Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Hama Pengganggu


__ADS_3

Rava mengernyit heran pada sosok yang tersenyum ramah menyambutnya di luar pintu ruang rawat inap sang istri. Berjalan mengabaikan perempuan yang mengejar langkah lebarnya, ia merogoh kunci mobil dari saku celana.


“Pak Kim ...," sapa Dian ramah, memberanikan diri setelah sekian langkah menjauh dari ruang di mana Ara berbaring menghabiskan waktu bermalas-malasan.


“Awh!” rintih Dian saat tangannya yang menahan lengan Rava ditepis dengan kasar. Bahkan laki-laki yang dikejarnya itu menatap nyalang seolah dirinya hama pengganggu.


Rava yang risih langsung saja menepuk-nepuk lengannya tepat pada bekas sentuhan tangan Dian. Rasanya ia tidak rela lengan yang tadinya Ara gelayuti harus disentuh wanita lain yang tidak ingin ditemuinya lagi.


Sejujurnya Dian sakit diperlakukan seperti itu. Namun ia sudah terlanjur nekad atas sikap lancangnya. Dian tanpa sadar sudah mengikuti Rava sejak mengalami kemacetan. Matanya yang terlalu fokus mengekori mobil dan sosok Rava berujung aksi membuntuti yang tidak pernah terduga.


Oleh karena sudah kepalang tanggung, Dian memilih memberikan penawaran gila yang sudah sejak lama menghuni angannya. Bukan hanya kali ini Dian mencoba menemui Rava, namun baru kali ini dirinya berhasil kembali berhadapan dengan Rava.


“Maaf atas tindakan lancang saya. Tapi saya terpaksa melakukan ini semua. Bapak tau kan perasaan saya terhadap Bapak seperti apa?”


“Jika Ibu tidak memiliki kepentingan apapun, saya permisi,” ucap Rava lugas, tegas dan cepat. Memutar langkahnya meninggalkan Dian yang mengepalkan tangan membulatkan tekad.


“Jadikan saya istri kedua!” ucap Dian lantang. Bukan perkara mudah baginya terlepas dari pesona Rava.


“Ck!" Berdecak Rava menolehkan kepalanya, memutar jari telunjuk kanan tepat di samping pelipisnya. "Anda gila?"


“Saya gak masalah dijadikan istri kedua.”


“Jika Bapak berat untuk melepas Ara, biarkan dia jadi istri pertama. Saya bersedia dinikahi diam-diam … Bukannya selama ini Bapak juga menyimpan rasa dengan saya?” Perkataan Dian sarat akan kepercayaan diri yang terlalu berlebihan. Sangat memalukan. Tapi ia tidak ingin menyerah.


“Saya tidak suka dengan sebutan istri pertama.” Rava menarik sudut bibirnya, meski sejatinya emosinya meluap, ia bersikap tenang dan melanjutkan ucapannya, “karena yang saya mau adalah Ara menjadi satu-satunya istri saya. Status istri kedua dan itu anda? Mimpi saja!”


Terkekeh meremehkan, Rava maju selangkah. Sorot mata dingin Rava berhasil menusuk seluruh persendian tulang Dian.


“Apa anda sudah berkaca? Sepertinya anda harus periksa mata agar bisa melihat banyak laki-laki lain di luar sana.”


“Tapi aku cintanya sama kamu. Bahkan kita sering bersama. Jika bukan karena Ara mengikuti aku, dia gak mungkin bisa menggoda kamu!” lirih Dian putus asa. Mengganti panggilan formalnya menjadi lebih akrab. Berharap mampu menurunkan ekstensi ketegangan, namun sayangnya tidak berhasil menyamarkan bibirnya yang bergetar dengan nafas memburu.


“Serendah diri itu anda hingga tidak berani menggoda laki-laki lajang?” ketus Rava dengan seringai merendahkan. Ia benci dengan tipe wanita perusak. Padahal masih banyak cara untuk berbahagia tanpa menghancurkan hubungan sakral orang lain.


