Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Istri Dokter Dion


__ADS_3

"Eugh!" Suara lenguhan kecil keluar dari bibir gadis yang tengah terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Tirai berwarna hijau yang mengelilinginya seolah mengurungnya dari dunia luar.


Srek


Suara tirai yang tersingkap mengakhiri rasa terkurung yang sejenak sempat dirasakan. Bukan hanya tersingkap sedikit, namun sisi kiri brankar dapat jelas terlihat dari arah pintu masuk ruang perawatan umum itu.


"Ara.. Kamu udah sadar?" Suara maskulin menyeruak indra pendengaran Ara diiringi genggaman lembut di tangan kiri yang Ara rasakan.


"Bang.. Bim-ma??" Suara lirih terbata-bata itu penuh tanda tanya. Kerutan di dahi Ara tidak bisa menyembunyikan rasa kebingungannya.


"Aku dimana?" Tanya Ara.


"Kamu lagi di rumah sakit Ra. Kebetulan rumah sakit ini tempat Abang koas." Ujar Bang Bima lembut.


"Kenapa?" Tanya Ara sekali lagi yang masih kebingungan.


"Kamu pingsan Ra. Tadi ada orang yang bantu antar kamu ke sini." Ucap Bang Bima.


"Hemm.. Rava?? Iya, seingat Abang nama orang itu Rava, mungkin sekitar umur awal 30 tahunan. Kamu kenal Ra??" Lanjut Bang Bima lagi yang tetap menatap Ara penuh perhatian, namun peryataannya justru menimbulkan kerutan dahi Ara semakin menjadi-jadi. Memikirkan dengan sekeras mungkin siapa 'Rava' itu, tapi hasilnya nihil. Tidak ada sosok bernama 'Rava' yang pernah Ara kenal.


Sedangkan di lorong rumah sakit pada saat bersamaan seorang laki-laki yang baru menyelesaikan panggilannya berlari dengan terburu-buru. Pada jarak yang cukup dekat langkah kaki sosok itu terhenti, terdiam mematung, pandangannya terkunci pada jemari Ara dan Bang Bima yang saling bertautan tanpa disadari oleh keduanya.


Melupakan tujuan awalnya untuk menghampiri Ara, laki-laki itu berjalan gontai ke sembarang arah dengan rasa penuh kecemburuan dan sesal


"Udah segitu dekatnya kamu sama si Bima itu Ra?? Kenapa harus ada orang lain duluan yang berhasil dekat sama kamu sebelum aku mampu datang??" Mengusap wajah dengan kasar, sosok itu berucap penuh sesal.


Selalu menunggu waktu yang tepat, diam-diam selalu mengamati Ara bahkan kedekatan mereka akhir-akhir ini adalah keberuntungan untuknya. Segala sesuatu sudah ia lakukan, kecuali mendekati Ara secara langsung dengan alasan takut Ara masih membenci laki-laki. Akan tetapi saat ini ia menyesal, ia terlalu banyak berpikir hingga momen yang tidak diharapkan terlihat langsung oleh matanya sendiri.


Meninggalkan sosok yang sedang meratapi nasibnya, di tempat Ara berada saat ini Bang Bima sudah berpamitan kembali ke departemen khusus ibu dan anak sebagai tugasnya. Bang Bima tidak bisa mengambil waktu berlama-lama dengan Ara, izinnya hanya diberikan sekitar 20 menit saja. Bang Bima sebenarnya tidak rela meninggalkan Ara seorang diri, namun ia harus patuh pada tugasnya.


Sedangkan Ara merasa biasa saja, ia memilih untuk kembali tidur. Memejamkan mata dan kembali ke alam mimpi lebih menyenangkan daripada melihat luasnya dunia. Ara hanya perlu menunggu cairan infus habis dan ia bisa pulang.


...----------------...


"Ara?" Suara seorang wanita memaksa Ara membuka kelopak matanya. Siluet 2 orang dewasa di kanan dan kirinya tampak seperti akan mengadili seorang pencopet.


