
"Jadi ini maksud kamu dulu?? 'Yang berhasil memperistri Ara', ternyata kamu laki-laki dalam perjodohan?" Tanya Rava sinis. Ia memang sudah pernah mendengar cerita perjodohan dari Papa Yudith dan Mama Lauritz kala meminta izin untuk mendekati Ara. Bahkan Rava juga sempat ingin melayangkan baku hantam pada Gilang saat mengingat Papa Yudith pernah mengenalkan Gilang sebagai kandidat calon menantu.
Jika tidak lebih memprioritaskan Ara, mungkin Rava sudah bergulat dengan Gilang di lantai dingin klinik Dion. Masa bodoh wibawanya hilang, begitu pikir Rava.
"Jujur Bang, dulu aku beneran cuma bercanda. Sama sekali gak ada dipikirkan aku buat lebih serius ke Ara. Serius juga cuma sebatas saudara, gak lebih."
"Terserah Lang.. Semua itu bukan urusan saya." Memilih mengabaikan Gilang, sebenarnya Rava sedang mencoba untuk tidak menghajarnya.
"Bang.." Panggil Gilang pada Rava dengan suara lirih.
"Apa Ara mau ketemu sama aku?" Menatap Rava dengan serius namun penuh harap.
"Jangan temui Ara terlebih dahulu." Membelakangi Gilang, Rava tidak ingin Ara semakin histeris. Bahkan dekapan hangat Rava saja sempat membuat Ara kembali menangis tersedu-sedu.
Jika boleh egois, Rava sedikit bersyukur Ara justru bergantung padanya. Meskipun Rava juga sedih melihat Ara yang seakan tidak ingin bertemu kedua orang tuanya. Sedikit banyak juga Rava akhirnya mengetahui apa yang terjadi sebelumnya pada Bima. Empati tentu saja Rava rasakan, namun ia juga dilanda kebingungan dengan lenyapnya Bima. Sebenarnya apa yang terjadi?
Ceklek.
Tampak Papa Yudith dan Mama Lauritz keluar dari ruangan Dion. Keduanya berjalan lesu saling menguatkan lewat tautan jemari. Entah apa yang baru saja dibahas ketiganya, tapi Rava yakin bukan sesuatu yang baik.
"Pa.." Sapa Rava pada Papa Yudith dan menatap sendu pada Mama Lauritz yang bahkan tidak mampu menampilkan senyum kepura-puraan lagi.
"Gimana kondisi Ara Pa??" Tanya Rava pada Papa Yudith. Meskipun Dion sang Adik adalah dokter yang menangani Ara, namun sesuai kode etik maka Dion tidak akan pernah membagi informasi sedikitpun jika bukan pada keluarga Ara. Jika dahulu Rava tidak sengaja mencuri lihat berkas laporan kesehatan Ara, mungkin saja ia akan terlambat mengetahui kesulitan yang sedang Ara alami.
"Menurun.. Ara harus kembali rutin terapi lagi, seperti di awal." Menghembuskan nafas sarat akan kesedihan, Papa Yudith manahan gejolak amarahnya. Bayangan tawa Ara yang pilu mengiris hati dan menebas jiwa Papa Yudith. Tidak pernah disangka anak yang dilimpahi kasih sayang rupanya menyimpan beribu bahkan berjuta kesedihan yang membelit bagai akar beracun.
"Mungkin juga dosis obatnya akan kembali ditingkatkan supaya saat Ara hilang kendali bisa lebih cepat ditenangkan." Ucap Papa Yudith lagi, mengingat bagaimana Dion memberikan penjelasan bahwa hanya cangkang Ara yang akan terlihat baik-baik saja. Kekhawatiran terbesar adalah saat Ara sendiri dan merasa hampa ia akan mencoba bunuh diri.
"Bang Rava.. Bisa ikut Dion sebentar?" Ucap Dion yang muncul tiba-tiba dari arah belakang Papa Yudith.
"Rava permisi dulu ya Pa, Ma.." Pamit Rava pada Papa Yudith dan Mama Lauritz. Berlalu meninggalkan kedua pasangan suami istri yang sedang kalut dalam pikiran yang sama.
"Om.. Tante.." Berdiri dihadapan Papa Yudith dan Mama Lauritz, Gilang menunduk meremas jemari. Layaknya anak kecil yang menghilangkan uang jajannya, Gilang takut pada kemarahan kedua orang yang sudah seperti orang tuanya itu.
"Bukan salah kamu." Ucap Mama Lauritz tiba-tiba, sadar bahwa Gilang pasti sedang menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Ara.
"Maafin Gilang.." Ucap Gilang dengan suara serak.
