Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Kenapa malah nasib ku jadi asem gini??" Ratapan Yuki disepanjang perjalanan. Hawa dingin menusuk kulit yang menembus hingga ke jiwa harus Yuki tahan.


"Hah..!! Senjata makan tuan nih." Gerutunya kuat yang tersamarkan deru suara motor. Saking samar hingga tidak terdengar dari kedua sosok di belakangnya. Iya, di belakangnya yang sedang menikmati momen berboncengan berdua. Beruntung mengintip dari kaca spion keintiman Ara dan Rava tertutup silau sinar lampu kendaraan bermotor.


Bertekad kuat Yuki akan meluapkan keluh kesahnya pada Dimas. Tidak bisa ia menyimpan seorang diri kejadian fenomenal Rava dan Ara tadi. Sangat manis dan ingin membuatnya jingkrak-jingkrak sambil menjerit histeris.


"Dingin?"


"Nggak.."


Usapan lembut penuh sayang didaratkan pada punggung tangan Ara. Menempelkan tubuhnya di punggung hangat Rava, Ara merasa bersalah pada Yuki yang tersorot sendirian di depannya. Hilang pula waktu bersenang-senang Ara dan Yuki karena ulah Dinda.


"Bentar lagi sampai rumah Yuki.." Ucap Ara pada Rava, seolah sebuah peringatan agar memelankan laju motornya. Memasuki jalanan kawasan perumahan, Ara sudah dapat menangkap rumah megah yang hanya Yuki tinggali bersama asisten rumah tangga. Orang tuanya yang merupakan Abdi negara seringkali bertugas ke luar daerah, meninggalkan Yuki sang anak tunggal yang tidak ingin ikut berpindah-pindah.


Ara melepaskan belitan pada pinggang Rava dan melangkah turun menghampiri Yuki. Keduanya tampak berbincang singkat, meninggalkan Rava yang memantau dari atas tunggangannya. Berpangku tangan di kepala motor, Rava menatap lamat-lamat penampilan acak-acakan Ara.


'Bisa-bisanya tadi gak dirapikan dulu..' Ucap Rava dalam hati sambil tersenyum samar. Sudut bibirnya tertarik keluar dengan pupil mata yang bergerak mengikuti setiap pergerakan kecil Ara.


"Yuki.. Aku pulang ya sekarang.." Ucap Ara tiba-tiba membuyarkan konsentrasi mengagumi yang sedang Rava lakukan.


"Hati-hati yaa.. Pak, bawa temen saya jangan sampai lecet!! Jangan lupa balikin ke rumahnya, jangan diculik kalau gak mau dipenggal Om Yudith!" Canda Yuki yang sebenarnya tersirat ancaman nyata.


"Iya." Singkat, padat dan jelas. Begitulah Rava menanggapi ucapan Yuki. Tanpa a-i-u-e-o lainnya, Rava sudah menstarter motor.


"Duluan.." Menganggukkan kepala, tanpa senyum Rava tatap Yuki sekilas. Sedangkan Ara tentu saja heboh melambaikan tangan.


"Coba dia kayak Pak Rava.. Sayangnya, aku dilirik aja nggak.." Tatapan Yuki berubah sendu seiring sorot merah lampu motor Rava semakin menjauh. Terbersit rasa iri pada Ara yang mendapat limpahan kasih tanpa mengemis dan mengiba. Tidak perlu ditampik bahwa Rava memang secara terang-terangan menunjukkan perasaannya. Segala tingkah laku Rava tidak ditutup-tutupi dan dibuat-buat, semuanya terlihat sangat jelas dan tulus.


Memilih mengenyahkan rasa iri di hatinya, Yuki sudah bergelung di atas kasur. Sedangkan Ara masih memiliki waktu cukup panjang untuk sampai ke rumahnya.


"Mau ngapain?" Tanya Ara heran, pasalnya motor Rava sudah menepi di depan sebuah warung makan pinggir jalan.


"Ayo kita makan dulu.. Kamu tadi belum sempat makan apa-apa kan?" Uluran tangan Rava menggantung di hadapan Ara. Tanpa menjawab atau menyambut, Ara justru memicingkan matanya.


"Gimana mau makan kalau makanannya Mas tinggalin!! Boros!! Mubazir tau nggak!!??" Melotot tajam Ara pada Rava, bukan hanya kesal uangnya melayang, namun juga masih terbayang rasa brokoli goreng tepung yang belum sempat menggoyang lidahnya.


"Saya belikan yang baru ya? Jangan marah.." Layaknya menghadapi balita yang merajuk, wajah datar Ara justru tampak menggemaskan.

__ADS_1


"Kamu mau sebanyak apapun bakal saya belikan lagi.." Bujuk Rava, menggoyang pelan lengan Ara yang menghadapnya namun membuang pandangannya dari Rava.


"Bukan masalah Mas bisa belikan lagi. Ara tau sebanyak apapun juga bisa Mas beli kalau cuma brokoli goreng tepung, tapi jangan buang-buang uang. Itu yang Ara gak suka. Nanti jadi kebiasaan menggampangkan segalanya dari hal-hal kecil gini, nanti bisa lagi, cuma gitu aja.. Takutnya malah jadi kebiasaan boros juga." Tampaknya Ara mulai menunjukkan sisi lain dirinya yang tidak banyak orang-orang lain ketahui. Cerewet dan mudah ngambek, itulah yang terjadi pada Ara saat ini.


