
Sudah seminggu berlalu Ara masih belum bisa mengingat suara siapa yang didengarnya di rumah sakit saat kesadarannya belum benar-benar pulih. Kali ini berpikir keras sepertinya tidak membuatnya lapar seperti biasanya. Mungkin lambungnya sudah penuh dengan kuku yang digigitinya itu.
"Udah kali Ra. Kayak gak ada camilan aja gigitin kuku gitu." Yuki menarik lembut pergelangan tangan Ara.
"Kalian berapa kali jenguk aku?" Tanya Ara pada Dimas dan Yuki.
"2 kali aja, pas hari kelima apa empat gitu sama pas kemarin itu. Kenapa?" Balas Dimas.
"Cuma sensus temen aja. Mau seleksi alam, kali aja ada yang perlu dieliminasi. Hahahaha.." Menanggapi dengan candaan, Ara sembunyikan kebimbangan hatinya.
"Eh dasar!! Dikira temennya Jerapah leher pendek yang gagal seleksi alam. Temen mu tuh Yuki." Mengangkat sekilas dagunya untuk menunjuk Ara pada Yuki, Dimas seperti enggan mengakui Ara sebagai teman.
"Siapa? Anda kenal saya? Kalian siapa?"
"Oh gitu.. Ya udah Dim kita berdua aja makan bakso di perempatan sana. Cus buruan Dim!" Melenggang santai Ara di depan Yuki.
"Ih.. Jangan gitu lah. Mana bisa aku gak kenal Kakak cantik ini. Ayo traktir aku makan mie ayam. Bosan bakso mulu." Tanpa tahu malu Yuki menyambar lengan kanan Ara.
"Heleh.. Gratisan aja cepet." Gerutu Dimas dengan suara yang sengaja ditinggikan, "Yuk gerak. Udah gak ada yang bisa diserap nih sama usus besar ku." Ara dan Yuki serentak memutar bola mata malas, mendelik sebal pada mulut Dimas yang memang penuh dusta.
Berjalan sejenak ke warung bakso di perempatan jalan yang terkenal enak dan pas di kantong mahasiswa. Tiba-tiba Ara sengaja menjatuhkan cincinnya.
"Kenapa?" Tanya Dimas heran.
"Kayak ada yang ngikutin. Kerasa gak sih kalian?" Berucap lirih Ara sembari berpura-pura merapikan rambutnya.
"Parno banget sih Ra. Noh liat bentar lagi ada yang lewat." Benar saja setelah Dimas selesai berucap ada sekumpulan adik tingkat mereka yang lewat.
"Gak gitu Bro. Feeling ku beda, kayak ada yang merhatiin and ngikutin gitu. Fix ini feeling ku pasti bener." Masih kekeh bahwa perasaan tidak enak itu pasti benar.
"Udah lah cepetan.. Keburu penuh degem. Dedek gemes sekarang bar-bar buk." Berlari meninggalkan Ara dan Yuki, Dimas dalam sekejap mata sudah masuk ke dalam warung bakso.
"Sini.. Sini.." Memilih duduk paling sudut, Dimas tau Ara pasti malas berbaur bila duduk di tengah. Pemilik mulut yang disumpal pentol bakso itu melambaikan tangan semangat.
Ketakutan sosial salah satu rahasia yang hanya diketahui Dokter Dion. Ara bersyukur hal ini rupanya belum dibeberkan oleh sang Dokter pada orang tuanya.
Ara bahkan tidak suka jika harus bersentuhan dengan lawan jenis selain dengan Papa Yudith, Jona dan Rian saja. Ara butuh kepercayaan, rasa aman, nyaman dan tentunya tekadnya. Bahkan dengan Dimas yang sudah 3 tahun berteman saja ia masih saja ada ketakutan.
"Udah pesen aja gak nunggu-nunggu. Kacau nih punya temen kayak gini, ck ck." Berdecak kesal Yuki sembari duduk di hadapan Dimas bersama Ara.
