Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Aku yang Mencintaimu


__ADS_3

Terik matahari menyengat kulit Ara. Baru juga ia berdiri 10 menit sudah tampak kemerahan di permukaan kulitnya. Apalagi mukanya, tanpa diberi perona juga sudah mirip kepiting rebus. Belum lagi rasa geli di punggungnya akibat banjir keringat.


"Mas ngapain bawa aku ke sini?? Hari ini aku mau ketemu Dokter Dion tau." Gerutu Ara sambil menghentakkan kedua kakinya bergantian.


"Kita lagi nungguin target selanjutnya." Celetuk Mas Ega santai.


"Heh!! Target apaan lagi?? Kan Mas udah bantu aku urus perempuan itu." Gumam Ara samar yang masih mampu ditangkap pendengaran Mas Ega.


"Lihat itu. Dia target kita selanjutnya." Mata Ara mengikuti arah telunjuk Mas Ega pada sosok laki-laki yang baru tiba di depan sebuah gedung perkantoran.


Lutut Ara melemas. Kakinya tiba-tiba seperti ditebas habis. Debaran kuat dari jantung Ara semakin menyulitkan Ara untuk sekedar bernafas.


Brugh


"Kuat Ra. Kuat. Kamu bisa." Ucap Ara lirih masih dalam keadaan terduduk dan menunduk, Ara hanya mampu mendengar suaranya sendiri.


"..Huh ..Huh ..Huh." Tarikan nafas dalam itu perlahan menyadarkan Ara. Suara keramaian didekatnya mulai Ara dengar kembali.


"Udah Mas duga kamu pasti punya masalah juga sama laki-laki itu." Ucap Mas Ega lirih, "Bilang sama Mas dia ngapain kamu?"


"Maksudnya apa ini Mas??" Ara mendongak menatap Mas Ega. Kerutan di kening Ara tampaknya semakin bertambah.


"Awal mula semua masalah gara-gara laki-laki itu kan?? Kita selesaikan dia. Hadapi dia Ra!! Kamu harus lepas semua beban kamu satu-persatu." Ucap Mas Ega sambil memegangi kedua pundak Ara dan membawanya untuk berdiri.


"Kali ini Mas harus melibatkan kamu Ra. Kalau Dinda itu sepenuhnya amarah mu. Tapi Dewa.. Pernah ada perasaanmu yang dibawa laki-laki itu. Benarkan?" Tanya Mas Ega menatap lekat kedua mata Ara. Ara hanya mampu memalingkan wajahnya. Hatinya sangat sakit kali ini.


"Kenapa Mas Ega bisa tau masalah itu??" Ucap Ara dalam hati yang penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Jadi lepasin sendiri ya?? Mas pasti bantu kamu. Jangan takut kalau kamu bakalan sendiri lagi ya. Maafin kesalahan Mas dulu yang gak bisa kasih dia pelajaran. Mas memang gak lebih pantas buat ngomong kayak gini, karena Mas juga ada nyakitin Adik perempuan Mas satu-satunya ini. Tapi sekarang kamu berusaha ya Ra, hadapi dia secara langsung lagi." Lanjut Mas Ega lagi.


Ara membenarkan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Mas Ega. Ara sendirilah yang harus menghadapi Bang Dewa jika ingin segala beban itu hilang.


Mengingat saat Ara terpaksa menghadapi Hans, sangat berat sekaligus menakutkan. Akan tetapi, jika dilihat saat ini maka hubungan Ara sudah lebih baik, layaknya orang asing yang tidak memiliki masalah. Meski Hans masih gencar mendekatinya. Beruntung mereka harus terpisah kota.


Sangat sulit memang Ara melepas bayangan menyedihkan 4 sosok yang membuatnya ingin jauh-jauh dari laki-laki. Satu tahun terberat dalam hidup Ara. Kala ia telah mampu menggantikan sosok yang telah lama mengisi hatinya, sosok pengganti itu juga menghancurkan hati Ara, bahkan orang tersayangnya juga meninggalkannya.


Bang Dewa adalah sosok pertama yang membuat Ara kecewa dan marah pada laki-laki. Kedua, Hans membuatnya tidak ingin lagi mempercayai omongan laki-laki lain kecuali Papa Yudith, Jona dan Rian. Serta yang ketiga masih Ara ingat memiliki panggilan 'Gus', sosok hitam manis yang pernah hampir Ara hancurkan 'masa depannya' telah membuatnya jijik dan membenci sosok laki-laki. Dan Mas Ega adalah laki-laki terakhir yang membuat Ara benar-benar yakin tidak ingin bergantung pada laki-laki manapun kelak. Ara ingin hidup sendiri tanpa laki-laki selain Papa dan Adik-adiknya.


Sudah cukup sakit dibuang orang yang masih memiliki hubungan darah. Ara tidak ingin lagi dicampakkan oleh orang lain.


Bahkan saat ini melihat Mas Ega yang tumbuh dengan baik, timbul secuil rasa marah dan iri karena mengingat bagaimanapun kelahiran Mas Ega, kebodohan dan tingkah nakalnya saat kecil maka ia tetap akan diagung-agungkan. Sedangkan Ara, hingga kini sekuat dan sebesar apapun usaha ia menjadi anak yang membanggakan tidak akan berarti apa-apa. Bahkan bukan hanya keluarga Mama Lauritz, namun keluarga Papa Yudith juga tidak menerima kehadirannya.


