
“I-iya.” Jawab Ara salah tingkah. Ia juga bingung harus menanggapi bagaimana lagi. Jujur saja jawaban sebelumnya benar-benar spontan tanpa filter penyaring di otaknya. Ara yang biasanya penuh pertimbangan dan ketakutan itu hanya punya satu jawaban, ‘mau’, dan begitulah akhirnya terucap dengan bebas.
“Mas janji akan selalu ada untuk kamu. Mas akan terus berusaha buat kamu selalu yakin kalau pilihan kamu tepat. Doakan Mas supaya bisa menjadi nahkoda yang tepat buat kamu dan anak-anak kita nanti.” Ucapan itu mungkin terdengar basi, pasaran dan kurang memiliki makna yang dalam. Tapi semua bukan tentang seberapa indah untaian kalimat itu dirangkai, namun seberapa tulus dan serius pertanggungjawaban yang akan dijalani ke depannya.
“Kita akan jalan bersisihan. Bukan siapa yang harus berapa di garis depan atau siapa yang lebih bertanggungjawab. Karena sejatinya Mas tetap pemimpin, pembimbing dan panutan buat masa depan Ara.” Mengurai jemari Rava yang saling meremas, Ara bertutur lembut tanpa menatap wajah Rava. Ara sengaja melakukan itu, bisa-bisa ia salah tingkah duluan bila berujar sembari menatap Rava.
“Kita gak perlu terlalu memaksa menyamakan langkah. Ingat aja untuk tidak saling meninggalkan dan menyerah, karena pasti akan banyak rintangan. Itu yang Ara minta dari Mas, bisa?” Kini iris mata indah Ara menatap lekat pada sosok di hadapannya, sorotnya tidak tajam, namun tersirat arti yang sangat kuat.
“Kita pasti bisa. Terima kasih udah memberi Mas kepercayaan kamu. Terima kasih udah mau membuka hati kamu untuk Mas. Terima kasih udah mengizinkan Mas masuk ke dalam hidup kamu. Mas sayang banget sama kamu.” Ucap Rava cepat seakan diburu oleh kereta hantu.
“Maafin Ara ya yang sempat nyakitin perasaan Mas Rava.. Ara cuma takut. Ara gak mau merasakan gak diinginkan atau hanya diberi harapan semu.” Ucap Ara lirih. Tangan Ara bergerak turun hingga terlepas dari genggaman jemari Rava, kemudian terkepal di sisi samping tubuhnya. Ia berusaha sekuat tenaga membuang rasa sesak menohok yang menyertai ungkapannya.
Bohong bila Ara berkata dirinya sudah tidak takut lagi. Traumanya secara perlahan memang sembuh meski belum sepenuhnya. Tekad dan orang-orang yang mendukung membantu Ara cepat pulih, namun kecemasan jelas tetap bersarang di lubuk hati dan jauh di dalam angannya.
“Mas yang dengan keras kepala menyukai kamu berarti Mas juga sudah siap untuk terluka kapan pun itu. Jadi bukan salah kamu yang pernah menolak rasa cinta yang Mas punya.” Ucap Rava lembut.
Semua memang adalah konsekuensi yang harus Rava terima. Ia bisa saja memilih berhenti, namun hatinya tidak bisa berpaling. Bahkan rasanya lebih baik perasaan cinta itu mati dan menguburnya di dasar jiwa terdalam bila ia gagal menemukan Ara kembali.
“Asal Mas tau, karena berulang kali Ara menolak, rupanya diam-diam perasaan itu mengkhianati Ara.” Menarik nafas panjang, Ara menjeda ucapannya.
“Berulang kali Ara tekankan bahwa Ara mungkin akan sakit hati lagi. Dan berulang kali pula Ara pikir Mas gak akan sayang sama Ara. Tapi siapa yang sangka kalau berulang kali itu pula yang membawa nama Mas terukir di hati Ara. Intinya, saat ku sangkal 1000 kali, maka 1000 kali pula nama Mas udah terukir di sana. Aku bodoh bukan?” Air mata itu sudah meleleh, bukan kesedihan yang membuatnya tumpah ruah. Rasa senang dan haru yang tidak bisa didefinisikan membuat Ara seketika ingin menangis.
“Kenapa kamu menangis?” Mata Rava sudah berkaca-kaca. Ia terlalu senang dengan satu kata ‘mau’ yang terlontar lirih dari bibir Ara, namun rupanya Ara memberinya kejutan yang lebih dahsyat lagi.
“Tadinya Ara gak mau membuka hati ini buat kamu maupun orang lain. Tapi Ara terlambat. Ara udah jatuh cinta duluan sama kamu." Ucap Ara dengan air mata yang masih menetes di wajah yang tersenyum manis. Tidak ada keindahan yang mampu menandingi senyum sumringah Ara.
