
"Itu yang tadi Abang tetangga kan??" Tanya Yuki, mulut penuh kue bawang itu masih terus mengunyah di sela-sela perbincangan.
"Abang tetangga??" Mengernyitkan dahinya Ara masih mengolah kalimat Yuki. Kilasan pertama kali Dimas dan Yuki berkenalan dengan Bima kembali Ara ingat. "Ah iya.. Itu Abang tetangga, Bang Bima."
"Makin ganteng ya.." Ucap Yuki yang masih menatap punggung Bima hingga menghilang. Sedangkan pikiran Ara penuh rasa bersalah.
'Tolong jangan hindari Abang lagi.. Keluarga Abang cuma Nenek. Sekarang, kamu udah Abang anggap kayak Adik Abang sendiri.. Tolong kabulkan permintaan Abang ini ya..' Begitulah untaian kata demi kata yang diucapkan Bima pada Ara sebelum berpamitan pulang.
Kekhawatiran berlebihan Ara membawanya menjauh dari Bima. Mengetahui bagaimana Bima menganggapnya sebagai Adik membuat Ara benar-benar merasa bersalah. Padahal Ara juga menganggap Bima sebagai Kakak laki-laki miliknya. Harusnya ia tidak lari dari masalah hanya karena takut segala dugaan yang berkecamuk dipikirannya terbukti, begitu penyesalan Ara.
Bahkan jika ditanya, siapa laki-laki asing pertama yang berani Ara sentuh di tengah rasa traumanya? Jelas Bima. Bisa ditanyakan pada mata Rava yang menjadi saksinya.
"Gimana Om-om mu itu??" Memainkan kedua alisnya, Ara tersenyum penuh makna. Mencoba menghapus kekalutan yang datang tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.
"Apaan sih kok dipanggil Om!!??" Ucap Yuki ketus, seolah tau siapa yang Ara maksudkan.
"Kan emang Om.. Hahaha.." Tergelak Ara kembali duduk di kursi yang tadinya ia duduki bersama Bima.
"Udah jelas dia yang mainnya sama Om-om. Ck! Ck! Ck!" Berdecak Yuki menggelengkan kepalanya. Tangan menyilang di depan dada dan mata menatap lekat Ara, Yuki mencebikkan bibirnya.
"Sayang ku itu masih lebih muda dari Pak Kim yaa.. Noh Pak Kim diurus!! Itu baru yang udah jadi Om." Ucap Yuki sengit, tidak rela 'kesayangannya' disebut 'Om'.
"Pak Rava, Yuki!" Ucap Ara.
"Sama aja kali.. Mau Kim apa Rava juga namanya. Lagian yang disuruh panggil Rava kan cuma dirimu. Kita yang kulit cabe hijau nyelip di gigi gak penting banget buat dia.. Mau dipanggil Buyut sekalipun pasti gak perduli." Kembali menjadi penyanyi rap, bibir cerewet Yuki terus bergerak dalam satu tarikan nafas. Hanya mendengarkan saja Ara sudah sesak. Ingin rasanya Ara mendaftarkan Yuki dalam ajang pencarian bakat penyanyi rap.
Namun ada satu hal yang sedang Ara tidak setujui dari kalimat Yuki, ketidakpedulian Rava adalah sebuah kepalsuan. Tidak tau saja Yuki jika sekarang tingkat sensitif Rava menjulang tinggi layaknya menara Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab.
Bersanding dengan Ara yang katanya masih 'kinyis-kinyis' membuat Rava diam-diam rajin perawatan wajah. Takut terlihat sangat tua di samping Ara. Tidak sadarkah Rava bahwa wajahnya termasuk golongan baby face??
"Ehh salah deh.. Jangan kita, tapi kami. Kalau kita dirimu kan masuk kategori, nah ini mana bisa orang spesial diabaikan sama Pak Kim. Hahaha.. Hahaha.." Tidak apa Yuki menertawakannya sekalipun, namun kali ini Ara hampir bonyok terkena pukulan manja Yuki yang tidak bisa menahan energi tawanya.
"Jangan bikin aku masuk rumah sakit Yukiii..!!!" Tepis Ara kuat pada telapak tangan Yuki yang nyaris menyentuh lengannya lagi.
"Hehe.. Maaf.. Kebablasan." Mengacungkan dua jari tanda perdamaian, mata Yuki mengerjap sok imut.
"Orang spesial gak boleh marah yaa.." Goda Yuki sambil mencubit gemas pipi Ara.
"Cih!! Spesial konon.. Memang martabak apa pakai spesial segala!!?" Berdecih Ara membuang mukanya. Malas menatap Yuki yang sedang kumat anehnya bagi Ara.
