Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kembali Meminta Restu


__ADS_3

“MAAAAAA..” Teriak Jona nyaring menggema sampai ke luar rumah, memancing jiwa kepo si pendiam Rian untuk keluar dari gua dunia game online.


“Apa Mas?” Celetuk pemilik suara yang sudah berdiri di samping Jona, bukan Mama Lauritz, tapi Rian yang melongok kan kepala, menyembul diantara celah ambang pintu yang tertutupi tubuh Jona.


Sedangkan pemicu teriakkan Jona hanya mampu menggelengkan kepala sambil melangkah mendekati teras rumah.



“Berisik banget sih, Mas.” Ucap Ara sambil melenggang santai dengan sebuah buket berisi lembaran uang berwarna merah, sedangkan buket bunga yang sempat membuatnya bersin-bersin berada di tangan Rava.


“Buket uang dari siapa Kak?” Tanya Rian yang sudah melebarkan kelopak mata takjub. Matanya berbinar seolah ingin mencabuti satu per satu.


“Tuh..” Mengedikkan dagunya singkat ke arah Rava yang hanya tersenyum tipis, Ara melepas sepatu bertumit 5 sentimeter yang ia kenakan dan meletakkannya di sebuah rak khusus, tersusun rapi bersama sepatu milik anggota keluarga lainnya.


Menolehkan kepala melihat sosok Rava yang Ara tunjukkan, kini mata terbelalak dan berbinar Rian berubah biasa saja dengan bibir dimanyunkan. Perlu diketahui jika Rian dan Rava masih sulit untuk disatukan, keduanya tampak seperti kartun kucing dan tikus, bedanya tidak ada prilaku yang saling menyerang, begitulah yang Ara pikirkan. Bahkan keakraban antara Rava dan Rian akan terlihat jika keduanya kompak memilih diam.


“Wah parah, pasti Kakak habis melakukan tindak kejahatan pemerasan kan?” Tuduh Jona sebagai sebuah candaan, telunjuknya mengacung dan bergoyang riang seolah menghardik Ara.


“Nuduh aja kamu!” Menoyor pelan pelipis Jona, Ara mencebikkan bibirnya.


“Taruh di piring ini, Mas.” Ucap Rava menyela perdebatan remeh Jona dan Ara. Mengulurkan tangan kanannya dengan sebuah kantong besar menggantung yang jelas pasti berisi makanan.


“Apa ini Mas?” Tanya Jona pada Rava sambil mengintip isi kantong yang Rava sodorkan.


“Telur gulung, batagor, nugget, bakso sosis gulung mie, sama itu ada pempek.” Bukan Rava yang menjawab, namun Ara yang berkata dengan suara meninggi karena posisinya yang sudah menjauh dari ketiga laki-laki beda usia itu.


Beranjak menuju kamarnya di lantai atas, Ara meninggalkan Rava begitu saja. Sudah sangat yakin jika ada Rava di rumah pasti Jona akan ngobrol tidak berkesudahan dengan Rava, berbeda dengan Rian yang tetap memilih masuk ke kamar dan bersemedi.


Dari sini Ara mulai memahami ternyata kehadiran Rava sebagai sosok yang lebih dewasa untuk Jona selain Papa Yudith bisa membuat Jona sedikit menunjukkan sifat kekanak-kanakannya. Meski selama ini Jona terlihat jahil, tengil dan usil, tapi di balik sikapnya itu Jona terus belajar menjadi lebih dewasa, ia merasa memegang tanggung jawab sebagai anak laki-laki yang paling besar.

__ADS_1


“Mas Rava beneran mau nikah sama Kakak?” Tanya Jona pada Rava.


“Iya, kamu setuju kan?” Ucap Rava santai, namun percayalah Rava gugup menanti jawaban Jona.


“Selama Kakak mau dan itu buat Kakak bahagia, aku setuju aja.” Ujar Jona dengan anggukan kecil, sesuap pempek kapal selam yang sudah dipotong beberapa bagian masuk ke dalam mulutnya. Terkunyah perlahan sambil meresapi nikmatnya kuah cuko.


“Memang Kakak mau?” Celetuk Rian yang entah sejak kapan sudah berapa di belakang Jona dan Rian, atau lebih tepatnya berdiri di belakang sofa ruang tengah yang Jona dan Rava duduki. Suaranya datar dengan tatapan tidak suka pada Rava.


“Iya ya, memang Kakak mau?” Ucap Jona menimpali dan mengulangi pertanyaan Rian, menambah sedikit bumbu pencetus kegusaran yang sejenak terpampang nyata di wajah Rava. Mengulum senyuman menahan tawa, Jona tidak habis pikir pada Rian yang merasa Ara direbut oleh Rava.


Pernah sekali Rian bercerita saat mereka hendak tidur di suatu malam. Kala itu Rian dengan polosnya berkata kemungkinan suatu saat nanti Ara akan melupakan dirinya dan tidak sayang lagi kepadanya jika sudah ada Rava. Sebuah kekhawatiran yang tampak remeh, namun punya makna mendalam bagi seorang Rian kecil.


