
“Mas, bisa ubah sesuatu gak?” Ucap Ara tiba-tiba. Ia menatap Rava sekilas dan kemudian memandang lurus pada pohon mangga yang belum juga berbuah meski sempat berbunga. Rupanya bukan hanya manusia, tapi mangga juga doyan memberikan harapan palsu.
“Ubah apa dan kenapa diubah?” Tanya Rava lembut.
“Panggilan kamu itu..”
“Saya gak ngerti apa yang kamu maksud.” Memiringkan kepalanya, Rava menatap sisi kiri wajah Ara.
“Nah itu..!! Kamu tuh Mas masih pakai saya-saya aja.” Mendengus sebal, Ara membalas tatapan Rava dengan cemberut.
“Jadi kamu mau saya ubah jadi apa?” Memainkan ujung rambut Ara, Rava masih saja tersenyum dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah Ara.
“Minimal pakai aku aja. Jangan saya lagi.” Ucap Ara sambil menyilangkan sepasang jari telunjuk di hadapan Rava.
“Kalau minimal jadi aku, maksimal jadi apa?” Goda Rava sambil memainkan kedua alisnya naik turun serentak.
“Ih!! Jangan dibuat becandaan dulu!! Aku serius tau..” Mengerutkan dahinya, bibir cemberut Ara siap untuk diikat karet gelang ala nasi bungkus.
“Iya, sayang.. Bakalan saya ubah.”
“Bakalan diubah apaan masih pakai saya gitu. Kalau kamu masih pakai saya lagi, aku bakal panggil kamu Bapak.” Ucap Ara sewot.
“Jangan dong sayang.. Aku cuma belum terbiasa, sayang..” Rava menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benar-benar sudah terbiasa menyebutkan dirinya sebagai saya, bukan hanya pada Ara, namun hampir pada semua orang.
“Ngomong sayang juga gak terbiasa tapi dari awal lancar jaya tuh..” Sindir Ara pada Rava.
“Itu kan tanpa disuruh juga kamu memang kesayangannya aku.” Meraih telapak tangan Ara dalam genggamannya, Rava terus saja tersenyum sampai deretan gigi rata nan putih bersih itu menyembul sedikit diantara celah bibirnya.
“Alasan aja, ck!” Berdecak Ara menggelengkan kepalanya.
“Oya, aku masih kesal loh sama kamu, Mas. Hampir aja aku lupa kalau sempat kesal sama kamu.” Ucap Ara tiba-tiba sambil menatap sinis pada Rava.
“Kok bisa kamu kesal ketunda gitu?” Rava mengulum senyumannya dengan menahan tawa gelinya. Bisa-bisanya Ara menunda kekesalannya.
“Ya bisa aja kalau mau.” Jawab Ara sekenanya.
Kekesalannya teralihkan keterkejutan atas kehadiran Rava, belum lagi sesi memasak yang cukup menyita perhatiannya. Jelas saja rasa kesal yang tidak ada seujung jari itu perlahan menguap. Namun bukan Ara namanya bila tidak menuntaskan perasaan yang sempat mengganjal itu.
“Kamu kesal sama Mas karena apa?” Tanya Rava dengan tetap menggenggam tangan Ara.
“Kenapa Mas gak bilang kalau setelah pertengahan semester udah gak ngajar lagi?” Ucap Ara ketus, mencebikkan bibirnya dan mendengus sebal.
__ADS_1
“Kamu tau dari siapa?” Mengernyit heran Rava pada pertanyaan Ara. Ia memang sengaja belum bercerita pada Ara. Semuanya jelas karena waktu untuk duduk berdua seperti saat ini yang menjadi langka. Padahal kedatangan Rava hari ini juga ingin membahas hal itu.
“Dari orang jurusan ku lah. Dia bilang selesai ujian pertengahan semester nanti Mas gak ngajar di FE lagi alias berhenti.”
“Kok bisa? Padahal Mas udah bilang sama mereka supaya gak dibicarakan keluar.” Desah Rava pasrah. Bukannya ia ingin bermain rahasia dengan Ara, namun ia malas pada kehebohan yang akan terjadi.
“Kenapa gitu?”
“Mas risih kalau ditanyain mahasiswa di kampus alasan resign karena apa. Harus memberikan penjelasan yang sama ke banyak orang terus-menerus itu melelahkan.” Keluh Rava.
“Salahnya punya fans banyak banget.” Cibir Ara.
“Bukan fans, cuma anak didik aja.”
‘Anak didik? Kasihan banget yang udah jadi mata-mata seharian Cuma dianggap anak didik.’ Gumam Ara miris dalam hati.