"Pak Kim udah nembak Ra?"
"Nembak apa? Burung?" Jawab Ara sekenanya.
"Nembak cinta lah!! Gak usah pura-pura bodoh ya walaupun gak pintar juga sama urusan cinta." Ucap Yuki ketus, mulai jengah dengan kepura-puraan Ara yang terlihat sangat jelas.
"Kayak dia gak bodoh juga aja sih.."
"Gak ya.."
"Terus kalau gak kenapa masih ngejar-ngejar itu Om?" Memanyunkan bibirnya, Ara ingin membalas dendam pada Yuki yang sudah berani-beraninya menggoda dirinya.
"Aduh!! Sakit Yuki." Kali ini bukan cubitan gemas, melainkan cubitan panas. Mengusap pipi kirinya, Ara masih melotot pada Yuki.
"Udah dibilang jangan panggil Om!! Sayang ku itu.." Menghentakkan kaki kesal, Yuki balas melotot pada Ara.
"Lah kan gak mungkin aku juga ikutan manggil sayang.."
"Kan bisa Abang gitu Ra.. Yang penting jangan Mas, nanti ada yang marah." Menyeringai Yuki pada Ara. Ucapan bernada mengejek diakhir kalimat berhasil membuat Ara lagi-lagi kalah. Sepertinya dalam hal menggoda dan mengejek Ara sekaligus memang keahlian Yuki.
"Jadi gimana? Udah ungkapin perasaan cinta??" Binar mata Yuki terlihat sangat antusias.
"Udah." Jawab Ara datar.
"Terus??" Melebarkan kelopak matanya, Yuki sempat bertepuk tangan layaknya Singa Laut.
"Terus apa??" Tanya Ara remeh, seolah hal yang dibahas tidak penting sama sekali.
__ADS_1
"Terima??" Memegang bahu kiri Ara, Yuki masih betah melebarkan kelopak matanya. Jika tidak ditahan urat saraf mungkin bola mata Yuki bisa jatuh menggelinding sedari tadi.
"Gak tau." Yuki tersenyum mendengar jawaban Ara. Bila dulu Yuki akan selalu mendengar kata 'tidak', maka jawaban Ara kali ini adalah sebuah bentuk kemajuan.
'Pepet terus Pak!! Dukungan gas pol selama Bapak bener!!' Sorakan penyemangat Yuki membara, padahal Rava juga tidak akan mampu mendengar. Yuki yakin Ara akan jatuh cinta klepek-klepek jika Rava pantang mundur, mengesampingkan urat malu, menebalkan muka dan tidak goyah dengan penolakan Ara.
"Berarti ada kemungkinan diterima kan?" Pancing Yuki pada Ara. Menggelengkan kepalanya, Ara bukan menolak, lebih tepatnya Ara bimbang. Ada rasa yang sulit ia deskripsikan mengganjal tidak jelas. Ada rasa tidak rela saat kata 'tidak' ingin Ara lontarkan, namun untuk berkata 'iya' juga sangat tidak mungkin.
"Gak ada dugun-dugun gitu Ra??"
"Ada.." Jawab Ara singkat yang belum selesai justru terpotong ucapan menyerobot milik Yuki.
"Serius??" Jerit Yuki girang. Mengernyit Ara pandang Yuki yang sudah seperti kesetanan bahkan dirinya belum selesai berujar.
"Dengerin dulu kalau orang ngomong itu sampai selesai.. Aku jelas ada berdebar kalau lagi sama Mas Rava malah sampai kayak mau perang, tapi semua itu ya gara-gara kepikiran bakal diserbu walang sangit ponselku. Capek tau cuma buat hapus isi chat mereka." Keluh Ara pada Yuki. Bibir yang baru manyun itu tiba-tiba menganga tersentak kaget.
"ASTAGA!!! UDAH MAS AJA!!! MAS RAVA!!!??? AAAAAAA..!! DIMAS HARUS TAU INI!!" Lagi-lagi Yuki menjerit histeris. Tingkahnya mirip belut yang diberi garam. Meloncat ke segala penjuru tidak jelas. Entah memang girang, senang atau kesurupan.
"Hih!! Gak usah kayak orang norak deh, dikit-dikit disebar. Sini!! Duduk lagi!!" Menarik Yuki untuk kembali duduk, ekor mata Ara menangkap Jona dan Rian yang terkekeh geli bersembunyi di balik jendela kaca. Doyan sekali kedua adiknya menjadi agen menguping, batin Ara. Siap-siap Ara akan menjadi bulan-bulanan orang rumahnya, bibir lentur Jona sebentar lagi pasti melapor pada Papa Yudith dan Mama Lauritz tentang hasil pengintaian.