"Kamu gak salah Lang.. Memang takdirnya harus seperti ini. Bahkan mungkin kamu juga korban di sini." Menepuk pelan bahu Gilang, Papa Yudith memberi kekuatan agar Gilang mampu mengangkat pandangannya.
"Semua salah kami berdua. Maafkan kami sebagai orang tua Eric." Ucap penuh sesal Papi Adam yang datang tiba-tiba. Sebenarnya Papi Adam dan Mami Vivi sudah cukup lama menunggu di luar, malu dan merasa bersalah pada keluarga Papa Yudith.
"Saya mohon, tolong jangan ulangi lagi. Jangan paksakan kehendak anak-anak kita." Ucap Papa Yudith tegas. Kecewa, marah, kesal tentu saja dirasakannya, apalagi anak gadisnya turut menjadi korban keegoisan para orang tua.
Bukannya tidak ada keinginan menghabisi orang tua Eric bahkan mertuanya, namun lagi-lagi Papa Yudith berpikir hal itu tidak berguna dan hanya menambah masalah. Sebagai orang dewasa yang sudah cukup berumur, Papa Yudith lebih memilih untuk mendinginkan kepalanya. Lebih baik ia berusaha untuk lebih menjaga keluarganya dan menjadi kepala keluarga yang dapat dibanggakan anak-anaknya.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya Mas. Kami berdua pikir hanya Eric yang menentang keputusan kami. Selama ini yang kami tau Ara tidak menolak perjodohan yang Om Baren aturkan." Lagi-lagi Papi Adam menyesalkan sikap yang sudah diambilnya.
"Harusnya justru karena Eric menolak, Mas dan Mbak gak bisa meneruskan perjodohan ini. Keterpaksaan Eric juga bisa menyiksa Ara. Harusnya kebahagiaan Eric sebagai anak lebih diprioritaskan. Biarkan dia memilih sesuai keinginan dan keputusannya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mengarahkan pada jalan terbaik, bukan memaksa kehendak sendiri." Ucap Papa Yudith panjang lebar.
"Mbak Vivi.." Panggil Mama Lauritz pada Mami Vivi yang menunduk menyembunyikan diri di balik punggung sang suami.
"Maafkan kami Mbak.." Ucap Mami Vivi diiringi derai air mata. Gilang yang menyaksikan tangis sang Mami langsung merangkul bahu Mami Vivi.
"Jadikan pelajaran saja Mbak." Ucap Mama Lauritz tegar, meski hatinya tidak terima dengan kehadiran orang tua Gilang yang membuat Ara menggila.
"Terima kasih.. Terima kasih sudah mau memaafkan kami. Terima kasih.." Ucap Mami Vivi yang justru tambah tersedu-sedu hingga nafasnya tersengal.
"Lauritz.." Panggil lirih suara dari sosok yang sangat Mama Lauritz hormati, namun juga mengecewakannya.
"Papa mau apa lagi!?" Ucap Mama Lauritz ketus dengan tatapan sinis.
"Belum puas Papa mau bunuh anak ku??" Tanya Mama Lauritz yang sudah diliputi amarah.
__ADS_1
"Kenapa gak Papa bunuh juga aku, Mas Yudith sama anak-anak yang lain??" Memukul dadanya kasar, Mama Lauritz tidak meneteskan air mata sedikitpun. Sudah kering air mata Mama Lauritz untuk sosok orang tuanya itu.
"Lebih baik Papa dan Laura pergi!" Usir Mama Lauritz, jari telunjuknya menunjuk pada pintu keluar.
"Gak bisa!! Kembalikan dulu uang ku!!" Sarkas Tante Laura, berkacak pinggang di hadapan Mama Lauritz. Tas jinjing yang tampaknya limited edition itu seolah tidak selaras dengan tangan sang pemilik yang menengadah.
"Pencuri kecil kalian itu harus tanggungjawab!!" Ucap nyaring Tante Laura.
"Cukup Laura!! Tutup mulut mu itu!!" Seruan kasar dilontarkan dari sosok tua yang masih segar bugar. Kakek Baren benar-benar syok dengan tindakan nekat Ara, bahkan selama diperjalanan kalimat kematian yang Ara lontarkan terus terngiang di kepalanya. Ia akan menyalahkan dirinya jika Ara terlambat diselamatkan.
Harta dan kekayaan yang ia agungkan nyaris membunuh cucu perempuan satu-satunya. Merasa semua yang ia paksakan demi kebaikan anak cucunya, nyatanya Lauritz meninggalkannya dan Ara rela meregang nyawa. Dikiranya semua hanya ancaman belaka, namun tetesan darah segar yang mengucur dari kulit mulus Ara adalah pukulan telak untuk kesombongan Kakek Baren.
