
Air hujan mengguyur tanah Kota B sejak sehari yang lalu. Suara rintikan hujan seolah seperti irama air terjun yang mampu dijadikan pengantar tidur. Ruang-ruang pada rumah berlantai 2 terasa hening dimana penghuninya sedang asik terlelap menyelami alam mimpi.
Dengkuran halus Dimas mengisi kamar biru laut Ara di bawah gulungan selimut tebal meninggalkan Ara yang tertidur meringkuk di karpet bulu bersama Yuki. Seolah menjadi penguasa seharian, Dimas memonopoli kasur queen size milik Ara.
Dimas dan Yuki terpaksa menumpang tidur di kamar Ara. Meskipun rencana awalnya hanya ingin berteduh setelah perburuan keduanya yang gagal dan meminta secangkir coklat dan kopi panas gratis pada Mama Lauritz. Namun semua berubah kala Ara meneriaki keduanya untuk masuk ke kamar Ara untuk pertama kali nya. Ara malas untuk menyambut kedatangan anak-anak lain kedua orang tuanya itu, bahkan Ara sudah benar-benar malas hanya untuk sekedar melangkahkan kaki membuka pintu kamar.
Kulit dahi berkerut dan bergerak gelisah Ara mendapatkan mimpi buruk. Di alam mimpi Ara tidak ada lagi kesatria dengan baju zirah menunggangi naga membawa sekeranjang bunga daisy yang datang menghampiri. Berganti ingatan percakapan Ara bersama Mama Lauritz dan Papa Yudith yang membuat Ara kesal berjam-jam lalu tertuang sempurna seolah kaset film yang diputar ulang dalam dunia gelap Ara.
Flashback On
Di teras penghubung taman belakang rumah berlantai dua Papa Yudith, Mama Lauritz dan Ara duduk menikmati tetesan air alami yang jatuh bebas dari langit. Suasana sejuk menyapa pagi Ara tidak setenang sorot mata gusar kedua orang tuanya.
"Kakak.. Papa mau kasih tau sesuatu, tapi jangan langsung marah ya?" Ucap Papa Yudith secara tiba-tiba. Menolehkan wajah menatap Papa dan Mama nya, Ara seolah ingin langsung mengetahui inti permasalahan.
"Waktu kita jenguk Nenek dulu itu Kakek mu sempat minta Kakak pulang buat bantu bisnis perkebunan punya Kakek, Kakak mau??" Tanya Papa Yudith halus.
"Gak!! Mereka bukan siapa-siapa Ara. Mereka itu orang tuanya Mama, jadi gak ada urusan sama Ara."
"Tapi mereka juga Kakek dan Nenek buat Ara." Kali ini Mama Lauritz ikut berucap dengan mata sendu menyiratkan kekecewaannya. Jujur saja hal itu membuat Ara merasa bersalah, namun sekuat tenaga Ara coba menampik seolah tidak perduli.
"Kakak harus coba maafin Kakek sama Nenek ya.. Coba Kakak bayangin kalau nanti Kakak punya anak dan anaknya Kakak gak mau ngakuin Papa sama Mama ini Kakek Nenek mereka, apa Kakak gak sedih?"
"Mereka gak bakal gitu ke Mama Papa. Mereka bukan Ara yang dibuang dan Papa sama Mama gak akan jahat sama cucu-cucunya sendiri. Beda Ma manusia sama iblis itu." Ucap Ara bersungut-sungut, tangannya terkepal memukul lantai tempatnya duduk.
"Kakak udah ya.. Kayak gimanapun mereka, kita tetap keluarga. Mama sama Papa juga gak akan jadi orang hebat kalau tanpa orang tua, Kakak tau kan??"
"Tau." Jawab Ara singkat. Telinga Ara ditutup penyumbat transparan agar tidak ada suara bujuk rayu yang mampu menyentuh gendang telinganya.
"Kayak gimanapun orang tua bertindak pasti mereka tetap punya rasa sayang sama setiap anaknya Kak. Jadi Papa mohon Kak, belajar ya maafin semuanya demi Kakak sendiri. Akan jadi beban kalau Kakak belum juga memaafkan kesalahan semua orang. Meski sampai ajal menjemput gak ada kata maaf yang terucap, tapi gak ada salahnya Kakak yang berlapang dada memaafkan terlebih dahulu." Menghela nafas panjang, Papa Yudith mengakhiri ucapannya dalam satu tarikan nafas.