"Oke, tapi syaratnya ceritain semua isi hati mu. Gimana??" Menyodorkan jari kelingking tanda perjanjian, Yuki sudah menautkan secara paksa jari kelingking Ara.
"Iya, iya. Jadi mau tau apa?" Mau mengelak pun Ara tidak akan sanggup. Ara lebih baik mencegah rusaknya gendang telinga dari ocehan ganas milik Yuki jika tidak dituruti.
"Kamu yakin Ra gak jatuh cinta sama Pak Kim?? Aku aja nih ya waktu awal-awal lihat Pak Kim suka seliweran di fakultas kita itu udah pengen jerit-jerit. Biasa juga aku ikutan modus senior nyari anak fakultas ekonomi, padahal mau cuci mata liat Pak Kim yang dingin. Hahaha.."
"Halaah.. Jadi alasan ikut bantu-bantu dulu itu buat mejengin Pak Rava?? Gila bener-bener ini bocah!!"
"Kok Pak lagi sih Ra??"
"Lidahnya masih kaku."
"Padahal udah manis banget tadi manggilnya.. Gak kebayang Pak Kim yang denger pasti langsung lumer." Menopang pipinya menghadap Ara, Yuki sedang memutar adegan menggelikan antara Ara dan Rava.
'Heh! Lumer..' Sudut bibir Ara tertarik sedikit menahan senyuman. Ingatan pada momen Rava menampar pipinya kembali terputar, konyol. Namun sekejap mata Ara membola kala kesadarannya menyerbu tiba-tiba.
"Tapi serius deh Ra, memang kamu gak ada sedikit aja rasa suka? Aku aja cuma dengar cerita mu gimana sikap Pak Kim udah bisa baper." Mencoba mengalihkan pembicaraan, Yuki sudah berkomat-kamit dalam hati memohon agar Ara tidak melanjutkan kekesalannya.
"Mungkin kalau dulu aku bakal mudah dan langsung jatuh cinta. Siapa yang bisa nolak kalau dikasih perhatian dan perlakuan manis terus-menerus? Belum lagi meskipun usia kita cukup jauh dia masih tetap ganteng, gak kalah sama anak-anak seumuran kita." Tiba-tiba suara rendah dan sendu milik Ara merubah suasana menjadi melow. Ada ketidakpercayaan dalam diri Ara bahwa Rava benar-benar mengungkapkan 'cinta' padanya.
"Tapi dengan keadaan aku yang sekarang ini, apa masih mungkin aku bisa jatuh cinta lagi?? Gak Yuki. Gak akan bisa semudah itu mewarnai hati aku yang udah kayak arang ini.. Rasanya menakutkan."
"Tapi gak ada salahnya kalau kamu coba kan Ra?" Menggenggam jari-jemari Ara, Yuki ingin menyalurkan ketegaran miliknya.
"Aku takut Yuki.. Gimana kalau yang aku jalani nanti kayak makan tahu isi yang udah ada cabe di dalam tanpa aku tau, terus masih aku tambah gigitan cabe lagi?? Pasti ngagetin, bikin aku lebih kepedasan, lidah aku terbakar gak sesuai rencana atau angan-angan aku.. Kalau cuma tahu isi sama cabe masih bisa aku atasi, gimana kalau udah urusan perasaan dan hidup aku?? Apa aku sanggup?? Aku rasa nggak akan bisa aku hadapi." Menjadi pesimis bukan keinginan Ara, namun mau bagaimana lagi bila memang hal itu yang terus menghantuinya.
"Jangan pesimis Ra.. Sama kayak yang kamu ibaratkan, bukannya awal-awal juga gak bisa makan tahu isi pakai cabe?? Kamu pasti bisa ngatasin pedasnya karena terbiasa kan? Menurut ku begitu juga dengan perasaan kamu sama Pak Rava. Kamu bisa mencoba membuka hati buat Pak Rava." Tutur kata penuh kelembutan kembali Ara dengar. Jika sudah begini, Yuki jelas sedang dalam kondisi sangat serius.
"Perasaan bukan buat coba-coba Yuki. Lebih baik aku gak kasih rasa apapun daripada akhirnya Mas Rava ikut merasakan sakitnya dicampakkan. Membuat dia bahagia bukan berarti dengan menerima cintanya. Akan lebih sakit saat dia tau kalau rasa yang aku punya setengah hati, bahkan gak pakai hati." Menatap Yuki penuh keputusasaan, kepala Ara mulai berdenyut. Rasa ngilu di pergelangan tangannya semakin bertambah.
