
Insiden terjebak dalam mobil di parkiran bersama Pak Kim sudah berlalu 2 hari yang lalu. Meskipun sempat main polisi-polisian dengan segala tingkah mengendap-endap sampai menempelkan tubuh ke pohon akasia dan berpura-pura memunguti daun-daun kering sudah Ara lakukan. Bahkan Ara sempat sampai melotot tajam saat dengan tidak berprikeperasaannya Pak Kim malah membunyikan klakson untuk menyapanya. Ingin rasanya Ara patahkan jari-jari kokoh Pak Kim itu.
Saat ini di bangku tunggu pada lorong rumah sakit Ara tengah duduk berdua dengan Dokter Dion di sampingnya. Bukan jadwal Ara untuk berkonsultasi, namun ia butuh Dokter Dion.
"Aku ketemu dia lagi. Udah 2 kali. Rasanya dia masih sama kayak dulu. Cara bicaranya sampai tatapan mata ke orang lain masih sama. Tapi.." Ucap Ara terhenti, "Aku gak tau gimana tatapan dia kalau tau saat itu yang ada di hadapannya ada aku juga. Aku salah apa sebenarnya?"
"Apa salah kalau aku suka sama dia?? Kenapa rasa suka ku malah dibenci dia?? Aku bahkan gak pernah bilang secara lantang kalau aku suka dia, aku cuma cukup melihat dia aja. Sebenarnya salah ku dimana??" Tanya Ara sedih. Tidak ada air mata, hanya rasa ngilu di dada Ara.
"Dok, kasih tau Ara harus gimana?? Ara.. Ara mau balas rasa sakit ini. Tapi saat lihat dia aja aku rasanya gak sanggup." Ara menyangga dahinya pada kedua tangan dengan jemari yang ikut meremas rambutnya.
"Sebagai manusia aku gak mau munafik dengan bilang lupakan dia dan mulai pandang orang-orang lain di sekitar mu yang sayang sama kamu. Aku tau meskipun kamu udah berusaha memandang orang-orang yang sayang kamu, tapi tetap aja rasa sakit yang mengganjal dan butuh jawaban itu pasti ada." Ucap Dokter Dion dengan sangat tenang.
"Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menenangkan hati dan pikirannya. Sebagian memang bisa dengan langsung ikhlas, bahkan melupakan begitu aja. Tapi aku tau kamu gak bisa kayak gitu Ra." Lanjut Dokter Dion sambil menatap sisi samping wajah Ara yang sebagian masih tertutupi telapak tangan itu.
"Hadapi masa lalu mu kalau itu yang terbaik buat mu. Kamu butuh jawaban dari masa lalu mu itu kan?? Lepaskan dia dengan tangan mu sendiri. Kamu bukan orang yang bisa balas dendam, karena kamu juga akan ikut sakit. Aku juga percaya kamu bukan orang yang akan balas dendam. Dan ingat satu hal, aku bakal terus ada buat kamu sebagai Dokter dan sebagai salah satu orang yang sayang sama kamu." Ucap Dokter Dion yang saat ini benar-benar memposisikan dirinya bukan hanya sebagai Dokter bagi Ara, namun juga orang yang menyayangi Ara.
Kalimat terakhir Dokter Dion seakan menohok Ara yang sudah berbuat jahat pada orang lain demi tujuan balas dendamnya. Semua perkataan Dokter Dion benar, Ara tidak bahagia dan ia justru ikut merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
Rasa menohok juga dirasakan sosok yang diam mengamati di ujung lorong tertutup sudut bangunan itu. Sedari tadi ia telah mengikuti Ara.
Menyesal ia dulu mengatakan Ara bisa membalas dendam. Tujuannya kala itu hanya untuk membangunkan Ara yang sangat setia pada dunia gelapnya, namun kini justru menjerumuskan Ara pada penderitaan lain.
Jika saja ia tidak berucap untuk Ara balas dendam, mungkin saat ini Ara bisa jauh lebih baik. Akan tetapi semua ia lakukan agar Ara mampu berhadapan langsung dengan masa lalunya. Bahkan secara diam-diam juga ia berperan penting dalam membantu kelancaran tujuan Ara. Namun kini ia akui telah salah mengambil langkah.
Berlalu dari pembicaraan serius Ara dan Dokter Dion, saat ini di dua tempat yang berjauhan 2 orang laki-laki berbeda usia sedang larut dalam penyesalannya.
Pak Rava berada di rumah berlantai satu yang megah peninggalan kedua orang tuanya. Iya, Rava dan Dion, kakak beradik yang sudah menjadi yatim piatu semenjak 10 tahun yang lalu karena kecelakaan kedua orang tuanya.
Dibukanya laci meja yang selalu terkunci dengan berbagai rasa yang berkecamuk. Sambil tersenyum Pak Rava mengambil sebuah gelang kecil berwarna hitam persis seperti warna kesukaan Ara yang sebenarnya. Gelang kecil yang tidak akan lagi muat di pergelangan tangannya seperti dulu.
"Ayah, Bunda, Rava harus gimana sekarang?? Kebahagiaan Dion juga bahagianya Rava.. Tapi berat kalau Rava harus melepas Ara tanpa berjuang terlebih dahulu. Maafin Rava kalau nanti keegoisan Rava bikin Dion sedih. Rava sayang sama Dion." Ucap Pak Rava lirih sembari mencium gelang yang telah ia genggam.
Ia ingin memiliki Ara, menjadikan Ara pendamping hidupnya. Pak Rava bahkan sudah memimpikan keluarga kecil yang akan ia bangun bersama Ara.