"Kalau masih susah buat Kakak kasih maaf karena banyak hal buruk yang udah Kakak terima, coba setidaknya ingat setitik aja hal baik untuk belajar ikhlas."
"Pa, Kakak tau dari bayi bahkan Papa gak dikasih ASI sama Ibu Papa sendiri dan dirawat Oma Julia. Semuanya udah Oma ceritain ke Ara sebelum Oma meninggal Pa. Jadi gak ada hal baik lainnya yang bisa Ara banggain selain dia yang berkorban nyawa buat ngelahirin Papa." Ucap Ara ketus. Ara tidak menyebutnya sebagai 'nenek', melainkan hanya 'Ibu' dari Papa nya. Sedangkan sosok Oma Julia bagi Ara sebenarnya hanyalah sepupu dari Ida, Ibu kandung Papa Yudith.
Sungguh sudah menjadi anak yang durhaka Ara dengan tidak bertutur kata sopan dan lemah lembut pada kedua orang tuanya. Namun harus dikatakan apa lagi bila emosi sudah menyulut segala macam kalimat yang ingin Ara lontarkan.
"Sekarang Papa tanya sekali lagi, Kakak beneran gak mau terima permintaan Kakek Baren??" Tanya Papa Yudith serius pada Ara yang langsung dijawab dengan anggukan.
"Mau apa lagi sih mereka Ma!!???"
"Kenapa harus diganggu lagi!!?? Ara udah bahagia hidup tanpa mereka!!" Bohong. Ara masih tersiksa oleh kenangan suram masa kecilnya. Ikatan yang melilit terus tumbuh layaknya akar pohon yang menjerat tubuh Ara hingga membawa Ara masuk semakin dalam ke dasar tanah, terkubur bersama kesakitan nya.
"Dulu waktu Ara kecil gak pernah dianggap, sekarang udah bisa merancang masa depan sendiri kenapa baru dicari!!??" Suara serak Ara menahan gejolak amarah dan rasa teriris di ulu hatinya. Diraih dalam dekapan Mama Lauritz, Ara mulai sesegukan. Usapan lembut dipunggung menormalkan kembali deru nafas Ara yang memburu.
Tidak bisa menjawab pertanyaan pilu gadis kecilnya yang sudah beranjak dewasa, Papa Yudith dan Mama Lauritz masih sama-sama tercekat. Keduanya bingung harus bagaimana memberikan pengertian pada Ara. Sungguh bukan keluarga seperti ini yang ingin keduanya suguhkan pada ketiga anaknya.
Rasa sesak, sakit dan miris juga Papa Yudith dan Mama Lauritz sering rasakan kala melihat canda tawa antara orang lain dengan cucunya. Terlintas dipikiran keduanya mengapa anaknya tidak bisa merasakan kasih sayang dari Kakek dan Nenek seperti anak-anak lainnya. Salahkah jalan kemiskinan yang menjadi pilihan Papa Yudith dan Mama Lauritz sehingga anak-anaknya juga ikut disisihkan?
"Udah enak nafasnya Kak??" Tanya Mama Lauritz lirih pada Ara. Anggukan kecil dalam dekapan yang semakin mengerat itu seolah tidak ingin terlepas sedetikpun.
Masih ada beban berat lainnya yang harus diberitahukan pada Ara. Seolah tidak akan pernah habis derita anaknya, Papa Yudith merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga dan sosok pelindung bagi Ara yang akan selalu menjadi putri kecil di mata Papa Yudith.
"Kak, 3 hari lagi Papa akan serahin urusan bengkel ke Gilang. Jona sama Rian sementara juga bakalan tidur di kontrakan Gilang." Menjeda ucapannya sejenak, Papa Yudith mengamati perubahan raut wajah Ara.
"Kenapa??" Tanya Ara yang masih memeluk pinggang Mama Lauritz posesif. Mata Ara menyipit mencari sumber masalah apa lagi yang akan dihadapinya.
"Kita akan pulang lagi ke Kota K. Ke tempat Nenek mu." Ucapan Papa Yudith menyentak kaget Ara hingga pelukan pada Mama Lauritz terlepas.
Dahi mengerut dan tonjolan urat di pelipis Ara sudah jelas menunjukkan banyak tanda tanya. Ditatapnya tajam mata kedua orang tuanya, Ara masih diam dengan menyiratkan kata tanya 'kenapa?' dari raut wajahnya.