"Perjodohan ini batal." Ucap Kakek Baren dengan nada suara rendah.
"Setelah Ara kayak gini? Setelah anak ku nyaris mati Papa baru bisa bilang ini?? Papa kemana aja selama ini!!??? Pergiii..!!! Udah cukup sampai di sini. Anak-anak Lauritz bukan cucu Papa!! Dengan hormat Lauritz mohon silakan pergi!!" Menahan jerit histerisnya, Mama Lauritz kembali mengarahkan telunjuknya pada arah pintu keluar.
"Papa melakukan ini semua demi kebaikan Ara." Masih bertahan pada egonya, Kakek Baren tetap menunjukkan bahwa yang dilakukannya demi kebaikan semua orang. Meskipun sebenarnya hati kecil Kakek Baren tau bahwa ia memang bersalah.
"Ayo Laura, kita kembali ke hotel." Langkah kaki berat Kakek Baren membawanya menuju parkiran mobil. Sang sopir yang siap sedia sudah membukakan pintu untuk Kakek Baren.
"Laura cepat!!" Ucap Kakek Baren meninggi kala Tante Laura yang berjalan ogah-ogahan meninggalkan sumber uangnya.
"Cepat masuk atau kamu pulang ke Kota K jalan kaki!!" Terbelalak Tante Laura mendengar ucapan Kakek Baren. Bukan tidak mungkin jika ia akan benar-benar ditinggalkan.
...----------------...
Jarum jam terus berputar, detak setiap menitnya terasa sangat nyata di telinga Ara. Deru nafas teratur sang Papa juga sangat jelas di telinga Ara, atau mungkin lebih tepatnya dengkuran maha dahsyat yang sesekali mengejutkan Ara yang sibuk menyelami alam bawah sadarnya. Jangan lupakan usapan lembut yang kadang di jemari, punggung tangan, pelipis bahkan hingga rambut Ara yang tiada henti terus terasa.
Iya, Rava bertahan menatap lekat Ara dengan terus memberikan usapan halus. Ara bahkan berpikir Rava sedang memanfaatkan keadaannya yang diam. Bukannya ingin ditepis, Ara justru nyaman dengan segala tingkah Rava.
"Kamu bangun?" Tanya Rava lembut saat bola mata Ara menatapnya.
"Bangunin Papa, suruh pulang aja." Ucap Ara lirih, ia merasa semuanya sangat berlebihan. Menurut Ara, lukanya tidak parah apalagi berbahaya, sungguh berlebihan ia harus berbaring di atas brankar sekian lama.
Sepele. Itulah menurut Ara luka yang didapatkannya. Rasa berdenyut sakit juga sama sekali tidak Ara rasakan, namun bisa saja belum karena Ara tidak menyadari separah apa lukanya.
'Bukan Kakak, tapi Papa kali yang baru bangun.' Ucap Ara dalam hati. Mana bisa Ara tidur jika ada sosok Rava di sampingnya, terasa asing dan Ara takut tidur jeleknya terdeteksi Rava. Bisa sangat memalukan jika ternyata ia melongo sampai ngiler, begitu pikir Ara. Dasar Ara, masih saja bisa-bisanya justru berpikir pada hal tidak berguna itu.
"Papa pulang aja. Mama udah pulang kan??"
"Iya Mama mu harus ngurus Jona sama Rian. Udah malam gak bisa ditinggal sendirian." Ucap Papa Yudith.
"Kakak mau pulang aja ya Pa.." Ucap Ara penuh permohonan. Jujur Ara tidak nyaman tidur di brankar yang membuat punggungnya cepat pegal.
"Jangan." Bukan Papa Yudith, namun Rava yang justru menolak keinginan Ara.
"Besok aja kita pulangnya." Lagi-lagi Rava yang berujar.
"Tapi Papa pulang aja ya.. Tidurnya ngorok gitu malah buat Kakak gak bisa tidur di sini."
"Ya udah Papa tidur di lorong luar aja."
"Pulang aja Pa.." Ucap Ara yang lebih tepatnya sebuah perintah dibandingkan permintaan.
"Iya Papa pulang aja. Rava yang akan jagain Ara di sini. Lagian masih ada suster jaga kok di klinik Dion ini." Jelas Rava yang setuju bila Papa Yudith lebih baik tidur di rumah. Meski kedua orang tua Ara itu dapat dipastikan tidak akan tidur dengan tenang, apalagi bila meninggalkan Ara pada Rava yang masih berstatus orang asing.
"Ara gak apa-apa juga kok kalau di sini sendiri." Ucap Ara menyakinkan.
"Nggak. Siapa bilang sendiri?? Kamu sama saya.." Ucap Rava sedikit sewot tidak terima dengan perkataan Ara.