"Bu Dian.. Arg!" Kepala Ara berdenyut seketika saat ia berusaha untuk duduk dengan tiba-tiba.


"Baring aja Ra." Ucap Bu Dian sembari menekan pelan bahu kiri Ara.


"Ibu udah lapor ke panitia acara tentang kondisi kamu Ra. Kamu pulang duluan aja ya nanti, takutnya ada apa-apa sama kegiatan selanjutnya juga Ibu bisa handle sendiri. Untuk orang tua kamu belum Ibu hubungi. Ibu gak ada simpan kontak orang tua kamu, nanti kamu kasih kabar sendiri ya Ra.." Ucap Bu Dian pada Ara.


"Iya Bu. Soal pulang, Ara harus pulang pakai apa Bu?" Tanya Ara bingung.


Otak Ara sudah mengkalkulasi biaya perjalanan. Memikirkan banyak pengeluaran bila harus pulang dengan angkutan umum yang juga harus banyak berganti-ganti atau jika memilih ingin cepat, tapi lebih mahal dengan naik baja terbang.


"Kamu pulang bareng Pak Kim aja Ra. Kebetulan beliau cuma sampai hari ini di sini." Ucap Bu Dian sambil menatap sisi kanan Ara. Kaget dan melotot, itulah ekspresi Ara saat ini. Memikirkan pergi dengan formasi dirinya sebagai debu dalam mobil rasanya lebih baik dibandingkan harus beku berada di sebelah kulkas tanpa pintu itu.


...----------------...

__ADS_1


Saat ini Ara sedang merutuki kegagalannya dalam mengendalikan emosi. Padahal hampir setiap waktu Dokter Dion selalu mengingatkannya agar tetap rileks, berpikir jernih, serta melakukan olah pernafasan untuk pengendalian emosinya. Rasanya saat ini Ara benar-benar butuh ceramah panjang Dokter rupawan itu.


"Ara?" Ucap sosok yang baru saja tiba itu.


"Maaf.. Permisi Bu." Lanjutnya lagi, kali ini sambil menatap Bu Dian yang sedang menemani Ara.


"Iya." Jawab Bu Dian singkat sembari meneliti sosok itu secara lekat.


"Dokter Dion??" Ucap Ara dengan mata sudah berkaca-kaca, rasa haru mengalahkan keterkejutan atas kehadiran Dokter Dion di depannya. Tidak tau bagaimana ia harus bersyukur karena keinginannya ada di hadapannya saat ini.


"Kok Dokter Dion ada di sini??" Setelah sempat hilang akal, akhirnya pikiran Ara kembali. Ara tatap heran Dokter Dion yang sudah duduk di sisi kanannya.


"Saya tadi di kabarin kamu masuk rumah sakit. Kebetulan saya juga ada di luar kota, jadi saya bisa ke sini." Ucap Dokter Dion pada Ara. Nyatanya yang ia katakan adalah sebuah kebohongan. Fakta sesungguhnya setelah mendengar kabar kondisi Ara, ia memundurkan seluruh jadwal prakteknya dan memesan penerbangan paling cepat menuju kota tempat Ara berada.


"Siapa yang kabarin? Kayaknya gak ada yang kenal sama Dokter deh di sini.." Mengeryit heran Ara pandang Dokter Dion.


"Abang ku sayang yang kasih kabar. Kebetulan dia juga ada di sini. Lagian udah berapa kali aku bilang kamu harus sering kasih aku kabar? Sayang ku ini bandel banget sih." Mencubit kecil hidung Ara yang refleks membuat Ara memundurkan wajahnya, namun gagal.


Bu Dian yang diam dalam kondisi canggung baginya itu mengambil kesimpulan bahwa yang berada di depannya ini adalah sepasang kekasih.


"Maaf Bu, saya dengar Ara boleh pulang sebelum kegiatan kampusnya itu selesai. Apa bisa biar pulang dengan saya saja?? Saya juga seorang dokter yang pasti bisa memantau dan menjaga kondisi Ara diperjalanan. Jadi kalau boleh, saya akan bawa pulang Ara dengan penerbangan pertama besok pagi. Malam ini sebaiknya Ara rawat inap di sini untuk mengembalikan tenaganya." Ujar Dokter Dion pada Bu Dian panjang lebar secara tiba-tiba.