__ADS_1
"Kesehatan Nenek Mira menurun lagi Kak.. Kemarin malam harus di bawa ke rumah sakit lagi."
"Terus urusannya sama kita apa?? Udah ada keluarganya di sana Pa!!"
"Gak boleh gitu Kak!! Kita juga keluarga, itu orang tua Mama kamu sendiri."
Diantara perdebatan Papa Yudith dan Ara, ada Mama Lauritz yang sudah menahan genangan air di pelupuk mata. Keluarganya sudah benar-benar hancur di depan matanya. Sekuatnya tenaga model keluarga bahagia sudah berusaha diwujudkan Papa Yudith dan Mama Lauritz, namun keluarga utuh tetap tidak bisa diberikan.
Tampak tidak ada rasa sayang tersisa pada diri Ara, sedangkan Jona dan Rian jelas sama sekali tidak pernah merasakan pasti akan bersikap lebih acuh.
"Terserah Mama Papa kalau mau ke sana lagi. Ara lebih baik di rumah aja. Biar Jona sama Rian di rumah sama Ara, gak usah nyusahin Bang Gilang."
"Ada hal lain yang harus kamu tau Kak." Helaan nafas berat Papa Yudith kembali membuat Ara waspada.
"Kakek Baren mau jodohin Kakak sama anak dari Kakak ipar sepupu Mama mu." Tertunduk Papa Yudith setelah selesai mengucapkan kalimat lain yang mengejutkan bagi Ara.
"Ap-Apa?? Dijodohkan?? GAK ADA OTAK!!" Ucap Ara ketus. Berdiri melotot tajam, Ara berlalu meninggalkan Papa Yudith dan Mama Lauritz.
Mengelus dada perlahan, Papa Yudith dan Mama Lauritz sama-sama terkejut dengan sikap Ara. Sedangkan Ara yang sudah dipenuhi amarah membanting kasar pintu kamarnya.
Flashback Off
Puk
Puk
Puk
"Ara!?"
"Ra?"
"Amankan Ra??" Tanya Dimas yang tampak cemas.
"Kenapa??" Mengernyit heran Ara pada pertanyaan Dimas.
"Duduk dulu minum Ra!" Segelas air putih sudah ada di tangan Dimas. Ara memperhatikan sekitar, posisinya masih sama dan Yuki juga masih diam meringkuk kedinginan. Bedanya baju Ara sudah basah, keringat dingin sepertinya ikut mengguyur tubuh Ara.
"Mimpi buruk ya??" Tanya Dimas yang sudah duduk di tepi ranjang Ara. Tampaknya Dimas sudah bangun cukup lama, terbukti dengan selimut Ara yang sudah terlipat rapi dan adanya segelas air putih yang sedang Ara dorong masuk membasahi kerongkongannya.
"Gak lah." Bantah Ara, entah mimpi buruk atau tidak yang baru saja terputar dalam ingatannya.
"Ck!! Gak usah bohong Ra, tidur mu gelisah banget sampai keringat dingin gitu." Berdecak kesal Dimas tidak percaya pada bantahan singkat yang Ara berikan.
"Hmm." Berdehem Ara menanggapi ucapan Dimas.
"Kayaknya udah reda hujannya, ke balkon yuk Ra." Ucap Dimas sembari membuka pintu balkon kamar Ara. Udara dingin menusuk kulit Ara saat pintu terbuka lebar bersamaan dengan Yuki yang semakin mengeratkan selimut yang Ara letakkan menutup tubuh Yuki.
"Gimana kalau dirimu disuruh nikah sama orang asing??" Tanya Ara pada Dimas. Keduanya sudah duduk memandang aspal jalanan yang basah.
"Sama yang dikenal aja aku masih mikir-mikir. Gila apa dinikahin sama orang asing??" Ujaran Dimas memang benar, jika kenal belum menentukan keinginan kita membina sebuah komitmen berkeluarga, apalagi jika tidak mengenalnya. Ara juga yakin pasti perjodohan ala keluarga orang tuanya tidak akan jauh dari dasar karena harta.
"Kenapa??" Dimas memandang Ara yang tampak kalut dengan pikirannya, "Dirimu disuruh nikah?? Kalau gak mau ya tolak aja."