"Ya kan kalau.."
"Gak ada kalau. Kamu sama saya."
"Apaan sih?? Kan Ara bilang kalau, bisa juga nggak." Ara memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Melihat kedua anak muda yang malah berdebat di hadapannya, Papa Yudith menggeleng pasrah. Entah jadi siapa yang harus dibujuk saat ini.
Namun, akhirnya setelah bujuk rayu yang dilancarkan Ara dan Rava sekian belas menit, Papa Yudith mengalah untuk pulang saja. Memercayakan Ara pada Rava yang tentunya dengan berbagai macam ancaman, salah satunya tidak ada restu untuk sekedar bertemu bila Ara sampai lecet sedikit saja.
Ceklek.
"Ara.." Rupanya Gilang masih setia menemani Ara, tepatnya duduk diam merenung di kursi lorong tunggu klinik yang cukup besar itu.
"Bang Gilang udah tau ini semua?" Bertanya tanpa menatap, Ara tentu merasa kecewa dengan Gilang.
"Belum lama ini."
"Bohong." Ucap Ara ketus.
"Serius Ra.. Kamu dengerin penjelasan Abang ya?? Jangan potong sedikitpun kalimat yang akan Abang ucapkan." Memohon Gilang pada Ara yang justru memejamkan matanya. Hembusan nafas keputusasaan Ara dapat terdengar jelas oleh Gilang.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" Pinta Gilang pada Rava yang setia menjadi satpam bahkan malaikat pencabut nyawa Gilang jika berbuat macam-macam pada Ara.
"Gak. Saya akan tetap berdiri di sini. Silakan lanjutkan penjelasan kamu." Ucap Rava tegas.
"Biarkan Ara selesaikan masalah kami berdua.. Mas Rava bisa tunggu di luar sebentar??" Kini Ara yang meminta. Membelalakkan bola mata tanda tidak suka, tidak setuju dan tidak rela, Rava menggeleng kuat. Rava yang baru saja menenggak air minum itu menghampiri Ara dan menggenggam jemari kanan memohon untuk tidak diusir.
"Gak apa-apa. Bang Gilang gak gigit kok.. Udah jinak." Canda Ara yang jelas tidak sesuai dengan situasi yang terjadi.
"Dikira guguk apa!? Ck!" Berdecak kesal Gilang, namun di lubuk hatinya ia bersyukur karena Ara masih berlaku seenaknya pada dirinya. Menarik sedikit ujung bibirnya, Gilang tau level kekesalan Ara padanya sudah menurun sedikit.
"Mau jinak juga saya gak rela!!" Ucap Rava ketus.
"Memang Bang Rava siapa ya??" Menyipitkan matanya, Gilang jelas menambah masalah dengan Rava.
"Udah Ra.. Kamu dengerin Abang aja. Anggap cuma ada kita berdua. Kamu lihat ke situ?? Gak ada apa-apa kan?? Cuma angin Ra di situ.. Udah biarin aja." Ucap Gilang seenaknya tanpa rasa apapun, padahal ia sedang ditatap tajam oleh Rava. Nyawa Gilang tampaknya lebih banyak dari milik para kucing.
"Hadeeh.." Ara menghela nafas kasar.
'Bikin masalah aja ini orang.' Gerutu Ara dalam hati.
"Mas.." Panggil Ara pada Rava yang mengeraskan rahangnya. Tangan terkepal yang bahkan dapat Ara rasakan sedikit menekan jemarinya.
Mendesis Ara kala telapak tangan kanannya yang juga terluka itu ikut tertekan. Meski tidak perlu dijahit, namun goresan luka itu cukup panjang hingga banyak mengeluarkan darah. Kekesalan rupanya membuat Rava lupa jika tidak hanya satu sisi tangan Ara yang terluka.
Menarik paksa tangan yang digenggam Rava, Ara ingin menyentil Gilang. Namun belum juga jari Ara beraksi, Rava sudah mendengus sebal. Kecewa Rava pada Ara yang dikira benar-benar tidak menginginkan keberadaannya. Melangkah gontai meninggalkan ruangan Ara, Rava membungkam mulutnya.
Terduduk lesu di lorong klinik menopang kepala dengan kedua tangan bertumpu di lutut, Rava menolak dikatai kekanak-kanakan. Keinginan menguping pembicaraan Ara semakin membara, namun Rava gengsi bila ia akan ketahuan.
...****************...
*
*
*
Ara baik-baik saja?🤔 Yakin?🤔
Kira-kira Rava akan tidur dimana?
Bagaimana kelanjutan hubungan Ara dan Gilang?
*
*
Gilang ku memang susah diajak normal ya🤭 Masih berani juga cari perkara sama Rava🤭
*
__ADS_1
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