"Iya.. Iya.. Maaf.." Tanpa banyak menjawab, Rava memilih jalan paling mudah yaitu mengiyakan segala omelan Ara. Lagipula, bagi Rava semua yang Ara ucapkan adalah sebuah kebenaran.


"Udah ya..?? Sekarang sini dulu, rambutnya Mas rapikan. Dari tadi ternyata rambut kamu kayak rambut singa yang lupa dikeramas."


"Ngejek ya!!??" Mata menyipit yang menelisik itu menatap Rava lekat. Menelan kasar air liurnya, Rava sadar dirinya berada pada zona bahaya.


"Minggir!!" Menepis tangan Rava dengan jemari yang sempat menyisir rambutnya, Ara melangkah menjauh. Tidak tau harus masuk ke warung makan atau tidak, yang pasti Ara juga sibuk menggerai rambut yang cukup kusut itu.


'Aduh.. Salah ngomong lagi kayaknya..' Membatin frustasi Rava mengejar langkah kecil kaki Ara.


Berbalik menatap kesal Rava yang sedang menyengir canggung, Ara memanyunkan bibirnya. Sebenarnya jauh di dalam hati Ara tertawa melihat tingkah Rava, namun ia harus mempertahankan sesi merajuknya.


"Pegangin!" Menyodorkan ponselnya, Ara seolah masih malas menatap Rava.


"Buat apa??" Tanya Rava bingung sambil meraih ponsel yang disodorkan tanpa tau apa artinya.


"Bercermin lah.. Kan mau rapikan rambut biar sekarang kayak kucing mandi." Jawab Ara asal sekaligus menyindir perkataan Rava sebelumnya.


"Leher kamu luka!!??" Suara meninggi menyentak tubuh Ara. Tidak maju atau mundur, namun cukup menunjukkan sisi terperanjat Ara.


"Masa sih?" Mengusap area leher perlahan, Ara baru bisa merasakan perihnya setiap sentuhan kulit telapak tangannya.


'Ah.. Cakar-cakaran tadi bikin luka rupanya..' Gumam Ara yang tentunya dalam hati.


"Apalagi yang dia lakukan ke kamu??" Suara tegas Rava membuat Ara bergidik ngeri. Meski jelas Ara tau Rava bukan marah kepadanya. Bahkan tampak sorot mata khawatir yang mengiringi suara tegas Rava.


"Gak apa-apa kok ini.." Masih mengusap leher depan hingga tengkuknya, Ara yang tidak tau di bagian mana luka-luka itu berada sedang berusaha menutupi. Tujuannya jelas agar Rava tidak marah karena khawatir berlebihan lagi.


Namun ada satu hal yang tiba-tiba membuat mata Rava terbelalak. Seolah hanya mimpi atau halusinasi, Rava mengerjap cepat dan sesekali menggosok kelopak matanya.


"Mas Rava kenapa??" Menyadari keanehan di hadapannya, Ara pikir mata Rava baru saja disapa oleh debu-debu halus. Maklum saja, suasana malam dapat memudahkan debu berkamuflase diantara udara dingin.


"Kamu pakai kalungnya??" Tanya Rava lirih, masih ada nada ketidakpercayaan pada apa yang dilihatnya. Padahal jika disentuh akan terasa nyata adanya kalung yang menghias leher jenjang Ara.

__ADS_1


"Oh ini.." Gelagapan Ara menyentuh kalung pemberian Rava yang sudah ia kenakan beberapa waktu lalu. Hilang sudah harapan Ara menyampaikan pilihannya pada momen manis dan tidak terlupakan.


"Hm.. Mmm.." Masih tidak bisa memberikan jawaban yang bisa saja diiyakan, Ara terus mengusap tengkuknya salah tingkah.


"Makasih." Rava menarik Ara dalam dekapan yang disaksikan mata melotot penjual ayam bakar. Memeluk erat menyalurkan rasa bahagia yang membuncah, Rava mengecup dahi Ara sekilas. Iya, hanya mampu sekilas.


Bugh!


Plak!


Plak!


"Sembarangan!! Udah dibiarin peluk-peluk malah ngelunjak!!" Melontarkan suara berat tertahan di akhir pukulan sembarangan yang bertubi-tubi. Ara masih mengepalkan tangannya seakan siap melancarkan pukulan selanjutnya pada Rava.


"Sayang jangan marah.." Menyentuh ujung rambut Ara yang menjuntai, Rava tidak merasa takut apalagi kesakitan. Perasaannya terlalu bahagia hingga tidak bisa memperdulikan hal-hal lainnya.


"Sa-Sayang?? Ha..!!??" Mata terbelalak yang diiringi dahi berkerut itu menatap kaget kedua bola mata Rava yang sedang berbinar.


"Kenapa? Saya gak boleh panggil kamu sayang, hm?"


...****************...


*


*


*


Jadi, apa status keduanya sekarang?🧐


*


*


Maaf Hana UP lambat 🙏 Tadi sempat nonaktifkan HP gara-gara petir dan waktu udah aktif gak sempat ngurus UP secepatnya.


Alasannya, bab belum direvisi malah baterai HP sekarat dan gak bisa dicas gara-gara listrik padam.😞

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2