Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Mengejar Calon Istri


__ADS_3

Menahan terik yang tanpa ampun membakar, Ara kira pagi itu akan semenyegarkan sore sebelumnya. Namun nihil, udara cukup kering meski angin berhembus kencang. Butiran debu-debu beterbangan, saling berlomba menampar wajah yang mendadak terpejam dan bibir terlipat rapat.


Upacara pembukaan sederhana dihadiri seluruh mahasiswa yang tersebar di beberapa Kelurahan dalam Kecamatan itu berlangsung kesiangan dan lama. Jadwal yang harusnya terlaksana tepat pukul 7 pagi harus diundur hingga lewat 40 menit, entah atas alasan apa, yang pasti cukup meresahkan.


Meski begitu Ara cukup bersyukur karena seperti yang Bapak Kepala Desa itu sebutkan bahwa memang masyarakat di sana cukup ramah.


Duk.


“Maaf.” Ucap Ara sambil menundukkan kepala, meminta maaf pada seseorang yang tidak sengaja disenggol nya.


Berlari kecil Ara mengejar teman-teman yang sudah berjalan mendahuluinya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, menatap telapak tangan yang terangkat di depan wajah dengan kernyitan heran. Ada sesuatu yang Ara lupakan hingga menimbulkan kekosongan.


“Topi ku mana??” Tanya Ara panik pada dirinya sendiri, memutar tubuhnya, tatapan Ara berkeliling mencari keberadaan topi yang sempat ia pegang di tangan kanan.


“Ara..!?” Pekik Zen pada Ara dari kejauhan, melambaikan tangan agar terlihat oleh Ara.


“Bentar..! Topi ku jatuh..!” Teriak Ara membalas, bukan hanya ditujukan pada Zen, namun semua orang yang menantinya.


“Jatuh di mana?” Tanya Lea yang sudah berdiri di samping Ara.


“Gak ingat, tapi pasti ada di atas tanah.” Jawab Ara dengan mata masih berkeliling mencari sebuah topi yang merupakan set seragam penanda mahasiswa yang sedang KKN.


“Ra, coba lihat itu..” Ucap Lea menunjuk dengan dagu yang terangkat.


Menolehkan kepala, lensa mata Ara menangkap bayangan samar wajah Rava. Mengerjap beberapa kali, Ara yakin dirinya tidak berhalusinasi. Dan benar saja, semakin ia terfokus pada sosok yang berjalan semakin mendekat, Ara secara tidak sadar terbelalak dengan mulut menganga kecil.


Laki-laki yang katanya akan sangat merindukan dirinya, merengek meminta kencan sebelum Ara berangkat nyatanya sudah berdiri gagah di hadapan banyak orang termasuk Ara, membuang pandangannya sesekali Rava melirik Ara dengan senyuman penuh makna.


‘Hei kamu Mas Rava!! Kenapa di situ!!??’ Jerit Ara dalam hati, bertanya-tanya dengan keheranan.


“Topi kamu.” Ucap Rava sambil memasangkan topi berwarna biru tua itu di kepala Ara.


“Ma-makas, ehh, terima kasih..” Ucap Ara kikuk dalam kondisi yang masih terkaget. Ingin Ara menampar pipi gembul miliknya agar sadar apakah semua hanya mimpi, halusinasi atau benar-benar kenyataan.


“Ma-..” Ucap Ara lirih yang terpotong.


“Siang Pak Kim..” Sapa Lea sopan dan ramah yang dibalas anggukan kecil oleh Rava.


“Sayang hati-hati lagi nanti kalau jalan, jangan suka nabrak sampai gak sadar siapa yang ditabrak.” Ucap Rava santai tanpa malu, justru Ara yang langsung berubah seperti udang bakar madu.


“Mas kok ada di sini?” Tanya Ara yang sudah menguasai keterkejutannya, melipat tangan dan memandang lekat Rava yang hanya memberinya cengiran.


“Ditanya nyengir.” Ucap Ara ketus dengan sorot mata galak.


“Mengejar calon istri Mas yang ada di sini.” Jawab Rava yang lagi-lagi dengan santainya.

__ADS_1


Mengipasi wajahnya yang memanas dengan telapak tangan, Ara membuang pandangannya dari Rava dan juga Lea yang masih setia di sisinya.


“Pak Kim?” Ucap seseorang yang berada di kejauhan.


