
"Rava berangkat dulu Pa, Ma." Ucap Rava mengukir senyuman di wajah rupawan. Senyum cerah yang berubah canggung kala matanya beralih menatap Rian dan Jona yang terang-terangan mengawasi dirinya.
"Duluan ya Dek.." Ucap Rava canggung, langkah kaki sedikit tersendat itu tampak sedang salah tingkah. Hanya Jona yang membalas senyuman dan anggukan kecil, sedangkan Rian menyilangkan kedua tangan menyorot Rava dengan tajam.
"Kakak berangkat dulu Ma, Pa.. Bye Baby.. Daa Mamas.." Ucap Ara dengan suara meninggi, mengeluarkan kepalanya Ara melambaikan tangan heboh hingga menghilang dari pandangan keluarganya.
"Terima kasih ya Mas.." Ucap Ara kala ia sudah duduk nyaman, menatap sisi samping wajah Rava. Hanya anggukan kecil sebagai jawaban. Memilih memandang lurus ke depan, Ara sedikit meremas telunjuk kanannya, ada sesuatu yang ingin Ara ungkapkan kepada Rava.
"Mas.." Panggil Ara lirih, namum cukup mampu mengetuk gendang telinga Rava.
"Hm.." Jawab Rava singkat, bahkan terlalu singkat hingga Ara nyaris mengira Rava sedang mendorong dahak di tenggorokannya.
"Ara mau ngomong sedikit, gak apa-apa kan?" Tanya Ara pelan, sejujurnya ia ingin mengungkapkan langsung pada intinya. Namun Ara pikir tidak ada salahnya bertanya sebagai bentuk kesopanan atau sekedar basa-basi.
"Nanti aja. Ini masih diperjalanan." Jawab Rava yang tidak kalah singkat meski sudah lebih banyak kata terucap. Penolakan biasa yang tetap membuat Ara mendesah kecewa. Ara pikir Rava akan menyambut dengan senyuman seperti biasanya.
Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, hanya deru mobil dan kebisingan di luar yang mengisi pendengaran Ara. Melirik sekilas pada sosok yang entah mengapa terasa berbeda, Ara bagaikan berada di tempat asing.
Perilaku aneh Rava jelas sangat kentara. Tidak ada Rava yang sering menatap Ara lekat. Tidak ada Rava yang diam-diam mencuri pandang lagi. Dan yang paling kentara adalah Rava yang lebih pendiam saat bertemu Ara. Tidak ada kalimat manis yang biasanya Ara abaikan.
Bukan tidak ngotot dan memaksa Rava memberikan keputusan mutlak Ara harus berangkat ke kampus dengannya. Segala dugaan berlebihan Rava sampaikan agar Ara tidak nekat pergi menggunakan ojek. Bahkan tampaknya alam mendukung usaha Rava pagi itu, langit mendung dengan awan hitam yang tebal menutup sinar sang mentari.
Meskipun cuaca mendung membuat Rava urung pada modus boncengan, namun Rava tetap bersyukur bisa bersama Ara. Sungguh perubahan cuaca yang sangat jomplang dari malam yang panas menjadi pagi yang dingin.
Senyum samar sekilas dan debaran membuncah Rava melewati pagi sejuk dengan orang terkasih. Sayangnya hanya Rava yang diam-diam merasakan bunga-bunga bermekaran, seolah angin musim semi menerpa dengan aroma manis nektar dan aroma menyegarkan dari gesekan rumput hijau. Dalam diam ada degup jantung yang berdetak tidak karuan, tersembunyi dalam wajah dingin nan datar milik Rava.
Sedangkan bagi Ara, cuaca pagi itu seperti sikap Rava yang melukainya. Seakan sama seperti Rava yang mulanya hangat kembali menjadi dingin pada Ara. Sungguh Ara merasa kedinginan dan sendirian. Ara mendengus kesal, dirinya seakan hanya pengharum mobil yang terabaikan. Tidak ada obrolan, bahkan satu katapun tidak terucap lagi dari bibir Rava.
Layaknya daun yang sengaja digugurkan agar pohon tidak kehilangan banyak persediaan air sebagai energinya. Entah mengapa Ara ingin menyerah dan melepaskan saja sesuatu yang sempat membuatnya bahagia. Takut sikap keras kepala untuk bersedia berjuang bersama Rava justru menyakiti dan menghancurkan dirinya hingga tidak tersisa.