...----------------...


Berlalu dari kejadian di lingkungan perkantoran siang hari itu. Ara kelelahan, tidak hanya batinnya yang baru saja dipaksa menerima masa lalu, namun juga pikiran yang dikuras beberapa waktu ini untuk hal-hal yang jahat. Ternyata melakukan hal-hal jahat dan merugikan tidak semudah yang Ara bayangkan.


"Maafin aku yang gak bisa selalu ada buat kamu. Apa sekarang kamu sudah bahagia??" Tanya sosok samar dalam mimpi Ara. Seseorang di dalam mimpinya sedang menggenggam jemari tangan Ara lembut. Tidak lama, sosok itu hilang ketika suara suster Nindi terdengar memanggil nama Ara.


Mengerjap perlahan Ara amati sekitarnya. Senyumnya muncul kala Ara melihat telapak tangannya. Mimpinya tampak nyata, seolah ada yang benar-benar disampingnya berbisik dan menggenggam jemarinya lembut.


"Kayaknya ada yang seneng banget ini??" Intrupsi suara milik Dokter Dion. Rupanya Ara masih memperhatikan telapak tangannya hingga tidak sadar ia telah berjalan sampai ke ruang Dokter Dion.


"Duduk dulu. Ini minum. Pasti lama kan nunggunya??" Tanya lembut Dokter Dion pada Ara.


"Malah Ara tidur tadi, jadi gak tau lama apa nggak. Di sini enak buat tidur." Celetuk riang Ara.

__ADS_1


"Untung aja ya kemarin kasih obat lebih satu minggu. Jadi kita ketemunya gak terlambat. Kamu sibuk banget ya sampai tumben minta sesinya dimundurkan??" Tanya Dokter Dion setelah kembali duduk di kursinya.


"Hehe.. Iya Dok. Tugas kuliahnya banyak." Bohong. Ara sengaja memundurkan sesi konsultasinya bukan karena tugas kuliah.


Mulut manis Dokter Dion sangat pandai membujuk Ara untuk berkata jujur. Ara takut pikiran jahatnya akan terbaca Dokter Dion, sehingga lebih baik setelah semua rencananya terlaksana ia baru bertemu Dokter terbaiknya itu. Meskipun Dokter Dion hampir tau kisah hidup Ara, tapi tetap saja ada hal yang Ara ingin simpan untuk dirinya sendiri.


"Sekarang, bisa kita mulai cerita??" Jika Dokter Dion sudah berkata seperti itu, maka yang Ara lakukan adalah mulai menceritakan kesehariannya yang kira-kira mengganggunya sampai pada saat ia kehilangan kontrol dan apa yang ia lakukan.


Setiap sesi pertemuan tidak selamanya Dokter Dion akan memberikan Ara dosis obat baru. Terkadang Ara akan diajari trik mengontrol emosinya, cara melampiaskan lebih baik dari pada melukai diri, makan berlebihan, menggigiti kuku bahkan kebiasaan cuci tangan berlebihan yang harus Ara kontrol karena terlalu ekstrim.


"Nah kalau kemarin gambar udah bosan, dari cerita tadi kayaknya sekarang kamu lagi suka baca novel ya.." Tampak Dokter Dion sedang mulai berpikir.


"Hem.. Untuk kali ini sarannya, coba selami setiap tokoh novel yang Ara baca. Pahami secara emosional.. Bahkan saat karakter itu sedih dan ingin menangis, Ara gak apa-apa ikut nangis. Jangan pernah tahan tangis mu di rumah ya sayang.. Kan kalau ditanya kenapa nangis bisa kasih tunjuk novelnya. Gak perlu malu ya.." Ucap Dokter Dion lagi sembari mengulas senyum manisnya.


"Ekspresikan aja apa yang kamu rasain. Tapi ingat satu hal, pelajari emosi kamu sendiri itu lebih penting. Kamu harus mengenali setiap emosi yang kamu sendiri hadirkan. Kecewa, marah, sedih atau hanya pengen nangis." Lanjut Dokter Dion sekali lagi sambil tersenyum.


...----------------...


Menangis jika ingin menangis.


Jangan memaksa tersenyum jika itu melukai kamu sendiri.


Berhenti jika kamu lelah.


Kamu gak akan pernah sendiri, ada aku yang selalu ada di dekatmu.


^^^Aku yang mencintaimu^^^

__ADS_1


Dilemparnya kertas kecil berwarna biru berisi tulisan itu. Pagi itu Ara ingin mengeluarkan uang dalam tas selempang yang kemarin ia pakai, namun Ara dikejutkan dengan kertas biasa dengan isi yang luar biasa itu baginya.


Kekhawatiran Ara membuat kebiasaan menggigit kuku jarinya tanpa sadar ia lakukan lagi. Ara tatap lagi sekilas kertas di atas lantai itu. Gila memang, tapi ada rasa bahagia yang menyeruak di hati Ara. Rasa diinginkan dan dicintai yang benar-benar Ara idam-idamkan membuatnya malah senang bukan kepalang. Sewajarnya harusnya Ara gemetaran ketakutan.


__ADS_2