Dan apa kata Dian tadi? Ara bisa menggoda Rava karena mengikutinya?


Jelas salah besar. Nyatanya Rava yang selalu menciptakan peluang agar bisa semakin dekat dengan Ara.


"Bukannya Ara yang lebih rendah? Semua orang juga tau bagaimana kedekatan kita. Tapi Ara tetap aja dengan gak tau malunya merayu sampai akhirnya kalian menikah! Di sini jelas kan kalau istri kamu itu yang perebut!!"


Kalimat panjang Dian memancing amarah Rava. Garis wajah laki-laki dewasa itu mengeras. Urat pelipis dan lehernya menegang menahan emosi memuncak.

__ADS_1


"Ini peringatan terakhir ... Saya tidak sebaik yang Bu Dian kira. Jika tindakan anda kedepannya sampai menyingung istri saya, saya gak akan segan untuk menghancurkan seluruh pencapaian anda selama ini!" Menunjuk lurus wajah Dian dengan telunjuknya, aura dingin mencekam menguar dari sosok Rava yang sejatinya ingin melenyapkan Dian.


Beruntung Rava tidak gelap mata dan mampu berpikir rasional meski situasi buruk menghimpit. Dirinya juga tidak ingin mengotori tangan untuk repot-repot menyingkirkan seekor hama. Terkecuali jika Ara nya sampai diusik.


"Ah, satu lagi... Saya yang menggoda istri saya. Dan dari awal memang saya memanfaatkan Bu Dian agar saya bisa mendekati Ara. Sudah lama ingin saya sampaikan, terima kasih sudah menjadi batu loncatan untuk hubungan kami." Sarkas Rava tanpa perduli bahwa kalimatnya teramat sangat menyakitkan.


Rava meninggalkan Dian yang berteriak kesetanan. Dian semakin membenci Ara. Anak kecil yang merebut laki-laki impiannya. Namun Dian juga membenci Rava atas ucapan terima kasih yang mengoyak harga dirinya.


Memaki dan mengumpat kasar tanpa perduli dengan ketenangan orang lain. Alhasil dengan kasar pula Dian diusir paksa oleh pihak keamanan rumah sakit.


Sedangkan sesaat setelah Rava pergi Ara meringkuk kan badannya. Memeluk erat perut yang belum membesar dengan tangan kiri yang tertindih, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk memukul pelan dadanya. Sesak yang sedari tadi disembunyikannya akhirnya bisa tersalurkan.


Ia ketakutan dengan segala rasa bersalahnya. Namun memilih bersikap tenang di depan Rava.


Diam-diam bayangan ditinggalkan calon buah hatinya membuat Ara sakit kepala. Belum lagi spekulasi kemarahan Rava yang mungkin akan meninggalkan dirinya jika kejadian itu benar-benar terjadi. Ara seakan dihantam dentuman keras memekakkan telinganya.


"Ma-af ... Ma-af ya Nak ... Ma-af ...," gumam Ara terbata-bata dengan mata memejam erat. Buliran air mata menetes tanpa terbendung.


Sengaja Ara meminta Rava membeli rujak sesuai permintaannya agar bisa memberinya waktu seorang diri. Ia tidak ingin Rava melihat air mata kesedihannya. Ia takut semakin membebankan hidup Rava.


Semenit.


Sepuluh menit.


Dengan mata memerah dengan bekas tangis yang sudah disekanya, kelopak mata itu menutup senyaman mungkin. Sekuatnya pula Ara menggumamkan kalimat penyemangat sebagai pengantar tidurnya.


Dari pada terbangun dan menanti dalam kebosanan, tentu lebih baik tidur, begitu pikir Ara.


Ceklek.


"Sa-...." Melipat bibirnya yang baru saja meloloskan sepenggal suku kata, Rava meletakkan irisan buah dalam wadah plastik ke atas meja kecil di samping brankar.


Diteliti wajah wanitanya sembari tersenyum. Jarinya terulur mengukir garis alis yang berkerut.