__ADS_1
"Udah aku pesenin kali. Bentar lagi es teh manis 2, air es kosong 1, jeruk peras dingin 1, bakso 1, sama mie ayam 2 datang "
"Kok 2 mie ayamnya!? Kebanyakan kali." Mendelik sebal Yuki melebarkan bola matanya.
"Dih GR. Buat aku satu lagi mie ayamnya. Mana cukup bakso cuma 1 tengah hari gini. Bisa tepar di AMDAL Pak Broto nanti." Menunduk terdiam layaknya mengheningkan cipta, semuanya tampak setuju dengan ucapan Dimas.
Mata kuliah AMDAL itu enak tidak enak. Untuk para mahasiswa otak seksi pasti sangat seru untuk dipelajari, tapi yakinlah mereka juga pasti setuju bahwa tidak untuk praktek penyusunan izin AMDAL nya. Teorinya hampir tidak sejalan dengan laporan buku tebalnya. Bagi Ara lebih baik berjuang pengajuan SCOPUS jurnal ilmiah dari pada disuruh membuat izin untuk AMDAL.
"Gimana penelitiannya?" Celetuk Dimas saat mie ayam dihadapannya tinggal sepertiga mangkuk.
"Aman sih. Kebetulan pas aku gak bisa itu lagi hujan, terus yang bisa turunkan cuma anak fisika laut, kimia kan gak bisa ukur kondisi lagi upwelling, gimana mau ukur DO kalau udah ada pengadukan? Jadi tugas ku gak numpuk tapi aku tetap dapat data. Paling nanti malam aku ngitung akumulasi debit dari hulu sampai muara sama salinitas muara aja." Jawab Ara sangat santai, sesantai ia menyeruput kuah bakso.
"Gila ni anak Dim. Tugas numpuk gitu masih santai gini. Moga bisa sistem SKS ya Ra." Terkekeh Yuki.
"Satuan Kredit Semester?" Tanya Ara bingung.
"Ck. Sekali kebut semalam peak!!" Berdecak Dimas menyahuti pertanyaan Ara.
"Heh.." Menghela nafas pasrah Ara mulai memerhatikan sekitar warung bakso itu. Matanya menangkap sosok yang tertangkap basah sedang melihat ke arahnya, namun saat Ara perhatikan balik malah dengan sombongnya membuang muka. Sungguh menyebalkan.
"Geng.. Meja pojok sana kayaknya liatin ke arah sini mulu deh." Bisik Ara pada Dimas dan Yuki.
"Eh itu Dosen ganteng tapi sadis. Pak Kim itu Ra." Mengernyitkan dahi Ara berpikir seperti pernah mendengar nama itu, tapi kapan ia sudah lupa.
...----------------...
Sore itu di perkarangan samping rumah tampak wanita hampir setengah abad sedang asik pada dunia kecilnya sendiri.
"Sore Tante Liz." Sapa pemuda pada Mama Lauritz yang rupanya sedang asik menjaring ikan Nila pada kolam akuakultur milik Ara.
"Eh Bima.. Kenapa nih tumben sore-sore ke sini?" Senyum manis Mama Lauritz menyambut ramah sosok yang ternyata Bang Bima.
"Di suruh nenek kasih kue ini. Katanya Tante Liz suka, jadi nenek sengaja bikin lebih." Jawab Bang Bima tidak kalah ramahnya. Matanya sesekali memerhatikan sekitar rumah berlantai dua itu.
"Ara belum pulang Bim. Paling bentar lagi pulang." Skak mat. Bang Bima tidak bisa berkutik, ia sudah tertangkap sedang mencari sosok anak gadis satu-satunya di rumah itu.
"Nggak kok Tante. Tante Liz bisa aja nih. Bima.. Bima cuma liat ini kok keren gitu." Mencoba mengelak, Bang Bima menunjuk pada kolam ikan kecil di sampingnya.