“Loh pada kumpul di sini?” Ucap Papa Yudith yang baru saja pulang, ia sengaja pulang lebih cepat atas permintaan Rava kemarin sore saat mendatangi langsung ke bengkel Papa Yudith. Meski tidak setiap hari, namun Rava masih sering berkunjung ke bengkel Papa Yudith untuk ikut membantu pekerjaan calon mertuanya itu walaupun baru bisa melakukan hal-hal kecil saja.


“Jajan mulu kamu belikan Rav. Di rumah Mama mu udah stok sampai mau meledak itu lemari jajannya.” Meneliti seluruh makanan yang tersaji di atas meja kaca setinggi lutut, Papa Yudith dapat melihat berbagai macam jajanan yang telah Rava belikan sesuai permintaan Ara.


“Enak ya makanan dari luar, besok Mama gak mau masak.” Ucap Mama Lauritz mengalun lembut seakan sedang menyindir, melengos pergi begitu saja khas orang merajuk.


“Mama gak masak masih aman, ada Mas Rava sekarang.” Terkekeh Jona berkata sambil melirik pada Rian yang masih berdiri diam.


Melihat arah sorot mata Jona, Rava lantas mencoba mendekati Rian. “Sini piringnya, Dek. Mau Mas bantu isi apa?” Ucap Rava sembari mengulurkan tangannya, meminta piring di tangan Rian agar diserahkan kepadanya.


“Rian lagi mode jaim, sok gak mau tapi itu piring udah ditenteng aja, pasti mau dibawa ke kamar camilannya.” Ucap Jona sambil menunjuk piring yang ada di tangan Rian, tertawa renyah dengan mulut penuh batagor hingga tersedak.


“Mamas ini mulutnya penuh gak ditelan dulu.” Gerutu Rian sambil berlari ke dapur untuk mengambilkan Jona segelas air putih.


...----------------...


Bulan beranjak naik bersama para bintang, keduanya saling memancarkan gemerlap kilaunya. Tidak ketinggalan suara jangkrik mengisi suasana malam yang tampak sunyi itu di sekeliling sebuah rumah berlantai dua yang jauh dari penduduk sekitar.

__ADS_1


Dengan pintu depan rumah itu yang sengaja dibuka, maka di sinilah saat ini Rava dan Papa Yudith duduk berdua di ruang tamu, tidak lupa ditemani teh manis, setoples kastengel dan kue bawang andalan Mama Lauritz.


“Pa, Rava mau minta izin sama Papa.” Ucap Rava memecah keheningan.


“Izin apa Rav?” Tanya Papa Yudith sambil meniup pelan permukaan air teh manis dari cangkirnya.


“Setelah Ara sidang skripsi bulan depan, kemungkinan Ara akan diwisuda dua bulan kemudian. Jadi, satu bulan setelah Ara wisuda, apa Papa udah bisa merestui kalau Rava dan Ara melangsungkan pernikahan kami?” Ucap Rava sambil meremas bergantian jari jemarinya. Lewat ucapan yang mantap, Rava mengeluarkan segala keberanian dan menutupi kegugupannya hingga nyaris tanpa celah.


“Ara udah setuju?” Tanya Papa Yudith pada Rava tanpa menjawab pertanyaan yang Rava ajukan.


“Rava kira pastinya udah, Pa.” Jawab Rava yang terlihat jelas tidak seyakin ucapan sebelumnya saat meminta restu kepada Papa Yudith.


“Sebelumnya kami menunda karena menunggu restu Mama dan Papa.” Imbuh Rava lagi, menguatkan jawaban yang ia berikan dan menenangkan pikirannya agar tetap teguh bahwa Ara juga menginginkan pernikahan mereka disegerakan, meski sudut hati Rava tidak sepenuhnya yakin.


“Tanya lagi ke Ara, Rav. Papa gak langsung merestui kalian bukan hanya karena mau Ara fokus menyelesaikan kuliahnya. Papa ini udah hafal betul gimana jalan pikiran anak gadis Papa itu. Kalian bicarakan baik-baik. Kalau nantinya ada hal yang mengecewakan kamu, Papa harap kamu sebagai yang lebih dewasa bisa secara perlahan kasih Ara pengertian.”


Kalimat panjang Papa Yudith seakan menjadi sebuah nasehat sekaligus belati yang mampu memporak-porandakan hati Rava. Tidak ingin dibayangkan sisi buruk yang mungkin terjadi, namun isi kepala Rava secara cepat justru memproses sebuah penolakan yang akan Ara berikan.


...****************...


*


*


*


Menjelang pernikahan ada kerikil kecil itu biasa kan?🤔


Terima kasih yang sudah selalu nungguin kisah Ara selanjutnya 🥰

__ADS_1


__ADS_2