Sudah terhitung 5 hari keduanya tidak bertemu dan pagi ini dengan segala usaha memaksa yang Rava lakukan Ara sudah duduk di bangku sampingnya. Meskipun komunikasi pada setiap pesan singkat tetap lancar bahkan layaknya pasangan yang menjalin kasih, namun sikap Rava kali ini membuat Ara terluka karena diabaikan. Mungkin cukup wajar untuk sebagian orang, namun Ara yang ketakutan akan dibuang dan dicampakkan tentu memiliki pemikiran yang berbeda.
Berusaha berpikir positif bahwa Rava hanya ingin fokus mengemudi tidak menyurutkan pikiran buruk terus berkelana dan semakin menjatuhkan kepercayaan diri Ara. Menopang kepala pada sisi kaca, Ara lebih fokus menatap jalanan yang terus berganti. Mengukir asal adegan mengerikan di pelupuk mata, Ara kebosanan. Perjalanan menuju kampus bahkan terasa lebih panjang dan memakan waktu.
"Hah!!" Menghembuskan nafas kasar, Ara sudah muak dengan situasi tidak nyaman baginya itu. Menyandarkan punggungnya, mata terpejam Ara menahan rasa panas membakar.
"Kamu kenapa Ra?" Tanya Rava lembut yang justru membuat Ara jengah. Tidak ingin lagi telinganya mendengar suara Rava. Seolah semuanya hanya mimpi buruk yang terlihat indah.
Tiba-tiba Ara merasa sangat terluka, ada sesak yang menghimpit rongga dadanya. Seakan seluruh pasokan oksigen telah habis dihirupnya, Ara ingin memukul lehernya yang tercekik.
"Gak apa-apa." Mengalihkan wajah keluar jendela mobil yang perlahan Ara turunkan kacanya, jawaban Ara cukup ketus. Mata yang akhirnya terbuka itu menatap sendu pantulan wajahnya dari kaca spion mobil.
Sikap ketus dan kalimat keramat yang Ara lontarkan membuat Rava gelisah. Berusaha menepikan mobilnya, Rava memikirkan berbagai kalimat penuh bujuk rayu. Ada rasa bersalah terselip di hati Rava, ia merutuki kebodohannya yang mendiamkan Ara. Padahal semua hal yang terjadi bukan salah siapapun, hanya dirinya yang tidak bisa mengendalikan sikap.
Tin..!! Tin..!!
Suara klakson dari arah belakang membuyarkan konsentrasi Rava, tidak sadar gerak lambat mobilnya memicu kemacetan. Mengurungkan niat menepi, Rava mulai memacu baja hitamnya cukup kencang menuju kampus. Sedangkan Ara yang dibawa kebut-kebutan justru bersyukur akan tidak berlama-lama di dalam mobil yang entah mengapa terasa pengap. Bisa-bisanya Ara malah bersyukur, tidak tahukah jika kebut-kebutan bisa membuat keduanya juga cepat sampai ke peristirahatan terakhir.
__ADS_1
Klek.
Suara pintu yang sudah tidak dikunci mengejutkan Ara. Lamunan panjang dalam perjalanan tanpa kata itu sungguh mengerikan. Ara ingin menyerah, padahal tekadnya baru terbentuk kurang dari 24 jam. Iya, tekad memahami Rava lebih jauh lagi itu perlahan runtuh bersamaan dengan sikap acuh Rava kali ini. Tidak tau kenapa Ara lemah sekali. Jika biasanya ia memiliki pendirian yang sangat kokoh, namun bila dikaitkan dengan Rava jadi sangat mudah sekali goyah.
"Ara tunggu dulu.." Ucap Rava akhirnya sebelum kaki kiri Ara benar-benar menapak ke paving segi enam yang tersusun rapi. Di pinggir jalan taman Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Rava menghentikan mobil mewahnya. Tentunya menarik perhatian banyak pasang mata. Jelas semuanya tau siapa sang pemilik mobil mewah itu. Apalagi status dogan dingin sejagat yang sudah tersemat, bukan hanya cogan apalagi es degan, tapi dogan alias dosen ganteng.
"Kenapa?" Tanya Ara datar, kakinya memilih meneruskan tujuan untuk melangkah keluar.
"Maaf." Sebuah kata maaf yang Rava lontarkan tidak memuaskan Ara. Ia kecewa pada sikap Rava, tidak ada hal yang perlu Ara maafkan atau sebuah masalah yang terjadi. Bahkan akan lebih baik terjadi perdebatan atau Rava menegurnya bila memang Ara melakukan kesalahan, begitu pikir Ara.
