
“Sabar ya Ra.”
“HA!?” Mencondongkan tubuh bagian atasnya mendekat pada punggung Gilang, tangan Ara menekan kedua pahanya untuk menahan bobot tubuh.
“Saabbaaarr..” Ucap Gilang dengan sedikit berteriak. Kepalanya ikut menyerong ke kiri, namun matanya tetap fokus pada jalanan di depannya.
“Oh..” Gumam Ara lirih yang hanya disadari oleh dirinya sendiri.
“Entahlah Bang. Harusnya Abang bilang gitu ke orang tua aku. Bisa Abang lihat kan aku, Jona dan Rian gak merasakan apa-apa di sini.”
“Kamu bohong kan Ra? Tadi aja mata kamu udah sembab gitu.” Ucap Gilang lagi sambil mengamati perubahan raut wajah Ara melalui spion motornya.
“Ini hasil dari aku gak mampu lihat Mama sedih. Bukan karena kehil-.. Pokoknya hati kami terlalu hampa untuk merasakan kehilangan.” Kilah Ara kukuh, penuh keyakinan dan tentunya sangat tenang.
“Percaya aja deh..” Memilih mengalah, Gilang mengangguk samar. Roda motornya sudah mulai memasuki kawasan perumahan mewah. Seandainya Gilang memacu tunggangannya sedikit lebih cepat lagi, maka dapat dipastikan keduanya akan segera tiba di rumah Kakek Baren.
“Kamu nggak canggung masuk ke rumah itu sendirian?” Tanya Gilang saat ujung atap rumah megah Kakek Baren tampak di pelupuk matanya.
Menurunkan kecepatan dan menekan rem kiri perlahan, motor Gilang sudah berbelok hendak memasuki hunian dengan pagar besi yang menjulang tinggi.
“Canggung.. Tapi mau gimana lagi?” Jawab Ara sambil memberikan senyuman ramah pada sosok yang sedang membukakan gerbang untuknya dan Gilang.
“Abang jangan pergi dulu ya..” Celetuk Ara tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Terima kasih..” Ucap Ara pada penjaga gerbang saat dirinya dan Gilang melenggang masuk bersama deru motor yang kembali dipacu. Sejenak Ara mengabaikan pertanyaan Gilang.
“Kenapa Abang gak boleh langsung pergi?” Tanya Gilang lagi sambil mematikan mesin motornya. Ia melepaskan helm dari kepalanya. Meletakkan helm pada tanki motor dan menumpu tangan di atas helm yang menopang wajahnya.
“Ara mau kembalikan uang Tante Laura. Abang mau ikut?” Kalimat yang terlontar santai dari bibir Ara bagai pukulan semu pada tengkuk Gilang. Mata melotot Gilang seolah terperanjat dari nafas yang tercekat dan sentakan kuat.
“Kamu bawa uang itu?” Tanya Gilang ragu. Ia tidak habis pikir bila Ara benar-benar membawa uang yang selama ini selalu disimpan rapi, tersembunyi dan tidak tersentuh lagi.
“Ara gak nyangka Abang akan datang hari ini. Tadinya Ara mau kembalikan sendirian.” Jawab Ara tanpa beban. Lagi-lagi Gilang dibuat terkejut. Pasalnya nominal uang itu tidak sedikit dan tidak mungkin bisa Ara bawa kemanapun dalam dompet atau tas selempang kecil yang saat ini sedang Ara kenakan.
“Kamu bandel ya.. Abang udah pernah bilang sebelumnya Ra, kalau kamu mau kembalikan uang itu, kamu harus ikut sertakan Abang. Gimana sih kamu ini!!?” Menyugar kasar rambutnya, Gilang juga memberi sedikit remasan. Kepalanya seketika berdenyut.
“Iya kan kebetulan kondisinya sekarang Ara ke sini, jadi ya sekalian aja. Lagipula Ara gak tau kalau rupanya agenda ke sini itu gara-gara Nenek udah kritis.” Ucap Ara sembari memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
“Kamu amankan uang itu. Biar Abang coba hubungi Ega minta bantuan untuk kondisikan keadaan rumah Kakek Baren. Resiko banget bawa uang itu kemana-mana. Jangan kira banyak penjaga jadi aman di sini.” Meraih ponsel dari saku bajunya, Gilang berujar tanpa menatap Ara. Matanya sibuk mengamati layar ponsel dengan jemari yang terus bergerak lihai.
“Baru kali ini Abang tau kamu kurang perhitungan. Gimana kalau uang itu hilang? Bener-bener ya kamu itu..” Gerutu Gilang yang sudah menempelkan ponsel keluaran terbaru miliknya ke telinga. Matanya memicing, menatap tajam pada Ara yang mulai jengah.
“Bang.. Ngomelnya skip dulu. Dari tadi kelamaan marah-marah aja.” Keluh Ara sembari memutar bola matanya malas.
“Tante Laura ada di rumah ini?” Mengabaikan keluhan Ara, Gilang kembali menekan nomor Ega yang belum berhasil dihubungi.
“Ada, kenapa?”