‘Jadi gosip pacaran itu benar dan perempuannya Ara?’ Tanyanya dalam hati dengan tidak sepenuhnya yakin.


...----------------...


📩


Pak Kim


Terus laporkan kegiatan.


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^Siap, Pak. Semua aman, Ara juga sedang di kamar mandi gosok gigi menjelang tidur. Tadi hanya sempat mengobrol sebentar dengan Zen.^^^


Pesan itu sudah terbaca, tapi tidak menerima balasan lagi. Satu balok sinyal yang tiba-tiba menghilang dirasa sebagai penyebab pesan itu tidak terbalas.


Nyatanya Rava hanya membaca kilat isi pesan itu dan bernafas lega pada kondisi Ara yang baik-baik saja, meski cukup cemburu pada pemuda bernama Zen yang memang sejak awal tampak sok dekat dengan Ara.


“Internet kalian lancar gak?”


“Gak bisa buka jaringan internet di sini, kalau mau kirim pesan juga harus ganti kartu yang menjangkau daerah pelosok.”


“Ganti kartu juga sinyalnya hilang timbul gak jelas. Mau telepon pacar jadi gak bisa.”


“Pacar aja, Ibu mu udah dikabari belum hari ini??”


“Gak usah ditanya itu pasti nomor satu. Tapi gak tau udah terkirim apa belum.”


“Udah woi tidur! Gak akan baper dan muncul itu sinyal meski sampai berbusa kalian bahas.”


Begitulah obrolan singkat sebelum tidur yang Ara dengar, sudah melewati 5 malam dan hampir setiap malam yang dibahas hanya itu-itu saja. Mungkin efek anak Kota yang doyan berselancar di dunia maya, terbiasa menikmati kemudahan internet harus tiba-tiba dihadapkan pada kondisi yang bahkan untuk berkirim pesan saja harus menanti balok sinyal muncul di layar ponsel.


...----------------...


Tok.


Tok.


Tok.

__ADS_1


“Ck! Ini itu tempat orang, jangan semena-mena bangun siang hanya karena gak numpang langsung di rumah penduduk!” Gerutu Feby di pagi hari yang cerah setelah pintu kamar terbuka, menyembulkan sosok laki-laki bermuka bantal dengan mata menyipit dan tatanan rambut sarang burung.


“Eugh, berisik Feb!” Ucapnya dengan suara serak yang lirih.


“Zen mana?” Tanya Ara yang sudah siap sedia dengan tripod di tangannya.


“Aku? Di sini.” Ucap Zen dari arah belakang Ara, menenteng plastik bening berisi berbagai macam kue basah.


“Kamu dari mana?” Mengernyit heran, Ara bertanya sambil menatap penampilan Zen yang sudah rapi. Bahkan aroma parfum yang menggelitik rambut-rambut halus di rongga hidung Ara sudah menyeruak tajam.


“Beli ini buat sarapan.” Ucap Zen sembari mengangkat tangannya senang. Ia membeli cukup kue untuk semuanya mengganjal perut di pagi hari, tentunya bukan menggunakan uang kas bersama, namun uang pribadi miliknya.


Tin.. Tin..


“Hi, Ara cantik.. Kita ketemu lagi..” Sapa seorang laki-laki dewasa yang tersenyum tengil di balik setir kemudi.


Pletak.


“Rav!!” Pekiknya pada seseorang yang seenaknya menjitak, siapa lagi kalau bukan Rava. Ia tidak suka Ara nya digoda sembarangan.


“Buka pintu bagasi!” Ucap Rava ketus yang layaknya perintah.


“Kenyang lagi pagi ini kita..” Wajah-wajah belum terbasuh air itu tiba-tiba tersenyum sumringah menyaksikan Rava datang membawa sarapan pagi seperti hari-hari sebelumnya.


“Aku mau KKN selamanya kalau asupan tercukupi gini. Dari pada di kost menanti kiriman bulanan dan langganan mie instan.” Celetukan salah seorang teman Ara terdengar lucu, meski juga cukup miris.


...****************...


*


*


*


Sosok mata-mata 1 kelompok dengan Ara?🤔


*


*


Kita selesaikan sedikit masalah yang mengganjal dulu ya😊 Biasa kan memang musuh itu lebih berjaya kalau orang terpercaya🤭


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2