"Sebentar lagi Ara masuk kelas. Ara pergi dulu ya Mas, terima kasih." Jawab Ara tanpa menatap Rava, menutup pintu mobil perlahan agar tidak menarik banyak perhatian. Namun sayangnya tanpa menghempaskan kasar pintu mobil, Ara sudah sangat menarik perhatian banyak pasang mata yang berlalu-lalang. Belum lagi rupanya Rava ikut keluar dari mobil yang tidak jelas untuk tujuan apa.
'Apa aku salah lagi?' Melangkah pergi, Ara bahkan tidak sadar Rava masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.
'Aku udah menegakkan kepala ku, berusaha memandang yang hadir lagi. Tapi apa keputusan ku salah lagi?' Mengepalkan tangan kanan kuat yang menimbulkan sedikit rasa nyeri, Ara justru mengencangkan kepalanya. Berharap sakit di hatinya beralih pada telapak tangan yang mungkin bisa terluka lagi.
Ara berhenti melangkah, memutar tubuhnya tersenyum pada sosok yang sadar telah melukai hati Ara. Rava masih berdiri di samping mobilnya menatap nanar Ara yang sudah cukup jauh. Bukan tidak berani mengejar, bahkan Rava ingin sekali memeluk Ara. Namun Rava tidak bisa membiarkan Ara menjadi bahan gunjingan lagi. Sudah cukup tindakan cerobohnya dahulu mengusik kedamaian hidup Ara.
Bagaimana Rava tau hal itu?
Tentu saja karena seorang mata-mata sudah Rava bayar untuk melaporkan segala hal yang mengusik Ara. Tanpa disadari Ara, sosok itu bak seorang penghianat yang mengawasi gerak-gerik Ara. Beruntungnya penghianatan yang dilakukan tidak merugikan Ara sama sekali, atau mungkin belum saatnya akan merugikan Ara.
"Kamu.. Menyebalkan." Ucap Ara lirih sambil tersenyum, sangat terlihat bahagia jika sepasang mata Ara ditutup kain hitam. Pergerakan bibir Ara sama sekali tidak bisa Rava artikan. Terlalu tipis hingga seakan Ara hanya berupaya merenggangkan bibirnya.
Rintik hujan yang datang tiba-tiba membuat langkah kaki Rava ingin mengejar Ara. Namun belum sempat Rava bertindak, Ara sudah berlari sekencangnya menuju gedung fakultas.
"Pagi-pagi udah jelek aja, kenapa?" Tanya Dimas seenaknya, ia masih duduk santai di pagar bata setinggi pinggul Ara. Jika Ara termasuk manusia yang doyan makan hati mungkin keduanya sudah lama berperang. Bibir Dimas benar-benar tidak bisa digunakan sebagai filter.
"Putus cinta?" Tanya Dimas lagi.
"Apaan sih!?" Mengernyitkan dahi, Ara tatap malas wajah Dimas yang terlihat cukup kusut itu. Berjalan ke arah kursi di lorong fakultas, langkah kaki Ara juga diikuti oleh Dimas.
"Dirimu kali yang putus cinta. Kusut banget kayak kurang ditampar duit."
"Udah bisa menghina temannya nih sekarang??" Tanya Dimas dalam nada menggoda.
"Heh.." Menghela nafas perlahan, Ara menggelengkan kepalanya. Menepuk-nepuk pelan bahu Dimas dengan menahan kekesalan.
"Kalian berdua mojok di sini gak ngajak-ngajak aku!!?? Tega!!" Suara melengking yang mau tidak mau memaksa Dimas dan Ara menatap sosok pemiliknya. Jelas sekali itu suara Yuki. Tanpa perlu dilihat sebenarnya Ara dan Dimas juga sudah tau.
"Nah ini biang muka kusut ku.. Gara-gara dengerin cewek gila nangis semalaman aku jadi kurang tidur." Berkacak pinggang Dimas menatap sengit Yuki dengan mata melotot. Tampak pula mata membengkak Yuki yang terlihat jelas bila diperhatikan, make up tebal ternyata tidak sanggup untuk menipu.
"Kenapa lagi?" Tanya Ara lirih, ia paham alasan apa yang membuat si ceria Yuki bisa menangis semalaman. Rasa kasihan menyeruak di hati Ara, tentunya bukan untuk Yuki, melainkan Dimas yang harus siap pasang telinga.
