
Di dalam sebuah ruangan berpendingin, inti perbincangan dua laki-laki beda usia itu telah usai. Jika salah satunya tersenyum sumringah kegirangan, maka satu sosok lainnya tetap memasang raut wajah serius dan kaku. Perlu digaris bawahi, ia tidak sedang kesal, apa lagi marah. Memang begitulah ekspresi wajahnya. Hanya Ara sebagai satu-satunya pawang yang bisa menaklukkan kebekuan itu.
Benar, sosok yang memasang ekspresi serius yang lebih mengarah pada datar itu Rava. Dirinya menyatukan telapak tangan dengan jemari saling tertaut. Menumpu satu kaki di atas kaki lainnya, menatap lurus lawan bicara di depannya.
“Terima kasih banyak Bapak udah menawarkan peluang ini untuk saya. Saya gak tau lagi harus gimana untuk membalas kebaikan Bapak,” ucap laki-laki sebaya Ara penuh syukur. Bibirnya seolah tertarik ke atas memenuhi wajah karena terlalu bahagia.
Berhasil mendapatkan gelar Sarjana bukan berarti mudah memperoleh pekerjaan. Buktinya ia menganggur meski sudah melempar surat lamaran kerja kesana-kemari. Beruntung sehari-hari pasca wisuda kesibukannya terisi dengan usaha rumahan bersama nenek dan adik-adiknya yang sudah lama berjalan.
Kini sosok yang tidak lain adalah Dimas itu seolah mendapat angin segar pada penawaran fantastis Rava. Tidak pernah diduga oleh Dimas jika Rava menawarkan sebuah kerjasama yang sangat menguntungkan. Mungkin lebih tepat disebut berkah, karena jelas bagi Dimas dirinya yang paling diuntungkan dan Rava justru merugi.
“Kamu belum dapat apa-apa dari sini. Jadi jangan terburu-buru berterima kasih,” balas Rava enteng, intonasinya terdengar santai. Menghela nafas pendek, Rava kembali berucap sambil menimang-nimang berbagai keputusan hasil rapat bersama jajaran para direksi. “Jika tanpa kendala, lebih kurang sebulan lagi kamu bisa tempati.”
“Itu udah lebih dari cukup untuk saya persiapan, Pak. Apa lagi dapat gratisan setahun. Saya janji, saya gak akan kecewakan kepercayaan Bapak. Nanti setelah terkumpul penghasilan saya, saya akan kembalikan modal yang Bapak pinjamkan ini,” tutur Dimas dengan tatapan kagum dan hormat pada Rava.
“Gak perlu. Waktu 1 tahun itu memang saya peruntukan untuk kamu belajar jatuh bangun. Anggap aja saya investor yang menanti keberhasilan kamu,” tolak Rava sambil mengangkat cangkir teh chamomile dan menyeruputnya dengan lembut.
Entah mengapa aura mantan Dosen dingin luntur di mata Dimas, berganti sosok hangat di balik wujud bongkahan es batu. Rava seolah memilki kilaunya sendiri. Namun tetap tidak menghilangkan kesan sosok paling bucin pada Ara, sahabatnya.
Meskipun bagi Rava tidak seberapa memberikan sewa gratis selama 1 tahun penuh bakal calon gerai dalam jajaran food court yang sedang digarap, tapi bagi Dimas kebaikan Rava tidak akan pernah bisa ia tebus begitu saja. Pertolongan yang dirasa sedikit oleh Rava adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Dimas.
“Cukup tetap jadi diri kamu. Perlu kamu tau, saya pilih kamu bukan karena kamu sahabat istri saya, tapi saya tau kamu berbakat di bidang ini. Lagi pula kamu tetap terikat perjanjian dan harus patuh dengan segala ketentuan. Jadi jangan berkecil hati,” tutur Rava panjang lebar. Cukup Rava pahami di kepala Dimas sudah terisi berbagai keterkaitan urusan mereka dengan Ara.
Tidak dapat dipungkiri meskipun Rava berkata tidak, namun nyatanya memang sebagian keputusan itu dipengaruhi oleh hubungan pertemanan Ara. Dimas juga sangat paham. Sungguh Dimas ingin berteriak mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Ara yang menjadi dewi penyelamat dan keberuntungan untuk hidup keluarganya.
“Sepertinya udah cukup pembahasan kita. Udah waktunya saya pulang.” Berdiri merapikan jas yang dikenakan, Rava mengulurkan tangan ke hadapan Dimas.
“Oh iya, Pak. Sekali lagi terima kasih,” ucap Dimas sambil berdiri mengikuti Rava yang sudah beranjak dari duduknya. Menunduk sekilas dengan rasa hormat yang tinggi dan menyambut uluran tangan Rava.
__ADS_1
Keduanya berjabat tangan mengakhiri pertemuan singkat yang sudah disepakati beberapa hari sebelumnya. Tentu saja pertemuan ini sudah Ara ketahui jauh-jauh hari setelah Rava meminta persetujuannya. Keputusan yang Rava ambil jelas disambut suka cita oleh Ara.