"Hi.. Aquila Ravandra Kim, aku jatuh cinta pada mu.” Ucap Ara lagi dengan tegas. Bola matanya mengerjap gemas menahan air mata yang enggan untuk bersembunyi.
“Ka-kamu..” Rava kesulitan berkata-kata. Bibirnya hanya mampu melengkung naik, tertarik sempurna hingga gigi putihnya bisa mengintip.
“Hahaha.. Kenapa kamu jadi gagap gitu?” Tawa Ara pecah menyaksikan sikap linglung Rava.
__ADS_1
“Nggak, tapi ini.. Itu, kamu..” Lagi-lagi Rava masih terbata-bata, ia masih menyusun kepingan kalimat yang telah Ara lontarkan. Takut bila semua itu hanya khayalan semata, atau hanya pendengarannya yang menipu.
“Iya.. Aku udah JATUH CINTA sama kamu..!!” Ucapan kuat Ara dengan penekanan menyadarkan sistem kerja otak Rava yang sempat gagal beroperasi. Menekan dua kata ajaib yang membuat Rava langsung menghamburkan dirinya pada Ara.
Di tempat yang tidak pernah Rava sangka, berteman langit sore yang berubah jingga, senja yang menakjubkan tidak mampu mengusik keduanya. Parkiran taman tepi laut itulah yang menjadi saksi bisu ungkapan cinta Ara. Rasanya Rava akan berlutut melamar Ara kembali, meski tanpa nuansa yang super romantis.
Namun pelukan itu tidak bertahan lama. Rava melepas rengkuhannya, menyisakan kehampaan pada diri Ara yang baru saja akan memberikan balasan. Rava meloncat girang sembari memukul udara gemas.
“YES..!!” Biar saja dunia yang menjadi saksi tingkah anehnya. Ia bahkan lupa menjaga wibawa atau sikap elegan di hadapan Ara.
Bak pelari yang berhasil memutus tali finis pertama, semua seolah menjadi kemenangan bahwa hari ini Rava tidak mencintai seorang diri. Cintanya berbalas, bahkan lebih manis dari yang ia bayangkan. Satu kata ‘mau’ yang ia rasa cukup memberinya cinta rupanya hanya hidangan pembuka.
“Hahaha.. Mas Rava gila.” Tawa Ara mengusik Rava, ia menghentikan loncatan kecil kegirangannya.
“Gak apa-apa gila asal bisa sama kamu.”
“Aaa..!!” Tubuh Ara terasa melayang dalam dekapan Rava yang berputar. Kedua lengannya bertumpu pada bahu Rava, memandang wajah yang menjadi lebih rendah dengan tawa renyahnya.
“Aku yang gak mau sama Mas kalau Mas gila.” Ucap Ara sambil mencolek ujung hidung Rava.
“Bukan gak setia, Ara cuma realistis aja.” Terkekeh Ara membantah ucapan Rava.
“Terlambat. Mas pastikan kamu gak akan pernah bisa ninggalin Mas setelah ini!” Rava kembali mendekap Ara dengan eratnya, membenamkan wajah mungil itu pada dada bidangnya.
“Hahaha.. Lucu banget sih.. Tapi cepat LEPAS!!”
“Gak mau.”
Bugh.
Bugh.
__ADS_1
“Pengap!! HIDUNG KU..!!” Rengek Ara kesal. Ia hampir saja lepas kendali untuk menggigit dada Rava.
“Maaf, sayang.. Kehimpit ya hidung kamu?” Tanya Rava masih sambil tersenyum, raut wajahnya khawatir, tapi lebih banyak kebahagiaan yang mendominasi.
“Udah tau nanya lagi..!!” Bersungut-sungut Ara berujar dengan kesal. Menggosok hidungnya kuat sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Sejenak Rava mengingat kembali, kenapa semuanya serba tidak di tempat yang romantis?
Jika dahulu sofa ruang kerja Rava yang menjadi saksi, maka kini parkiran taman tepi laut lah saksinya. Hanya berubah dari indoor menjadi outdoor saja sesi pengungkapan cinta diantara Rava dan Ara.
Flashback Off.
...****************...
*
*
*
Semanis apa hubungan Ara dan Rava setelah ini?🤔
*
*
Ada yang bilang kalau akhirnya Ara nggak sama Rava, maka Hana akan diamuk massa. Benar?🤔
Masih belum tau di bab berapa akan tamat, tapi kalau sebentar lagi boleh?🙂
Jujur aja Hana itu sebenarnya pengen sematkan tanda ‘END’ di novel ini meski masih ongoing. Apalagi masih proses revisi ulang yang ngaret parah dari bab awal.🤭
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