__ADS_1
Cinta konyolnya pada bocah berseragam merah putih yang terus Pak Rava bawa sampai saat ini. Akan tetapi perasaan yang telah dijaganya harus tergoyahkan. Pak Rava rasanya tidak sanggup jika cintanya harus mengorbankan adik satu-satunya yang telah melewati masa sulit hanya berdua bersamanya. Namun melepaskan Ara begitu saja juga bukan keputusan yang mudah untuknya.
Laki-laki lain yang juga sedang kalut dengan perasaannya saat ini adalah Hans. Sejujurnya sebelum pertemuan di kafe Kejora, Hans sudah 3 kali berusaha untuk menemui Ara, namun ia urungkan. Hans hanya mampu melihat Ara dari kejauhan.
Tidak ada alasan bahkan keberanian dari diri Hans yang telah tertutup rasa penyesalan yang masih ia pikir semua karena Linda. Tapi kini Hans sadar, sikap Ara tidak sekanak-kanakan itu untuk menghindarinya begitu saja.
Hanya Ara yang mampu berbicara dengan tulus padanya. Hanya Ara yang mampu memposisikan Hans sebagai teman, sahabat, adik, kakak bahkan kekasih dengan rasa sayang yang tulus. Hans ingin berjuang lebih keras lagi untuk merajut kisah baru dan menghapus luka lama bersama Ara.
"Sekali lagi Ra. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Kali ini akan aku buktikan kalau aku beneran serius. Aku pasti bisa bahagiain kamu." Ucap Hans sambil menatap foto yang pernah diambil bersama Ara saat mereka memenangkan Olimpiade Sains Nasional.
...----------------...
Meraih ponselnya dari atas nakas, Ara mengirim pesan singkat pada seseorang. Sudah bulat tujuannya. Rasanya sudah cukup dia berkeinginan untuk balas dendam. Rasa sakit yang juga Ara rasakan saat menipu tantenya sendiri sudah memberi jawaban bahwa bukan ini yang sebenarnya Ara butuhkan.
Ara sudah bertekad akan menemui Bang Dewa secara langsung. Meminta segala macam penjelasan mengapa ia dibenci. Apa karena rasa suka dari seorang yang buruk rupa membuat Bang Dewa jijik, ataukah karena Ara yang sering mengamati Bang Dewa sehingga membuatnya marah. Namun semua itu tidak bisa membenarkan pembelaan Bang Dewa pada Kak Dinda yang sudah sangat jelas menyuruh orang melecehkan Ara. Ara butuh jawaban.
"Aduh!! Saking banyaknya pikiran sampai lupa chat Pak Kim lagi." Ucap Ara sambil terduduk kasar dan meraih kembali ponsel yang sempat ia letakkan lagi di atas nakas.
^^^✉^^^
^^^Ara^^^
^^^Sebelumnya maaf kalau saya menggangu waktunya malam-malam begini Pak🙏 ^^^
^^^Terkait berkas yang telah saya berikan sebelumnya, ada beberapa hal yang masih harus di bahas ulang. Jadi apa bisa saya datang menemui Bapak dalam waktu dekat ini*??^^^
Pak Kim
*Oke. Kamis sore.
Temui saya setelah ujian semester di kelas Manajemen1*.
^^^Ara^^^
__ADS_1
^^^Baik Pak, terima kasih dan sekali lagi saya mohon maaf bila mengganggu waktunya🙏^^^
"Hah.." Ara menghela nafas tanda kelegaan. Salah satu tugasnya akan segera Ara selesaikan, meskipun harus menunggu beberapa hari lagi karena saat ini masih hari senin.
Pertemuannya dengan Dokter Dion benar-benar sudah menyadarkan Ara. Cara bahagia baginya bukan balas dendam. Keinginan untuk melihat penderitaan orang-orang yang telah menyakitinya hanya dorongan emosi. Ara harus mencari jalan lain untuk bahagia dan sembuh dari rasa traumanya.
Mungkin hal ini yang sebenarnya pernah Ara takutkan bila bertemu Dokter Dion sebelum melancarkan penipuan pada Tante Laura. Ara takut ia akan goyah dan menghentikan rencananya.
...****************...
*
*
*
Gimana Bab kali ini?? Udah cukup belum?? 😁
Kira-kira apa yang akan dilakuin Rava sama Hans yaa??🤔 Coba tebak dong😉
Masih ku ingatkan lagi, kalau ada yang mau ditanyain apalagi banyak bisa nanti ku jawab di spesial pengumuman.. nah di situ nanti bakal aku ulas juga asal usul (Teng.. Teng.. Teng.. ) gitu😂
Cukup kasih kode 'TANYA HANA' 😉
Buat penutup nih, visual salah satu karakter.. Coba tebak kira-kira siapa yaa😄
*
*
Sebelumnya ada yang nanya nama lengkap Dokter Dion pakai clue 'Tanya Hana',, cuma gimana ya.. udah rencana bakal kasih bocoran di bab ini, jadi biarkan jariku yang suka kepleset ini beraksi yaa 😆
__ADS_1
Nama depan Dokter Dion diambil dari nama rasi bintang yang punya arti 'Beruang'. Walaupun di rasi bintang ada Beruang Besar dan Beruang Kecil, tapi nama depan Dion ini cukup yang artinya 'Beruang' aja😊 Jadi silakan tanya-tanya si mbah yaa😄
Nah kalau gitu apa semua nama-nama yang dipakai di sini punya arti tertentu?😳