Melaju menggunakan kereta bajanya, Rava tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Tubuh lelahnya sangat membutuhkan suplemen dan penawar rindu yang menggunung. Padahal baru semenit yang lalu Rava berkirim pesan dengan Ara mengabarkan kepulangannya.
Tidak menunggu lama, mobil Rava sudah terparkir di garasi. Sedangkan si empunya langsung mencari keberadaan Ara. Dari pintu samping, melewati ruang keluarga dan berbelok menuju dapur, Rava langsung menemukan Ara yang mencuci potongan daging ayam. Tampaknya istri kecil Rava itu tidak menyadari kehadiran sang suami yang sudah meletakkan tas kerja di atas meja makan.
“Sayang …,” lirih Rava manja. Melingkarkan tangan di perut Ara dari arah belakang. Dekapan eratnya mengejutkan Ara hingga terperanjat kaget.
“Mas? Kapan sampainya?” tanya Ara sambil mematikan kucuran air kran. Tangan basahnya langsung terjulur meraih kain lap yang tersampir di saku apron.
“Baru aja … Mau masak apa?” Mengendus tengkuk polos yang tidak bisa mengelak, tingkah Rava sukses membuat Ara tertawa kegelian.
“Geli ih jangan gitu!” Tangan Ara mendorong pelan kepala Rava. Menyelip di antara tengkuk dan bibir Rava yang hendak mengecup, Ara melindungi tengkuknya dari serangan monster hisap menggunakan telapak tangan.
“Pengen cium. Masih kangen,” ucap Rava manja, merengek seperti anak kecil saat menginginkan sesuatu.
“Mandi bareng yuk?”
“Mandi sendiri sana … Ayam nya harus dimasak sekarang,” tolak Ara sambil berkacak pinggang, memasang ekspresi sok galak yang nyatanya terlihat sangat menggemaskan.
Rava tersenyum, mengulurkan tangan membelai pipi wanitanya yang sedang melotot. Sepersekian detik kemudian Rava mengernyit pada pipi dingin yang tersentuh telapak tangannya. Terlihat pula wajah Ara yang lesu dengan mata cekung dan bibir cerah karena polesan lipstik. “Belum pernah kita mandi bareng. Ayo, sekarang aja yuk?”
“Nakal,” ujar Ara sembari menggelengkan kepala. Kedipan mata genit Rava benar-benar membuat Ara merinding.
Baru saja Ara ingin meraih kuali, tubuhnya sudah terputar akibat tarikan kuat Rava. “Mmmpt … Euugh ….” Nafas Ara seketika terhenti. Matanya terbelalak lebar menyoroti bibir Rava yang melahap rakus bibirnya.
Serangan tiba-tiba itu hampir membuat Ara kehilangan keseimbangan. Beruntung salah satu tangan Rava memeluk pinggang Ara dengan posesif, sedangkan tangan yang lainnya digunakan menekan tengkuk Ara, memperdalam ciuman dadakan yang mulanya hanya ingin mengobati rindu. Harusnya Rava tidak coba-coba memulai jika tau akhirnya pasti akan terlena.
__ADS_1
Dalam sekejap erangan dan d e s a h a n memenuhi area dapur. Ara yang sempat berontak dan memukuli dada Rava kini telah luluh dalam gelora yang menuntut. Tangannya melingkar di leher Rava, ikut menekan, memperdalam ciuman panas. Kabut gairah menyelimuti kedua insan yang lupa tempat dan kondisi.
“Mau di sini?” Suara serak Rava menggelitik daun telinga Ara.
Belum sempat Ara mengangguk menyetujui, seketika sesuatu di dalam perutnya bergejolak mendobrak. Spontan saja Ara langsung mendorong kasar tubuh Rava. Berlari ke arah wastafel sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Hoek … Hok, hoek!” Mendorong cairan bening keluar dari mulutnya, Ara mendadak terkulai lemas. Kepalanya pusing berkunang-kunang, perut terasa diaduk-aduk dan mulut pahit mencekat.
“Sayang,” pekik Rava khawatir, membopong Ara yang limbung menuju sofa panjang ruang keluarga. Dibaringkan tubuh lemas Ara sebelum berlari mengambil minyak kayu putih. Gairah Rava yang sudah di ubun-ubun seketika runtuh.
...****************...
*
*
*
Ara kenapa?😱
Untuk yang ingin bergabung dengan grup chat Hana, silakan sebutkan 2 nama sahabat Ara di kolom izin masuk grup setelah mengklik ikon grup chat😊
By the way, hari ini cukup senang lihat statistik pembaca yang meningkat, karena novel ku ini sepi peminat😅 Biasanya rata-rata hanya di 2 digit, tapi awal bulan, tepatnya di tanggal 1 November 2021 dapat 3 digit kepala 3 juga. Terima kasih semuanya 🥰
Terima kasih sudah menanti perbucinan ArVa🥰
__ADS_1