"Gak masalah Dok kalau gitu. Nanti malam saya akan antar barang bawaan Ara ke sini." Ucap Bu Dian yang membuat Ara tidak enak karena merepotkan banyak orang.


"Maaf ya Bu, Ara jadi merepotkan semuanya." Ucap Ara penuh sesal.


...----------------...


Drrt.. Drrt..


Don't let those demons in again


I fill the void up with polished doubt, fake sentiment


Surrender yourself


...


(Noah Kahan - False Confidence)


"Sebentar ya." Ucap Dokter Dion pada Ara sembari melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo Bang?" Sapa Dokter Dion pada si penelepon dengan masih duduk di samping Ara.


[Kamu udah di rumah sakitnya?]


"Iya Bang. Makasih ya udah kabarin Dion tadi. Bang Rava sekarang ada dimana?" Ara menatap lekat Dokter Dion saat menyebutkan nama 'Rava'.


[Mau perjalanan pulang. Ada masalah mendadak di kantor. Jaga dia baik-baik Yon.] Ucap tegas si penelepon yang ternyata bernama 'Rava' itu.

__ADS_1


" Pasti Bang. Gak mungkin aku gak jagain orang yang aku suka dan sayang." Ucap Dokter Dion dengan berani menatap dan meraih tangan Ara. Akan tetapi, tangan kedua orang itu tidak lama bersentuhan karena secara perlahan Ara menarik dan menyembunyikan tangannya di dalam selimut putih rumah sakit yang ia kenakan.


[Apa dia perempuan yang kamu pernah bilang mau jadiin pacar?] Tanya sosok Rava itu yang rupanya masih berada di rumah sakit dan sedang memandang ke arah Ara dan Dokter Dion dari balik pintu kaca ruangan yang berisi beberapa orang itu.


"Kalau bisa jadi istri juga aku siap Bang." Ucap Dokter Dion mantap yang membuat pipi Ara bersemu merah. Ara sangat malu dan bingung pada ucapan Dokter Dion. Berharap semua hanya candaan. Bagi Ara posisi Dokter Dion sama dengan Mas Ega.


[Ya udah kalau gitu hati-hati di sana.] Panggilan terputus dengan kalimat yang jika didengarkan dengan benar penuh nada terluka dan kecewa.


"Kenapa harus kamu juga Yon yang punya rasa sama Ara?? Abang pikir perasaanmu gak akan lebih dari sekadar Dokter buat Ara." Ucap sosok Rava dengan suara bergetar. Kenyataan yang baru saja ia ketahui lebih menyulitkan hatinya dibandingkan kejadian sebelumnya.


"Apa kamu suka sama Bima itu Ra? Dion yang udah lama sama kamu belum bisa nyentuh kamu kayak si Bima tadi. Sedangkan aku hanya bisa meraih kamu dalam dekapanku kalau kamu hilang kesadaran." Ucapnya lagi dalam hati dengan pikiran yang benar-benar kacau. Berlalu meninggalkan gedung rumah sakit, ia memilih menghabiskan malamnya menempuh perjalanan jauh seorang diri.


...****************...


*


*


*


Nah Loh!!


Cinta segi berapa ini yang aku ciptakan??😱 Maafkan author yang kelewat halu ini yaa😅


Apa Ara nanti bener-bener bakalan jadi istri Dokter Dion??🤔


Gimana nih penggemar Bima?? Sudah kecewa belum??😂


Aku pengen tau nih, banyakan yang dukung siapa sih😁


1. Bima


2. Dokter Dion


3. Pak Kim


**4. Gilang



Si Sosok Baru Rava**



atau diam-diam ada yang dukung Ara sama Dimas nih??😋


Semoga makin suka ya sama Kisah Ara🥰


Terima kasih udah selalu hadir dan kasih dukungan🥰😘

__ADS_1


__ADS_2