“Kenapa dia tadi nggak ikut ke pemakaman?” Mengernyitkan dahinya, Gilang terkejut pada jawaban Ara. Siapa yang menyangka bahwa sosok yang dikiranya tidak ada hingga dirinya ingin mengatur janji dengan Ega terlebih dahulu rupanya sudah cukup dekat. Pertanyaan yang awalnya hanya untuk berbasa-basi itu justru terasa tepat sasaran.
“Mau durhaka maksimal, mungkin..” Jawab Ara asal-asalan sambil mengedikan bahunya. Sejujurnya kalimat itu bentuk sumpah serapah dan umpatan setulus hati Ara pada Tante Laura.
“Seriusan?”
“Nggak.. Katanya dia lemas gara-gara mual mulu. Efek hamil muda, gitu sih kata Bibi di rumah ini.”
“Hamil?” Pekik Gilang tertahan. Ia tidak bisa membayangkan bila menjadi Ega. Bukan memiliki anak sendiri, Ega justru akan mendapatkan adik yang terpaut jauh usianya.
“Iya.”
“Karena terjadi pembuahan. Dimana adanya pertemuan antara sel sper-ma dan sel telur yang..” Jelas Ara dengan masing-masing tangan seolah memegang bola dunia. Menegaskan inti pembicaraannya yang terangkat bergilir dengan selisih waktu singkat.
“Udah-udah jangan mulai lagi.. Otak Abang gak sampai buat ke sana.” Potong Gilang cepat sebelum Ara kembali berulah dengan berbagai teori yang bisa meledakkan otaknya melebihi kedahsyatan bom nuklir.
“Ya udah Ara ambil kopernya dulu.” Putus Ara sambil memutar tubuhnya dan mulai melangkah menuju pintu utama rumah megah Kakek Baren.
“Jangan di bawa keluar..!! Nanti Abang nyusul masuk bareng Ega. Intinya jangan kamu bawa kemana-mana lagi itu uang!! Bikin khawatir aja.” Teriak Gilang bersamaan dengan sosok Ega yang menyembul dari balik pintu utama. Tampak ada raut kebingungan menghiasi wajah Ega yang namanya baru disebutkan.
“Iya, iya..”
‘Kok jadi berisik sih Bang Gilang? Apa memang berisik dan aku baru sadar?’ Gumam Ara dalam hati, bertanya-tanya pada dirinya sendiri pada sikap Gilang yang terasa berbeda.
“Ada apa?” Tanya Ega kala berpapasan dengan Ara.
“Mas ngobrol sama Bang Gilang sana dulu.. Bantu Adik mu ini.” Ucap Ara sambil menepuk pelan bahu Ega. Melenggang santai dan ringan, Ara meninggalkan Ega yang semakin kebingungan.
Begitu juga dengan Gilang yang dirundung kegelisahan mendadak. Otaknya sibuk menyusun kalimat yang ingin disampaikan kepada Ega. Jujur saja Gilang malu pada kelakuannya bersama Ara yang nekat menipu Tante Laura, meski nyatanya uang yang diperoleh tidak keduanya pergunakan.
__ADS_1
Gelisah yang bergemuruh dengan jantung yang berdebar kencang nyatanya hanya mendera Gilang dan Ega. Kamar tidur yang berukuran 2 kali lebih lebar dari kamar Ara di Kota B sudah dihiasi derap langkah mondar-mandir Ega. Sedangkan Ara justru tampak lebih tenang, duduk menyilangkan kaki di ranjang empuk tempat Ega biasa mengistirahatkan tubuh lelahnya.
Ceklek.
Pintu yang berbunyi itu baru saja dibuka oleh sosok wanita dewasa dengan perut membulat. Bukan busung lapar atau bahkan cacingan, buncit itu jelas karena ada nyawa lain yang hidup, terkandung di dalam perut yang membulat dan terbungkus plasenta dengan sangat menakjubkan.
“Ada apa??” Suara ketus mengisi keheningan, memutus tatapan terpaku ketiga anak manusia pada sosok yang tidak lain adalah Tante Laura.
“Ooh.. Kamu udah mau pergi?” Pertanyaan itu terucap begitu saja saat mata Tante Laura mendapati Ara yang berdiri dengan koper di sisi kanannya.
“Duduk aja dulu, Bu..” Ucap Ega sambil menuntun Tante Laura pada sofa panjang berwarna abu-abu muda yang berada di kamarnya.
“Ega, ini kamu suruh Ibu ke sini ada apa? Ngapain juga ada mereka?” Mendudukkan dirinya dengan nyaman, Tante Laura menatap Ega sekilas, kemudian tatapannya menajam pada kehadiran Ara dan Gilang yang ikut mendekat ke arahnya.
“Biar Abang yang ngomong.” Ucap Gilang lirih pada Ara.
...****************...
*
*
*
Drama seperti apa yang akan terjadi?🤔
*
*
Awalnya Hana kira bab ini udah selesai, rupanya lompat ke bab selanjutnya masalah kadarluarsa ini akan selesai. Sabarin aja ya.. Hana juga udah cukup sabar sama diri sendiri.🤭
Kangen Rava?😗
Sekali lagi, sabarin aja dulu ya..🙂
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1