“Mas resign gara-gara kerjaan di kantor bentrok ya sama jadwal ngajar?”
“Iya.. Mas juga bakalan sering keluar Kota. Ada proyek di daerah pelosok yang sengaja Mas ambil. Sekarang masih proses survei, mungkin saat kamu KKN nanti pembangunannya baru di mulai.” Jelas Rava.
“Lagian Mas juga gak bisa gabung ke fakultas kamu. Jadinya gak ada alasan utama buat Mas bertahan di kampus kamu itu.” Ucap Rava lagi.
“Karena gak bisa gabung ke fakultas aku buat berduaan sama Bu Dian ya makanya berhenti ngajar?” Menyipitkan matanya, Ara sengaja menggoda Rava.
“Masa iya?” Menaikan kedua alisnya, Ara melepas genggaman Rava dan menyilangkan tangannya di depan dada.
“Nakal ya pakai pura-pura gak tau.” Ujar Rava sambil mencubit ujung hidung Ara dengan gemas.
“Sakit!!” Menepis cubitan manja, Ara memasang raut wajah cemberut.
“Tambah nakal sekarang suka bohong lagi.”
“Aku marah nih!”
“Lucu banget sih marahnya..” Rava menangkup kedua sisi pipi Ara. Menggoyangkan gemas ke kanan dan kiri sambil tertawa kecil.
“Ih..!! Lepas deh, Mas!” Berusaha menjauhkan tangan Rava, wajah Ara justru jatuh menubruk dada bidang Rava. Penyebabnya apalagi bila bukan Rava yang menarik Ara dalam dekapannya. Rupanya benteng pertahanan Rava tidak sekuat yang ia bayangkan.
“Pipi kamu kenyal banget, lucu.” Ujar Rava seolah berbisik. Mengecup puncak kepala Ara yang menguarkan aroma mentol dari sampo kesukaannya.
“Gak lucu, aku gendut.” Gerutu Ara yang masih nyaman dalam dekapan Rava. Tanpa sadar tangannya ikut membelit pinggang Rava.
__ADS_1
“Kamu kurusan, sayang.. Kamu gak diet kan?” Ucap Rava yang tiba-tiba merasa khawatir. Ada ketakutan yang tiba-tiba melanda benak Rava. Belum lagi berbagai masalah yang Rava sadari tengah mengguncang kedamaian Ara.
Diam-diam Rava juga merasa bersalah pada Ara karena tidak langsung memberi batas dan peringatan pada Dian. Sikapnya yang tidak mengambil pusing tingkah Dian yang sok dekat rupanya dianggap berbeda oleh mata orang lain yang melihat. Kedekatannya dengan Dian murni demi modus pada Ara, namun siapa sangka bahwa langkah Rava yang lambat itu membawa masalah baru yang kini mengusik Ara.
“Buat apa Ara menyiksa diri dengan diet? Lagian gimana caranya Ara mau diet kalau Mas Rava sering kirim makanan porsi jumbo?” Beranjak dari posisi nyamannya, Ara mendorong pelan lengan Rava yang tidak rela melepas Ara.
“Jalani hidup yang kamu suka. Jangan ikut-ikutan diet gara-gara omongan orang lain lagi.” Ucap Rava tegas.
‘Lagi?’
“Mas Rava tau sesuatu ya?”
“Tau apa?” Tanya Rava sambil tersenyum.
“Gak ada.” Jawab Ara yang tiba-tiba tidak ingin membahasnya. Menggeleng perlahan dan mengibaskan tangan kanannya di depan wajah sekilas.
‘Gara-gara laki-laki brengsek itu kamu sampai menyiksa diri. Merasa insecure sama bentuk badan sendiri. Saya janji akan bahagiakan kamu selamanya dan bikin perhitungan lagi sama dia.’ Geram Rava dalam hati. Tanpa disadari ia sudah mengepal kuat menahan amarah yang membuncah.
“Sekarang Mas mau tanya lagi, sebenarnya siapa yang mau kamu temui di klinik Dion?” Ucap Rava setelah sempat menghela nafas berat.
...****************...
*
*
*
Apakah Ara akan bucin akut juga pada Rava?🤔
Apakah Ara akan jujur pada Rava tentang Nindy?🤔
*
*
Pada masih ingat nggak siapa kira-kira ‘laki-laki brengsek’ yang Rava maksud?😄
Hana baper sendiri ketik bab ini. Jiwa jomblo ku meronta-ronta ingin memisahkan Rava dan Ara yang seenaknya tiba-tiba saling peluk.🤧
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