit, sebelum kisah Ara ini terpampang nangkring di BERANDA UTAMA ada proses panjang dimana Hana ngerasa gak adil.
Kenapa?
Karena katanya semua tergantung sistem dan performa rajin UPš Iya sih Hana jam nya gak tentu, tapi sebisanya tiap hari UP, bahkan sebelumnya Hana ada loh yang double UPš
Dan disaat kisah Ara udah sampai bab 30 harus lihat karya sesama author baru yang masih bab belasan udah punya panggung di beranda utama, bahkan like dan popularitas masih rendah. Manusiawi sekali kan kalau Hana ngerasa 'kok punya ku gak ke beranda ya?', 'salah novel ku apa ya?'. Untung Hana udah cukup senang sama pendukung lama yang udah hadir duluan buat temen ngobrol jiwa ku yang kesepian š jadi habis itu ya udah lah selow aja. Bahkan masalah kontrak pun juga sempat Hana keluhinš
Sempat ungkapin keluh kesah di novel corner dari 2 masalah itu, mungkin di sini ada temen ghibah ku dari sana yang baca. Hi seperjuangan š
Nah sekarang ini inti ceritanya š¤ Jadi Kakak-kakak tersayangnya Hana, 2 hari setelah Hana gak ngeluh minta Beranda Utama kisah Ara malah langsung nongol. Dan hari ini LULUS KONTRAK setelah kemarin malam Hana komen kenapa proses review ulang banyak karya itu bisa berbulan-bulan, nanya tentang penilaian kontrak sebenarnya itu apa, dan banyak kebacotan lainnyaš¤£
Jadi sekarang ini Hana ngerasa, Apa perlu ku ghibah dulu ya biar langsung proses??š¤
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°
__ADS_1