Mudah memang jika hanya diucapkan. Ara juga tau akhirnya akan ia tolak mentah-mentah perjodohan yang diatur, namun yang menjadi beban adalah agar tidak memperburuk kondisi Nenek Mira. Di sudut hati kecil Ara tetap masih tersimpan rasa sayang meski sudah ia tutup serapat mungkin dengan sikap kasarnya. Belum lagi beban berlipat yang Ara pikul akan perasaan takut menyakiti Mama Lauritz. Sudah sangat jelas sikap kasar dan keras Ara pada orang tua kandung Mama Lauritz juga akan ikut menorehkan luka di hati Mama Lauritz.
"Kalau nanti tetap dipaksa nikah, mending kita nikah berdua aja Ra." Solusi tidak berotak tercetus begitu saja dari Dimas yang masib memandang kosong jalanan.
"Gak usah aneh-aneh deh. Otak kita itu isinya sama tentang pernikahan, 2 manusia yang punya pemikiran yang sama belum tentu bisa cocok dan saling melengkapi. Kalau kita sama-sama gak percaya sama komitmen, gimana mau maju kehidupan keluarga kita nanti??" Ucap Ara sinis. Memutar bola matanya malas Ara memalingkan wajahnya dari Dimas.
__ADS_1
"Ciyee.. Udah sebut keluarga kita aja nih.. Pasti gak sabar kan nama mu ada di bawah nama ku di atas selembar kertas??" Goda Dimas pada Ara dengan memainkan kedua alis naik turun.
Bugh
"Duh KDRT!!"
"Udahlah!! Jadi gimana Ibu mu?? Ketemu??"
"Heleh.. Mengalihkan pembicaraan. Ciyee.. Takut salting ya Mbak??"
"Aku pukul lagi nih!!?" Ucap Ara ketus, melotot tajam pada Dimas dengan tangan kanan terkepal terangkat.
"Ampun Mbak.." Menangkupkan kedua telapak tangan, Dimas pura-pura memelas memohon ampun. "Ehh.. Kan lo lebih muda Ra, harusnya adek lah ngapain jadi Mbak??"
"Kan mulut mu yang nyebut aku Mbak!!" Lagi-lagi Ara memutar bola matanya jengah. Ara melayangkan pukulan kecil bertubi-tubi yang justru membuat Dimas tertawa terpingkal-pingkal.
"Ra.." Suara serak Yuki menghentikan adegan penyiksaan Ara pada Dimas.
"Di sini mak lampir. Makanya cepet bangun jangan kayak kungkang." Ucapan Dimas membuat kelopak mata Yuki seketika langsung terbuka lebar.
"Heh knalpot bajai diem aja ya!" Celetuk Yuki cepat menyambar kalimat ejekan Dimas. Memang sudah takdirnya Ara menjadi palang kereta api agar tidak terjadi tubrukan maut antara Dimas dan Yuki.
"Aaaa.. Ampun weee!!" Teriak Dimas kencang memohon ampunan dari gelitikan Ara dan Yuki. Keduanya kompak ingin menyiksa Dimas yang menyebalkan, hingga bunyi nyaring dari ponsel Ara mengejutkan ketiganya. Tentu saja perasaan lega langsung Dimas rasakan kala pinggang, ketiak dan lehernya tidak digerayangi massal oleh Ara dan Yuki.
"Udah mati Ra." Memegang ponsel Ara, Yuki yang rela bergerak meraih ponsel Ara menyerahkan benda pipih itu ke telapak tangan Ara.
"Bang Bima tuh." Menaik turunkan alisnya, Yuki siap melancarkan godaan selanjutnya.
"Jadi pilih Pak Kim atau Bang Bima Ra?? Yang muda memang menggoda, tapi yang tua lebih menantang.. Cihuy!!" Suara mengalun layaknya penyanyi dangdut, Dimas bergoyang seolah sedang bernyanyi dalam menyampaikan kalimat penuh ejekan untuk Ara.
"Diem deh Dim!! Aku lempar dari lantai 2 langsung kalau masih bacot!!"
"Heh!! Ara bisa bilang bacot sekarang Dim. Hahaha.." Tawa Yuki menambah buruk kekesalan Ara.
...****************...
*
*
*
Apa di sini ada yang masih susah bedain atau ketukar mana KUKANG dan KUNGKANG??🤔
(Nah sama kayak Hana kalau jawabannya IYA😑)
Jadi, hewan yang suka tidur dan gerakannya lambat itu namanya KUNGKANG (tambah 'NG' setelah huruf 'KU' ya😁)
Nih di bawah Hana tambahin foto narsis si KUNGKANG dan KUKANG biar lebih gampang ingat bedanya😎
*
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰
__ADS_1