"Aku memang banyak terluka karena laki-laki, tapi gak harus aku ikut-ikutan menoreh luka yang sama untuk orang lain kan?? Aku juga punya adik laki-laki, cuma dipikirin aja aku takut. Gimana kalau karma berbalik ke adik-adik ku?? Aku gak mau mereka mendapat luka yang sama dari perempuan-perempuan di luar sana. Jadi, lebih baik aku tetap sendiri kayak sekarang ini kan??" Bibir tersenyum Ara terlihat sangat bahagia, namun sangat kontras dengan mata yang sudah berkaca-kaca tidak ingin berkedip. Ara sekuat tenaga menahan air mata yang tiba-tiba sudah menggenang. Ulu hatinya seperti diiris tipis layaknya keripik tempe.
"Udah jangan nangis deh.. By the way, tadi aku panggil gak Pak Kim lagi, tapi Pak Rava." Tergelak Ara pada Yuki yang masih sempat-sempatnya mengingat cara panggilannya yang berubah pada Rava.
Drrt.. Drrt..
Tring
Jatuh sudah air mata Ara akibat kejutan suara notifikasi pesan dari ponselnya. Pelupuk mata yang menahan genangan air itu dalam sekali kedip langsung mampu meloloskan banyak cairan.
š©
Mas Rava
Hari ini jangan mandi malam-malam lagi, nanti rematik. Saya mau keluar Kota, doakan supaya lancar ya kerjaan saya dan besok bisa langsung pulang.
Melengkung ke atas bibir Ara. Raut bahagia tampak terlukis jelas. Mendongak menatap langit yang masih cerah, pikiran Ara kosong.
"Ra!!" Dorongan kuat di lengan mengejutkan Ara. Hampir saja terlupa jika Yuki masih setia di sampingnya. Menoleh dan menatap Yuki sekilas, Ara memejamkan matanya. Kemelut hebat mengganggu jalan pikiran Ara.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Yuki lirih.
"Mas Rava.." Masih terpejam, bibir Ara bergerak mengeluarkan dua kata dalam untaian yang meresahkan hatinya.
"Pertimbangkan yang matang Ra.. Jangan sampai timbul penyesalan." Ucap Yuki sambil mengusap punggung tangan Ara. Peringatan yang sama jelas sudah Ara tanamkan jauh sebelum Yuki ucapkan.
...----------------...
Dear Mas Rava
Aku bahagia mengenalmu.
Untaian kata sayang mu menyapu lembut sisi kesendirianku.
Perhatian mu mendobrak benteng kesepian ku.
Aku bahagia..
Tapi.. Sampai kapan??
Kapan kamu akan berhenti menatap ku??
Tolong..
Bila langkah kaki kita tidak sama, cukup tinggalkan aku.
Jangan raih tanganku dan tatap mataku..
Pergilah sejauh mungkin agar aku tak lagi mampu menggapai mu.
Aku.. Mungkin sudah menyukaimu.
"Hah!!" Helaan nafas kasar Ara menutup goresan tinta hitam. Buku kecil tersembunyi yang sudah lama tidak Ara sapa kembali tersimpan di dasar laci. Layaknya kotak pandora yang menyimpan sejuta keburukan, buku itu adalah saksi bisu seluruh luka Ara.
Merebahkan diri dengan malas, Ara bergulung meringkuk di dalam selimut. Pertemuannya dengan Yuki dan Dimas dapat dihitung dengan jari. Apalagi Dimas yang sibuk bekerja dan Yuki yang entah mengapa menjadi sulit untuk dihubungi. Beruntung belum lama ini justru Yuki yang menyambangi Ara di rumah.
'Apa aku terima aja ya..' Membatin gusar Ara gigit kuku ibu jari kanannya.
...****************...
Rematik : Rematik atau Rheumatoid Arthiritis adalah peradangan dan pembengkakan pada otot atau persendian yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel yang sehat di jaringan sinovial atau lapisan sendi hingga menimbulkan rasa sakit dan nyeri.
Mandi di malam hari bikin rematik?? MITOS!!
Rematik tidak disebabkan oleh mandi di malam hari atau bahkan karena mandi air dingin. Tapi, suhu dingin dapat mengakibatkan kapsul pada sendi menjadi mengkerut dan dapat memicu kumatnya rematik.
šLink : https://www.lifepharm.co.id/landing/data/Blog/Article/cara-mencegah-agar-rematik-tidak-kambuh-lagi.aspx
*
*
*
Apa yang akan Ara terima??š¤
Sedih atau senang dengan isi hati Ara??š
*
*
Tentang isi hati Ara, kalau Hana sih es campur gado-gado.. Ehh š³ Maksudnya campur adukš¤
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°
__ADS_1