Jangan kira Dimas atau Ara bisa saja menjauhkan ponsel atau membungkam speaker panggilan suara, tidak semudah itu. Bila ingin Yuki cepat menyelesaikan drama tangisnya, maka Ara dan Dimas harus siap mendengar dan memberikan pendapat dari awal hingga akhir jika tidak menginginkan adanya pengulangan.
__ADS_1
"Aku udah gak kerja di restoran dia lagi." Jawab Yuki sambil cemberut. Mendudukkan dirinya di dekat Ara, tentu saja posisi Ara berada sebagai penengah atau tepatnya pembatas Yuki dan Dimas.
"Iya, terus apa lagi? Bukannya habis nangis sampai maskara luntur itu besoknya langsung resign?"
"Jangan diingatkan maskara luntur juga kali Ra..!!" Gerutu Yuki yang kesal dengan maskara abal-abal, ia sudah tertipu online shop gadungan.
"Terus apa lagi sekarang?" Tanya Ara lagi.
"Aku lihat dia lagi sama anak temen Tante ku yang belum lama ini nikah. Mereka kayak punya hubungan lagi. Aku gak pernah lihat dia tertawa sebahagia itu Ra.." Ucap Yuki dengan pandangan lurus, namun pikirannya jelas melambung tinggi nan jauh seperti layang-layang yang siap diputus benangnya.
"Udah dibilangin dia itu bukan siapa-siapa mu, buat apa ditangisi?? Perduli dia sama mu?? Tau aja nggak. Lagian kalau tau juga ya masa bodoh, siapa Yuki?? Paling di otak dia isinya cuma mantan pramusaji yang ganjen sama dia. Buang-buang waktu tau gak!!" Ucap Dimas pedas, cukup pedas dibandingkan serbuk cabe yang ditambahkan merica, jahe dan lengkuas. Ungkapan geram yang Dimas lontarkan jelas untuk menyadarkan Yuki yang tergila-gila pada sosok tampan bak model asia.
"Lagian kalau emang mereka berhubungan lagi, udah jelas laki-laki itu gak pantas buat mu. Dirimu itu terlalu berharga buat disia-siakan pebinor yang berkedok pangeran kodok kayak gitu." Menggebu-gebu, itulah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana Dimas saat ini.
"Dengerin ya buat kalian berdua, mau laki-laki atau perempuan, kalau orang itu berusaha, boleh kok kita jual mahal. Tapi ya gak selamanya juga sok jual mahal, bisa-bisa menyerah duluan yang berjuang itu. Jujur ya menurut ku bukan mereka gak serius, tapi manusiawi ada rasa lelah berjuang sendiri. Sekarang aku tanya, capek gak lu berjuang sendiri?" Tanya Dimas pada Yuki dengan tatapan tajam.
'Apa Mas Rava udah lelah ya?' Rupanya ada jiwa lain yang ikut tersentil. Perkataan Dimas seolah menyadarkan Ara bahwa ia sudah cukup lama mengabaikan Rava. Jujur bukan itu maksud Ara, ia hanya terlalu takut memulai lagi. Memasukkan sosok asing dalam hidupnya lebih rumit dibanding menyelesaikan soal kalkulus yang Ara tidak senangi.
Tiba-tiba langit gelap itu membiru namun tetap menangis. Layaknya senyuman Ara yang terus terukir, namun hatinya kembali runtuh dalam tangisan pilu. Ara sudah cukup goyah.
...****************...
*
*
*
Ada apa dengan Rava?😞
*
*
Mau buat AADC gak bisa, nanti malah jadi 'Ada Apa dengan Cuit'. Iya, Cuit alias Dimas.😌
Ehh.. Tapi mungkin gak kalau sebenarnya Dimas suka sama Yuki?🤔 (Nah Loooohh🤭)
By the way, Hana mohon maaf yang sebesar-besarnya karena lama UP🙏🙏 lagi sibuk banget dan kurang fit🙏🙏 Otak dengan imajinasi tidak seberapa ini gampang panas kalau dikebut kejar deadline 🤦♀
Semoga Kakak-kakak pembaca semuanya masih mau bertahan memantau kisah Ara ini ya.. 😊
Nih Hana kasih bonus visual Abang Gilang yang Hana tunggu kepulangannya malah asik santai sendirian🤧
*
__ADS_1
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