"Kamu selalu pura-pura baik-baik aja. Sampai kapan kamu mau bersedih seorang diri?" lirih Rava sambil meresapi sengatan nyeri di hati kala bekas sembab mata Ara terlihat sangat jelas.


"Kamu hebat. Kamu yang terbaik. Kamu kuat. Jangan takut lagi sayangnya Mas," bisik Rava tepat di dekat daun telinga Ara.


Ini adalah sesuatu yang diam-diam rutin Rava lakukan. Dikala Ara gelisah dalam tidurnya, terlihat sedih atau bahkan tampak mengalami mimpi buruk, maka Rava akan terbangun untuk membisikkan berbagai kalimat penuh cinta dan motivasi.


Hal itu Rava lakukan bukan tanpa alasan. Bahkan atas saran Dion pula Rava semakin gencar membisikkan ungkapan sayangnya. Meski tidak pernah menerima jawaban, Rava berharap alam bawah sadar Ara mampu merespon segala pesan Rava.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


Ceklek.


"Permisi...,"


"Nah kan bener ini kamarnya. Papa sih ngeyel aja dari tadi, kita jadi mutar-mutar!" gerutu Mama Lauritz sesaat setelah melihat anak dan menantunya di dalam ruangan yang baru saja diintip nya.


"Ara gak kenapa-napa kan Mas?" tanya Papa Yudith yang menyerbu masuk sambil menelisik dari ujung kepala hingga kaki anaknya yang tertutupi selimut.


"Syukurnya Ara sama cucu Papa Mama baik-baik aja," jawab Rava sambil mengulum senyuman atas reaksi Papa Yudith yang sejenak hanya mengangguk lalu melotot penuh tanya.


Sedangkan Mama Lauritz yang terbelalak sudah tersenyum lebar dan tertawa tanpa suara dengan gestur yang hendak bertepuk tangan dan melompat girang namun tindakannya seperti tertahan sesuatu. Otaknya sudah memproses, tapi saraf ditubuhnya seakan masih terkejut atas perintah yang diterima.


"Ara hamil Rav??" tanya Mama Lauritz ragu-ragu.


Menarik kedua sudut bibirnya memamerkan gigi putih, Rava membalas pertanyaan Mama Lauritz hanya dengan anggukan kecil.


"Oma ... Bentar lagi Mama jadi Oma, Pa ...." Akhirnya kegirangan Mama Lauritz tersalurkan bersamaan dengan pukulan gemas di punggung Papa Yudith.


"Papa mau dapat cucu dari anak gadis Papa, Ma." Mengusap setitik cairan di sudut mata, seketika Papa Yudith menangis haru. Mendekat dirinya untuk bisa menyentuh perut membulat kecil anak perempuannya.


"Anak gadis dari mana yang udah mau kasih kita cucu? Ini anak kita bukan gadis lagi, Pa," kekeh Mama Lauritz sambil menyenggol lengan Papa Yudith. Sejenak keberadaan Rava diabaikan oleh pasangan suami istri yang sibuk mengamati anaknya yang terlelap. Keduanya teramat sangat bahagia. Tidak sabar untuk menimang bayi mungil yang akan lebih mewarnai masa tua mereka.


Berbeda dengan Papa Yudith dan Mama Lauritz yang sibuk mengatur waktu agar bisa menemani Ara, Rava hanya mampu mendengarkan dengan sorot mata dijatuhkan pada sang putri tidur yang mencuri seluruh perhatiannya. Kebiasaan menjadi batu saat tidur tidak pernah berubah dari diri Ara. Pantas saja jika selama ini Jona selalu menyindir Ara sebagai titisan kebo. Pasalnya seberisik apapun saat ini tidak membuat Ara terusik.


...****************...


*


*


*


Say No to Pelakor ya😆


Gak perlu Ara bertindak, soalnya di sini Rava peran ganda. Yang dikejar merangkap yang bikin mental🤭

__ADS_1


By the way, kira-kira Lipai cewek atau cowok ya?😃


Terima kasih sudah menanti kisah Ara😘 Udah Hana kasih double UP🥰


__ADS_2