"Ini Ara loh yang buat. Katanya Tante jangan ngadon kue mulu, sesekali ganti hobby jaring ikan sama panen sawi aja. Heh.. Ada-ada aja anak itu. Tapi lumayan lah buat lauk Jona ini ikannya. Lagian Ara itu aneh Bim, suka main laut, air sama ikan tapi gak doyan ikan anaknya. Katanya ikan cukup dia bedah aja, gak perlu di makan." Bersemangat juang 45 Mama Lauritz tampak seperti sales panci yang sedang promosi dagangan.
__ADS_1
Senyum menawan tidak menghilang sedikitpun dari wajah Bang Bima selama menyimak ocehan dari mulut Mama Lauritz. Namun tidak bertahan lama hingga suara pintu di tabrak membuyarkan momen indah itu.
Brak
"KAKAAAKKK" Jerit Mama Lauritz yang mengejutkan Bang Bima.
"Kalau mau masukin motor pintu di buka dulu. Jangan asal tabrak. Kalau rusak bukan Papa yang benerin, tapi Mama yang jadi tukang." Mama Lauritz berlalu menuju Ara yang masih nyengir di atas motor matic pink miliknya.
"Kebiasaan banget sih. Lain kali turun dulu, buka pintu baik-baik, baru deh masukin itu motor. Nyeruduk aja." Lanjut Mama Lauritz. Tidak tahukah bahwa pipi Ara sudah matang karena sosok di belakang Mama Lauritz yang menyaksikan adegan kentang itu.
...----------------...
"Bima kayaknya suka sama kakak." Celetuk Mama Lauritz sambil mencuci piring bekas makan malam.
"Suka-suka dia lah kalau suka, hak nya buat suka sama siapa aja kan." Jawab Ara santai.
"Ck.. Kamu gimana?" Berdecak sebal Mama Lauritz mendengar jawaban Ara.
"Kakak kenapa?" Pura-pura tidak tau Ara kembali bertanya maksud Mama Lauritz.
"Suka gak sama Bima?" Langsung pada intinya, Mama Lauritz berbalik menatap mata anaknya.
"Suka lah. Kalau benci gak mau Ara lihat dia senyum-senyum sama Mama. Apa jangan-jangan naksir nya ke Mama ya??" Lanjut Ara sekenanya, "Hahaha.. Ara gak mau ya punya Papa muda." Mengibaskan tangan ke arah mukanya Ara sudah tergelak heboh.
"ARA!!" Melotot mata Mama Lauritz yang ditanggapi dua jari tanda perdamaian. Ara sudah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ngapain juga mikirin suka-suka gitu. Sendiri juga lebih baik. Buat apa cari mikir cowok kalau sendiri lebih bisa bahagia. Kalau bisa gak usah nikah sekalian." Membatin Ara sepanjang perjalanan ke kamarnya.
...****************...
Upwelling : fenomena oseanografi berupa pengadukan perairan yang melibatkan gerak yang dibangkitkan angin dari air yang lebih berat, lebih dingin dan biasanya kaya nutrient ke arah permukaan laut, menggantikan air permukaan yang lebih hangat dan kurang nutrient. Fenomena ini juga dapat disebabkan peristiwa hujan yang mendorong proses pengadukan perairan hingga nutrient di perairan dasar berputar naik.
Scopus : Pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik. Jurnal ilmiah yang terindeks oleh Scopus memiliki nilai kredit dan reputasi yang tinggi bagi dosen atau peneliti.
AMDAL : Analisis dampak lingkungan atau Analisis mengenai dampak lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia.
DO : Oksigen terlarut atau sering juga disebut dengan kebutuhan oksigen yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen yang tersedia dalam suatu badan air.
Akuakultur : Metode untuk melakukan pemeliharaan serta penangkaran berbagai jenis makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan yang hidup di perairan. Sistem akuakultur juga menerapkan sistem hidroponik.
__ADS_1
***
FYI, Debit yang disebut bukan ranah akuntansi yaa.. tapi Debit di perairan kayak Debit aliran sungai😁